
Cass membawaku masuk dalam ruangan kerja pribadinya yang kurang lebih sama seperti ruangan-ruangan sebelum ini.
Dia juga adalah salah satu dari Observer, Codes yang bertugas untuk mengawasi segala sesuatu yang terjadi dalam Archsoul dan dunia-dunia lain.
Sebelum dirinya pergi, aku menanyakan alasan dia tak bergabung bersama kami yang dibalas dengan "Apakah harus kita membicarakan itu sekarang?"
"Tentu tidak. Aku hanya ingin tahu alasannya. Sebagai seseorang yang adalah rivalku-
"Tepat sekali"
"Kau tak ingin bergabung karena semenjak kecil aku adalah rivalmu?" Tanyaku memastikan.
Senyumnya mengembang "Bukankah itu artinya rival?" Dia berbalik kembali memerhatikan lorong, mengakibatkan rambut putih panjangnya menghantam wajahku dan buru-buru meminta maaf.
"Tidak tidak, aku tak apa-apa" Balasku sembari mengusap air mata.
"Tunggu, apakah aku baru saja membuatmu menangis?" Tanyanya riang.
"Haha, lucu sekali"
"Ayolah, aku hanya bercanda" Katanya sembari menyikutku pelan.
Cass kembali melihat ke kiri-kanan dan akhirnya menghilang dibalik pintu, meninggalkanku seorang diri dalam ruangan yang aku tak tahu harus berbuat apa.
Kemungkinan besar Yeza sudah sampai di dunia lain, mengingat Cass mengatakan kalau mereka takkan berhenti hanya dalam Archsoul. Mereka akan menghancurkan tiga basis utama Zeon sebelum akhirnya memburu yang tersisa.
Aku benar-benar berharap semoga kami tak terlambat atau aku takkan bisa memaafkan diri sendiri.
Tiba-tiba terjadi guncangan kuat disertai suara menggelegar yang aku yakin dapat membuat gendang telinga pecah jika berada di luar sana.
Alarm berbunyi, mengubah seluruh lampu dalam bangunan menjadi merah.
Terdengar derap langkah kencang di luar, Cass muncul tak lama kemudian dengan rambut sedikit berantakan, tetapi tak menyembunyikan kecantikannya. Terutama sepasang mata hijau indah itu.
"Kita harus bergerak sekarang"
Aku mengangguk, mengikutinya dari belakang sembari mengumpulkan energi untuk bersiap seandainya kami diserang di tengah jalan.
"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku sembari mengatur napas.
"Aku hanya meledakkan salah satu bangunan penting Codes, bukan sebuah hal besar"
Bukan sebuah hal besar?
Kami sampai di lobi, di mana sudah tak terdapat Codes di sana. Namun agar aman, Cass memeriksanya terlebih dahulu, sebelum kembali dan memberiku kode untuk ikut dengannya.
Begitu keluar dari dalam ruangan, barulah aku melihat seperti apa dunia Codes.
Tempat ini, sama seperti tempat yang sering kau lihat dalam film futuristik.
Hologram di mana-mana, bangunan-bangunan yang terbuat dari kaca, kapal-kapal luar angkasa terparkir tak jauh di seberang kota dan kendaraan-kendaraan terbang yang kini bergerak dalam kecepatan tinggi karena kekacauan yang terjadi pada salah satu bangunan besar di sebelah kiri.
Api membumbung tinggi dari sana. Puing-puing bangunan menyebar di sekitar hingga menyebabkan mobil tak dapat lewat.
Kami lewat di bawah jalan layang yang terbuat dari besi berwarna putih dengan lampu-lampu neon biru di tiap sisi luar. Pandanganku tak henti-hentinya melihat sekitar, terpana oleh dunia yang selama tiga tahun ini hanya dapat kulihat di balik layar.
Namun kini aku berada di dalamnya.
Tak sedikit Codes yang melihat ke arahku, tampak bingung sembari bertanya "Bukankah dia sudah mati?"
