
Mereka masih tak dapat melihat ke balik asap, masih tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di sana dan mengapa tak ada suara pertarungan sama sekali. Begitu sunyi seperti sebuah pemakaman. Tak sedikit yang sudah gelisah, ingin segera berlari masuk ke dalam, menghancurkan para dark elf kemudian mengambil poin. Untuk apa mereka mendengarkan sebuah perintah dari seorang manusia? Seandainya saja ini bukan karena permintaan Druid itu, mereka tak mungkin melakukannya.
Semenjak tadi, yang dilakukannya hanyalah mengirim pasukan-pasukan kecil yang tak lagi memberi kabar. Kemungkinan besar mereka sudah mati. Tidak, mereka pasti sudah mati. Tapi mengapa dia masih belum memberikan perintah untuk menyerang? Kalau mereka semua bergerak, kerajaan dark elf sudah pasti takkan dapat bertahan.
Tak sedikit yang menyuarakan kegelisahan mereka, meminta untuk segera dikirim ke sana dan membawa kemenangan untuk mereka. Satu hal yang tak mereka sadari adalah dark elf mungkin memiliki sesuatu yang mampu menghabisi pasukan sebelumnya. Pasukan-pasukan tersebut tak dapat dikatakan lemah dan tak mungkin bisa dikalahkan oleh dark elf yang berada di Tier 4. Kecuali mereka menerima bantuan lain.
"Kita hanya akan kehabisan pasukan!" Sahut seseorang dari ras Werebeast.
"Jumlah kita jauh lebih banyak dari mereka! Kita bisa langsung menghancurkan mereka!" Lanjut seorang dari Vampire.
Sang Komandan berdecak kesal mendengarnya, berpikir kalau ras-ras ini sudah terlalu angkuh dan tak memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain. Sementara kita tak bisa begitu saja terjun ke medan perang tanpa sebuah persiapan. Kita datang ke sini untuk mengambil poin bukan untuk mati sia-sia. Belum lagi dengan poin-poin yang dapat hilang. Apa gunanya jika mereka terus mati sampai poin yang telah dikumpulkan bertahun-tahun habis?
Namun Qeina melangkah ke depan, mengambil alih situasi "Kalian yang ingin menyerang, silahkan maju ke sana. Namun jangan salahkan kami begitu poin yang sudah kalian kumpulkan habis begitu saja" Tukasnya.
Melalui itu, mereka yang sudah tak sabar segera berlari ke depan, mengacungkan senjata tinggi di udara dengan seringai lebar pada wajah. Mereka bersorak, berpikir kalau kemenangan begitu mudah didapatkan hanya karena menghadapi para dark elf yang cuma tahu bersembunyi di dalam kegelapan. Mereka tak takut pada ras penakut seperti itu. Akan mereka tunjukkan, seperti apa rasanya sebuah pembantaian!
Qeina memerhatikan jumlah yang kini berlari, sedikit terkejut saat mengetahui jumlah mereka melebihi seribu orang. Cukup banyak. Menurutnya. Ia lalu kembali berjalan ke belakang, melanjutkan apapun yang sedang dikerjakannya dalam sebuah area khusus yang terbentuk dari akar-akar besar. Tak seorangpun dapat melihat yang terjadi di dalam, tak ada yang diperbolehkan masuk ke sana, hanya dirinya seorang.
Sang Komandan melipat lengan melihat mereka yang kini sudah masuk dalam area dark elf, menghilang di balik kepulan asap tebal dan mendengus kasar, mengucapkan "Semoga kalian sadar betapa bodohnya kalian"
Dia sengaja hanya mengirim sedikit pasukan agar pasukan sebelumnya bisa memberitahu apa yang terjadi di dalam begitu mereka kembali di sini. Tapi, tentu saja akan selalu ada orang-orang seperti mereka yang tak bisa menahan diri walau hanya sebentar.
