
"Hey.. Hey, X bangun, kita telah siap"
Perlahan aku membuka mata, melihat sosok Theora. Begitu akan bangkit berdiri, aku merasakan sesuatu menahan tangan kananku. Saat kulihat, di sana dark elf muda itu sedang terbaring tenang, menggunakan lengan kananku sebagai sebuah bantal kepala dan tampaknya sebagai kanvas baru yang dapat dia gunakan untuk melukis menggunakan liur. Melihat dia masih tertidur dengan tenang, membuatku ragu membangunkan dirinya, tak ingin mengganggu mimpi indah yang sedang dia alami sampai menciptakan sebuah air terjun.
"Kau harus meninggalkannya di sini, kita tak mungkin membawa seorang anak kecil ke area di mana hal buruk dapat terjadi, terutama sesudah Gorg" Tukas Alvain sembari menyarungkan pedang.
"Alvain benar, X. Kita tak ingin menambah trauma nya" Lanjut Theora setuju.
Aku kembali memerhatikan sosok menggemaskan yang masih tertidur lelap. Sebuah perasaan tak nyaman melilitku, membuat dadaku terasa sesak hanya dengan memikirkan kalau dia akan bangun sendirian tanpa seorangpun menemani, terutama setelah dia menaruh kepercayaan pada diriku, aku tak tega.
"Tunggu" Ucap Yuna tiba-tiba, menarik perhatian kami dan membuat dark elf tersebut mengganti posisi tidur, menghadap padaku "Maaf.. " Kata Yuna sembari meringis "Apa kalian tak berpikir ada yang janggal?" Tanyanya. Kali ini dengan suara lebih pelan "Seorang anak dark elf, dicuri oleh Mercenary di saat bersamaan dengan Seed of Life yang menghilang? Terlalu terencana untuk disebut sebagai kebetulan"
"Aku merasa kau terlalu berlebihan. Kalau dia di curi, mengapa tak seorangpun datang mencari?" Bantah Alvain tak setuju "Kalaupun ada dan mereka telah dikalahkan, seharusnya kita bisa menemukan bekas-bekas pertarungan, tetapi kita tak menemukan apa-apa sepanjang perjalanan" Alvain terdiam sejenak, berdecak kesal terhadap sesuatu "Mungkin kalian takkan menyukai ini, namun bagaimana kalau para dark elf lah yang sengaja membiarkan anak ini di ambil? Atau lebih buruknya, dijual?"
Pendapatnya barusan membuat putri Yuna dan Theora bereaksi keras. Menurut mereka, selicik apapun dark elf, tak mungkin mereka akan menjual anak sendiri. Jangankan dark elf, ras lain sekalipun tak mungkin melakukannya dan lebih memilih untuk mempertaruhkan nyawa demi melindungi buah hati mereka.
__ADS_1
"Tapi, kalian ingat apa yang dikatakan para Mercenary itu bukan?" Desak Alvain "Budak, mereka menyebut anak itu sebagai budak. Menurut kalian ini masuk akal? Seorang budak dari ras dark elf yang dengan bebasnya dia bawa ke Alfheim? Sesaat mereka keluar dari HQ, mereka sudah mati diserbu dan ingat, anak-anak tak dapat menggunakan pod karena jiwa mereka belum dewasa. Di mana lagi mereka bisa mendapatkan budak dark elf muda kalau bukan dari kerajaan mereka sendiri?"
Karena penjelasan tersebut, kami semua terdiam memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada dan memang benar seperti yang dikatakan oleh Alvain, tiap kemungkinan tersebut mengarah pada perbudakan dalam kerajaan dark elf. Tapi pertanyaannya, untuk apa? Budak dengan umur seperti dark elf muda ini takkan dapat menggunakan pod, jadi sama saja tak berguna, hanya sebuah hiasan hidup saja.
Tuan putri menggeleng cepat, mengusir tiap pikiran negatif yang mulai mengambil alih kepalanya "Itu tak mungkin. Pasti ada penjelasan di balik semua ini. Kita hanya perlu mencari tahu apa" Perintahnya tegas, lalu bergegas keluar dari gua, tak ingin mendengar hal ini lagi.
Alvain menghela napas, mengangkat tas miliknya "Cepatlah bersiap-siap dan bawa anak itu tapi sebisa mungkin, jauhkan dia dari bahaya dan tutup matanya kalau terpaksa. Aku minta maaf sudah memintamu meninggalkannya sendiri di sini, itu adalah hal terbodoh yang pernah kusarankan" Ucapnya lalu menyusul tuan putri.
