Archsoul

Archsoul
Part 17


__ADS_3

Kehangatan dari sinar mentari, suara-suara cantik dari kicauan burung serta bunyi hentakan kuda, itulah yang menemani perjalanan menuju area dark elf. Berhasil menyembunyikan kecanggungan dari empat orang yang kini bahkan tak ingin saling melihat sesudah perdebatan sebelumnya. Mungkin perdebatan terlalu lembut untuk menggambarkan situasi tersebut, jauh lebih cocok disebut sebagai sebuah pertengkaran, pertengkaran yang untungnya tak menjadi sebuah masalah besar, terlebih di hubungan antara manusia dan elf yang masih begitu rapuh. Sudah merupakan sebuah keajaiban tak ada yang berakhir terluka.


Druid itu tak ikut bersama kami karena kekuatannya yang terlalu besar dapat dengan mudah dideteksi oleh para pemimpin dark elf yang justru dapat membawa sebuah perang dan itu adalah hal terakhir yang diinginkan oleh ras elf, mengingat posisi mereka dalam Archsoul sendiri sedang tak baik dan tak memungkinkan mereka untuk dapat menang dari dark elf.


Aku sendiri masih tak begitu mengerti dengan aturan dalam Alfheim mengenai penempatan Enchanter maupun Contractor. Dari yang kudengar, dark elf bekerja sebagai enchanter bagi para elf di garis depan, lalu kenapa mereka yang pada dasarnya hidup aman di dunia sendiri, justru berusaha memboikot elf yang berjuang demi dunia mereka?


Untuk sekarang, aku hanya bisa menunggu balasan Rico karena aku tak mungkin mendapatkannya dari Yuna ataupun kedua sahabat dia. Seharusnya aku tak terbawa emosi seperti tadi. Mimpi itu, benar-benar memberiku sebuah pukulan telak.


"Mengapa kalian tak ada yang berbicara?" Tanya Gorg di belakang begitu polosnya. Sosok Forest Guardian yang untuk pertama kalinya kulihat aktif saat matahari masih bersinar terang di atas "Gorg merasakan sesuatu yang aneh, sesuatu yang tak pernah Gorg rasakan sebelumnya. Mungkinkah.. Kalian lapar?"


"Tidak Gorg, kami tak lapar, terima kasih karena telah mengkhawatirkan kami" Jawab Alvain yang tak kusangka dapat berbicara layaknya orang normal dan tak seperti mantan stres.


"Hmm, kalau begitu, mungkinkah kalian haus? Kami Forest Guardian tak butuh minum karena mana murni selalu mengalir dalam diri kami, tapi Gorg tak tahu bagaimana dengan kalian, terutama X yang adalah manusia" Jelasnya penasaran.


Mendengar itu, sebuah tawa kecil keluar dari dalam mulut, membuatku merasa sedikit lebih tenang "Tentu saja kami butuh minum Gorg. Sebenarnya, kurasa kami manusia jauh lebih membutuhkan cairan dalam tubuh kami dibanding elf karena kami tak dapat merasakan mana. Itulah sebabnya kami membutuhkan 8 gelas air sehari agar tubuh kami tetap berfungsi dengan baik, meskipun aku sendiri ragu ada yang rajin melakukannya"

__ADS_1


Gorg mengangguk-angguk paham "Jadi begitu.. Terima kasih untuk pengetahuannya X! Gorg akan membalasnya suatu saat nanti!" Sahutnya riang seakan baru saja menerima sebuah hadiah yang tiada tara.


