
"Mungkin aku salah, tapi, bukankah kalian berdua terus-menerus bertatapan?" Tanya si rambut abu-abu penasaran, mengejutkan kami yang seketika memalingkan muka bukan karena rasa malu, melainkan sebuah perasaan lain yang sulit untuk dijelaskan.
"Apa!? Apa yang sudah kau lakukan pada Yuna?" Tanya Alvain geram.
Si rambut abu-abu menghela napas "Bukan seperti yang kau pikirkan Alvain. Dibanding asmara, aku lebih merasakan waspada. Mereka waspada terhadap satu sama lain yang justru membuatku bingung. Kemarin, Yuna mengundangnya dan kini kalian berdua seakan ingin saling membunuh"
Sang Druid berdeham, berusaha mengingatkan bahwa kami sekarang sedang menyantap sarapan. Si rambut abu-abu meminta maaf, berjanji untuk tak membicarakan hal ini lagi hingga sarapan selesai. Tuan putri tampak lega mendengarnya, lanjut menikmati sarapan meski masih memberiku tatapan tajam beberapa kali.
Sesudahnya, kami bersiap-siap untuk berangkat menuju daerah kekuasan dark elf yang kurasa semakin memiliki hubungan dengan kejadian di masa lalu. Kalau tebakanku benar, kami ras manusia dapat membersihkan nama kami sekaligus memperbaiki hubungan dengan ras elf yang kini penuh akan lubang. Sekali terjadi masalah, hubungan kedua ras dapat kembali menjadi sebuah peperangan seperti sebelumnya. Oleh karena itu, aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Hey, kita harus bicara" Tukas Yuna saat kami sedang menyiapkan bekal untuk perjalanan.
Aku mengangguk mengiyakan, mengikutinya ke luar dari tempat persembunyian di mana tak jauh di depan, tampak Gorg yang sedang berbaring dalam mode nonaktif sehingga tampak seperti sebuah batu besar biasa. Ia berhenti di sini, bersandar pada batang pohon sembari melipat lengannya "Apa yang sudah kau lakukan padaku?" Tanyanya dengan tatapan tajam yang sama.
"Percaya atau tidak, aku sendiri tak mengerti dan seperti yang sudah kau alami di dalam mimpi, kalian takkan pernah mendengarkan penjelasan kami, ras yang lebih rendah dibanding kalian, jadi lebih baik kau lupakan saja dan kembali fokus terhadap misi" Jawabku datar, tak ingin meladeni seorang elf yang ego nya telah tergores. Hanya akan membawa stres dan kewaspadaan yang justru dapat menjadi sebuah masalah besar dalam misi.
__ADS_1
"Aku sadar kami salah saat itu dan bukankah kini kedua ras telah kembali bekerja sama?" Balasnya ketus "Apa kau membalaskan dendammu seperti ini? Dengan cara seorang pengecut? Sengaja membawaku ke dalam mimpimu untuk kau hancurkan. Itulah alasan kalian manusia menjadi yang terlemah! Selalu fokus terhadap cara licik-
"Tutup mulutmu itu jika kau tak ingin hal yang sama terjadi di sini. Kau sudah merasakannya sendiri bukan?" Potongku kesal sembari mengepalkan tangan dengan kuat "Kerja sama katamu? Seperti apa? Mendiskriminasi kami? Apakah itu yang kalian sebut kerja sama? Jika kalian berada dalam posisi kami, apa kalian akan menerimanya sebaik kami? Hm? Kenapa? Lidahmu terjepit?"
"Itu karena kami masih belum bisa mempercayai kalian! Seed of Life adalah satu-satunya yang membuat dunia kami tetap hidup! Kami tak tahu harus hidup di mana jika itu direbut.. "
"Lalu, kau pikir karena itu kalian dapat dengan bebas menghancurkan kota di mana masih terdapat anak-anak dan orang berumur di dalamnya?"
