
Ruangan hening selama beberapa menit kemudian. Tak satupun dari kami berbicara dengan Cass berada di luar, memerhatikan keadaan, memastikannya sudah aman bagi kami untuk menggunakan pod yang tersedia di tempat lain.
Aku masih tak menyangka kalau Codes tak benar-benar memiliki kekuatan.
Namun teknologi mereka sudah jauh lebih hebat dibanding yang pernah bisa manusia bayangkan.
Mencapai Civilization Type 4..
Butuh beratus ribu tahun bagi manusia biasa untuk mencapainya. Tetapi mereka sudah berhasil meraih Type 4 hanya dalam hitungan ratusan tahun sesudah diciptakan.
Itu adalah waktu yang begitu sebentar ketimbang perkiraan waktu milik manusia.
Tak dapat dibayangkan seperti apa kekuatan militer asli mereka.
Sesudah kapal-kapal luar angkasa sebesar kota di atas sana, aku tahu Codes belum mengerahkan seluruh kemampuan mereka.
Apakah karena kami tak pantas?
Ataukah karena mereka ingin bermain psikologi bersama kami?
Sengaja menunjukkan kekuatan Codes yang tak seberapa, lalu begitu kami mulai memenangkan perang, mereka muncul membawa pasukan yang jauh lebih kuat dan meruntuhkan semangat kami.
Karena kalau iya, jujur saja, aku sudah terpengaruh.
Aku masih bertanya-tanya, bagaimana bisa Zena berani mengambil keputusan ini, bahkan membawa tak sedikit Codes bersamanya.
Dan mengapa mereka setuju?
Kuhela napas panjang, menyandarkan tubuh pada dinding.
Semua ini terlalu berat untuk kupikirkan sekaligus. Belum lagi dengan kenyataan kalau mereka menggunakan kekuatanku untuk menaklukkan dunia-dunia lain.
Aku merasa bersalah dengan dua pertanyaan masih belum di jawab oleh Cass.
Bagaimana mereka melakukannya? Kenapa dia tak memilikinya?
Aku rasa Cass berumur panjang karena tepat sesudah aku memikirkan itu, dia muncul dengan wajah lega, namun tak menurunkan kewaspadaan "Oke, kita memiliki waktu untuk mencapai kota seberang. Kita hanya perlu berpikir bagaimana caranya sampai di sana tanpa ketahuan yang tentu saja mustahil.
Karena kita harus menggunakan kendaraan. Tak seorang pun berjalan di jembatan itu. Kita akan langsung tertangkap begitu menampakkan diri di sana" Jelasnya.
Cass memutar otak, mencari cara terbaik bagi kami, bingung saat melihatku berjalan keluar.
Dia memanggil beberapa kali, menanyakan apa yang ingin kulakukan dan berbahaya bagiku untuk keluar seorang diri.
Ketik aku menginjakkan kaki pada air di bawah, Cass menjerit keras, berlari ke ujung berniat melompat menyelamatkanku. Tetapi tersentak begitu melihatku naik perlahan, di bantu oleh ombak yang tetap diam di tempat, hanya bergerak mengikuti perintah.
"Ah benar. Aku lupa kau adalah Twin Soul. Tentu saja kau bisa melakukan hal-hal seperti ini" Dia melompat, menerima tanganku dan berdiri di belakang, terpana melihat kakinya berdiri di atas aliran air seolah sedang menginjak sesuatu yang padat.
"Kau bisa menyimpan kekagumanmu, kita masih memiliki hal penting yang harus diselesaikan"
__ADS_1
Cass memutar mata, mengatakan "Dan kembalilah Xera Sang penggoda wanita. Kau tahu Zena akan membunuhmu begitu dia tahu bukan?"
"Hei, aku tak pernah menggoda siapapun! Aku juga hanya bercanda untuk meringankan suasana!" Balasku cepat.
Cass tertawa mendengar rivalnya telah kembali seperti saat mereka masih menghabiskan waktu bersama.
Terhadap kenangan yang kini sudah tak dapat terulang kembali.
Menghiraukan tawanya yang rada mengesalkan itu, kami meluncur ke kota seberang, bersembunyi di bawah bayangan jembatan sambil berharap semoga tak ada yang melihat cahaya yang keluar melalui kode-kode pada tubuh kami.