"Tak perlu Gorg, itu adalah informasi yang paling mudah ditemukan dalam dunia manusia. Kalau kau ingin, akan kuberikan sebuah informasi unik mengenai kami" Aku berpikir sejenak, mencari-cari informasi apakah yang dapat membuat Gorg bahagia dan menemukan sesuatu yang aku yakin akan membuat Gorg merasa antusias "Kau tahu Gorg, kami manusia memiliki sebuah kebiasaan aneh yang sering kami lakukan ketika kecil dan hampir semua manusia juga melakukannya. Seperti yang kau tahu Gorg, kami manusia tak bisa menggunakan sihir seperti kalian, tetapi kami memiliki teknologi, contohnya seperti ini" Kulebarkan tangan kiri ke samping, menunjukkan body parts besi yang kini menyala redup sebelum mengembalikannya ke posisi semula "Saat kecil, kami memiliki sesuatu yang disebut sebagai saklar lampu, digunakan untuk mengaktifkan lampu ruangan agar ruangan menjadi terang. Sama seperti para elf menggunakan sihir untuk menyalakan berlian kuning bercahaya milik mereka. Saklar tersebut dinyalakan dengan cara ditekan dan ketika masih kecil, kami sering berusaha mempertahankan saklar tersebut tetap di tengah-tengah, tak jatuh ke bawah maupun ke atas" Jelasku sembari mempraktikkannya menggunakan sebuah batu datar yang kutemukan di jalan, ditempelkan pada sebuah batang kayu dan memeragakan bagaimana aku dulu berusaha keras mempertahankan saklar tersebut tetap di tengah dengan penuh fokus dan keteguhan hati layaknya sedang menjinakkan sebuah bom.


Gorg bertepuk tangan sembari mengucapkan "Woaahhhh!!" Seolah baru saja mendengarkan sebuah cerita pengalaman terbaik.


Yah, aku tak dapat menyangkalnya, merupakan salah satu kenangan masa kecil yang takkan kulupakan. Masa ketika diriku tak begitu peduli terhadap apa yang akan terjadi di masa mendatang dan hanya hidup tenang penuh kebahagiaan.


"Ohhh!! Bukankah kita para elf juga punya sesuatu seperti itu?" Seru si rambut abu-abu tiba-tiba, membuat Yuna dan Alvain sedikit bingung "Kalian ingat saat kita masih kecil dan berusaha menahan aliran mana yang digunakan saat merapal mantra untuk melihat apa yang dapat terjadi?"


"Salah satu hal terbodoh yang pernah kami para elf lakukan karena dapat membahayakan nyawa" Ucap Alvain namun tanpa rasa tak suka di dalamnya. Dia justru terlihat bangga sudah berani melakukan hal tersebut.


Si rambut abu-abu mengangguk setuju "Berbahaya tapi siapa yang dapat menahan rasa penasaran? Terutama ketika para orang dewasa terus-menerus mengingatkan kita untuk tak melakukannya, tentu saja kita melakukan sebaliknya" Serunya.


"Tak kusangka kalian memiliki mental untuk melakukan itu. Kalau saja kami juga dapat menggunakan sihir, aku sudah dapat membayangkan tak sedikit orang mencobanya hanya untuk mengobati rasa penasaran yang begitu mengganggu seperti yang kalian lakukan"

__ADS_1


"Kau benar! Rasa penasaran itu hampir membunuhku!" Balas Alvain tiba-tiba dengan penuh semangat yang sedetik kemudian berdeham mengembalikan sosoknya yang cuek namun dengan pipi memerah "Aku juga tak menyangka, kalian para manusia tertarik pada menyeimbangkan sesuatu. Memang sedikit berbeda dari keseimbangan yang diajarkan pada kami, tetapi aku yakin para elf juga akan melakukan hal yang sama"


"Bilang saja kau ingin mencobanya sekarang bukan" Tukas rambut abu-abu sembari tersenyum penuh arti pada Alvain.


Elf tersebut memalingkan muka, meraih tali pengendali dan memacu kuda untuk bergerak lebih cepat "Cepatlah, tak ada waktu untuk mengobrol. Kita harus segera mendapatkan Seed of Life sebelum terlambat"


"Iya-iya, bocah besar yang tak ingin mengakui perasaannya sendiri" Balas si rambut abu-abu lagi sembari menahan tawa "Tenang saja, aku yakin X akan memperlihatkannya pada kita nanti. Benar begitu X?"


Wah wah, dia melempar pertanyaan ketika aku sendiri belum siap mendengar hal tersebut. Sepertinya teman elf kita satu ini sudah lebih berani "Tentu saja, jika kalian juga menunjukkan padaku apa yang terjadi ketika menahan mana di tengah rapalan"


"Bukankah kau sudah mengetahuinya?" Tanya Alvain.


"Aku lebih tertarik untuk melihatnya secara langsung" Jawabku sembari tersenyum dibalas oleh si rambut abu-abu dengan sebuah senyuman bersahabat juga.


Kami pun mengikutinya, mempercepat kuda masing-masing, tak menyadari bahwa Gorg sementara tersenyum di belakang.

__ADS_1


__ADS_2