"Alvain benar. Apa yang kupikirkan tadi?" Sebuah tawa kosong keluar dari dalam mulutnya berhiaskan senyuman hampa oleh kekecewaan "Aku rasa, kami sudah terlalu sombong dan menganggap anak dark elf itu akan baik-baik saja sendirian di tengah hutan" Theora menghela napas kasar, berusaha menahan amarah, dapat terlihat jelas dari kedua tangannya yang gemetar kuat "Aku akan menunggumu di luar, bangunkanlah dia dengan lembut agar dia tak kaget. Oh, berikan ini padanya jika dia lapar" Elf itu membuka tas, mengeluarkan sebuah roti yang tersimpan dalam kain putih bersih berimbuhan sihir, terasa hangat dengan aroma roti harum yang jujur saja, membuat perutku bergemuruh. Theora tertawa, memberikan roti lain padaku kemudian beranjak keluar.
Aku membuka kain hangat tersebut, memberikan sebuah roti yang terlihat gemuk tanpa adanya kecacatan, sempurna dan menggugah selera. Dark elf muda tersenyum lebar, memakannya dengan lahap. Namun, begitu telah habis setengah, dia memerhatikan roti, lalu melihat padaku sembari memajukan lengan, memintaku untuk memakan sisanya "Untukku?" Dia mengangguk "Aku juga sudah punya" Kukeluarkan roti milikku dari dalam tas "Lihat, habiskan saja, aku tahu kau lapar"
Anehnya, dia justru terlihat sedih yang segera kutangkap apa yang diinginkan oleh dark elf muda tersebut. Kubuka roti milikku dari kain, merobek setengahnya untuk diberikan pada dia sementara setengah miliknya kuambil untuk kumakan. Dark elf itu seketika tersenyum lebar, merasa bahagia dan lanjut memakan roti hingga habis. Saat kuberikan setengah lagi, dia menggeleng dan mengucapkan..
"Untuk X"
__ADS_1
Di saat itu, senyum tulus yang sama kembali muncul menghias wajah. Aku datang mendekat, mengelus pelan kepalanya dengan sebuah perasaan hangat dalam dada. Perasaan yang kukira takkan lagi kurasakan, yang kukira telah mati namun ternyata hanya terkubur jauh di dalam, menunggu untuk kembali ditemukan.
Sesudah kami bersiap-siap, seperti biasa, aku menggendongnya di punggung, lalu berjalan keluar dari dalam gua, melihat tiga elf yang telah siap berangkat. Namun, satu orang tak berada di sini.
"Di mana.. "
"Dia sudah pergi duluan, bersiap di suatu tempat seandainya keadaan memburuk" Jawab Alvain yang sedang melipat lengan sembari bersandar di bawah pohon.
Putri Yuna melangkah ke depan "Apa kalian siap?" Tanyanya sembari menoleh ke belakang dengan aura keemasan sudah keluar dari dalam tubuh.
Alvain mengangguk sementara Theora membalas "Tentu saja!" lalu menoleh ke belakang, ke arahku.
Aku melihat ke atas, bertemu dengan sepasang mata abu-abu yang balas menatapku "Pegangan dengan erat dan " Kutempelkan jari telunjuk pada mulut "Shhh" Yang dimengerti olehnya. Dark elf itu mengangguk, melipat mulut ke dalam dengan pipi yang tampak sedikit menggembung "Kami siap" Jawabku.
Dalam satu hentakan kaki, putri Yuna sudah berada jauh di depan, tak menimbulkan sedikitpun suara bahkan angin sekalipun tak terasa yang tak membuatku terkejut karena tuan putri memang memiliki kemampuan tinggi terutama setelah bertarung dengannya dalam mimpi.
__ADS_1
Alvain dan Theora juga ikut bersamanya, meninggalkanku sendiri dengan dark elf muda yang tampak sudah tak sabar. Kuusap kepalanya sekali lagi, memberi dia sebuah ketenangan hati lalu menyusul mereka bertiga sembari sedikit mengurangi kecepatan untuk tak menampilkan kekuatan sebenarnya pada ketiga orang tersebut. Termasuk tuan putri, kenapa? Karena yang dilihatnya di mimpi adalah versi diriku yang sudah lama, bukan diriku yang sekarang.