
Aku dan Grog sudah berada di dalam area dark elf. Seperti biasa, area mereka lebih gelap dibanding area elf dan membutuhkan sebuah lampu khusus berwarna biru untuk dapat memberi penerangan yang cukup. Lampu biasa tetap dapat digunakan, tetapi tak begitu terang, bahkan hampir tak berguna. Sayangnya. lampu-lampu biru itu hanya dapat diambil dari dinding kerajaan, berupa bunga-bunga mawar. Namun sekarang, entah mengapa area ini terlihat jauh lebih gelap sampai hanya terdapat bayang-bayang hitam saja di kejauhan. Begitu samar dan mengganggu penglihatan. Bukan hanya diriku saja yang mengalaminya. Gorg juga merasakan perbedaan nyata dibanding terakhir dia berkunjung ke sini bersama Alvain dan yang lain.
"Apakah mungkin karena perang?" Tanya Gorg padaku sembari berjalan di samping, memerhatikan sekitar, berusaha mencari sesuatu yang mungkin dapat membantu kami melewati area ini.
"Kemungkinan besar iya. Mungkin saja ini adalah cara mereka untuk bertahan. Dark elf adalah master dalam sihir kegelapan sehingga hal seperti ini sudah sewajarnya terjadi" Jelasku padanya dengan degup jantung perlahan makin cepat, membayangkan sesuatu dapat keluar secara tiba-tiba tanpa kami ketahui. Mengingatkanku pada ruang bawah tanah sebelumnya yang berisi mahluk-mahluk mengerikan itu. Mengapa mereka berada di sana? Apakah mereka buatan Codes juga?
Kami terus berjalan ke depan, memercayai insting yang mengatakan kalau kerajaan dark elf sudah tak jauh lagi dan jika bayang-bayang hitam di depan memang benar adalah kerajaan mereka, maka seharusnya kami sudah akan sampai. Tapi, aku merasa ini tak semudah itu. Jika mereka ingin bertahan dari ras-ras yang telah siap di belakang, seharusnya mereka mempersiap lebih dari ini. Jadi, aku berhenti berjalan, diam di tempat dengan Gorg yang seketika ikut berhenti sembari bertanya apakah aku sedang sakit atau semacamnya. Aku menggeleng, senyum hangat tampak di wajah yang seketika terganti menjadi sepasang mata tajam memerhatikan beberapa pasang mata di depan.
Jumlah mereka tak begitu banyak, tetapi karena tersembunyi di balik kegelapan, kami tak boleh lengah. Kami tak tahu mereka menggunakan senjata macam apa, memiliki tubuh besar dan kekar atau kecil dan ramping. Sedikit saja kami salah, maka nyawa kami berdua akan berakhir.
Tidak, kurasa aku terlalu melebih-lebihkannya. Tak mungkin nyawa kami berakhir selama Gorg berada di sini, mereka bukanlah apa-apa dihadapan seorang Forest Guardian. Setidaknya, itulah yang kuharapkan sampai aku sadar kalau beberapa pasang mata itu merupakan jumlah mata pada satu mahluk dan aku masih ingat dengan jelas mahluk seperti apakah yang berada di depan kami ini.
"Gorg menghindar!"
Bersama kami mundur ke samping, menghindari sebuah bayangan hitam yang tiba-tiba melesat dalam kecepatan tinggi. Sebuah pohon jatuh tak jauh di belakang, bekas cakaran besar tampak di batang bagian bawah yang masih tertancap dalam tanah. Saat itu, kami beruntung dapat berhasil mengalahkan mahluk ini, tetapi sekarang, dalam keadaan tanpa cahaya, aku tak yakin aku dapat melakukan hal yang sama.
Bayangan hitam tersebut kembali muncul, ujung kukunya berhasil menggores tangan kiriku hingga terbentuk sebuah goresan yang untung saja tak terlalu dalam. Dia meraung, membuat hati ikut gemetar oleh ketegangan yang mulai mengambil alih. Listrik kemerahan memercik keluar dari dalam tangan, memberi kami sedikit terang untuk dapat lebih leluasa melihat sekitar. Tak begitu membantu, tetapi setidaknya kami jadi lebih memiliki sebuah ruang untuk bergerak dan bereaksi lebih cepat ketika dia kembali menyerang.
