
Kerajaan dark elf, sebuah kerajaan yang sesuai dengan kriteria kerajaan kegelapan dengan menara-menara tinggi menjulang ke atas, menciptakan siluet hitam panjang berhiaskan patung-patung menyeramkan, terpahat pada tiap sisi. Dinding hitam besar mengelilingi kota, berhiaskan tanaman rambat berduri dengan bunga-bunga kebiruan tumbuh di permukaan, menambah kesan mistis pada kerajaan yang seolah berasal dari mimpi buruk.
Kami berdiri di atas dinding sesudah 'menidurkan' para prajurit yang berjaga. Dari sini, dapat terlihat bangunan-bangunan dark elf dalam warna hitam-kebiruan dengan jalan kelabu. Tiap bangunan tersebut terbuat dari batang-batang pohon besar yang saling mengikat, entah bagaimama caranya. Atap mereka berasal dari kulit-kulit hewan yang telah dikeringkan, diletakkan di atas kerangka dari dahan-dahan pada batang, terlihat rapi tak natural. Tak seperti para elf, dark elf tak begitu peduli dengan ajaran mereka yang mengharuskan untuk menghargai tiap kehidupan. Pada dasarnya, mereka adalah manusia versi bertelinga runcing, berkulit abu-abu serta dapat menggunakan sihir.
Tak jauh dari arah timur, matahari mulai menampakkan diri, tanda waktu kami makin menipis. Untungnya, berkat area kekuasaan dark elf yang menetralkan cahaya matahari menjadi seperti pantulan cahaya rembulan, kami dapat lebih tersembunyi di dalam bayang-bayang yang tercipta dan karena sekarang adalah titik terlemah mereka, kami akan sulit terlihat tanpa 'Night Vision' dark elf. Sehingga, kami dapat bergerak bebas menuju istana yang sudah tampak di depan mata.
Jika kau berpikir kerajaan dark elf merupakan sebuah mimpi buruk, maka istana ini adalah ketakutan terbesarmu. Sulit dijelaakan betapa aku dibuat merinding oleh pemandangan di depan. Istana itu dikelilingi oleh kabut yang tak tebal maupun tipis, membuat istana tersebut tampak samar-samar dan tak nyata, seakan memberi kesan kami sedang berjalan memasuki sebuah dunia lain.
Dinding luar istana sama seperti dinding kerajaan dengan tambahan cahaya kebiruan dari bunga-bunga tersebut yang justru membuat tempat ini terasa jauh lebih mistis.
Anehnya, tak seorangpun terlihat. Tak ada prajurit yang berjaga, membuat perasaan tak nyaman dalam hati makin menguat. Entah mengapa, aku merasa kami sedang berjalan menuju sebuah jebakan. Si dark elf muda bahkan berkali-kali menengok kanan-kiri, ikut merasakan kejanggalan dan merasa tak nyaman dari tempat tinggalnya.
Kuusal kepala mungilnya itu, memberi dia sebuah ketenangan yang justru membuatnya memberiku sebuah senyum menenangkan.
Apa terlihat begitu jelas di wajahku? Kegelisahan yang kurasakan ini?
Kalau ya, semoga saja tidak membuatnya terlalu khawatir.
__ADS_1
Kami tiba di depan pintu setelah melalui halaman luas yang jauh lebih cocok disebut sebagai kuburan. Terlalu hening dengan perasaan mencekam terus menghantui. Untung saja Theora bersuara, sedikit mengusir perasaan tak nyaman tersebut "Aku tak suka ini, aku membencinya. Apa kau yakin Seed of Life benar-benar berada di dalam sini?" Tanyanya sembari memerhatikan sekitar, seakan sedang diawasi.
Tunggu!
Aku dengan cepat berbalik, berusaha mencari sesuatu- Tapi apa? Tak ada apa-apa di dalam sana, hanya sebuah halaman kosong! Lalu.. Tadi itu apa? Mengapa aku juga merasa sepasang mata sedang melihatku? Mungkinkah hanya perasaanku saja?
Kuhela napas panjang untuk mengembalikan kepingan-kepingan diri yang tadi sempat tersebar sembari berulang kali mengatakan kalau itu bukanlah apa-apa.
"Kau baik-baik saja X?" Tanya tuan putri khawatir dengan tangan kiri sudah siap di gagang pintu.