Jujur saja, aku merasa sedikit tersinggung mendengar kata-kata mereka.
__ADS_1
Tapi mau tak mau aku harus menghiraukannya karena memiliki tujuan yang lebih penting ketimbang menghajar wajah-wajah angkuh itu.
Begitu keluar dari bawah jembatan, bangunan-bangunan pencakar langit tinggi tampak di depan, bersinar terang dalam warna kebiruan dari tiap lampu di sisi luar. Tak hanya bangunan pencakar langit, bangunan-bangunan mega structure pun ada dalam dunia ini, bangunan yang jauh lebih besar ketimbang HQ.
Aku sampai berhenti melangkah hanya untuk memerhatikan bangunan besar yang tak jauh dari kami. Bagian atas bangunan tersebut tampak menyatu bersama langit malam karena warnanya yang hitam.
Namun aku tak dapat memerhatikan lebih lanjut karena Cass sudah menarik lenganku, membawaku menjauh dari sana untuk bergegas.
"Jangan lakukan itu lagi!" Perintahnya tegas "Kita hanya memiliki waktu sedikit. Kerusakan tadi takkan menahan mereka terlalu lama"
Aku mengangguk dan saat melihat ke langit, baru sadar kalau di atas sana, jauh dari kami, tampak sebuah planet lain yang juga memiliki lampu-lampu kebiruan pada permukaannya.
Kapal-kapal luar angkasa meluncur ke sana, menggunakan warp drive untuk memperpendek jarak dan waktu.
Aku sama sekali tak dapat menutup mulut, terpesona oleh teknologi yang mereka miliki. Tak salah jika Yeza menyebut mereka sebagai civilization type 3.
Tunggu! Itu berarti matahari mereka juga sudah mereka..
Aku melihatnya!
Di atas sana, lebih kecil dibanding planet di depan, terlihat sebuah matahari yang kini tertutupi oleh.. Dyson Sphere?!
Wajar saja Yeza menganggap mereka tak mungkin kalah. Codes pada dasarnya menguasai galaksi ini. Tak ada yang pernah berhasil mencapai tingkat tersebut.
Tak satupun ras.
Namun, aku justru bertanya-tanya.
Apa yang mungkin membuat Zena mengulang kehidupan sebanyak dua belas kali?
Jika mereka yang sudah mampu memanfaatkan seluruh kekayaan alam dalam satu galaksi, mahluk macam apa yang menghancurkan mereka?
Aku sedikit merinding memikirkannya.
Tak ada yang menjaga gerbang, kami telah memastikan tiap penjaga pergi ke kekacauan jauh di belakang.
Menurut Cass, "Hanya membutuhkan sebuah ledakan kecil untuk membuat Codes panik karena mereka tak pernah sekalipun diserang atau mengalami sebuah kegagalan. Sehingga ledakan seperti itu akan mengejutkan mereka"
Aku tak tahu harus merasa khawatir pada fakta bahwa Codes tak pernah gagal sampai ledakan sebuah bangunan membuat satu armada bergerak atau fakta bahwa Cass menganggap ledakan tadi adalah sebuah ledakan kecil.
Tapi, kembali mengingat mengenai Codes yang sudah mampu menguasai galaksi, aku yakin mereka sudah berpengalaman terhadap ledakan supernova dan sebagainya.
Dan sekarang aku makin khawatir terhadap nasib Zeon.
Apa yang sebenarnya dipikirkan Zena sampai berani melawan sesuatu sebesar ini?
Aku menggeleng pelan, tak menyangka kekasihku itu benar-benar berani menantang Codes yang mampu menghancurkan satu planet semudah membalikkan telapak tangan.
Sebuah keberuntungan kami masih belum hancur sampai sekarang dan membuatku lagi-lagi bertanya.
Apakah kami memang sepenting itu bagi kelangsungan hidup Codes?
Jika mereka membutuhkan perasaan kami untuk menghadapi mahluk tersebut, kenapa Yeza justru tak setuju?
