Archsoul

Archsoul
Part 36


__ADS_3

Menyusup masuk dalam istana memang bukanlah hal yang mudah, bahkan bagi Alvain. Kami sudah pergi mengunjungi tiap jalan rahasia yang ada, tetapi semua jalan tersebut tertutup rapat serta dijaga ketat seakan mereka sadar kita akan menyusup ke dalam. Menurut Alvain, ini terjadi karena dia, Theora dan tuan putri berhasil kabur sehingga agar tak mengulangi kejadian yang sama, mereka menutupnya.


"Sayangnya, ada satu jalan lagi yang tak tercatat dalam denah istana. Aku dan Yuna menemukannya tanpa sengaja saat sedang bermain petak umpet, bertanding siapa yang akan menemukan tempat persembunyian terbaik dan menemukan sebuah ruangan kecil gelap dengan tangga turun panjang ke bawah. Kami turun ke bawah, menjelajahi tempat tersebut sampai lupa kalau sedang bermain" Ucapnya sembari tertawa kecil.


Theora menjentikkan jari, melihat ke arah Alvain dengan raut wajah terhianati "Ahh! Saat kalian melupakanku! Apa kau tahu seberapa melelahkannya mencari kalian? Terima kasih sudah mengingatkanku dengan kenangan buruk tersebut" Tukasnya kesal.


Alvain menghela napas "Kau beruntung tak bersama kami. Alasan aku masih mengingatnya sampai sekarang adalah karena apa yang kami temukan di dalam sana. Aku tak tahu pasti apa yang kami lihat, namun aku masih mengingat jelas sepasang mata merah menyala dalam kegelapan, menatap kami seakan kami adalah mangsa"


"Kau hanya berusaha menakutiku bukan?" Tanya Theora curiga, namun seketika terdiam saat Alvain menjulurkan tangan kanan ke depan yang gemetar kuat tanpa dapat dikendalikan.


"Jadi itu alasannya kau terus melipat lengan selama dua menit terakhir ini" Balas Ciara sembari tersenyum "Sepertinya tuan Alvain yang begitu dingin sekalipun dapat merasa takut"


Kami melanjutkan perjalanan menuju area pertokoan. Semua toko di sini telah tertutup, gelap hanya menyisakan beberapa orang, berpenerangan minim dari segaris cahaya hijau muda pada dua sisi jalan yang tadinya terang-benderang, mengingatkanku pada lampu-lampu neon di bumi. Alvain menuntun kami masuk dalam sebuah gang sempit di antara dua toko, di mana hanya terdapat sebuah dinding besar dari bangunan di belakang, tak ada apa-apa di sini selain genangan air karena tadi hujan sempat turun untuk sesaat.


"Tak ada apa-apa di sini" Ucap Theora yang sudah melihat kanan-kiri dengan seksama layaknya karakter kartun detektif "Tak ada tombol tersembunyi, tuas.. Apa kau yakin ini jalannya?"


Alvain tak menjawab, merasa jauh lebih baik baginya untuk memperlihatkan Sang sahabat 'jalan rahasia' yang dicarinya. Ia diam di tempat selama beberapa saat, mengucapkan beberapa kata asing bahkan bagi Theora sendiri dan tahu-tahu kami sudah berada di ruang bawah tanah yang gelap gulita, hanya mendapatkan pencahayaan dari bagian warna hijau pada pakaian kedua elf di depan, seperti sebuah glow stick.


"Oh, kurasa pakaian kalian itu tak hanya penampilan saja" Puji Ciara, kali ini terlihat benar-benar terpukau karena biasanya, saat kami masih bekerja sama, dia hanya akan melontarkan sarkasme.

__ADS_1


Alvain merapal mantra, menciptakan empat buah bola cahaya. Masing-masing dari bola tersebut melayang ke kami bertiga, memberi penerangan pada ruangan gelap dengan luas mencapai lima meter. Entah mengapa, ruangan bawah tanah ini justru mengingatkanku pada sebuah film horror, mulai dari lumut pada dinding, tetesan air yang seakan mengetuk hati dan hembusan angin dingin. Segala sesuatu di dalam tempat ini meneriakkan kata 'horror' yang membuat Theora mendekat pada kami sembari terus melihat ke depan di mana hanya ada kegelapan di sana. Cahaya dari bola-bola ini hanya mencakup radius 3 meter saja, sesudahnya adalah kegelapan pekat yang tampak begitu mengganggu. Kami takkan tahu jika sesuatu tiba-tiba meraih dari sana, menarik kami masuk ke dalam dan memberikan kami mimpi buruk-


Buru-buru aku menggelengkan kepala, berusaha mengusir pikiran negatif yang mulai menguasai. Aku tak bisa membiarkan rasa takut mengambil alih atau aku nantinya panik dan membuat berbagai macam masalah. Aku memanglah M3RC yang telah melalui berbagai macam situasi, tetapi aku juga adalah seseorang yang paling tak menyukai hal-hal berbau horror. Tidak terima kasih.


"Hmm, ada apa X? Kau tampak tak ten- Lupakan saja" Ucap Ciara cepat, sadar akan yang baru terjadi sejam lalu.


Mendengarnya mengatakan itu, membuatku teringat saat-saat kami masih menjadi partner yang saling membantu dalam keadaan sulit. Dia selalu bercanda, menggangguku seperti itu tiap kali melihatku mulai gelisah atau merasa tak nyaman agar aku kembali tenang yang anehnya, berhasil. Namun, tentu saja itu sudah menjadi masa lalu. Masa lalu yang akan kuraih kembali karena aku tak ingin kehilangan teman berhargaku, tidak untuk kedua kalinya.


