
Entah sudah berapa kali Antra mondar-mandir dalam ruangan dengan tangan kanan terus memegang dahu, sementara berusaha memikirkan kemungkinan-kemungkinan siapa dalam ras elf yang bekerja sama dengan Rebels. Tetapi, setahu dirinya, tak mungkin ada satupun dari mereka yang rela menghianati ras sendiri, terlebih sampai memberikannya ke tangan musuh. Namun, siapa lagi yang bisa mengetahui jika putri Zorya adalah seorang High Elf selain para petinggi di sana.
Antra akhirnya memilih untuk duduk dan memangku wajah menggunakan tangan kanan yang ditumpukan pada meja di samping. Sebuah cangkir berisi teh panas terletak di sana, mengepulkan asap putih ke atas yang menjadi fokus Antra untuk sesaat selagi ia memutar otak hingga kepala terasa sakit oleh begitu banyaknya jawaban tak masuk akal. Tak hanya mengenai Rebels, tetapi juga Druid yang kini menampakkan diri setelah beribu tahun bersembunyi. Mungkinkah alasan dia keluar karena kedatangan Codes? Mungkin saja dia merasa terancam mengingat tugas utama Druid adalah melindungi Alfheim dari segala macam ancaman. Namun, Codes hanya datang membantu. Kalau mereka berniat buruk, sekarang Alfheim sudah tiada.
Ia kembali mengingat-ingat Rebels. Menurut ketiga orang itu, mereka adalah grup yang berusaha melawan Codes.. Apakah mungkin ada hubungannya dengan kemunculan Druid? Karena kalau dipikir-pikir, Druid itu tak pernah muncul saat Codes tiba di dunia ini. Dia hanya menampakkan diri saat para Rebels mulai beraksi. Tetapi, tak ada bukti nyata juga kalau dia baru saja menampakkan diri pada dunia setelah menghilang beribu tahun. Bagaimana kalau ternyata dia sudah muncul bahkan sebelum kedatangan Codes?
Semua pemikiran ini membuatnya pusing. Antra sampai menenggak habis teh tersebut, lupa jika masih terasa lumayan panas dan membuat mulutnya seperti menelan sebuah lava. Saat dia selesai terbatuk-batuk, sebuah ide tiba-tiba muncul dalam kepala, memberinya sebuah kepingan puzzle terakhir dalam teka-teki. Sekarang, dia yakin kalau kemunculan para Rebels itu bukanlah untuk membuat para elf bertekuk lutut, mereka justru ingin menggerakkan kekuatan tersembunyi yang sementara beristirahat di dalam Alfheim! Druid itu adalah jawabannya!
Ia mulai bersemangat, berjalan mengelilingi ruangan dengan cepat karena hanya sedikit lagi ia dapat meraih kepingan puzzle terakhir "Druid itu telah terbangun saat para Codes muncul, tetapi tidak menampakkan diri karena merasa tak ada bahaya dari mereka. Namun, karena kehadiran para Rebels yang berniat buruk, Druid tersebut akhirnya memilih untuk keluar, turun tangan untuk membantu mengusir mereka. Itulah alasan dia menampakkan diri pada mereka berempat, untuk memberitahu kalau Druid masihlah ada dan selalu mengawasi.
Druid tersebut tahu tujuan mereka membeli begitu banyak alat milik manusia karena bukan untuk memberi kekuatan cadangan pada Yggdrasil, melainkan- tunggu. Tidak, tak seperti itu. Jika memang dia menampakkan diri karena kemunculan Rebels, mengapa dia tak turun tangan langsung sementara sekarang dia adalah mahluk terkuat dalam Alfheim. Tak ada alasan pasti baginya untuk berdiam diri memangku tangan menunggu hasil dari tiga elf muda dan seorang manusia. Ada hal lainyang hilang di sini"
Seketika kepingan puzzle yang tadinya sudah berada di depan mata, menghilang begitu saja seakan tak pernah ada. Antra kembali terduduk lemah, memijat pelipisnya karena kepala yang sudah berdenyut-denyut. Ia merasa mungkin dia membutuhkan istirahat untuk sementara sehingga memilih untuk berjalan keluar dari dalam ruangan hanya untuk menemukan putri Yuna sudah siuman dan kini berdiri tepat di depan pintu dengan wajah yang seakan mengatakan 'Aku menemukan jawabannya!'.
