Archsoul

Archsoul
Part 9


__ADS_3

"Hey, aku ingin tahu pendapat kalian mengenai Mercenary" Ucap Elf berambut abu-abu penasaran.


Pertanyaannya yang tiba-tiba itu membuat Elf berambut putih berpikir sejenak, kemudian menjawab "Mercenary ya?" Ulangnya, lalu menatap Sang sahabat yang terlihat bersemangat mendengarkan pendapatnya "Mercenary, mereka adalah orang-orang yang terpaksa mengambil jalan lain demi menuntaskan tujuan masing-masing. Tujuan apakah itu? Kita takkan pernah tahu, tapi ada juga yang memilih mengikuti jalan Merc karena mereka memang menyukainya, jadi pertanyaan yang benar adalah apa bedanya kita dengan mereka"


"Kita sama-sama mengejar sebuah tujuan, sama-sama menyukai hal yang kita lakukan sekarang. Jadi, apa bedanya? Tujuan kita? Tujuan orang berbeda-beda, tak ada yang sama. Lalu apa yang membedakan?" Ia tersenyum melihat raut wajah Sang sahabat yang berusaha keras memikirkan jawabannya.


Namun sebelum ia dapat membuka mulut, Sang elf berambut pirang panjang menjawab "Mereka adalah orang-orang yang berjalan di luar jalur, menggunakan berbagai macam jalan pintas untuk dapat segera mencapai tujuan, berbeda dengan kita yang menggunakan jalur utama yang disebut sebagai moral. Memang akan membutuhkan waktu lebih lama, tetapi setidaknya kita masih mempertahankan moral kita dibanding mereka yang rela melakukan apa saja. Namun, benarkah begitu? Terkadang kita juga harus melewati jalan berlubang meski menggunakan jalan utama, apakah itu membuat kita sama dengan mereka?" Yuna menggeleng "Tidak. Kita selalu mengingat lubang tersebut dan berusaha memperbaiki lubang yang kita temukan di kemudian hari, tetapi tidak dengan mereka yang melupakannya begitu saja dan begitu menemukan lubang lain, mereka takkan peduli karena telah terbiasa. Mereka kehilangan tak hanya empati tetapi juga simpati, menutup hati dengan kegalapan sebagai alasan perlindungan namun jauh di dalam mereka sadar, tiap lubang tersebut merusak mereka secara perlahan hingga akhirnya ketika mereka akan mencapai tujuan dan sebuah lubang besar menghalangi, mereka lebih memilih untuk menyerah, tak ingin menggapai tempat tujuan yang telah berada di depan mata karena tak ingin kehilangan satu-satunya perasaan yang membuat mereka merasa hidup"


Kedua elf tersebut terdiam, baru saja menerima sebuah pencerahan baru yang tak disangka akan mereka dapatkan dalam perjalanan kali ini.


"Lalu, bagaimana dengan mereka yang mengambil jalan pintas dan tetap menghadapi lubang besar tersebut?" Tanya elf berambut abu-abu.


"Mereka akan kehilangan satu-satunya hal yang membuat mereka layak disebut sebagai mahluk hidup. Mereka jauh lebih cocok untuk dikatakan sebagai monster karena orang-orang seperti itu, tak lagi perduli pada dunia, hanya pada dirinya sendiri serta tujuannya. Ya, dia telah berhasil mencapai tempat tujuan, namun jika dia melihat sebuah jalan baru terbuka, apakah dia dapat menahan diri? Beberapa bisa, tapi orang-orang itu hanya dapat dihitung dengan jari. Mereka tak banyak, namun bagaikan sebuah bom waktu berbahaya yang menunggu saat mereka kehilangan kendali dan bukannya berjalan memasuki jalan baru tersebut, melainkan berlari, melakukan berbagai cara untuk memuaskan diri, mencari apa yang terletak di ujung jalan tersebut. Mereka adalah orang-orang yang paling berbahaya dibanding yang lain karena tak hanya mengandalkan segala cara, tapi mengorbankan diri sendiri pun mereka rela selama dapat memuaskan lubang hitam besar di dalam hati yang terus-menerus menghisap, tak hanya hatinya, tetapi juga jiwanya"

__ADS_1


"Menurutmu, apakah Merc yang kita bayar juga seperti itu?" Tanya elf berambut putih.


Yuna berjalan mendekati tebing, merasakan hembusan angin malam yang anehnya terasa sedikit lebih kencang dibanding tadi "Dia.. Aku tak tahu" Jawabannya itu membuat kedua elf yang tadinya duduk santai, seketika duduk tegap dengan badan menegang, tak menyangka Yuna yang selalu dapat menilai seseorang, kini menampilkan wajah penuh rasa ingin tahu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya "Dia.. Menarik" Kata tersebut berhasil membuat mata kedua sahabatnya melebar, mereka saling berpandangan lalu kembali menatap Sang sahabat "Dia tak berada di jalur utama dan juga jalan pintas. Dia berada di jalur lain yang benar-benar berbeda, sebuah jalur yang jauh lebih sulit ketimbang kedua jalur tersebut. Jalur yang tak hanya memaksanya memperbaiki lubang, namun juga membuat dialah bahan sebagai pengisi lubang tersebut. Kalau kau ingin bertanya dengan cara apa dia menjadi bahan, aku juga tak tahu. Ada berbagai macam hal yang dapat dirinya gunakan, salah satunya adalah balas dendam"