Kami meneruskan perjalanan dalam langkah pelan sembari terus memerhatikan lantai batu, memeriksa jika seandainya terdapat sebuah jebakan. Menurut Alvain, tak ada jebakan di bawah sini, hanya sebuah jalan bawah tanah biasa yang entah karena alasan apa, tak masuk dalam denah istana. Mungkin saja karena denah yang ada dalam perpustakaan istana termasuk baru sementara jalan bawah tanah ini sudah begitu lama, bahkan mungkin semenjak awal istana dibuat.


"Hei, bagaimana kalau ternyata tempat ini menyimpan sebuah rahasia besar kerajaan yang kita takkan pernah tahu? Atau rahasia Alfheim! Itu pasti akan begitu menarik" Seru Theora bersemangat dengan berbagai macam skenario bermain dalam benaknya.


Benar saja, dari dalam sana tak hanya satu pasang mata, tetapi begitu banyak pasang mata berwarna oranye terang melihat ke arah kami. Mereka meraung keras dengan nada tinggi layaknya seekor tikus dan maju menerjang. Saat salah satunya masuk menampakkan diri dalam cahaya, Alvain segera mengayunkan pedang, memisahkan kepala mahluk yang tampak seperti elf namun tanpa rambut, benar-benar mulus dengan kulit seputih salju. Ia tak menggunakan apa-apa dan tak memiliki alat vital. Tak terdapat kulit pada sisi tulang rusuk, sekitar mata dan mulut sehingga hanya menampilkan kumpulan otot berwarna merah gelap yang membuat mereka terlihat menyeramkan. Gigi-gigi mereka pun hanya terdiri dari gigi tajam yang sampai keluar dari dalam mulut karena terlalu panjang.


"Mahluk apa itu!?" Teriak Ciara, tak mengerti dengan kepala yang baru saja selesai menggelinding ke ujung kakinya dan menendang kepala tersebut begitu keras hingga terdengar suara menjijikkan dari kegelapan pekat di samping.


Untung saja bola-bola cahaya ini tak terlalu terang atau kami mungkin akan melihat sebuah kepala dengan isi-isinya berserakan keluar.


Theora buru-buru mengeluarkan pedang, bersiap untuk mengalirkan mana di sana namun segera dilarang oleh Alvain "Jangan menggunakan sihir!" Serunya sembari terus menghadapi mahluk yang terus-menerus datang, seakan tak ada habisnya.

__ADS_1


"Tapi kau menggunakan Light Orb!" Balas Theora bingung.


"Percayalah padaku!"


Theora bersungut-sungut, menggenggam erat pedangnya dan berdiri di samping Alvain untuk membantu dia menghadapi tiap monster tersebut. Kami berdua yang berada di belakang, tak tahu harus melakukan apa karena ruang bawah tanah ini tak memberi kami begitu banyak ruang untuk dapat membantu mereka. Namun, mereka juga tak mungkin terus melakukan ini sendiri, terlebih tanpa sihir karena para elf menjadi jauh lebih lemah jika mereka tak menggunakan mana dalam tubuh dan akan kelelahan dengan cepat.


Ciara mengambil langkah maju, berniat membantu tapi mengurungkan niat karena tahu dia hanya akan menjadi sebuah beban. Namun, berkat langkahnya, aku menemukan sebuah ide bagus yang mungkin dapat membuat kami meloloskan diri dari mereka.


Kukerahkan energi pada tangan kiri hingga cahaya kemerahan perlahan mulai mengalahkan cahaya dari Light Orb milik Alvain dan menarik perhatian mereka berdua.


"Apa yang-


Sebelum Alvain dapat menyelesaikan pertanyaan, aku menyahut "LOMPAT!!" Dan segera menghantamkan tangan kiri pada lantai, menyalurkan tiap aliran listrik bertenaga tinggi itu melalui genangan air dan menyetrum mahluk-mahluk di depan. Untuk sesaat, ruangan gelap ini terang oleh cahaya kemerahan, memberi kami waktu untuk dapat melihat apa yang berada di depan dan menemukan sebuah tangga menuju ke atas serta sebuah koridor lain di sebelah kiri. Begitu aliran listrik menghilang, tiap mahluk tersebut terjatuh keras pada lantai batu, menimbulkan bunyi yang cukup keras dan penerangan kembali seperti semula.


"Terima kasih, tapi kau membawa masalah besar lainnya" Tukas Alvain, kemudian menghela napas panjang dan kasar.


"Apa maksudmu?"


"Ini salahku juga karena menggunakan 'sihir' dan bukannya 'kekuatan'. Untuk sesaat aku lupa kalian berdua ada di belakang" Dia terdiam sejenak, lalu melanjutkan "Kita harus lari ke tangga di sana" Lanjutnya sembari menunjuk ke posisi di mana tangga itu tadinya berada meski kini hanya tampak kegelapan pekat dan tahu-tahu dia sudah melesat ke sana sembari menyahut "Aku tak mau bertemu mahluk itu lagi dan sebaiknya kalian tak bertemu dengannya juga!"

__ADS_1


Melihat Alvain yang selalu tampak serius dan dingin bereaksi layaknya seorang anak kecil yang ketakutan, membuat kami bertiga ikut berlari, mengerahkan segalanya agar tak bertemu dengan mahluk apapun yang di maksud oleh Alvain. Jika Alvain yang bahkan tak gemetar ketika menghadapi Nighthunter menjadi seperti ini, aku tak ingin melihat seperti apa mahluk tersebut seandainya dia menampakkan diri.


__ADS_2