Ia mempersilahkan tuan putri masuk ke dalam, akan menawarkan minuman tetapi tuan putri tiba-tiba mengatakan "Para Rebels adalah pelakunya!" Dengan keras. Putri Yuna terlihat bingung saat tak ada perubahan wajah pada Antra dan menjadi curiga padanya, terlebih ketika tiga orang yang tadi bersama dia tiba-tiba menghilang tanpa sebuah jejak "Kau.. Kau salah satu dari mereka!"
__ADS_1
Antra terdiam di tempat, syok tak tahu alasan mengapa tuan putri mengatakan hal tersebut dan mengangkat kedua tangannya untuk menunjukkan kalau dia tak berbahaya serta tak memiliki niat buruk "Putri Yuna, jika kau mencari ketiga orang temanmu, mereka sudah dalam perjalanan menuju kereajaan elf. Alasan aku di sini adalah untuk menjagamu dan putri Zyora sekaligus mencari tahu ke mana menghilangnya para dewan dark elf"
"Mengapa?" Tanya tuan putri.
"Karena mereka harus mencari siapa yang mungkin bekerja sama dengan para Rebels di sana dan sebelum tuan putri memotongku" Lanjutnya cepat ketika putri Yuna membuka mulut "Putry Zorya adalah seorang High Elf. Mercenary yang kalian hadapi saat perjalanan adalah bagian dari para Rebels dan hanya para petinggi di kerajaan elf saja yang mengetahui fakta ini. Jadi kami menganggap salah satu dari petinggi kalian bekerja sama dengan Rebels untuk mencuri kekuatan dalam diri putri Zorya dan menggunakannya... "
"Kenapa? Kenapa kau terdiam?" Desak tuan putri.
Sesuatu baru saja lewat dalam benak Antra, lewat dengan cepat hingga ia hanya dapat menerkanya sedikit. Namun, bisa jadi sesuatu ini adalah kepingan puzzle terakhir yang mereka cari-cari "Aku tahu ini terdengar tidak waras. Tapi, apakah menurutmu seorang Druid dapat memiliki niat pribadi selain melindungi Alfheim?" Tanyanya pada tuan putri yang awalnya ingin mengatakan Antra sudah gila, namun terdiam tak sampai sedetik kemudian.
Tuan putri melipat lengan, berusaha memutar otaknya "Kau ingin mengatakan kalau Druid tersebut ingin membangkitkan kembali Azrael? Itu tak mungkin. Walaupun dia adalah seorang Druid, mustahil membangkitkan seseorang dari kematian tanpa sihir kegelapan sementara Druid lemah terhadap sihir seperti itu" Jelasnya dengan dahi berkerut makin dalam karena tuan putri sadar, ada sesuatu yang janggal di sini, sesuatu yang masih belum dapat dirinya raih, namun sudah begitu dekat untuk dapat dirasakan walau samar-samar.
"Dalam cerita, dikatakan bahwa Azrael mengorbankan nyawa sebagai bahan utama untuk menciptakan Seed of Life sehingga kita tak perlu lagi saling membunuh dan mengumpulkan jiwa sebagai pengisi energi masing-masing kerajaan yang melindungi kita dari Pit of Despair. Hal itu dibantu oleh seorang Druid muda, seseorang yang menjadi pasangan Azrael. Bagaimana kalau ternyata semua ini terjadi bukan hanya karena Rebels, tetapi juga Druid tersebut?" Antra berhenti berjalan dan menghadap pada tuan putri dengan sepasang mata lebar, telah menemukan jawaban terakhir yang mereka butuhkan.
"Hanya para petinggi dari kerajaan elf sajalah yang tahu fakta bahwa putri Zorya adalah seorang High Elf, tapi mereka tak mungkin berusaha mencuri putri Zyora dengan anggapan kamilah pencuri Seed of Life. Ingatlah, para Druid pada dasarnya memiliki mata dan telinga di mana-mana, selama terdapat sebuah tanaman di sana. Namun, mereka tak dapat melakukan hal yang sama dalam tempat kami karena dipenuhi oleh sihir kegelapan. Mungkin saja dia mendengarnya saat para petinggi kerajaan elf berbicara dan merebut Seed of Life sesudah tahu masih ada seorang High Elf, High Elf yang mendapatkan kekuatan khusus untuk menggunakan sihir kegelapan. Putri Zyora.
