
"Mengapa sesuatu sepenting ini diletakkan di ruang bawah tanah kerajaan?" Tanya putri Yuna pada prajurit yang menemaninya.
"Kami tak seperti kalian para elf yang senang berada di tempat tinggi. Kami hidup di dalam kegelapan, semakin tinggi, semakin sulit bagi kegelapan untuk tercipta sementara di bawah sini merupakan lokasi terbaik bagi kami menyimpan harta kerajaan sehingga jika ditemukan seorang penyusup, kami dapat mengambil nyawanya sebelum dia sadar kalau jiwanya telah tak berada di dunia" Jelas dark elf tersebut.
Tuan putri mengangguk mengerti. Memang benar yang dikatakannya, di bawah sini, terdapat begitu banyak sudut-sudut gelap yang dapat menjadi pertahanan terbaik, mengingat kemampuan dark elf. Sekaligus memberi kesan bahwa ini adalah tempat yang berbahaya, tak seperti mereka, para elf yang memberi kesan agung pada tempat disimpannya Seed of Life. Tempat ini seolah menjadi tempat kematian bersemayam.
Tak butuh waktu lama sampai akhirnya mereka tiba di ruangan utama, tertutupi oleh dua pintu besi tebal dengan wajah seseorang terukir di permukaan pintu. Putri Zyora datang mendekat, meraba pintu tersebut yang kemudian terbuka disertai bunyi bergemuruh besar.
Tak jauh di depan, tampak sebuah kubus biru bercahaya yang berputar pelan di belakang sebuah panel kontrol dalam tulisan elf berwarna biru terang. Zyora datang mendekat ke saja, berbinar-binar melihat kubus biru indah tersebut dan ingin menyentuhnya namun dihentikan oleh tuan putri dengan cepat "Kau bisa terluka jika menyentuhnya putri Zyora" Ucapnya pelan sembari memegang lembut tangan mungil tersebut dan membawa dia bersamanya ke depan panel kontrol. Belum sempat melakukan sesuatu, ia sudah dapat merasakan ujung sebuah pedang menyentuh leher belakangnya "Apa yang dirimu lakukan?" Tanyanya pada prajurit tersebut.
Putri Zyora tersentak, reflek tangannya menggenggam erat pakaian tuan putri, takut sekaligus khawatir dengan situasi sekarang, tak tahu harus melakukan apa.
"Mohon maaf Yang Mulia, tapi aku terpaksa melakukan ini demi kelangsungan hidup kami, dark elf" Jawabnya dingin.
"Sudah kuduga kalian adalah pelakunya. Berusaha bertingkah tak bersalah dan berpura-pura membantu kami, kalian memang licik!" Sahutnya marah, tak menyangka kalau mereka akan dihianati oleh orang-orang yang justru ingin mereka bantu.
__ADS_1
Dark elf tersebut menyeringai "Kau salah menebak tuan putri. Mereka yang berada di atas tak tahu kami melakukan ini. Kami melakukannya demi menyelamatkan dunia ini dari tangan kalian yang sudah termakan oleh tipuan Codes. Kami tak bisa membiarkan dunia ini ikut hancur karena kebodohan suatu ras yang tak dapat melihat kebenaran"
Mendengar itu, hanya satu kata yang tepat untuk disebutkan "Kalian.. REBELS!?" Tanya tuan putri yang dibalas dengan sebuah tawa keras menyeramkan, membuat putri Zyora merasa takut dan bergerak makin dekat tuan putri untuk bersembunyi di depannya "Bukankah kalian takkan pernah keluar dari Archsoul? Kalian sendiri yang mengatakan kalau kalian takkan menyentuh dunia asal! Apa kata-kata sebelumnya hanya sebuah kebohongan!?"
"Ck ck ck, Yang Mulia.. Apa kau benar-benar percaya kami takkan melakukannya? Maksudku, dunia asal adalah rumah dan untuk menunjukkan poin kami, tentu saja kami akan menargetkannya. Seperti yang sudah kau lihat, dunia ini tak dapat bertahan tanpa Seed of Life dan kalian memberikannya begitu saja pada Codes? Apa kalian bodoh?"
"Mereka tak pernah menyentuhnya! Mereka bahkan tak membutuhkan itu. Mereka hanya ingin memasukkannya dalam Outernet!" Bantah tuan putri yang lalu meringis merasakan ujung pedang sudah memberi luka kecil yang kini mengalirkan darah segar di belakang lehernya.