"Hmm, jadi mengorbankan diri sendiri demi tak hanya mencapai tujuan, tetapi juga memperbaiki jalan yang ia lalui, sehingga siapapun yang akan menggunakan jalan tersebut tak lagi merasakan hal yang sama namun masih dapat merasakan betapa berat perjuangan yang dirinya lalui. Tapi, sayangnya orang-orang seperti itu tak sedikit yang gagal untuk mencapai tujuan karena meskipun dirimu memiliki kekuatan besar, lubang-lubang tersebut akan terlalu dalam untuk dapat terisi semua dan hanya seorang diri saja?" Elf berambut putih itu menggeleng "Sama saja seperti bunuh diri"


"Mungkin, tapi aku yakin orang ini berbeda"


Tepat ketika Yuna menyelesaikan kalimat tersebut, sebuah bola putih besar muncul dari bawah tebing, mengejutkan tiga elf yang terbelalak melihat seorang manusia kini berdiri di atasnya sembari tersenyum lebar seakan ini adalah masa paling membahagiakan.


Wahh, itu tadi benar-benar sebuah pengalaman yang takkan pernah kulupakan dalam hidup. Aku pasti akan kembali ke sini lagi agar dapat bersenang-senang bersama Gorg yang juga setuju untuk mengajakku ke tempat-tempat indah tersembunyi dalam Alfheim. Sebuah undangan langsung dari mahluk yang telah berumur seribu tahun lebih, siapa yang ingin menolak? Tentu saja kuterima dan sebagai bayarannya, Gorg ingin aku membawa lebih banyak bola-bola biskuit berlapis cokelat yang kumakan. Aku tak menyangka Forest Guardian dapat memakan sesuatu dengan mengubahnya menjadi sebuah energi untuk diserap oleh tubuh mereka. Gorg mengatakan cokelat-cokelat ini enak yang masih membuatku bingung apakah dia merasakan rasa yang sama seperti dalam mulutku ataukah rasa yang lain.


"Maaf aku membuat keributan, aku harus menggunakan cara lain agar dapat cepat mencapai tebing ini dan kurasa kalian sedang terburu-buru melihat situasi kerajaan elf sekarang" Ucapku, meletakkan kotak penyimpanan di depan "Bayarannya"

__ADS_1


Elf berambut pirang di depan yang tampaknya adalah pemimpin dari dua orang laki-laki di belakang, mengeluarkan sebuah Futurephone berbahan kayu indah dalam warna krem muda menggunakan energi sihir sebagai layar berwarna hijau yang kemudian ditekannya. Di saat bersamaan, sebuah notifikasi muncul dalam Futurephone milikku, aku mengecek jumlah poin, lalu balik menatap elf yang wajahnya tak dapat kulihat itu, tersembunyi di balik tudung putih serta sihir "Jumlahnya kurang dari yang kau janjikan" Tukasku dengan tenang, tapi kedua elf di belakang dia bergerak maju ke depan sembari menarik keluar pedang panjang dua sisi elegan milik mereka "Apa begini cara elf melakukan sesuatu? Kalian lebih licik dari yang kukira"


"Tolong jangan salah paham, aku tahu jumlahnya kurang dari yang kujanjikan, tapi aku janji akan membayarmu lebih di waktu dekat. Mereka hanya melindungiku seandainya-


"Aku datang menyerang" Potongku tajam "Yang di mana tak salah bukan? Kau seharusnya membayarku sesuai jumlah yang kau janjikan" Pada tangan kiri, percikan-percikan listrik berwarna merah mulai terlihat dengan lampu neon merah milikku bercahaya terang.


Gadis elf itu melangkah maju, memerintahkan kedua elf di kiri-kanannya untuk menurunkan pedang yang hanya dapat menghela napas panjang sebelum menyarungkan pedang mereka "Aku sama sekali tak ingin terjadi masalah dan kau sebagai seorang manusia, seharusnya tahu sulit bagimu untuk menang melawan tiga elf"


Dia tak salah, tapi itu hanya berlaku untuk Merc biasa yang membuatku kembali berpikir, mungkinkah dia ini menyewa Merc tanpa mencari tahu informasi mereka terlebih dahulu? Ataukah dia hanya terlalu angkuh untuk mengakui kemampuan.. Sudahlah, tak begitu penting.


Aku menonaktifkan mode bertarung pada tangan kiriku, menghela napas dalam, lalu melipat lengan "Baiklah, katakan, bagaimana cara agar aku bisa mempercayaimu? Jangan harap kau dapat kabur begitu saja, kau sadar jaringan Mercenary itu luas bukan?" Ancamku seandainya dia berpikir untuk melakukan hal tersebut. Bukan hal yang sulit untuk menemukannya dengan jaringan yang dimiliki Rico dan aku juga memiliki beberapa kenalan di ras lain yang masih memiliki hutang besar.


Gadis itu tersenyum, mengucapkan "Mudah! Kau ikutlah bersama kami"

__ADS_1


"HAH!?" Sahut kami bertiga para laki-laki bersamaan.


__ADS_2