Aku menggeleng pelan "Bukalah pintunya dan mari selesaikan ini dengan cepat"
Kami bersiap untuk yang terburuk, mengeluarkan senjata masing-masing. Namun.. Tak terjadi apa-apa. Justru, istana terasa tak berpenghuni, seolah telah lama ditinggalkan.
Begitu akan bergerak, barulah kami sadar betapa dingin tempat ini, jauh lebih dingin ketimbang cuaca di luar. Walaupun dark elf hidup di tempat dingin, ini sudah melebihi tingkat ketahanan tubuh mereka.
Tuan putri merapalkan mantra, membentuk sebuah lingkaran sihir emas di atas telapak tangan yang lalu menembakkan sebuah bola energi ke atas sebelum pecah, berubah menjadi sebuah kubah emas transparan, cukup lebar bagi kami untuk begerak bebas di dalamnya.
__ADS_1
Perjalanan kembali dilanjutkan, menyusuri lorong panjang dan gelap, hanya mendapatkan cahaya dari luar. Jendela-jendela yang tertutup setengah juga tak membantu, justru membuat mata lebih sulit menyesuaikan diri oleh perubahan intensitas cahaya yang terlalu cepat.
Berulang kali Theora melihat ke belakang dengan rasa takut tampak jelas di wajah, membuatku merasa makin tak nyaman dan akhirnya ikut melihat ke belakang hanya untuk tak menemukan siapa-siapa. Tak ada apapun di saja. Aku kembali melihat ke depan, berusaha mengusir pikiran negatif yang perlahan mulai menguasai kepala sampai Theora tiba-tiba menjerit keras, melompat ke depan menabrak Alvain yang baru saja akan protes. Tetapi, dia terdiam dengan mata melebar saat melihat sesuatu di tak jauh di belakang.
Dapat kurasakan, detak jantungku bertambah makin cepat dengan tubuh mulai terasa panas-dingin. Tanpa perlu berbalik, aku tahu sesuatu berada di belakang.
Putri Yuna berbalik, menyahut "Bertunduk!" Dan mengayunkan pedang, menciptakan sebuah energi tajam berwarna keemasan yang membuat apapun di belakangku, marah begitu terkena "LARI!!"
Tanpa menahan diri lagi, kami berlari mengeluarkan isi hati yang sudah ditahan-tahan semenjak tadi. Theora menjerit dengan keras, Alvain menggunakan apapun yang dapat dilemparnya untuk menghalangi laju monster di belakang sementara tuan putri menuntun kami entah ke mana, intinya kami harus bisa melarikan diri dari mahluk tersebut.
Sebuah raungan keras terdengar, memekakkan telinga serta memecahkan tiap jendela. Kami mengambil belokan tajam ke sebelah kiri melewati beberapa rak berisi barang pecah belah yang kutendang, lalu kembali berlari menyusul mereka. Dapat kudengar di belakang monster itu meraung marah, menabrak rak-rak tersebut tanpa peduli pada dirinya sendiri dan terus mengejar kami tanpa ada niat untuk berhenti.
Si dark elf muda menjerit keras, mencengkram rambutku disaat bersamaan. Untungnya berkat itu, aku dapat menghindar saat tahu-tahu wajah monster tersebut sudah berada di samping, tercipta dari bayangan hitam bergigi tajam dan besar dengan beberapa pasang mata merah menyala. Monster tersebut tampak seperti campuran antara serigala dan kelelawar. Badan bagian bawah miliknya tak ada, tergantikan oleh terusan dari tubuh bagian atas yang tampak mengecil sebelum akhirnya menyatu bersama lantai.
Cakar panjangnya itu menyerang, hampir mengenai tubuhku dan berhasil memotong sebagian kecil rambutku yang berantakan sesudah di cengkram tadinya.
Kami tak lama tiba di sebuah ruangan luas, di mana tuan putri segera merapal mantra dengan cepat dan menghunuskan pedang miliknya ke lantai, membentuk sebuah dinding emas transparan, mementalkan mahluk tersebut ke belakang sebelum kembali datang menyerang, menghantam dinding beberapa kali dan meraung begitu keras saat sadar dirinya tak dapat menghancurkan dinding.
__ADS_1
Begitu mahluk tersebut pergi, barulah kami dapat menghela napas, tak sadar kalau kami sudah menahan napas semenjak tadi. Tanpa dapat kami kendalikan, tubuh sudah terjatuh ke bawah meminta istirahat, membuat kami tak sadar, lebih dari sepuluh anak panah kini siap ditembakkan pada empat orang yang tampak berantakan.