Wajah prajurit tersebut berubah marah dengan kebencian yang tampak jelas di mata. Genggamannya pada gagang pedang pun menguat, siap untuk mengambil nyawa sosok perempuan di depannya "Outernet? Kalian percaya itu? Kalian sendiri tak dapat membuktikan bahwa Codes tak memiliki niatan tersembunyi dan kalian memilih untuk mempercayai mereka begitu saja!" Sebuah helaan napas terdengar "Dengar, kami terpaksa mengambil jalan kasar karena tak seorangpun mendengarkan kami. Namun, akan kami buktikan tak lama lagi, kalau Codes yang begitu kalian percayai itu, tak sebaik yang kalian kira. Tak ada mahluk di dunia ini yang akan berbuat sejauh itu tanpa sebuah niat tersembunyi. Kau akan melihatnya sendiri Yang Mulia dan saat itu tiba-
Tuan putri menundukkan badan ke depan, sementara putri Zyora menarik keluar sebuah belati dari sepatu putri Yuna dan menusukkannya pada kaki prajurit tersebut. Tak siap terhadap serangan itu, ia reflek menjatuhkan pedang, meraih belati yang kini tertancap di paha kanan dan meraihnya, telat menyadari sebuah tendangan kuat kini mengarah pada kepala.
Melalui perintah yang tertulis di sana, tuan putri mengerahkan mana miliknya sebagai energi cadangan bagi kubus biru di depan untuk kembali memancarkan kekuatan miliknya yang entah bagaimana, sementara disegel. Tuan putri tak mengenali segel oranye yang seketika menampakkan diri dalam bentuk sebuah cincin lebar begitu mana miliknya menyentuh kubus. Namun berkat pengetahuan dalam bidang sihir yang tinggi, tuan putri berusaha mematahkan segel hanya dengan membaca rune yang tertulis di sana, berusaha untuk membuatnya menjadi sebuah perintah yang bertolak belakang.
Sebuah rasa sakit tiba-tiba datang menyerang kepala, layaknya sebuah palu dihantam berulang kali. Tetapi tuan putri tetap berusaha meski tahu jika dirinya melakukan ini, sihir segel itu akan balik menyerang dan dapat membuat jiwanya terluka.
__ADS_1
Tahu-tahu sebuah energi gelap ditembakkan, mengenai lengan kanan tuan putri. Sembari berusaha menahan sakit, ia tak memedulikan lengan kanannya yang kini memiliki luka bakar berwarna ungu dan tetap berjuang mematahkan segel. Putri Zyora melihat itu, tergerak oleh keteguhan hati tuan putri dan mengangkat pedang yang terasa berat di tangannya untuk menghadapi prajurit tersebut.
"Tuan putri, aku tak ingin melukaimu, jadi mundurlah" Perintahnya yang tak dihiraukan. Ia berdecak kesal, menembakkan energi sihir pada putri Zyora yang entah bagaimana berhasil menghindar, masuk ke dalam bayangan putri Yuna dan muncul di belakang perempuan itu, memberinya sebuah luka sayat pada kaki sebelah kiri.
Tak dapat menahan rasa sakit, ia terjatuh ke depan, mencengkram kuat kakinya dengan tatapan tajam diberikan pada putri Zyora. Sebuah energi gelap ditembakkan berulang kali padanya hingga tuan putri terhempas menghantam tubuh putri Yuna. Segel yang kini tersisa setengah itu kembali bekerja, membuat kerajaan kembali kehilangan cahaya.
Putri Yuna meringis sakit, menoleh pada putri kecil yang kini tak sadarkan diri. Ia bangkit berdiri, menarik keluar pedang miliknya dan berjalan mendekati sosok yang kini tertawa keras, lalu menunjuk ke belakang, memperingati dirinya.
"Berhati-hatilah"
Sang tuan putri berbalik, menemukan sosok putri Zyora yang kini berdiri tak natural layaknya sebuah boneka. Kepala putri kecil itu terangkat, menampilkan sepasang mata ungu menyala. Dengan gerakan tak natural tersebut, dia datang menyerang, mengayunkan pedang miliknya seperti seorang prajurit terlatih yang sedang mabuk, namun tak kehilangan keahlian seseorang yang terlatih.
Mereka berdua saling bertukar serangan, menciptakan bunyi dentingan nyari yang berulang kali terdengar, makin lama makin cepat hingga tuan putri tak dapat mempertahankan fokusnya untuk mematahkan segel yang sekarang tersisa seperempat. Putri Zyora terus-menerus menyerang, tak kenal lelah, berhasil memojokkan tuan putri ke dinding dan terus menekannya di sana sembari menunggu tuannya selesai merapal mantra.
Prajurit itu tersenyum gembira, mengarahkan telapak tangan pada tuan putri sembari memegang rak di sebelah kiri sebagai sandaran dan berkata "Selamat tinggal putri Yuna, cerita hidupmu, berakhir sampai sini saja"
__ADS_1
Sebuah energi gelap besar ditembakkan hanya untuk hancur di tengah perjalanan, menimbulkan kepulan asap tebal memenuhi ruangan. Dia terbatuk-batuk karenanya, berusaha mencari tahu sosok yang kini terlihat seperti sebuah bayangan hitam di balik asap tebal di depan "Siapa kau!?" Bentaknya.
Sebuah mana keemasan terhempas keluar, membawa pergi kepulan asap dan menunjukkan sosok seorang laki-laki yang sedang menggenggam erat pedang dengan sepasang mata hijau setajam silet "Mohon maaf, tapi cerita kami, baru saja dimulai"