
"Hai X, kita bertemu lagi"
Aku terdiam di sana, tak tahu harus melakukan apa terhadap sosok Codes di depan, takut jika aku melakukan kesalahan, maka nyawaku bisa berada dalam bahaya, meskipun dia tak memancarkan niat seperti itu. Aku tetap harus berhati-hati pada mereka, karena kami tak pernah tahu apa yang ada di dalam pikiran Codes.
"Mundurlah dari X!" Seru Ciara dengan kedua cakar siap menyerang. Tatapan marahnya tadi, kini dipenuhi niat membunuh yang sama seperti ketika kami bertengkar sebelumnya. Namun, dengan kebencian yang jauh lebih dalam "Mundur atau aku akan menyerangmu!"
"Ciara kau takkan mau melakukan i-
"Diamlah X!! KAU TAK TAHU SEBERAPA TERSIKSANYA KAMI KETIKA MEREKA DATANG!!" Bentaknya dan maju menyerang.
Codes di depan berbalik pelan, membuka telapak tangan, menahan tubuh Ciara yang sedang berada di udara. Perlahan, Codes tersebut melayang mendekat, memperhatikan wajahnya dengan jarak kurang dari beberapa senti untuk dapat melihat sepasang mata kuning keemasan itu "Hmm, seorang Werebeast. Aku mengerti kenapa kau marah, tapi bukankah kalian yang menyerang terlebih dahulu? Kami hanya melakukan yang dinamakan dengan 'perlindungan diri'" Jelas dia, sengaja menekan dua kata tersebut.
"Sesudahnya kalian menyerang kami! Membuat kami harus hidup dalam ketakutan! Bahkan sampai sekarang.. Kalian masih melakukannya!!" Sahut Ciara penuh amarah meski kini sementara ditekan kuat oleh kekuatan tak terlihat.
"Kami melakukannya sebagai pencegahan agar tak ada yang akan membangkang lagi. Seharusnya kau sadar dengan itu bukan? Ras kalian, berniat untuk memberontak" Ia menarik kembali tangan kanannya, membiarkan Ciara terjatuh ke lantai sebelum kembali datang padaku "Maaf untuk tontonan tak menyenangkan tersebut. Terkadang mereka harus diberi 'pelatihan' agar hal seperti tadi tak terjadi"
Jantungku berdegup kencang karena apa yang kusaksikan di depan. Aku tahu Codes benar-benar kuat, bahkan melebihi Angel maupun Demon yang berada di puncak piramid. Namun, melihat secara langsung ras Werebeast yang hanya berbeda satu tingkat dengan mereka, dikalahkan begitu saja tanpa sebuah perlawanan, membuatku sadar kalau sekeras apapun kami melawan, kami takkan pernah bisa menang. Pertanyaan besarnya, mengapa Rebels justru tak takut? Sementara semua dunia tunduk pada mereka.
"X, aku harus memberitahumu sesuatu" Ia datang mendekat, berbisik "Kau adalah seorang Waymaker, seseorang yang bertugas untuk menuntun kami semua menuju keselamatan. Tanpa dirimu, dipastikan kita akan musnah. Namun, kau tak boleh memberitahu siapapun mengenai ini atau kau akan menjadi target mereka, target Darkspawn. Untuk sekarang, tak perlu mencari tahu lebih mengenai mereka karena kau belum memiliki kekuatan yang cukup. Manusia memang yang terlemah dari semua ras, tetapi dirimu.. Berbeda. Kau memiliki sesuatu yang tak dimiliki oleh seorang pun bahkan dari dunia lain. Yang kau miliki itu, berhubungan dengan kemampuanmu untuk dapat merasakan mimpi layaknya kenyataan. Kalian menyebutnya Lucid Dream, tetapi ini jauh berkali-kali lipat lebih kuat dibanding itu X" Dia menjauh "Nyawa kamu.. Nyawaku, berada di tanganmu" Ucapnya, lalu memberiku sebuah kecupan yang cukup lama pada pipi kiri dan untuk sesaat, aku melihat sesuatu pada sepasang mata abu-abu itu. Sebuah kerinduan.