Seperti yang sudah terjadi sebelumnya, mereka yang berada di dalam segera dibantai oleh Nightmare. Tak satupun dari perlawanan mereka berhasil dan hanya membuat mereka seperti orang bodoh. Serangan maupun kekuatan mereka tak mempan terhadap tubuh hitam tersebut. Hanya kematian yang menunggu di akhir. Mereka beruntung ini bukan tubuh asli mereka. Kalau tidak, tak mungkin mereka berani melakukannya.
__ADS_1
Jumlah sepuluh kali lipat dari Nightmare itu bukanlah apa-apa di hadapan mahluk Tier 8 seperti mereka. Lawan yang datang berasal dari ras Orc, Dwarf, Vampire, Mercenary dan Werebeast. Tak satupun dari mereka melebihi Tier 6 sehinggan Alvain tak perlu merasa khawatir. Dia juga telah siap seandainya mereka datang ke sini membawa cahaya.
Pertahanan kerajaan dark elf memang terlihat tak begitu mengesankan dari depan karena tujuan utamanya bukanlah penyerangan fisik, melainkan mental. Mereka yang melihat dari luar memang masih dapat memerhatikan siluet kerajaan dark elf dan merasa tak perlu membawa cahaya karena penerangan di dalam masih terlihat cukup terang. Sehingga membawa cahaya merupakan sebuah beban.
Masing-masing ras juga memiliki mata yang jauh lebih baik dalam kegelapan di banding manusia jadi tentu mereka merasa cahaya tak dibutuhkan. Para Mercenary juga percaya pada penglihatan ras lain karena telah mereka alami sendiri dalam Archsoul. Tak seorang pun tahu begitu mereka menginjakkan kaki di dalam, kegelapan tersebut akan bertambah berkali-kali lipat. Belum dengan ilusi yang akan membawa mereka pada sebuah jurang besar.
Saat ditanya, Antra juga tak tahu mengapa ilusi tersebut membawa mereka ke jurang di sebelah kerajaan. Tak satupun catatan mengenainya. Jadi dia berpikir, kemungkinan besar para buyut melakukannya karena untuk apa membuat jebakan lain selain menggunakan jebakan maut yang sudah terbentuk oleh alam? Lebih baik memanfaatkan itu ketimbang membuang tenaga dan waktu.
"Sayang sekali kita tak dapat melakukannya lebih lama lagi" Tukas Alvain sembari memerhatikan pembantaian di bawah, menghiraukan jeritan serta teriakan mereka "Begitu mereka kembali dan memberitahukan hal ini, mereka pasti akan menemukan cara untuk menghadapinya. Kemungkinan besar mereka membawa cahaya untuk melihat apakah dapat digunakan di dalam sini yang sayangnya tidak. Cahaya mereka hanya akan berfungsi membekukan para Nightmare yang tentu takkan keluar dari kegelapan" Sebuah senyum terbentuk di wajahnya "Aku merasa kasihan pada poin mereka"
Aku berjalan ke atas gerbang, berdiri tak jauh di depannya dengan tangan memancarkan listrik "Aku akan memancing mereka. Kalian tunggu saja di sini"
"Tunggu! Xera apa yang kau lakukan-
"Tapi mengapa? Bukankah ini merupakan ritme yang bagus untuk kita" Tanyanya tak mengerti.
"Akan kuberitahukan padamu satu hal mengenai M3RC. Kebanyakan dari mereka adalah manusia, tetapi kau tahu mengapa mereka menjadi salah satu grup yang diawasi?" Senyumnya melebar "Karena mereka tahu kapan untuk mengambil kesempatan. Kesempatan yang dapat membuat arah peperangan berubah total. Dan aku yakin Xera menemukannya"
Aku berlari menghindari pertarungan sia-sia mereka, pandangan lurus ke depan, tepat ke arah tenda berada kemudian mengumpulkan energi pada kedua kaki. Begitu aku menghentak, terbentuk sebuah dentuman sonik menggelegar hingga angin menghembus kencang. Hanya dalam hitungan detik, aku sudah berada di sana, tepat di samping sosok Mercenary yang aku yakin adalah Komandan mereka.