__ADS_1
Bayangkan saja, tak satupun orang tahu ke mana Seed of Life pergi, tetapi Druid tersebut justru meminta kalian untuk segera datang ke sini tanpa sebuah alasan jelas dan aku yakin, kalian mendengar berita mengenai kami yang mencurinya dari para petinggi elf. Salah satu dari mereka bekerja sama dengan Rebels, kebetulan Rebels juga membutuhkan sesuatu sebagai awal dari perlawanan mereka. Situasi ini menguntungkan kedua belah pihak. Druid tersebut dapat kembali membangkitkan Azrael dan Rebels dapat merekrut lebih banyak pendukung sesudah Alfheim ditaklukkan"
Putri Yuna mengangguk-angguk mengerti, kemudian tiba-tiba menjerit keras, berhasil meraih kepingan puzzle terakhir yang sudah mereka cari-cari "PERPUSTAKAAN BESAR!" Serunya penuh semangat "Perpustakaan itu tak dapat dimasuki oleh siapapun kecuali keluarga inti raja. Namun, tak satupun dari nama kami tertulis dalam catatan yang berarti tak satupun masuk ke dalam. Tapi beda halnya dengan Druid! Dia bisa masuk kapan saja terutama menggunakan sihir tanamannya itu.
Di dalam sana terdapat sebuah buku yang tak pernah kami lihat sebelumnya, tak ada nama tercatat, tetapi begitu kami masuk ke dalam, buku tersebut sudah berada di sana, terletak dalam salah satu rak! Dan aku baru saja sadar. Qeina, Druid tersebut menyebutkan buku itu saat menjelaskan situasi pada X! Padahal kami baru saja bertemu dengan dirinya! Mengapa aku tak menyadari ini!?"
"Dia bahkan sampai sengaja menghalang Pit of Despair untuk muncul di sini dan berakhir kehabisan kekuatan. Itulah alasan dirinya masih tak bergerak sampai sekarang. Dialah yang menerima energi kerajaan kami dan aku rasa aku tahu ke mana perginya para dewan kerajaan dark elf" Antra menghela napas, berusaha untuk tetap tenang "Alvain sempat mengatakan, Sang Mastermind adalah seseorang yang dengan mudah memanfaatkan perasaan orang lain. Apakah Druid ini seperti itu?" Tanya Antra penasaran. Kalau ini benar, maka mereka telah menemukan Sang pelaku utama.
"Kau takkan percaya betapa lihai dia memainkan kata-kata sampai dapat membuat Alvain terdiam" Tuan putri ingin melonjak gembira karena telah berhasil menemukan jawaban terakhir, tetapi menahan diri. Ada satu pertanyaan lagi yang masih belum terjawab oleh mereka "Lalu, mengapa bawahanmu menyebutkan nama Azrael?"
Senyum di wajah Antra berubah kecut kembali mengingat nasib bawahan kepercayaannya itu "Dia sering menghabiskan waktu dalam hutan, di luar dari area kami" Sadar kalau ternyata Arun telah dimanfaatkan oleh Druid tersebut.
Mereka berdua akhirnya mengingat kalau Druid memiliki kemampuan untuk menciptakan sebuah clone dan membuat Antra menghantam dinding dengan kuat saat menyadari hal ini.
"Dia memanfaatkan clone untuk menarik para dewan kerajaan dark elf menuju tempat persembunyiannya sebagai wadah penampungan sihir kegelapan. Itulah alasan putri Zyora keluar dari dalam kerajaan, mengikuti Sang ayah ke hutan" Dengan begitu, kepingan terakhir puzzle kini telah bersatu dalam teka-teki besar yang justu membuat mereka merasa mual. Tak mampu menahan perasaan yang kini bergejolak, mengamuk bagaikan sebuah badai. Tak menyangka, Druid yang seharusnya menjadi pelindung dunia mereka, justru menjadi alasan utama Alfheim akan berakhir.
__ADS_1