
Kamipun mendapatkan izin untuk beristirahat di sana, berbaring di atas sebuah matras yang terbuat dari tumpukan daun tebal berwarna hijau. Di atas, telah tercipta sebuah kubah oranye transparan, memberikan kami sebuah kehangatan di dinginnya malam, sehingga kami dapat beristirahat dengan tenang tanpa perlu menggunakan selimut.
Setelah mendengar penjelasannya, beberapa pertanyaan muncul dalam kepalaku, pertanyaan yang membuatku kembali berpikir, mengapa para dark elf tak pernah menampakkan diri di Archsoul. Kami yang berada di sana memang pernah mendengar ras tersebut dan mengira bahwa dark elf tetap tinggal dalam Alfheim untuk menyiapkan perbekalan bagi elf di garis depan. Namun, setelah melihat situasi sekarang, tampaknya bukan itu yang terjadi. Mengapa dark elf mencuri Seed of Life ketika hal tersebut hanya akan membuat mereka kehilangan tempat tinggal? Membuat mereka hilang bersama dunia ini? Ada sesuatu yang hilang, sebuah bagian terakhir untuk melengkapi misteri.
Lalu, mengenai ras elf menggunakan energi dari Body Parts Z untuk mempertahankan Yggdrasil, bagaimana bisa body parts yang memiliki energi kurang dari jumlah mana para elf, mampu mempertahankan sebuah pohon raksasa yang mereka sendiri tak yakin dapat melakukannya? Terlalu banyak kejanggalan. Aku bukan mencurigai Druid tersebut, tetapi sebagai seorang Mercenary yang telah bekerja dengan berbagai orang, sudah sepantasnya aku selalu merasa waspada dan kali ini instingku mengatakan ada yang salah dengan misi sekarang.
Namun, aku tak dapat bertindak sembarangan. Druid adalah mahluk yang telah hidup lebih lama dibanding ras elf, setara dengan para Forest Guardian, tetapi memiliki kedudukan yang lebih tinggi ketimbang mereka. Jika Forest Guardian adalah para ksatria, maka seorang Druid adalah ratu mereka. Ia bahkan memiliki kedudukan yang lebih tinggi ketimbang raja dan ratu elf. Nyawaku dapat hilang kurang dari sedetik jika dia menginginkannya, karena itulah ketika semua sedang beristirahat, dalam tubuh yang tertidur, kesadaranku justru menyelam memasuki jaringan para Codes melalui bantuan Codes sebelumnya. Aku tak tahu mengapa dia membantuku, tapi berkat dirinya yang memberikan notifikasi pada Futurephone beberapa menit sebelum ini, aku dapat pergi menuju dunia manusia, dunia asalku demi menemui Rico yang tampaknya sedang mengetikkan sesuatu dalam komputer dengan begitu fokus.
Aku yakin dia akan terkejut jika melihatku muncul dalam layarnya, tapi mohon maaf Rico, sepertinya aku harus mengganggu waktumu untuk sementara.
"Hmm? Kenapa? Ada apa dengan komputer ini?" Rico menepuk sebuah kotak besi berukuran layaknya sebuah kotak makan dengan ujung-ujung melengkung rapi demi memperbaiki layar hologram oranye yang kini kehilangan sinyal, nge-glitch, layaknya komputer rusak "Sudah kuduga komputer ini hanyalah barang rongsokan! Sialan, orang itu menipuku- AAAA!"
Dengan tawa yang lepas dari mulutku, melihatnya jatuh ke belakang bersama kursi, aku mengetuk layar hologram tersebut membuatnya kembali kehilangan sinyal untuk menarik perhatian Rico yang buru-buru kembali menaikkan kursi dan duduk di hadapan layar sembari memerhatikanku dengan seksama. Bingung bercampur penasaran tampak jelas pada wajahnya itu.
__ADS_1
"A-apa yang.. X? Itu dirimu? Bagaimana.. "
Aku mendengus geli melihatnya kehabisan kata-kata, sesuatu yang jarang terjadi terutama pada Red Spider, Sang penguasa informasi. Apapun yang terjadi, selama masih berada dalam sistem, Rico mampu menemukannya. Terlebih sekarang, ketika seluruhnya telah terhubung dengan outernet milik para Codes, selama tak berada dalam perlindungan sistem, maka dia dapat melacaknya.
"Akan kuberi tahu nanti, ada hal yang jauh lebih penting yang harus kau dengar. Ini berhubungan dengan mereka, para elf. Aku yakin kau akan sangat menyukainya" Tukasku menarik perhatian Rico, menarik kursinya makin mendekat lalu meletakkan tangan di atas meja dengan jari dari masing-masing tangan di satukan, layaknya seorang mastermind dalam film. Sesuatu yang telah menjadi kebiasaan Rico saat menjadi serius.
