
Menelusuri terowongan yang panjang ini membuat kami kehilangan jejak terhadap waktu. Belum lagi perasaan tak nyaman karena gelisah Anti Matter akan menghilang. Kami juga tak dapat kembali ke belakang, sudah terlalu jauh untuk kembali ke sana, sama saja dengan membuang waktu.
"Zena.. Apakah terowongan ini masih panjang? Aku sudah basah kuyup oleh keringat" Keluh Theora yang sudah seperti bunga layu, tak dapat menahan lelah sesudah berjalan entah untuk berapa jam.
"Aku tak tahu. Entah mengapa aku tak dapat mengingat terowongan ini- Maksudku, aku tahu terowongan ini ada, tetapi aku tak ingat" Tangannya melambai-lambai berusaha mencari kata yang tepat "Ini.. Ahhh"
"Kau tak tahu ini mengarah ke mana?" Lanjutku.
Zena tersenyum lebar, menyahut "Ya! Itu dia!"
"Bukankah kau mengatakan kalau kau tahu sebuah jalan?" Tanya Alvain.
"Ya! Tapi.. " Zena melihat langit-langit terowongan, berusaha kembali mengingat yang sempat tebersit dalam kepala namun tak dapat menemukan apa-apa "Tadinya, aku merasa kalau aku tahu terowongan ini akan membawa kita ke mana. Namun, entah kenapa aku tak bisa mengingatnya"
"Mungkinkah kita salah jalan?" Balas putri Yuna cepat, berusaha membantu Zena "Kita kabur dari Phantom sialan- EHEM! Maafkan aku. Kita kabur dari Phantom tadi dan mungkin saja kita tersesat?"
Alvain melirik pada Sang kekasih yang berpura-pura tak menyadari lirikan tajam tersebut.
"Tidak, aku yakin ini adalah tempat yang kita tuju. Kebetulan saja Theora dan Atraz mengarah ke sini yang kuakui memang cukup aneh. Tapi aku yakin inilah jalannya"
Zena terlihat begitu yakin sekaligus tidak yakin di saat bersamaan.
Dia terus melihat sekitar, mencari tanda-tanda jika mungkin ada yang dapat membuatnya mengingat kembali tujuan terowongan ini.
Aku menariknya melingkarkan lengan pada pundak, meremasnya sedikit memberi tahu Zena untuk tenang.
Dia membalas tatapanku dan tersenyum lembut.
Dapat kulihat jelas dari sepasang mata cantik itu, mengatakan,
'Terima kasih dan aku mencintaimu'
Kami tetap melanjutkan perjalanan, berharap semoga Anti Matter tidaklah lenyap atau kami bisa berada dalam masalah. Masih tak terlihat ujung dari terowongan gelap ini dengan satu-satunya cahaya berasal dari bola buatan Zena.
Karena udara yang lembab dan terlalu panas, aku memutuskan untuk membuka jaket, tak sadar kalau mata Zena melebar melihatnya. Kuikat jaket tersebut pada pinggang sesudah menutup zipper-
Kalau kau ingin bertanya apakah jaketku takkan kusut, jaketku adalah milik Codes- Maksudku Zeon.
Aku masih tak menemukan alasan M3RC bisa memiliki bahan berteknologi tinggi itu. Yang pasti ada hubungannya dengan Codes- Zeon ck!
Mungkin saja mereka telah bekerja sama dengan Codes semenjak lama.
Aku memutuskan memakai Codes karena mereka sama-sama grup yang tak baik.
Saat akan kubuka baju hitamku yang ketat, aku melirik pada Zena yang terus melihat tanpa berkedip.
Kudekatkan wajah, berbisik "Bukankah kau sudah melihatnya?"
Zena tersentak, mengejutkan tiap orang di belakang dan buru-buru meminta maaf. Tak lupa memukul tubuhku sedikit terlalu keras hingga masuk dalam dinding.
Seisi terowongan bergetar karenanya, menyebabkan jantung berdegup kencang, membayangkan kami bisa saja terkubur di dalam sini.
Kami memang takkan mati, tetapi tetap saja kami sesak napas karena timbunan batu-batu berat berukuran besar. Dan hal paling menakutkan adalah sesak napas namun tahu kau masih bisa selamat.
