
Di depan sana, sudah bagaikan gabungan dari bencana alam dan ledakan. Getaran-getaran besar terjadi, getaran yang bahkan mampu membuat pepohonan di sekitar berjatuhan tak dapat menahan keseimbangan. Kemudian ledakan-ledakan tersebut, terasa panas bahkan di jarak yang lumayan jauh disertai debu dan bunga api. Namun, yang paling mengejutkan adalah Mercenary tersebut mampu menyeimbangi Theora yang padahal adalah seorang elf, ras satu tingkat di atas kami, manusia. Meskipun dengan Body Parts Z, kami tak mungkin menyamai mereka (Kecuali M3RC tentunya, karena kami memiliki beberapa kartu tersembunyi), tapi tidak dengan mereka. Terlebih dia hanyalah seorang Mercenary biasa.
"Aku tak bermaksud merendahkan dirimu maupun ras mu, tetapi bukankah seharusnya dia tak dapat bertahan melawan Theora? Kenapa dia justru menyeimbanginya, bahkan berhasil memukul mundur bocah ribut itu beberapa kali. Dia mungkin tak terlihat berbahaya karena sifatnya, namun yang Mercenary itu hadapi sekarang adalah sosoknya yang sedang kesal. Sesama elf sekalipun akan kesulitan jika mereka bukan berada di Tier 7" Jelas Alvain tak mengerti dengan kerutan makin dalam.
Bukannya tak ingin menjawab, aku sendiri tak mengerti mengapa. Hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Namun dapat berarti satu hal yang meyakinkanku kalau Rebels harus segera dihentikan.
Theora menghindari ayunan pedang yang mampu menciptakan energi merah besar tersebut, menyaksikan ketika energi itu meledak di belakang dalam warna merah darah. Dalam kepalanya, terlintas sebuah pemikiran bahwa tak mungkin seorang manusia dapat melakukan ini. Bukan berarti dia menjelekkan ras X, tetapi sesuatu seperti ini mustahil terjadi. Namun, sebelum dirinya dapat menarik napas, dua buah energi merah kembali muncul dengan cepat, siap membelah tubuhnya. Theora kembali menghindar, bagaikan sebuah macan, bergerak cepat sekaligus gesit tanpa adanya goresan mengenai tubuh, memerhatikan bagaimana energi tersebut membelah beberapa pohon tak jauh di belakang sebelum akhirnya meledak. Begitu akan maju menerjang, sebuah tebasan energi merah berbentuk 'X' besar mengarah padanya dalam kecepatan tinggi. Serangan tersebut berhasil mengenainya, mengirim ia terbang ke belakang oleh ledakan dan menghantam kuat sebuah batang pohon hingga tembus ke belakang oleh suara benturan keras.
Debu beterbangan disertai suara menggelegar dari pohon yang kini tumbang ke samping. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh, membuat Theora meringis sakit. Tapi, mau tak mau dia harus segera bangkit. Namun, begitu membuka mata akan bangkit berdiri, sosok Mercenary tersebut sudah tampak di atas, melompat tinggi siap menghunuskan pedang. Theora yang mengira inilah hembusan napas terakhirnya, terkejut ketika melihat cahaya putih-keemasan menghantam punggung Mercenary dan mengirimnya jauh ke depan, menghantam beberapa pohon sebelum kemudian terhenti dengan suara benturan keras.
Alvain muncul di atas sana, mendarat di samping dan buru-buru membantu Sang sahabat berdiri "Kau masih kuat bukan?" Tanyanya sembari mengerahkan sihir penyembuhan yang tak hanya mengobati Theora, tetapi juga memberinya energi tambahan.
Elf itu menutup mata, menarik napas dalam dan menghembuskannya. Lalu menjawab "Tenang saja, kau lupa aku siapa?" Dengan senyum lebar menghias wajah.
Tiba-tiba, dari depan, pedang besar tersebut kembali muncul, berputar cepat layaknya sebuah baling-baling bertenaga mesin, siap menebas tubuh kedua elf menjadi dua bagian terpisah. Tapi, X tentu tak membiarkan itu. Dia muncul di depan mereka, menghantam kuat pedang menggunakan tangan kirinya yang seketika memancarkan energi listrik besar berwarna merah, mengirim kembali pedang besar, terbanting beberapa kali sebelum akhirnya tertancap tepat di hadapan Sang pemilik yang kini tersenyum lebar "Wah wah, seorang manusia, menyelamatkan ras elf? Sungguh sebuah persahabatan yang indah" Sarkasnya, menarik keluar pedang tersebut dan menyandarkannya pada pundak "Tapi, apakah kau tahu X, mereka adalah musuh kita. Ras yang telah membuat kita menderita. Apa kau lupa dengan yang telah mereka lakukan? Mereka pantas mendapatkan kematian"
Aku tahu itu. Namun kau pikir yang kau lakukan itu benar? Melibatkan penduduk elf yang tak bersalah? "Kau tahu? Kurasa kau ada benarnya. Tetapi, mereka membayarku, jadi tentu saja aku harus membantu mereka" Balasku datar.