Dia melirik padaku, terkejut dengan sebuah kata terucap.
"Black Swan.. "
__ADS_1
Kuhancurkan tenda terdekat, memporak-porandakannya, membuat para pasukan di sana kocar-kacir mencari perlindungan. Angin yang tercipta saat aku berhenti, membawa terbang tenda-tenda di sekitar, membuat para pasukan tersentak oleh kedatangan badai mengamuk.
Mereka melihat ke sini, mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Bagaimana bisa dark elf memiliki seseorang sekuat itu dan jauh lebih terkejut lagi ketika menemukan seorang M3RC lah penyebab kekacauannya.
Aku melompat tinggi di udara dalam satu hentakan, mengumpulkan energi pada tangan kanan dan meluncur dalam kecepatan tinggi ke bawah, membentuk sebuah kawah besar beraliran listrik. Tanah gemetar karenanya, membentuk sebuah gempa yang tak hanya mengguncang tanah, tetapi juga mengguncang mental mereka.
Tentu mereka takkan mengira kalau seseorang sekuat ini berada bersama dark elf...
Mereka baru saja sadar pada sebuah fakta kalau terdapat M3RC dalam pertarungan sebelumnya, saat salah satu bangsawan elf menjadi gila dan penuh akan kekuatan besar.
"Mungkinkah dia adalah M3RC tersebut? Tapi bagaimana?" Tanya salah seorang dari mereka sembari menatap sosoknya di tengah-tengah kawah.
Angin berhembus meniup tudung kepala tersebut, tudung yang takkan pernah terlepas kecuali Sang pemilik yang melepasnya. Dapat terlihat sekelebat rambut putih dari sana dengan sebuah seringai menghias wajah.
Qeina buru-buru keluar dari dalam area nya, tahu siapa yang memiliki kekuatan seperti ini dan tak menyangka kalau pemuda tersebut ternyata jauh lebih kuat dari yang dirinya kira. Begitu sampai di bibir kawah, dia melihat ke bawah, menemukan X sedang menatapnya.
"Hai penghianat. Tak kusangka akan melihatmu masih hidup. Aku pikir mereka telah menghabisimu sama seperti kau menghabisi kami. Apakah mereka targetmu berikutnya? Kalau iya, aku benar-benar kasihan pada mereka, tertipu oleh kebaikan Druid yang ternyata menyimpan rahasia gelap" Aku berbalik pada para pasukan yang kini tampak bingung "Akan kuperingati kalian sekali saja. Jika kalian masih menyayangi poin kalian, lebih baik kalian pergi sekarang" Kutunggu selama beberapa detik dan tak seorang pun dari mereka yang bergerak "Tak ada? Baiklah, jauh lebih baik jika seperti itu"
Begitu Bloodlust kuaktifkan, seluruh orang yang berada di sini, mereka yang berada di Tier 8 ke bawah, merasakan nafsu besar untuk segera berlari ke kerajaan dan menghabisi semua orang di sana. Mereka bersorak, menyeringai lebar layaknya mahluk buas, kemudian mulai berlari tanpa dapat mengendalikan diri sendiri.
Antra memajukan badan, memegang pagar batu, tak percaya pada apa yang disaksikannya "XERA MENGGERAKKAN SELURUH PASUKAN MEREKA!!" Teriaknya, mengejutkan semua orang.
Dahi Alvain mengkerut, kedua tangan turun ke bawah, tak menyangka Xera akan melakukan sesuatu yang begitu gila seperti menggerakkan dua puluh ribu orang sekaligus "Dia selalu saja menyimpan kejutan" Ucapnya dengan sebuah senyum gugup. Tak tahu bagaimana harus menghadapi pasukan sebanyak itu.
__ADS_1
Sedangkan Qeina mengepalkan tangan begitu kuat sembari menggertakkan gigi menyaksikan pasukannya kini berlari ke depan "Apa yang sebenarnya kau lakukan BRENGSEK!!"