"Tidak! Kami-
"DENGARKAN AKU!" Bentaknya yang kuharap tak didengar oleh tiga orang di dalam "Aku sadar aku telah salah mengucapkan itu padamu, pada kalian. Namun, apa yang harus kulakukan ketika kedua orang tuaku terbaring lemah di atas tempat tidur? Sebagai putri kerajaan, aku harus tetap tampil kuat dan tegar demi rakyat. Namun! Aku juga memiliki batasan! Aku selalu menganggap kalian manusia sebagai saudara kami yang berbeda, sosok yang paling mirip dengan kami tetapi hidup dengan cara berbeda. AKULAH YANG MEMOHON PADA RAS KU SENDIRI UNTUK BEKERJA SAMA DENGAN KALIAN!" Jeritnya putus asa sembari berusaha menahan tangis "Dan saat itu, hanya kalian manusia yang dapat mengunjungi istana, berada dekat dengan raja dan ratu. Jadi, aku mengira kalianlah pelakunya"
"Dan kau memutuskan merupakan hal pantas untuk mengambil nyawa mereka yang bahkan belum tahu akan kekejaman dunia? Yang sementara menunggu waktu bagi mereka untuk meninggalkan dunia?"
"A-aku.. "
__ADS_1
"Yang kalian ambil nyawanya saat itu tak hanya orang-orang tak bersalah, berupaya menjaga keluarga dan orang tersayang, tetapi juga mereka yang masih muda, anak-anak kecil yang tersenyum melihat sihir kalian, tak tahu jika sihir itu sedetik kemudian melenyapkan mereka dari dunia dan orang-orang tua yang menganggap sihir kalian sebagai sebuah keajaiban dunia, sesuatu yang indah dan memiliki warna dalam dunia mereka yang telah berubah gelap dan kelabu. Tak menyangka bahwa hal indah tersebut justru adalah malaikat pencabut nyawa. Setelah menyadari itu semua, kalian masih mendiskriminasi kami, memperlakukan kami layaknya ras sampah yang telah membuang jati diri sebagai manusia dengan mengganti tubuh mereka. Namun, kalau kau berusaha pikirkan kembali, sebelum penyerangan itu, hanya kami yang berada di medan perang yang menggunakannya bukan? Mereka yang tinggal di bumi, masih sama layaknya manusia biasa. Apa kalian sadar yang kalian sebut sebagai ras rendahan tak tahu diri itu, berubah karena apa yang telah kalian lakukan? Kami sudah tak lagi merasa aman di dunia sendiri, merasa takut serta waspada jika sewaktu-waktu akan terjadi penyerangan yang sama sementara kalian masih dapat hidup tenang di dunia kalian sampai akhirnya sekarang kalian merasakan hal yang sama. Kami bahkan masih menerima perlakuan kalian karena tak ingin terjadinya perang dan kau masih berupaya untuk membenarkan yang kalian lakukan?"
Kuhela napas kasar, berbalik badan akan kembali ke dalam namun mengurungkan niat ketika melihat dua elf tersebut ternyata berada di depan jalan masuk, memerhatikan kami dengan raut wajah campuran antara rasa bersalah dan marah.
Alvain yang tampak kesal dengan tangan terkepal kuat, akhirnya menyerah, berteriak frustasi dan berjalan mendekat. Ia menarik kerah jaketku, mendekatkan wajahnya pada wajahku yang kini tertutupi oleh Face Distortion "Dia berusaha meminta maaf sialan! Apa kau tak bisa mendengarkannya terlebih dahulu!?" Bentaknya.
"Tak nyaman bukan?" Balasku, lalu balik mendekatkan wajah padanya "Itulah yang kami rasakan sampai sekarang. Kalau kau sudah mengerti, tutup mulutmu itu. Meminta maaflah pada mereka yang kini telah tiada, itupun jika kalian dapat menelan ludah sendiri dan mengaku kalau kalian salah" Aku menepis tangannya, melanjutkan langkah tanpa berbalik ke belakang, berusaha untuk tak mendengarkan hati yang memintaku bertindak lebih baik pada mereka karena aku telah merasakan sendiri apa yang dapat terjadi ketika kau terlalu baik di dunia seperti ini.
Ahh.. Aku benar-benar kehilangan kendali di sana. Mimpi itu membuatku merasa begitu tak berdaya sampai aku harus melampiaskan emosi pada mereka, sungguh dewasa X.
Seandainya saja segala sesuatunya dapat berjalan lebih baik. Aku sendiri juga merasa tak enak harus berlaku seperti ini. Tetapi, menghadapi ras berego tinggi seperti mereka, terkadang, kau harus menghantamnya secara langsung untuk membuat mereka mengerti, terlebih ketika mulut sudah tak mampu membuka hati maka tanganpun menanti.
.
.
__ADS_1
Tapi.. Meskipun aku berkata begitu, aku harus meminta maaf nantinya. Jangan sampai tertelan oleh kebencian X, jangan kehilangan dirimu sendiri. Aku yakin kau mampu melaluinya.