Dan kenapa tak seorang pun menghentikan apa yang dia lakukan? Bukankah yang kami lakukan sekarang sama saja dengan merusak rencana Codes untuk memanfaatkan perasaan?
Ataukah memang ini tujuan mereka?
Memperkuat perasaan kami melalui perseturuan dua faksi agar mereka mendapatkan lebih lagi..
Lalu kenapa aku sudah tak pernah mendengar kabar dari Rebels?
__ADS_1
Mereka tiba-tiba diam dan tak lagi menampakkan diri. Seolah-olah mereka menghilang ditelan dunia.. Dunia-dunia. Karena sekarang tak hanya satu dunia, melainkan banyak dunia-
Kau pahamlah maksudku.
Terlalu banyak hal yang bertentangan sekarang.
Tiap kali aku menemukan sebuah jawaban, beragam pertanyaan terbentuk darinya sampai sekarang aku tak tahu lagi harus fokus ke mana.
"Apa yang kau pikirkan sampai membuat wajahmu seperti itu?" Tanya Cass bingung.
"Terlalu banyak Cass, terlalu banyak"
Cass tertawa dan buru-buru menutup mulut agar tak menarik perhatian "Maaf, tapi kau terdengar seperti orang tua. Padahal kita tak pernah menua"
"Tunggu, Codes tak menua?"
"Tentu saja. Karena itulah kami bisa menguasai satu galaksi. Kami tercipta Xera, bukan terlahir. Bangunan besar yang membuatmu terdiam di tempat tadi? Itulah tempat kami semua berasal, tempatmu pertama kali membuka mata"
Apakah itu alasannya aku begitu tertarik pada tempat tersebut?
"Fokus Xera, fokus!" Serunya sembari menjentikkan jari di depan wajahku.
"Kau benar, maaf. Entah kenapa aku terus seperti ini semenjak keluar dari dalam ruangan itu"
"Tak apa-apa, semua yang keluar dari dalam sana selalu menjadi seperti ini"
"Apa?"
"Apa?"
Tiba-tiba ledakan terjadi tak jauh di depan.
Sebuah pesawat tampak di sana, mengarahkan meriam besarnya pada dinding di mana kini menjadi tempat bagi beberapa Codes bersenjata melompat masuk.
Mata kami melebar melihat mereka menodong senjata dan dengan cepat kuhantam lantai, menciptakan sebuah gelombang energi besar, menghempaskan mereka jauh ke belakang.
Cass menarik lenganku, berteriak "LARI XERA!"
Mau tak mau aku kembali mengikutinya, berlari keluar dari dalam gedung dengan dua pesawat kini mengejar tak jauh di belakang.
"Kenapa tak kita hadapi saja?" Tanyaku bingung.
"Kau gila? Tak semua Codes memiliki kekuatan sepertimu. Bahkan, hanya kau dan Zena yang memilikinya!"
"Tunggu, apa?"
Meriam ditembakkan, menciptakan sebuah ledakan besar tak jauh di depan, menghempaskan kami ke belakang sembari menahan nyeri dari panas yang begitu menyengat.
Dapat kurasakan kepalaku bergoyang dengan kegelapan sudah tampak di sekeliling pandangan.
Aku bergegas bangkit berdiri, mencengkeram sebuah mobil dan melemparnya ke arah pesawat di belakang.
Ledakan kembali terjadi, menerangi area untuk sesaat sebelum akhirnya kembali seperti semula dengan asap dan api membumbung tinggi.
Aku menoleh ke arah Cass yang kini berusaha bangkit berdiri sembari meringis menahan sakit.
Meriam mengarah pada dirinya dan pada saat itu juga, aku melompat ke sana, mengangkat tangan ke depan, menciptakan sebuah force field.
Ledakan terbentuk di depan, tetapi kami aman di belakang.
Aku berbalik, menatap Cass yang tampak terguncang "Kau tak apa-apa?"
__ADS_1
Dia mengangguk pelan, terpana dengan force field yang masih tampak di depan bagai sebuah sonar dalam warna oranye.