Archsoul

Archsoul
Part 63


__ADS_3

"Mengapa kau tak mengurus masalahmu sendiri sialan!" Kuangkat sebongkah tanah dan melemparkannya ke depan yang dengan mudah dibelah dua oleh Alvain. Namun, itulah tujuanku. Sebelum dia sempat bereaksi, aku muncul di depan, menggenggam pedang tersebut dan menariknya ke belakang. Di saat bersamaan, kukepalkan tangan kanan, memberinya hantaman kuat tepat pada wajah yang harus kulakukan dua kali karena imbuhan mana pada tubuh. 


Dia terlempar ke belakang, mengusap darah dari hidung dan bangkit berdiri dengan kerutan pada kening makin mendalam "Apa waktu yang kami habiskan bersamamu masih kurang? Kenapa kau terus menyembunyikan diri? Apa yang membuatmu begitu takut?! Kau pikir kami akan langsung meninggalkanmu begitu saja HAH!!" Mana terkumpul dalam jumlah besar pada pedang yang kini memancarkan cahaya putih-keemasan terang. Ia mengangkat tinggi pedang tersebut dan mengayunkannya tepat ke arahku, menciptakan sebuah energi putih tajam berukuran besar hingga aku yakin dapat dilihat dari penjuru kota. 


Jika serangan berkekuatan seperti ini mengenaiku, aku yakin aku dapat bertahan. Tapi, lagi-lagi aku harus menunjukkan diriku yang asli pada mereka. Saat itu, aku melakukannya karena terpaksa. Namun sekarang, aku tak yakin dapat melakukan hal yang sama. Aku tak ingin mereka melihat diriku yang asli. Aku tak ingin menjadi sosok asing di antara mereka. 


"Kalau kau tak melakukannya! Kau akan terluka parah X!" Tantang Alvain sembari menyeringai penuh kemenangan, mengira kalau aku tak lagi memiliki pilihan lain selain mengeluarkan kekuatan penuh dan menunjukkan diri. 


Sayangnya, dia masih belum mengerti kalau aku adalah M3RC. Seseorang yang tak lagi takut pada kematian. Jadi aku justru melangkah mendekati energi tajam berbentuk bulan sabit itu. Dapat terasa angin kencang yang tercipta disertai getaran kuat pada tanah yang kini meninggalkan sebuah cerukan dalam bekas energi di depan. Aku tahu yang kulakukan ini bodoh, tetapi aku masih belum siap mendengar pendapat mereka mengenai diriku. Aku tak yakin mampu mendengar mereka yang mengatakan kalau aku adalah mahluk hina dan bukanlah seorang manusia.


Aku tahu aku bukan manusia, tapi aku juga bukan Codes! Aku telah di buang oleh mereka! 


Lebih baik aku tiada. Siapa yang menginginkan seseorang sepertiku menjadi bagian dari mereka? Seseorang yang terlalu sering membuat masalah dan mengakibatkan mereka yang berada di sekitar menjadi dalam bahaya. Bagaimana kalau ternyata karena menunjukkan diri aku adalah Codes, Alvain dan yang lain menjadi terancam? Aku tak ingin hidup mereka dalam bahaya karena diriku seorang.  Aku tak pantas untuk itu. 


Tunggu, mengapa aku tiba-tiba peduli pada pendapat mereka? Bukankah aku tak pernah memedulikan pendapat orang lain mengenai diriku? Jadi, kenapa sekarang aku harus pusing memikirkannya?


Listrik memancar keluar, menyambar layaknya badai yang sedang mengamuk. Kuperhatikan energi besar di depan yang hanya berjarak beberapa meter saja dan begitu dia mendekat dengan Alvain berteriak memintaku menghindar, aku mencengkramnya, menahan energi besar tersebut tetap diam di tempat hingga tanah gemetar jauh lebih kuat karena dua energi yang kini saling mendorong, ingin menghancurkan satu sama lain. 

__ADS_1


Semua yang menonton seketika mengambil langkah mundur meski mereka telah aman oleh perlindungan kubah. Takut menyaksikan dua kekuatan yang sedang mengamuk di depan, campuran antara putih-keemasan dan merah menyala. Terlihat begitu terang hingga menerangi satu kerajaan. Ketika akhirnya muncul retakan pada energi berbentuk bulan sabit, mereka kembali mengambil langkah mundur, bersiap terjadinya sebuah ledakan besar. Namun, begitu hancur, bukan sebuah ledakan yang muncul, melainkan butiran-butiran cahaya indah, menghias bagian dalam kubah di mana kini kedua orang tersebut berdiri diam saling bertatapan. 


Untuk pertama kalinya, Antra dan para dark elf melihat wajah dari M3RC di depan. Sulit mengalihkan pandangan darinya, bahkan ketika mereka berusaha. Sosok tersebut terlihat begitu indah bagaikan keluar dari dalam sebuah lukisan, seseorang hanya dapat muncul dalam sebuah mimpi namun kini menampakkan diri di dunia nyata. Para prajurit laki-laki akhirnya mengerti mengapa dia menyembunyikannya, tahu wajah seperti itu dapat membuat masalah ke mana pun dirinya pergi, terutama kalau para Angel melihatnya. Mereka sedikit tergila-gila pada penampilan seseorang, sedangkan para Demon akan tertarik pada kekuatan pemuda tersebut.


"Hmm, aku tak menyangka akan ada seorang elf yang memiliki kekuatan hampir menyamai kita" Ucap seorang Demon yang tiba-tiba muncul di samping, mengejutkan para prajurit dark elf. 