Aku benar-benar tak dapat memproses apa yang baru saja terjadi dan hatiku sekarang persis seperti wajah Ciara di belakang yang sedang menganga lebar dengan kedua mata seukuran bola ping pong, tak dapat mempercayai yang barusan terjadi. Untung saja aku menggunakan Face Distortion, kalau tidak, aku mungkin akan menampilkan wajah yang jauh lebih memalukan. Bahkan hanya karena mulutku setengah terbuka, Codes di depan tertawa, tawa yang begitu lembut dan penuh perasaan layaknya seseorang sedang jatuh cinta.
__ADS_1
"Kau akan mengetahui alasannya nanti, tidak sekarang. Kau tak perlu khawatir X, aku akan selalu memperhatikanmu dan saat kau butuhkan, aku akan datang padamu. Itulah janjiku. Sampai bertemu nanti, Xera"
Dia menghilang dalam kilatan cahaya ungu terang, meninggalkan kami berdua seorang diri tak mampu berkata-kata terutama setelah fenomena yang untuk pertama kalinya terjadi.
Seorang manusia, baru saja dicium oleh Codes.. Manusia tersebut adalah diriku.. Wow.
"Aku tak berhayal bukan? Itu benar-benar terjadi kan? Maksudku, Codes.. Mencium.. Lalu Xera?" Ciara menggelengkan kepala, bangkit berdiri dengan wajah yang seakan mengatakan kalau dia sedang overload oleh informasi. Ia mengangkat tangan, berusaha menenangkan pikirannya yang bagaikan badai lalu menghela napas panjang, terlalu panjang sebelum akhirnya kembali tenang dan menatapku tepat di mata "Jadi, salah satu dari mereka, Codes, menciummu. Bukan sebuah ciuman bibir, hanya pipi, tapi kita membicarakan Codes. Mahluk yang takkan pernah menunjukkan ekspresi pada kita, yang bagaikan sebuah boneka berjalan, kini, untuk pertama kali, menunjukkan perasaan sebanyak itu padamu.. Dan dia tahu nama aslimu, Xera" Ciara terdiam oleh sesuatu yang tiba-tiba muncul dalam kepala.
Namun, sebelum sempat mengatakannya, Codes tersebut sudah kembali muncul dalam kilatan cahaya yang sama, menarik keluar lempengan segitiga dan maju mendekat "Aku hampir lupa, ambillah Trides ini.. Triangle Codes. Aku dapat melihat wajah bingungmu meski kau menggunakan teknologi itu. Apa kau lupa kalau itu adalah teknologi lawas kami?" Tawa itu kembali terdengar, kali ini lebih seperti sebuah tawa kecil, tetapi tidak kurang akan perasaan yang sama. Dia menarik lengan kananku, meletakkan Trides di atas telapak tangan yang kemudian ditutupnya secara lembut.
Aku mengira ciuman tadi adalah hal paling mengejutkan yang akan terjadi hari ini. Ternyata tidak. Codes itu terdiam sembari menatap kedua tangannya yang kini menggenggam tangan kananku. Aku dapat merasakan secara perlahan kedua tangan tersebut menguat, tetapi tak sampai membuatku terasa sakit, justru membuatku merasakan sensasi yang begitu familiar.
Dia sadar dari lamunannya, ingin mengatakan sesuatu namun menahan diri sampai akhirnya dia memutuskan untuk menyerahkan diri pada hati "Z, nama panggilanku. Ucapkan itu ketika kau membutuhkan sesuatu. Kapanpun, dimanapun, aku selalu siap" Dia kembali menjauh dengan kilatan cahaya yang sama mulai terbentuk "Sampai jumpa lagi X.. "
Ciara datang mendekat, masih memerhatikan tempat di mana Codes itu menghilang, lalu berhenti tepat di samping kanan "Hei, aku tahu ini mungkin terdengar tak waras. Namun, aku rasa dia jatuh cinta padamu dan aku yakin kau dapat merasakannya juga bukan?" Tanya Ciara, tak yakin pada apa yang baru saja keluar dari dalam mulutnya.