"Baiklah, katakan"
Aku menceritakannya mengenai situasi para elf termasuk tujuan mereka memesan begitu banyak body parts. Selama memberitahukan tiap informasi tersebut, wajah Rico diam tak berubah, tetap datar tanpa menampilkan sedikitpun perasaan sampai akhirnya ketika selesai, barulah pandangannya menoleh ke arah lain, berusaha memikirkan sesuatu lalu menggangguk mengerti.
"Itu, merupakan informasi terbaik yang pernah kudengar dalam bulan ini. Aku tak menyangka Alfheim dapat hilang karena hal ini, tetapi, jika kita melihat dari sisi Archsoul, bukankah itu adalah hal yang baik? Kesempatan kita untuk menduduki posisi sepuluh teratas akan terbuka lebih lebar" Tukasnya tanpa dengan wajah datar yang sama.
Aku mengerti kenapa dia mengatakan itu, terutama sesudah apa yang dilakukan para elf kepada kita, manusia. Namun, bukan berarti kita harus melakukan hal yang sama kepada mereka, terlebih menganggap kemusnahan mereka sebagai hal yang baik. Masih terdapat orang-orang baik di dalam sana, anak-anak kecil yang masih belum mengerti busuknya dunia, apakah mereka juga pantas untuk musnah dari muka dunia?
__ADS_1
"Mohon maaf, tapi aku tak dapat setuju denganmu. Bagiku, itu sedikit terlalu kejam. Meskipun mereka telah memperlakukan kita dengan buruk, masih ada yang pantas untuk diselamatkan dan selagi kita dapat melakukannya, kenapa tidak?" Jawabku tegas "Aku tahu ini mungkin akan sulit didengar, terutama bagimu Rico yang kehilangan keluarga akibat mereka. Tapi, sebagai seseorang yang selalu mengutamakan informasi dan fakta, kau tahu itu hanyalah sebuah kesalahpahaman. Mungkin aku terdengar jahat dengan mengatakan ini, namun, marilah kita memberikan mereka sebuah kesempatan kedua. Mungkin, mungkin saja, kita dapat menjadi saudara seperjuangan di garis depan. Dua lebih baik daripada satu bukan?"
Rico menghela napas berat, menatapku tepat di mata dan menurunkan tangannya rata pada permukaan meja besi hitam dengan lampu neon oranye tampak menyala pada bagian tengah meja, memantulkan sebuah cahaya hangat, menyinar wajah Rico yang justru adalah kebalikannya "Keluargaku adalah urusanku X, kau sebagai seorang Merc seharusnya tahu kode kita untuk tak saling membicarakan masalah pribadi dan fokus terhadap misi. Apa yang telah dirimu lakukan barusan, dapat kulaporkan dan keesokan harinya, aku akan menerima tubuhmu di depan pintuku. Aku juga bisa saja memberitahukan Druid itu bahwa kau telah membeberkan rahasia dunia mereka, sesuatu yang mereka percayakan padamu. Jangan ikut campur X, aku tahu kau berusaha adil, tak memihak pada siapapun. Namun, jika kau berada di posisiku, aku yakin kau juga takkan dapat memaafkan mereka" Sebuah helaan napas kembali terdengar dengan wajah yang kini sedikit melembut "Tetapi, karena kita telah berteman sejak lama, aku akan menghiraukannya dan berusaha untuk setidaknya, memikirkan hal ini. Hanya itu yang dapat kujanjikan padamu, X"
"Terima kasih" Ucapku.
Rico mengangguk, balik menghadap ke samping, lalu kembali padaku "Kau butuh informasi mengenai Druid tersebut bukan? Juga informasi mengenai para dark elf" Ia melihatku menggangguk mengiyakan "Baiklah, aku akan butuh waktu selama beberapa jam karena jujur saja, menghadapi Druid tersebut cukup membuatku khawatir mengingat dia dapat menghancurkan dunia kita seperti membalikkan telapak tangan, jadi aku harus ekstra hati-hati. Kau lakukanlah bagianmu dan ingat X, apapun yang terjadi, percayalah pada dirimu sendiri"
Aku mengangguk sekali lagi, berpamitan lalu kembali ke tubuhku yang masih terbaring aman tanpa adanya tanaman rambat mengelilingi. Bahkan, tempat ini terasa jauh lebih nyaman ketimbang sebelumnya, membuatku perlahan-lahan menghilang, membiarkan diri di bawah oleh keheningan tenang nan nyaman.
.
.
__ADS_1
"X! X! Bangunlah!! KITA DISERANG!"