
Tiba-tiba langit terbuka, robek seperti sebuah kertas, menampakkan kegelapan pekat dengan aurora tampak di sekitar. Terdengar aungan dari dalam sana, aungan yang begitu aneh, seperti sebuah bisikan menggema. Namun karena kemisteriusan dari suara tersebutlah, rasa takut naik menguasai hati.
Ketika mahluk pertama menampakkan diri, keluar dari kegelapan dan jatuh ke permukaan tanah, kami semua terdiam, senjata pada gengaman. Dia berjalan ke mari, memperlihatkan sosoknya yang seperti sebuah belalang sembah dengan badan lebar serta tampak keras. Kulit tersebut bertekstur seperti sebuah bebatuan dalam warna abu-abu kehitaman.
Keempat matanya menatap kami, terlihat begitu tajam dan menyeramkan oleh warna oranye terang. Dia meraung keras, memekakkan telinga hingga kami terpaksa menutupnya. Lalu dari dalam kegelapan itu, muncul begitu banyak warna oranye terang.
Begitu mereka keluar, melompat turun membentuk sebuah air terjun hitam. Dia yang tadi tiba duluan, berlari ke depan, siap menyerang kami. Gerakannya tak begitu cepat, mampu diikuti oleh mata. Tapi, ketika sihir demi sihir ditembakkan, meski luka besar terdapat pada tubuh, dia terus berlari maju dan kini berhadapan dengan seorang Werebeast.
Werebeast tersebut sedikit kewalahan menghadapinya, sulit menghindari ayunan dua pedang besar dalam warna oranye sama seperti warna mata. Beberapa luka terlihat di tubuh sampai akhirnya yang lain ikut membantu menghabisi mahluk tersebut.
Sayangnya kami masih tak dapat bernapas lega.
Getaran kuat pada tanah memberitakan kedatangan mereka.
Jumlah yang begitu banyak, membuat kami gemetar dan mereka masih terus keluar dari dalam lubang seolah tak ada habisnya.
Zena melangkah ke depan, mulai melayang di udara lalu menjentikkan jari, menciptakan sebuah cakram besar dalam warna ungu di udara. Cakram berputar kencang, membentuk suara mendesing menyeramkan dari besi tajam membelah udara.
Diturunkannya tangan, mengirim cakram tersebut pada para Ravager yang seketika terbelah menjadi dua. Mayat mereka tergeletak di sana, begitu banyak dan tak menghilang. Namun, lubang di depan masih terus memuntahkan Ravager, terus mengirim mahluk-mahluk mengerikan tersebut pada kami.
"Apa kalian hanya akan berdiam di belakang? Kalau kalian memutuskan untuk membantu, sebaiknya kalian bergerak!" Perintah Zena yang kemudian terjun ke tengah-tengah mereka.
Cahaya terang dari ledakan berwarna ungu dapat terlihat di sana, disertai getaran-getaran kuat pada tanah.
Aku menoleh pada Alvain, Theora dan Atraz. Kami mengangguk, ikut berlari ke depan, siap untuk menghabisi mereka. Kami mengeluarkan kekuatan, menerangi langit oleh beragam warna yang kemudian mengguncang tanah saat bersama menghantam tanah.
Tentu saja mereka yang berada di belakang tak tinggal diam melihat hal tersebut. Sorakan terdengar, membuatku merinding mendengarnya.
Adrenalin mengalir deras, mengisi kami dengan semangat bagai api yang berkobar.
Peperangan seketika berubah dari perang antar ras menjadi perang melawan mahluk antar dimensi. Siapa sangka kami justru bersatu menghadapi mereka, terutama di bawah pimpinan Codes.
Codes yang tak lain adalah pasanganku sendiri.
Menyaksikannya bertarung bersama, entah mengapa memberiku sebuah energi tambahan yang seketika membentuk awan-awan badai dan menghujani medan perang dengan petir. Guntur terus menggelegar bagai sebuah genderang perang, mengisi telinga kami oleh tenaga yang terus mengalir tanpa berhenti.
__ADS_1
Tanpa kusadari, petir-petir tersebut justru memberi kekuatan tambahan bagi kami semua, sehingga Ravager yang tadinya sulit untuk dihadapi menjadi lebih mudah. Bagaikan memotong rumput dan kami adalah mesinnya, kami bersama terus melangkah maju ke depan, memenuhi medan perang dengan tubuh-tubuh tak bernyawa.