__ADS_1
"X! Kau!!" Bentak Alvain, tak percaya aku baru saja mengatakan hal tersebut.
Aku berpura-pura tak mendengarnya, maju beberapa langkah untuk menemui Mercenary apalah namanya itu "Kecuali.. Mungkin kau bisa membayarku dua kali lipat? Ahh tidak. Tiga kali lipat. Lalu aku akan membantumu menghadapi mereka"
"X KAU SIALAN!!"
"Berapa kau dibayar?" Tanya Mercenary.
"Seratus ribu poin" Jawabku singkat, membuat alis Mercenary terangkat penuh tanda tanya.
"Mereka membayarku segitu untuk membantu mereka? Bukankah itu terlalu murah untuk seorang M3RC sepertimu?" Tanyanya lagi.
Mercenary tersebut mengangguk mengerti sembari tertawa kecil, lalu mengatakan "Baiklah, harga seorang tuan putri elf memang mahal, jauh lebih mahal dibanding apa yang telah kudapatkan sampai sekarang. Kau beruntung Black Swan. Aku rasa menjadi seorang M3RC memiliki kelebihan tersendiri. Tetapi, aku tak memiliki poin sebanyak itu, namun aku dapat memberikanmu posisi penting di Rebels, bagaimana? Aku sendiri merupakan salah satu pemimpinnya dan kau telah melihat sendiri bukan? Apa yang kami dapat lakukan"
"Hmm, menarik. Boleh juga, tapi aku harus melihat dengan mata kepala sendiri seperti apakah Rebels sebenarnya. Aku takkan bergabung dengan grup amatir yang tak memiliki masa depan"
"Oh tenang saja. Kuyakinkan padamu, kami memiliki masa depan. Buktikanlah terlebih dahulu jika kau memang bukanlah teman mereka"
__ADS_1
Aku berbalik menghadap mereka berdua, berjalan mendekati Alvain yang tampak penuh akan kebencian, sesuatu yang begitu jarang terjadi pada seorang elf karena membuat mereka terlihat seperti goblin berkulit putih ketimbang elf yang anggun dan elegan.
Belum sampai di depan, Alvain sudah mengarahkan pedangnya padaku, mengancam akan membunuhku di tempat begitu aku mengambil satu langkah maju lagi dan meminta diriku untuk segera pergi dari hadapannya sebelum dia berubah pikiran.
Jujur saja, melihat Alvain yang cuek, dingin dan keras kepala masih memberikanku kesempatan seperti ini, membuatku merasa jauh lebih buruk ketimbang sampah. Namun, aku harap dia mengerti apa yang kulakukan karena tak mungkin bagi kita untuk menang menghadapinya dengan cara biasa.
.
.
AHH SIALAN!!
Aku tersenyum, mengejutkan kedua orang tersebut dan mengerahkan Body Parts Z pada mode bertarung dengan tingkat energi tinggi hingga tubuh terasa sedikit sakit, tak dapat menahannya. Pura-pura ku ayunkan tangan kiri ke depan hanya untuk memutar badan dan menembakkan aliran listrik bermuatan tinggi pada sosok Mercenary yang tersentak kaget.
Namun, karena tubuhku terjatuh oleh ayunan tadi, aku tak dapat melukai Mercenary di sana hingga pingsan. Untungnya, Alvain dan Theora mengerti, mengambil kesempatan, mengerahkan semua yang mereka miliki untuk dapat mengambil nyawanya. Tetapi, begitu kekuatan terkuat mereka akan mengenai Mercenary, tahu-tahu sebuah medan energi besar muncul, melindungi tubuhnya dalam sebuah kubah merah transparan yang justru mementalkan serangan kami ke segala arah hingga menghancurkan area kecil di dalam hutan menjadi sebuah padang rumput luas yang penuh akan kawah serta retakan.
Kami terkejut, diam di tempat tak tahu harus melakukan apa pada sosok yang kini tak dapat terluka meski kami menggunakan apapun yang kami miliki dan berakhir dengan kami kehabisan mana serta energi. Di balik kepulan debu tebal tersebut, tampak sebuah bayangan hitam besar dengan cahaya kemerahan mulai tampak dari sela-sela debu. Tawanya terdengar, tawa yang penuh akan rasa kemenangan dan kekejaman, tawa khas seseorang yang tak lagi memiliki hati, hanya memedulikan kepuasan diri sendiri.
__ADS_1
Debu perlahan menghilang, menampilkan sosok Mercenary dengan dua buah medan pelindung di kiri dan kanan, terhubung langsung pada dua buah tangan besi tambahan di punggungnya, sebagai penyalur energi untuk kedua medan pelindung yang tersusun dari pola hexagonal merah menyala.
"Black Swan! Kau baru saja menghilangkan kesempatanmu untuk bergabung! Jangan salahkan kami jika kami terpaksa membunuhmu sebagai pijakan meraih dunia yang baru.. Dunia tanpa codes"