
Aku berlari maju ke depan, meninggalkan Theora, tuan Fayheart dan para ksatria di belakang. Seluruh energi kukerahkan hingga pancaran listrik mengamuk, menyambar apapun yang berada di sekitar. Para Mercenary di depan terdiam, terkejut menyaksikan sosok yang hanya selalu mereka dengar rumornya, seorang manusia dengan kemampuan melebihi manusia biasa, bukan karena kekuatannya, melainkan karena kepala yang sudah tak memiliki kewarasan.
Untuk pertama kali, Theora melihat wajah X seperti itu. Dia sempat dibuat takut oleh sepasang mata yang sama seperti mahluk buas. Untungnya X tak melihat ke arah dia atau Theora akan menganggap X mengincar dirinya. Dia bukan seperti singa ataupun macan yang menunggu untuk menyergap lawan, melainkan tatapan tersebut layaknya seekor serigala yang siap mencabik-cabik mangsa dan kini, tak jauh di depan, serigala tersebut sedang memporak-porandakan para Mercenary. Entah sudah berapa banyak anggota tubuh berserakan di sana, tampak melayang tinggi di udara karena cara bertarung yang jauh lebih cocok disebut sebagai sebuah pembantaian. Para ksatria elf sampai tak dapat menutup mulut melihatnya, tak menyangka akan ada seorang manusia bertarung lebih ganas dibanding ras Werebeast.
Barisan Mercenary yang tadinya terlihat menakutkan, kini tampak kosong pada bagian tengah dengan seorang laki-laki berdiri seorang diri di sana, sementara menarik napas. Tangan kiri tersebut tampak memancarkan lebih banyak listrik dibanding sebelumnya yang kini membuat seluruh bagian lengan menjadi sebuah lampu neon merah akibat panas yang dihasilkan hingga asap pun perlahan mulai terbentuk pada permukaan sebelum akhirnya menghilang mengikuti arah tiupan angin.
"Hey Theora!" Seru laki-laki tersebut "Apa kau hanya akan berdiam diri di sana?"
Elf itu menyeringai lebar, membentuk delapan buah pedang pada belakang tubuh dan meluncur ke garis depan meninggalkan tuan Fayheart yang terkejut melihat Theora telah mencapai Tier 8 "Tentu saja tidak!" Tak sampai dua detik kemudian, sebuah ledakan besar terjadi dari serangan Theora yang membuat para ksatria lebih terkejut lagi karena sifat elegan seorang elf sudah hilang darinya, tergantikan oleh sosok mengerikan dan buas, sama seperti M3RC tersebut.
Tahu-tahu, Alvain melangkah keluar dari reruntuhan, meregangkan lengan dan memasang ancang-ancang tanpa mendengar perkataan tuan Fayheart yang memintanya untuk beristirahat. Alvain ikut meluncur menuju garis depan, mengerahkan kemampuannya dan kini mewarnai pertarungan dengan tak hanya warna merah, tetapi juga emas dan putih-keemasan. Warna khas mereka bertiga. Terdengar suara tawa dari sana, bukan tawa hampa ataupun putus asa, melainkan tawa bahagia seakan baru saja lepas dari belengu dunia. Mereka terlihat bebas, penuh semangat dan luar biasa, membuat para ksatria ikut merasakan kobaran api tersebut hingga perlahan darah mendidih sampai sulit rasanya menahan diri untuk tak melompat masuk dalam pertarungan.
"Tuan Fayheart, sekarang apa yang harus kita lakukan? Kita tak bisa hanya berdiam diri, para ksatria tampaknya juga sudah tak sabar. Jika kita menahan jiwa-jiwa yang akan mengamuk ini, bukankah itu sama saja dengan membuat mereka menderita?" Tanya salah seorang bangsawan sembari melirik ke belakang, di mana tampak jelas dari mata para ksatria yang juga berubah layaknya binatang buas.