"Nightmares" Geram Gorg dengan sepasang mata sudah berubah warna merah.
__ADS_1
Aku menoleh padanya, akan menanyakan bagaimana bisa dia mengetahui hal tersebut, namun terdiam oleh tubuhnya yang kini dipenuhi oleh retakan cahaya berwarna kemerahan. Sosok Forest Guardian yang menggemaskan dan bersahabat, kini tergantikan oleh mahluk menyeramkan, menyamai seramnya Nightmares di depan. Aku tak tahu kalau Forest Guardian akan bereaksi seperti ini begitu bertemu salah satunya dan jujur saja, badanku sedikit gemetar melihat Gorg yang kini tampak sudah siap membunuh.
Nightmares kembali menyerang, bergerak cepat hingga hanya menyisakan sekelebat bayangan yang hanya tampak di ujung mata. Gorg tak tinggal diam, ia menghantam tanah, membentuk sebuah dinding besar di sekeliling kami sehingga pergerakan Nightmares tersebut terbatasi. Namun, kami pun terkurung di dalam bersamanya yang membuat ini sedikit mengkhawatirkan.
Begitu dia kembali bergerak, dalam kecepatan yang sulit untuk diikuti oleh mataku sekalipun, Gorg mengayunkan tangan, menghantamnya tepat di tubuh hingga sosok tersebut terbentur kuat pada dinding di depan. Sebelum diriku dapat bereaksi, Gorg sudah bergerak ke sana, melayangkan hantaman kedua yang saling bertemu dengan cakar besar hingga sebuah hempasan energi terjadi, mengirimku beberapa langkah ke belakang.
Saat debu sudah mulai menghilang, di depan tampak kedua mahluk itu sementara saling mendorong menggunakan tangan mereka yang sudah hancur di beberapa bagian. Tangan yang lain kini saling mengayun, berbenturan dan terjadilah dorong-mendorong dengan Gorg perlahan memenangkan pertarungan. Nightmares tersebut meraung keras, sengaja melemaskan diri untuk Gorg mendorong dia menembus dinding dan kembali bersatu bersama kegelapan, menyembunyikan diri.
"Maaf, Gorg tak berhasil mengalahkannya" Ucap Sang Forest Guardian yang kini kembali seperti semula. Tapi, kedua matanya masih berwarna merah menyala, tanda kalau pertarungan belumlah selesai.
"Tak apa-apa Gorg, kau sudah melakukan yang terbaik" Balasku sembari berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di depan sisi dinding yang telah hancur, di mana kegelapan menunggu tak jauh di depan. Beberapa pasang mata tersebut terlihat di sana, menatap kami seakan sedang memerhatikan mangsa, menunggu saat yang tepat untuk datang menyerang.
Aku mengangguk mengiyakan. Aku juga tak tahu bagaimana cara untuk menang menghadapi Nightmares sementara tak ada satupun cahaya di sekitar selain dari hologram oranye di jaket dan tubuh Gorg yang memang memancarkan cahaya keemasan redup. Hanya dapat terlihat begitu dalam kegelapan.
Kami pun bersiap-siap, energi mengalir pada kedua kaki dan begitu Gorg maju menerjang, aku berlari kencang ke depan. Dapat terdengar di belakang mereka berdua saling bertarung, mengerahkan kemampuan masing-masing untuk dapat mengalahkan lawan. Namun, tiba-tiba terdengar sebuah benturan keras dan tak sampai dua detik, Gorg berteriak "X DI BELAKANG!!"
Aku reflek melompat ke samping, terkejut begitu melihat sebuah cakar besar lewat dalam kecepatan tinggi hampir membelah tubuhku menjadi beberapa bagian. Gorg kembali muncul di depan, tak kalah cepatnya, bersiap seandainya Nightmare menyerang lagi. Begitu tak ada tanda-tanda dia akan menyerang, kami bergerak, berlari ke depan ke arah bayangan yang kini mulai terlihat membesar dan jelas. Sekelebat bayangan muncul tak jauh di samping kanan, Gorg bergerak ke sana, tapi ternyata Nightmare justru muncul di sebelah kiri.