Mereka menarik pedang, mengarahkannya pada tiga orang yang kini sementara ikut menonton pertarungan di depan. Bertanya-tanya, kapan tiga orang ini muncul karena mereka sama sekali tak merasakan kehadiran mereka yang kemudian terjawab dengan sebuah jentikan jari Demon, mengirim tiap pedang mereka ke udara sebelum akhirnya dijatuhkan. Bunyi mendentang dari tiap pedang yang saling berbenturan, menarik perhatian Antra, Theora, Ciara dan putri Yuna. Mereka buru-buru datang mendekat, bersiap seandainya tiga orang tersebut berniat menyerang meski tahu mereka bukanlah lawan dari Demon, Angel dan Dragonoid. 


"Tenang saja, kami datang karena merasakan kekuatan kuat dari sini. Kalau kami berniat buruk, kerajaan kalian sudah tak lagi terlihat dan perang takkan terjadi yang di mana sungguh disayangkan karena kami ingin melihat seperti apa ras-ras di bawah bertarung" Tukas si Demon perempuan yang lalu lanjut menonton.


"Kau tertarik pada elf itu? Aku jauh lebih menyukai manusia di sana! Kau lihat bagaimana berkilaunya rambut putih dia, bagaimana matanya yang berwarna violet tersebut mencerminkan indahnya langit malam kemudian kulit seputih porselen tanpa noda! Ahh.. Aku jatuh cinta" Balas si Angel dengan wajah memerah membayangkan dirinya menghabiskan waktu bersama X. 


Putri Yuna justru penasaran terhadap apa yang dikatakannya mengenai mata milik X. Terakhir kali, mata dia berwarna merah seperti darah dan terlihat cukup mengerikan. Namun sekarang.. Putri Yuna buru-buru memerhatikannya, ingin melihat dengan mata kepala sendiri dan terkesiap melihat dua mata violet kini menggantikan warna mata merah sebelumnya. 


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya dia pada diri sendiri.


"Apakah menurut kalian ini tidak aneh?" Tanya Dragonoid laki-laki sembari melipat lengan. Mata emasnya sama sekali tak lepas dari kedua orang di depan "Daripada memerhatikan ketampanan dan kekuatan mereka, mengapa kalian tak bertanya pada diri sendiri, apa yang sudah terjadi pada mereka sampai mampu menggunakan kekuatan di atas kemampuan ras masing-masing. Elf itu tak terlalu mengejutkan karena mereka memiliki High Elf sebelum mereka punah jadi kemungkinan besar dia adalah keturunan atau semacamnya. Yang menjadi pertanyaan besar kali ini ialah dia, si manusia berambut putih tersebut. Apa rambutnya memutih karena dia terlalu banyak berlatih?"

__ADS_1


"Itu pertanyaan terbesarmu!?" Balas si Demon ketus.


Dragonoid menggeleng "Aku belum selesai. Atau mungkinkah dia memiliki hubungan dengan Codes?"


"Mengapa mereka" Tanya si Demon yang kini benar-benar penasaran. 


"Mereka memiliki rambut yang sama dan kau lihat tangan kirinya? Mungkin sekilas itu terlihat seperti BPZ, tetapi BPZ tak mungkin menahan kekuatan sebesar yang dia lakukan tadi. Kemungkinan besar itu adalah sebuah alat yang masih belum kita ketahui dan merupakan milik Codes. Mengapa ada pada dirinya, itulah pertanyaan yang masih belum terjawab" 


"Apa kalian tak tahu kalau Rebels kini mampu meningkatkan kekuatan dan senjata seseorang menjadi berkali-kali lipat lebih kuat?" Tanya Theora yang tiba-tiba ikut masuk dalam percakapan dan sudah muncul di samping sembari melipat lengan dengan wajah serius menatap ke depan. 


Mereka bertiga menoleh padanya, bingung bagaimana bisa ada seseorang yang dapat muncul sedekat ini tanpa mereka bertiga sadari. Seketika perhatian mereka tertuju padanya dengan beragam pertanyaan muncul dalam kepala. Salah satunya adalah apakah mungkin selama ini ras-ras di bawah mereka menyembunyikan kekuatan asli mereka? Karena mereka sama sekali tak dapat menerka tingkat kekuatan laki-laki elf di samping, seolah dia berada jauh lebih tinggi yang di mana itu tak mungkin karena kekuatan mereka sendiri sudah berada di puncak, yaitu Tier 10. 


"Apa maksudmu Rebels mampu meningkatkan kekuatan seseorang?" Tanya si Dragonoid tak mengerti. Baru kali ini dia mendengar sesuatu se-absurd itu. 


"Percaya atau tidak, grup yang selama ini kita anggap sebagai sampah, ternyata menyimpan kemampuan mengerikan seperti meningkatkan kekuatan seseorang. Bukankah kalian telah mendengar mengenai pertempuran kami menghadapi elf yang berhianat?" Theora melirik pada mereka, lalu lanjut melihat ke depan, menikmati sandiwaranya sebagai Alvain "Dia bernama Fayheart, salah satu bangsawan elf dan saat kami menghadapinya, dia sudah berada di Tier 10. Aku tak memaksa kalian untuk percaya, tapi itulah kenyataannya"


Mendengar itu, mereka bertiga merasa curiga terhadap pemimpin masing-masing yang mengatakan kalau Rebels tak mungkin melakukan hal-hal tersebut. Berirtanya telah mereka dengar dan menjadi sebuah topik hangat di dunia masing-masing, tetapi dianggap sebagai sebuah rumor belaka oleh para pemimpin yang tak percaya grup sampah tersebut memiliki kemampuan di luar nalar seperti itu. Apakah mungkin Rebels juga telah menyusup masuk atau selama ini para petinggi merupakan bagian dari mereka? 

__ADS_1


Mungkin perang dua hari kemudian dapat menjawabnya. 


__ADS_2