__ADS_1
Tuan Fayheart menghela napas, menarik keluar pedangnya dan menyentak kaget bangsawan tersebut saat mata tuan Fayheart juga ikut berubah seperti ketiga orang di depan "Kau tahu? Melihat mereka seperti itu membangkitkan sesuatu yang tak kusangka selama ini tertidur dan rasanya begitu sesak jika harus menahannya" Ia menyeringai, mengangkat pedang tinggi ke udara dan bersorak "HABISI PARA MERCENARY TERSEBUT!!"
Hanya melalui satu kalimat itu, kini tiap ksatria elf berlari maju seperti orang kesetanan, tak sabar untuk segera mengeluarkan sisi lain mereka yang baru saja mereka sadari, telah lama mereka kurung begitu lama. Peperangan tersebut dengan cepat berubah menjadi sebuah pembantaian antara mahluk buas. Tak peduli bagaimana caranya, mereka saling mencabik, menusuk, merobek dan menebas. Semuanya dimula karena satu orang saja, seseorang yang diberi gelar sebagai Black Swan karena mampu menciptakan situasi seperti sekarang, sesuatu yang takkan pernah dibayangkan oleh orang lain namun muncul sebagai sebuah kenyataan. Di sanalah ia, berdiri di tengah-tengah kekacauan sembari memegang kepala Mercenary dengan tangan kirinya. Ia melihat sekitar dan tersenyum.
"Dia melakukannya lagi" Ucap Codes perempuan di belakang kursi Z sembari menonton kekacauan di layar. Seandainya ini adalah sebuah acara televisi, sudah pasti takkan lulus sensor oleh begitu banyaknya darah "Dia selalu saja lepas kendali seperti itu. Inilah mengapa hanya kaulah yang bisa menenangkannya Z, kami sudah tak mungkin menghadapi dia atau kami juga akan berakhir seperti mereka"
Z menghela napas, berusaha untuk menahan kekhawatirannya pada Sang kekasih bukan karena dia takut X akan kalah, tetapi karena tak ingin X melukai dirinya sendiri. Dia benar-benar bisa kehilangan kendali dan hanya fokus untuk menyelesaikan segalanya seorang diri atau dengan kata lain, membantai habis semua orang di sana. Tak peduli lawan maupun kawan. Inilah salah satu alasan Z selalu ingin menghabiskan waktu bersamanya karena ketika bloodlust itu muncul, X akan berubah menjadi sebuah mesin pembunuh.
Tuan Fayheart bersyukur mereka telah mengevakuasi penduduk kerajaan. Kalau tidak, ini akan menjadi sejarah di mana ras elf keluar dari jalur mereka. Apa yang mereka lakukan sekarang seharusnya adalah perbuatan para Werebeast yang selalu haus akan aksi, bukannya ras elf yang menjunjung tinggi perdamaian dan keseimbangan. Hal ini tentunya akan membuat para penduduk syok, sehingga perpecahan dapat terjadi. Namun, harus dikatakan, ini benar-benar terasa menyenangkan.
Sedangkan Alvain yang baru saja membelah sebaris Mercenary, menjilat pedangnya itu, kemudian tersenyum pada kedua sahabatnya "Theora benar. Jika aku tahu rasanya begitu bebas dan menegangkan, aku sudah pasti akan melakukannya semenjak dulu. Mengapa aku harus terus menahan diri, membelengu diriku dengan peraturan elf? Ahh, inilah yang dinamakan kebebasan"
Tiba-tiba dari arah depan, terjadi sebuah ledakan besar yang membuat mereka bukannya berlindung melainkan berlari mendekat. Begitu sampai di sana, terlihat sosok tuan Fayheart memegang kepala ksatria elf sembari menyeringai lebar oleh kepuasan. Ia membuang badan tak bernyawa itu ke samping, lalu menghadap pada kami bertiga "Maaf, sepertinya aku sudah tak bisa menahan diri lagi. Bagaimana kalau kuhancurkan kalian sekarang saja?"