Cakarnya itu hampir mengenai punggung begitu aku berguling ke depan. Dengan jantung berdegup kencang, aku lanjut berlari, hampir sampai di sana, di kerajaan dark elf yang sudah tampak di depan mata. Namun, ada sesuatu yang salah. Aku segera menghentikan langkah, tepat ketika sebuah jurang besar muncul di depan. Napas terengah-engah tak menghentikanku untuk datang mendekat, memeriksa di mana kami berada dan sempat terpana memerhatikan kegelapan pekat dari dalam jurang besar tersebut. Seakan sesuatu datang memanggil dan memintaku untuk melompat ke dalam. Untung saja Gorg menepuk pelan pundakku, pelan baginya, cukup keras bagiku hingga terbatuk.
__ADS_1
"Jangan melihat ke sana atau kegelapan akan datang menjemput. Dalam Alfheim, terdapat tempat-tempat seperti ini, di mana menjadi sebuah kuburan bagi mereka yang berhati lemah. Gorg yakin X adalah seseorang berhati kuat. Tetapi, untuk sekarang, Gorg merasa kalau X membutuhkan sebuah istirahat sehingga mudah tergoda" Jelasnya pelan seperti seorang guru taman kanak-kanak yang anehnya justru membuatku merasa lebih tenang dibanding beberapa detik lalu.
"Terima kasih Gorg"
Gorg mengangguk, kembali melihat ke depan di mana beberapa pasang mata itu berada. Dia diam di sana, seakan sedang menikmati kemenangannya. Kami tentu tak dapat bergerak ke belakang. Satu-satunya jalan adalah menghadapinya secara langsung yang juga merupakan sebuah taruhan.
Kami bersiap, menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan, menenangkan diri yang telah berada di ujung gerbang kehidupan, di mana kematian menunggu tak jauh di depan.
Begitu dia bergerak, kami bersama-sama maju menerjang, mengerahkan kemampuan dan saling berbenturan. Gorg menghadapi cakar kanannya, sementara diriku di cakar kiri. Gorg yang adalah lawan dari Nightmare, berhasil memukul balik cakar tersebut terutama karena dia menggunakan dua tangan. Tetapi, masalah terjadi ketika aku telat menghindar dari ayunan cakarnya.
Dapat kulihat langit bergerak cepat dengan mereka berdua makin menjauh. Angin terdengar berhembus kencang di kedua sisi telinga yang lalu tertutupi oleh suara degupan jantung. Makin cepat dan cepat hingga tubuh akhirnya jatuh terbanting di tanah untuk beberapa kali dan sekilas aku melihat jurang tersebut, telah begitu dekat, seakan menarikku ke dalamnya.
Begitu tak lagi terasa permukaan tanah, barulah aku sadar, kalau aku memang telah ditarik. Akan bersatu bersama kegelapan. Tangan kanan meraih ke atas, masih berusaha untuk menggapai permukaan yang sudah tak lagi dapat kujangkau. Harapan perlahan sirna, tertutupi oleh kekecewaan pada diri sendiri yang lagi-lagi harus mati.
Namun, saat mata sudah akan tertutup menerima takdir, aku merasakan sebuah tangan mencengkram kuat lenganku, terlalu kencang hingga terasa nyeri. Mataku terbuka, menemukan sosok yang tak kusangka kini berada di atas permukaan, terbaring di sana dengan tangan kiri mencengkram kuat sebuah batu. Giginya menggertak kuat dengan sepasang mata penuh kekhawatiran. Ia menarikku ke atas- lebih tepatnya, melemparku ke atas hingga membentur kuat pada tanah. Rasa sakit menjalar dari punggung, memberitahu kalau diriku masihlah hidup.
Belum sempat bangkit berdiri, dia tiba-tiba sudah datang merangkul, begitu erat seakan takut kehilangan. Padahal kami adalah musuh sebelumnya, terutama setelah apa yang kulakukan padanya, aku tak menyangka dia masih datang menyelamatkan. Namun, aku bersyukur dia melakukannya. Setidaknya aku tahu, kalau dia masihlah temanku yang berharga.
"Terima kasih, Ciara.. "
__ADS_1
Tak menyadari, kalau kami sementara ditonton oleh dua mahluk Ancient yang kini terdiam di tempat tak tahu harus lanjut bertarung ataukah menunggu sampai momen kami selesai.