Sebuah pemandangan yang takkan pernah disangka bahkan diimpikan terjadi.
Awal mula dari persatuan tiap ras. Awal mula dari sebuah jalan cerita yang baru.
Bersama, kami berhasil mendesak mereka. Semakin lama semakin mendekati lubang di atas sampai akhirnya air terjun tersebut dapat terlihat di depan. Dari dalam lubang, masih dapat terlihat begitu banyak pasang mata menatap kami, tak sabar untuk mendapatkan giliran turun ke medan peperangan.
Atraz melompat tinggi di udara, mengumpulkan mana pada kedua tangan yang kemudian dihantamnya kuat pada tanah, menciptakan duri-duri besar pada tanah, menusuk dan menghimpit tubuh Ravager hingga hancur berantakan. Darah oranye terang mereka terlihat pada sisi duri-duri, melukisnya dengan sebuah perjuangan, tanda kami takkan berhenti sampai mereka musnah.
Theora tak mau kalah. Dia juga melompat tinggi, membentangkan tangan, mengangkatnya ke atas menuntun lebih dari sepuluh pedang emas seukuran manusia ke udara sebelum mengayunkan tangan turun ke bawah, mengirim tiap pedang tersebut pada para Ravager.
Dapat terlihat tubuh-tubuh mereka terhempas ke udara dan tak sedikit juga yang hancur di bawah tekanan pedang.
Theora tersenyum puas sebelum akhirnya menghilang di lautan Ravager. Hanya cahaya-cahaya keemasan dari kekuatannya saja yang dapat kulihat.
Tahu-tahu Alvain muncul di udara tak lama kemudian, mengumpulkan mana pada pedang yang kini bercahaya terang. Begitu dia ayunkan, cahaya putih-keemasan terbentuk, bergerak dalam posisi vertikal, menghabisi barisan Ravager membentuk sebuah garis besar di dalam lautan hitam ini.
Azrael ternyata juga tak ingin diam melihat keturunannya pamer kekuatan.
Dia melayang tinggi di atas, membentangkan tangan di mana begitu banyak anak panah dari cahaya emas tercipta. Di putarnya ke bawah lalu di angkat tangan kanan ke atas yang begitu diayun turun ke bawah, hujan anak panah terjadi. Tiap anak panah tersebut tak hanya menancap mengambil nyawa Ravager, tetapi juga meledak sehingga serpihan-serpihan tubuh mereka tersebar ke mana-mana.
Sayang sekali hal tersebut tak bertahan lama karena mereka masih saja terus keluar.
Kami kembali bertarung menghadapi mereka, mengerahkan segala yang kami miliki sebelum akhirnya kami sadar telah melakukan sebuah kesalahan besar.
Mayat-mayat Ravager mengganggu pergerakan kami yang tak dapat berpijak dengan benar sementara ini bukanlah sebuah masalah bagi mereka berkat kaki seperti sebuah tombak. Mereka dapat terus bergerak maju sembari menginjak-injak tubuh yang telah mati seolah mereka hanya peduli jika mereka hidup.
Perlahan kami terdorong mundur. Telah kami kerahkan segalanya untuk tetap berusaha bertahan, tetapi mereka tetap berhasil mengambil alih situasi. Arah pergerakan perang seketika berubah drastis dari kami yang membabat habis Ravager menjadi kami didorong mundur oleh mereka.
Lalu sebuah bencana terjadi.
Hanya masalah waktu sebelum salah satu dari kami mati di tangan mereka dan kini seorang Werebeast berhasil mati di tangan Ravager. Ravager yang membunuhnya itu seketika berubah menjadi lebih besar dengan tubuh kekar. Kedua pedangnya juga berubah menjadi dua buah palu yang kemudian dia pakai untuk menciptakan gelombang-gelombang tanah besar bagai sebuah ombak.
Tak sedikit yang berhasil terhempas karenanya, terbunuh oleh para Ravager, memberikan mereka kekuatan tambahan untuk terus mendorong kami ke belakang.