__ADS_1
Peperangan terhenti karena itu, terdiam oleh perbuatan seseorang yang seharusnya memimpin tetapi justru berhianat. Alvain melangkah maju, berusaha menahan nafsu untuk tak melompat dan menyerangnya habis-habisan, berkata "Sudah kuduga kau akan melakukan itu. Hebat juga aktingmu, berpura-pura menyiapkan pasukan untuk membantu kami sementara yang kau lakukan adalah berhianat. Untung saja aku sudah bersiap dari awal"
Para bangsawan menghunuskan pedang mereka ke dalam tanah, menciptakan segaris cahaya yang memanjang ke depan mendekati tuan Fayheart, kemudian membentuk sebuah lingkaran yang akhirnya berubah menjadi sebuah kurungan putih-keemasan transparan. Di dalamnya, tuan Fayheart terlihat marah, memukul-mukul kurungan tersebut, berusaha kabur tetapi sayangnya, dia tak dapat menghancurkan kurungan yang adalah sihir Tier 9. Walaupun kini para bangsawan tak lagi dapat bertarung karena mengerahkan seluruh mana, setidaknya tuan Fayheart si penghianat tak dapat melakukan apa-apa.
"Bagaimana kau menyadarinya?" Tanya dia sesudah memilih untuk menenangkan diri.
"Aku hanya menyebut dewan Edenwood, tetapi kau justru tahu kalau ayahku lah yang menyerang kami bahkan sebelum kau melihat bukti. Lalu kau buru-buru meminta untuk mengantarkan bukti tersebut seorang diri, apakah menurutmu itu tak mencurigakan?" Jelas Alvain dengan senyum penuh kemenangan "Kuakui aktingmu lumayan, sayangnya kau masih butuh banyak belajar tuan Fayheart. Kau terlalu mudah ditebak"
Tuan Fayheart terdiam di dalam sana, membuat keheningan mencekam menjadi begitu terasa sampai dia tiba-tiba tertawa keras seperti seseorang yang sudah kehilangan kewarasan. Oh, dalam rumor dia memang sudah tak waras "Hebat! Sungguh hebat! Putra dari Alva memang tak mengecewakan! Sayang sekali, kaulah yang terlalu mudah ditebak, sama seperti ayahmu"
Sebuah lonjakan energi seketika terbentuk di dalam sana. Aura hijau milik tuan Fayheart perlahan berubah menjadi warna ungu disertai hitam yang makin lama, makin membesar hingga muncul retakan pada kurungan tersebut. Para bangsawan mulai panik melihatnya karena tahu mereka sudah tak memiliki apa-apa lagi untuk kembali memperbaiki kurungan tersebut dan tak tahu apakah mereka dapat bertahan dengan mana yang hanya tersisa sedikit. Kalaupun terpaksa, mereka lebih memilih mati secara langsung ketimbang mati karena kehabisan mana yang begitu menyiksa, seakan dikuliti dan jiwamu ditarik paksa keluar.
Kurungan itu pecah, disertai ledakan energi besar yang mengirim kami terbang menjauh beberapa meter ke belakang. Di depan sana, di tengah-tengah kumpulan mayat, tuan Fayheart berdiri tegap dengan kedua tangan terentang ke samping. Awalnya, kami mengira dia benar-benar telah kehilangan akal, namun ternyata dia menghisap jiwa-jiwa dari tiap tubuh tersebut, merasakannya masuk mengisi tubuh oleh kekuatan besar yang perlahan merubah warna kulitnya menjadi ungu gelap. Begitu selesai, sebuah kilatan cahaya terjadi, begitu terang dan kembali mendorong kembali oleh angin kencang.
__ADS_1
Sembari melindungi mata dengan punggun tangan, di balik kepulan debu tersebut, tampak sepasang mata ungu yang sepenuhnya bercahaya terang. Aura keunguan terbentuk dari sana, bergerak pelan layaknya sebuah asap dengan sebuah suara menggema mengucapkan..
"KALIAN SEMUA AKAN MATI HARI INI"