Seorang Codes, jatuh cinta padaku? Itu tak mungkin "Tidak, kurasa kau hanya berhayal. Mungkin, dia memiliki kesalahan dalam kepalanya?"
Dia tiba-tiba muncul kembali, mengejutkan kami "Oh, monster di luar telah kuambil kembali. Dia hanyalah penjaga kelas bawah yang kami pasang untuk melindungi tempat ini dan tak ada yang salah dengan kepalaku. Werebeast itu benar, kau milikku" Ucapnya sembari melirik pada Ciara.
Kilatan cahaya tersebut kembali terjadi, menghilang bersamanya seakan tak pernah ada dalam ruangan ini.
__ADS_1
"Wahh.. Dia benar-benar jatuh cinta padamu. Lihat? Dia cemburu" Ciara tertawa, melangkah mendekati pintu di mana dinding merah transparan masih aktif "Aku tak tahu bagaimana dan karena apa, tapi aku masih lebih percaya Angel jatuh cinta pada Demon ketimbang Codes jatuh cinta pada manusia, terutama dirimu. Ambil kembali alatmu ini, aku yakin kedua elf itu sudah menunggu kita dan tak sabar mendengar cerita ini" Serunya penuh semangat.
Aku rasa jiwa gosip seorang perempuan takkan pernah hilang dari manapun ras mu berasal. Kuhela napas, menonaktifkan dinding tersebut dan membiarkan Ciara pergi sembari melompat-lompat riang, siap untuk memberitahu Alvain serta Theora sebuah berita besar yang mungkin takkan mereka percaya dan aku sendiri tak yakin Z akan mengizinkannya..
Benar saja, tak sampai lima menit kemudian, kedua elf tersebut berusaha keras menahan tawa, sesuatu yang tak kusangka akan kulihat dari sosok Alvain. Namun, wajahnya memerah karena menahan tawa yang sudah bagaikan banteng marah, siap mendobrak mulut tertutup rapat tersebut sampai Z kembali muncul di samping, mengejutkan mereka berdua dan membenarkan perkataan Ciara.
"Itu benar, jadi kalian berdua sebagai temannya, kuharap kalian menjaga dia dari gadis-gadis yang berusaha mendekati Xera"
Sesudahnya, dia menghilang, meninggalkan kedua elf yang kini terdiam, tak mampu mengeluarkan sepatah kata untuk beberapa detik sampai akhirnya Alvain berbicara "Hmm.. Aku tak tahu harus terkejut pada fakta bahwa seorang Codes jatuh cinta padamu atau dia memberitahu kami nama aslimu yang di mana aku bersyukur karena aku sudah bosan menyebut X. Kau seakan menjadi budak kami dan bukannya teman seperjuangan"
"Itu benar! Lagipula, namamu bagus! Kenapa kau harus menyembunyikannya?" Tanya Theora yang langsung melanjutkan "Yahh, aku rasa kau memiliki situasi tersendiri jadi aku takkan memaksamu untuk menggunakan nama asli. Aku akan tetap memanggilmu X, sampai kau siap. Oh dan juga, selamat untuk pertunanganmu kawan" Serunya bangga sembari menepuk punggungku.
"Pertunangan? Mereka saja baru bertemu" Balas Ciara tak setuju.
"Ciara, kau tak lihat bagaimana Codes tadi-
"Z, namanya Z" Potongku tanpa sadar, membuat ketiga orang tersebut tersenyum penuh makna.
"Kau lihat?" Tanya Theora pada Ciara yang mengangguk setuju "Begitu semua ini selesai, kami akan merayakan pertunanganmu X!"
Jauh dari sana, di sebuah bangunan pusat tempat para Codes bekerja, Z sedang menonton mereka dari sebuah layar hologram, tersenyum lembut mendengar itu.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya?" Tanya seorang perempuan di belakang kursi yang sedang diduduki Z.
Z memerhatikan sosok pada layar, lalu menoleh pada sebuah bingkai foto kaca dengan sebuah foto di dalamnya, di mana memperlihatkan mereka berdua, X dan Z sementara memegang es krim yang saling didekatkan, tersenyum pada kamera "Dia masih Xera yang sama"