__ADS_1
Sampai sekarang sudah terdapat empat perubahan. Salah satunya dari Werebeast tadi, sisanya dari seorang Orc, Vampire dan Dark Elf. Masing-masing dari Ravager tersebut berubah sesuai kekuatan dan kemampuan mereka sehingga bentuk tubuh mereka juga mirip seperti ras tersebut.
Ravager Orc itu berubah menjadi kehijauan dengan tubuh yang tak kalah kekar dari Werebeast dengan perisai terbentuk pada kedua tangan dan begitu sulit untuk ditembus oleh mereka yang berada di Tier 6 ke bawah.
Ravager Vampire justru berbadan lebih kecil, tetapi memiliki pergerakan begitu cepat hingga sulit bagi mata untuk mengikutinya. Dia juga mengincar manusia terlebih dahulu karena darah mereka yang jauh lebih segar dibanding darah lain, memakai dua cakar besar untuk memotong dan mencengkeram tubuh sehingga lebih banyak darah bisa diperas keluar.
Lalu Ravager Dark Elf itu mampu menggunakan kekuatan layaknya Dark Elf. Mereka menghilang di balik bayang-bayang, lalu muncul secara tiba-tiba di belakang seseorang dan membunuh mereka memakai tulang tajam yang ditembakkan. Tangan mereka tak berubah, hanya mendapatkan upgrade berupa dua lubang besar sebagai jalan untuk menembakkan tulang.
Untung saja mereka tak lebih dari Tier 5 atau kami sudah pasti akan kesulitan menghadapi tembakannya yang tak memiliki waktu untuk mengisi kembali.
"Kita tak bisa terus seperti ini! Kita harus melakukan sesuatu!" Seru Theora sembari menahan ayunan tangan Ravager.
"Azrael! Hilangkan kekuatanmu! Biarkan para Nightmare bergabung!" Teriak Alvain yang sudah kesal karena terus-menerus didorong mundur tanpa dapat melakukan perlawanan.
"Kau berani memerintahku?" Balas Azrael yang juga kesulitan menghadapi lautan hitam yang sedang mengamuk ini. Bahkan tampaknya para Ravager mengincar dirinya sampai mereka membentuk sebuah ombak besar khusus Azrael seorang yang kemudian dibelah horizontal olehnya "Lagipula, kita takkan melihat apa-apa jika bukan karena kekuatanku! Seharusnya kalian berterimakasih kita tak buta!"
"Tanpa mereka kita akan mati!"
Kami terus didesak sampai kembali ke garis awal di mana kami pertama berhadapan dengan Ravager pertama. Kerajaan Dark Elf dapat terlihat di belakang, membuat kami menggertakkan gigi dan berusaha mengerahkan lebih banyak lagi agar mereka tak menyentuh sedikitpun kerajaan tersebut.
Zena serta para Code- Maksudku Zeon, juga kesulitan menghadapi lautan hitam ini. Mereka sudah berusaha keras membantu, tetapi kekuatan mereka juga ada batasnya dan tak bisa terus-menerus dikeluarkan sampai habis terutama tidak sesudah mereka menyatakan perang pada Codes.
Siapa yang tahu kalau mereka tiba-tiba datang menyerang dan Zeon tak dapat bertahan karena kehabisan kekuatan?
Aku terus memutar kepala, berusaha mencari jalan keluar agar kami dapat melawan balik. Dapat kurasakan tubuhku melambat dengan napas mulai berat. Lebih dari ini, kemungkinan besar aku akan jatuh pingsan.
Lalu tiba-tiba dari arah belakang, beribu panah menusuk tubuh Ravager, menghabisi lautan hitam ini menjadi sisa setengah.
Kami berbalik, menemukan sosok putri Celine dengan ribuan Elf siap menembakkan anak panah mereka. Ciara juga tampak di samping bersama Angel dan Demon yang entah menghilang ke mana sebelumnya.
Dia menarik pedang keluar, mengacungkannya tinggi di udara dan menyahut "FOR ZEON!!"
Yang juga dibalas serentak "FOR ZEON!"
Mereka berlari ke depan, bergabung bersama kami menghadapi lautan yang kini sudah kembali memulihkan diri. Melihat itu, semangat kembali mengisi hati, memberi energi tambahan dan menggerakkan kami maju ke depan bersama mereka.
__ADS_1
Bersama, kami bersorak.
"FOR ZEON!!"