Bayangkan saja kau digantung di tengah-tengah kematian dan kehidupan seperti itu.
"Mengapa kau menghantamnya!??" Tanya Theora tak mengerti.
"A-aku X-Xera, dia.. Ah! Lupakan saja. Waktu kita terbatas!" Balasnya ketus, bergegas pergi meninggalkanku yang masih bersatu dengan dinding.
"Xera! Kau tak apa-apa? Kenapa dia.. Kenapa kau tersenyum?"
__ADS_1
"Hm!?"
"Senyummu mencurigakan kau tahu" Ucap Theora dengan wajah jijik.
Aku menarik diri keluar dari sana, membutuhkan sedikit usaha karena ternyata aku masuk cukup dalam. Lalu membersihkan debu sembari berkata "Apapun yang kau pikirkan, berbeda dengan apa yang kupikirkan"
"Oh tenang, aku takkan menilaimu buruk atau apapun itu. Aku hanya terkejut melihat kau menikmati hantaman Zena"
"Apa? Bukan karena itu kau mesum!"
Theora mencibir "Sudahlah, kau pikir sudah berapa lama kita berteman?"
"Baru tiga bulan!"
"Tiga bulan adalah saat di mana teman menunjukkan sikap aslinya, kebetulan sekarang adalah tiga bulan. Oh tunggu" Dia datang mendekat, mengucapkan "Tak ada yang namanya kebetulan" Dengan nada pelan.
"Apa kau ingin mengintimidasiku? Kau hanya menggunakan quote dari sebuah film!"
"Apa kalian akan terus berbicara di belakang sana atau melanjutkan perjalanan?!" Sahut Zena yang sudah cukup jauh di depan.
AH! Pantas saja ruangan menjadi gelap dan Theora memanfaatkannya.
Aku berjalan beberapa langkah, berhenti, menepuk pundak elf tersebut "Kawan, kau terlalu banyak menonton film" Kemudian kembali berjalan menyusul Zena yang tiba-tiba menyikutku.
"Aku.. Terlalu banyak menonton film?"
Alvain berhenti di samping, memberinya sebuah tepukan pada punggung "Kau ratu drama Theora. Kami tak membencimu karena itu tapi Xera tak salah"
Mulut Theora terbuka membentuk huruf 'O', tak terima.
Alvain menepuknya sekali lagi dengan sebuah senyuman puas dan melanjutkan langkahnya bersama putri Yuna yang tertawa kecil, berkata "Biarkanlah Theora bersenang-senang. Kau juga terkadang bertindak seakan kita dalam misi Ancient Warfare"
Aku yang berada di depan menghindari tatapan menghakimi Zena "Kau telah meracuni mereka dengan budaya manusia. Theora dan Alvain yang selalu elegan, kini tergantikan dengan seorang gamer dan pecinta film garis keras"
"Kau mengatakan itu seolah-olah kita sudah tua"
"Kurasa lebih cocok mengatakannya, seolah-olah kita adalah orang tua" Balasku dengan sebuah seringai penuh arti.
Zena mengangkat alis, menatapku penuh rayuan "Oh? Jangan pikir kau bisa melakukannya lagi. Takkan berhasil dua kali tampan~"
Aku datang mendekat, membalas tatapannya tersebut "Apa kau pikir aku bercanda?" Bisikku, terkejut mendengar suara yang seketika berubah lebih rendah.
Zena ikut tersentak mendengarnya.
Namun sebelum dia dapat membalas, Alvain sudah berteriak dari belakang "BELUM SAATNYA! KITA DI TENGAH MISI!"
Kami bersama-sama melirik pada dia yang kini sementara tersenyum lebar, bahagia sudah berhasil merusak momen dan menerima sebuah cubitan dari putri Yuna hingga menjerit keras.
Beberapa menit kemudian, cahaya akhirnya mulai terlihat di depan. Walau hanya berupa sebuah titik kecil, setidaknya kami tahu perjalanan sudah akan berakhir.
"Hei lihat-
Sebelum Alvain selesai mengatakan itu, Theora dan Atraz sudah saling berlomba siapa yang akan mencapai garis finish terlebih dahulu. Mereka sampai menggunakan kekuatan masing-masing untuk mempercepat langkah.
"Akulah yang akan menjadi pemenangnya!" Seru Theora penuh semangat.
"Belum tentu!" Balas Atraz tak mau kalah.
Cahaya di depan makin membesar dan membesar, sedikit membutakan mata hingga mereka harus menggunakan punggung tangan.
Begitu akhirnya mereka menginjakkan kaki ke dalam cahaya, tiba-tiba jantung serasa jatuh ke jurang terdalam saat kaki tak dapat merasakan permukaan tanah.
__ADS_1
Mereka berteriak ditarik kuat oleh gravitasi.
Jeritan memenuhi udara, perlahan mengecil dengan mereka yang tahu-tahu sudah berupa garis kecil di bawah sana.
"Apa kita harus menyelamatkan mereka?" Tanya putri Yuna.
"Meh" Balas Alvain sembari tersenyum senang, terus memerhatikan sampai akhirnya mereka menghilang di balik pepohonan.
Di saat bersamaan..
**KRAKK! KRAKK! **
**SRAKK! **
DUM! DEM!
**DAG! DUG! **
BRAKK!
Kalau saja ada yang melihat mereka, sudah pasti mereka akan meringis ikut merasakan sakit. Untung saja mereka bukan manusia. Dari ketinggian seperti itu, manusia takkan lagi berbentuk begitu menghantam tanah.
"Ahhh.. Kenapa kau tak menggunakan sayapmu?" Tanya Theora lemas sembari menahan nyeri di sekujur tubuh.
"Aku lupa aku bisa terbang"
Theora menoleh pada Atraz yang kini berusaha bangkit berdiri "Kau apa?"
"Lupa bisa terbang"
"Apa kau mendengar dirimu sendiri?"
"Aku panik oke. Lagipula ide siapa yang meminta perlombaan dalam sebuah terowongan misterius yang bahkan tak kita tahu ujungnya seperti apa?" Balas Atraz yang kemudian meringis memegang belakangnya.
"Kenapa kau terima?"
Atraz melihat pada elf di samping, ingin menghantam wajahnya itu. Namun memilih untuk menghela napas, mengingat kalau Theora hanya terpengaruh oleh film "Kau benar-benar harus berhenti menonton Theora" Tukasnya lemas.
Dia duduk bersandar pada batang pohon, menunggu kedatangan empat orang di atas.
Theora meletakkan lengan pada pinggul, mengangkat dagunya, mengucapkan "Apa salahnya?"
"Tepat sekali"
Di saat itu juga, keempat orang tersebut muncul, mendarat pelan di tengah-tengah dengan senyum kemenangan menghias wajah. Kecuali Zena dan putri Yuna tentunya. Hanya Xera dan Alvain yang tersenyum lebar.
"Bagaimana? Apakah kalian berdua sudah puas bermain-main?" Tanya Alvain riang.
"Apa yang harus kami lakukan? Kalian berdua terus saling merayu dan menggoda. Kau ingin kami seperti itu? Kau ingin mendengar aku mengatakan, 'Atraz.. Tatapanmu begitu memesona, aku terjatuh dan tenggelam di dalam keindahannya'. Kau ingin aku seperti itu? Bahkan Atraz sendiri.. KENAPA KAU TERSIPU?!"
Di depan sana, Atraz memalingkan wajah sembari menyembunyikannya menggunakan punggung tangan. Dia berdeham beberapa kali, bangkit berdiri dan menghela napas panjang "Kita harus kembali fokus. Kita sudah terlalu lama menghabiskan waktu"
"Berhenti membuat suaramu terdengar lebih berat, kau menyulitkan posisiku di sini" Balas Theora kesal.
Dia melangkah ke depan, memilih arah secara sembarangan dan tahu-tahu sudah menghilang di balik pepohonan. Kami saling bertatapan, tak tahu harus mengikutinya atau menyeret dia kembali.
"WOAHH!! KALIAN HARUS KE SINI!!"
Mendengar sahutan itu, kami bergegas ke sana, memutuskan menyeretnya atau tidak melalui apa yang akan kami lihat. Kalau sampai dia berteriak hanya untuk menarik perhatian, kami akan-
Namun tak seorang pun dapat berbicara begitu keluar dari pepohonan.
__ADS_1
Kami berdiri di atas sebuah tebing, memerhatikan pemandangan yang tak kami sangka ada di dalam Archsoul.