Perjalanan ke kota seberang tak memakan waktu lama, terutama ketika dirimu dapat memanipulasi laut sesuka hati. Aku bahkan sebenarnya bisa saja menciptakan ombak besar kalau aku mau..
Oke itu setengah kebohongan.
Aku merasa 'bisa' sekaligus 'ragu'.
Namun perasaanku mengatakan kalau aku mampu. Kau mengerti?
Yah tak apa-apa jika kau tak mengerti, IQ kita pada dasarnya sudah berbeda.
Kami tak langsung turun begitu sampai. Cass menuntunku ke tempat yang lebih sepi, jarang didatangi oleh Codes dan tiba di sebuah area gelap tanpa cahaya.
Terdapat bangunan-bangunan tua di sini, bangunan-bangunan yang sama seperti bangunan futuristik Codes, tetapi dengan versi yang sedikit usang.
Mungkin itu alasannya tempat ini sudah tak lagi dikunjungi Codes. Ini merupakan bagian dari masa lalu mereka yang terlupakan, sebuah proses yang tak lagi begitu penting dan tak memiliki keuntungan untuk terus dipertahankan.
Terlihat beberapa Codes muda di sekitar sini, berkeliliing sembari memerhatikan bangunan-bangunan tua tersebut. Seolah kembali mengingat masa lalu mereka atau sekedar menjadi tempat berkumpul.
Ah, aku baru ingat "Cass, katamu kita tak pernah menua. Lalu, bagaimana bisa kita tumbuh dari kecil sampai akhirnya menjadi seperti sekarang?" Tanyaku penasaran.
"Seperti yang kubilang, kita tak pernah menua. Kita akan tumbuh dengan sendirinya seperti manusia biasa hingga mencapai umur dua puluh satu tahun. Sesudah itu, kita bisa memilih apakah masih ingin bertambah tua atau tetap muda" Jawabnya.
Cass melihat sekitar, lalu menunjuk pada kumpulan Codes muda yang kini sementara saling bercerita dan tertawa di bawah salah satu bangunan.
Mereka melihat ke arah kami, bertanya pada sesama, menebak kami siapa.
Dapat terdengar dari sini mereka mengatakan kalau kami hanyalah pasangan yang sedang menghabiskan waktu berdua.
"Contohnya seperti mereka. Kau mungkin melihat mereka masih muda, tetapi beberapa sebenarnya sudah berumur lima puluh tahun ke atas"
Aku tak tahu harus tertawa atau merasa takut terhadap informasi tersebut.
"Tentunya kau tak bisa kembali muda di bawah umur dua puluh satu, begitu pula mereka yang berada di bawah umur dua puluh satu, tak dapat mengganti umur mereka begitu saja. Sesudah kau menentukan akan bertumbuh sampai umur berapa, kau tidak akan bisa menggantinya lagi. Sudah menjadi aturan dalam sistem untuk tak menggonta-ganti umur"
Hmm, jadi pada dasarnya aku bisa saja sudah berumur dua ratus tahun lebih, tetapi masih tampak seperti seseorang di umur dua puluh lima tahun.
Apakah seperti ini rasanya menjadi elf?
"Aku jadi penasaran, umurku berapa?"
__ADS_1
Cass melipat lengan, berusaha mengingat-ingat umurku dan menjentikkan jari "Aku tak tahu"
"Lah?"
"Tapi aku tahu bagaimana kita bisa mengeceknya" Cass menurunkan jari telunjuk seolah sedang menyentuh sebuah layar hologram dan di depan, muncul sebuah status window yang menampilkan seluruh data pribadinya.
Dia menoleh ke sini, mengarahkan status windownya padaku yang tiba-tiba glitch layaknya sebuah layar rusak.
"Itu aneh"
"Bukankah karena mereka menganggapku sudah mati?"
Cass menghela napas sesudah menggeleng pelan "Tidak. Bahkan jika mayatmu ada di depanku, sistem seharusnya masih bisa melihat data pribadimu. Apakah mungkin para dewan sudah menghapus seluruh informasimu?"
Setelah mendengar cerita Cass dan Yeza, aku rasa itulah tebakan paling benar "Sudah pasti karena mereka. Siapa lagi yang memiliki kuasa untuk melakukan ini selain dewan-dewan tersebut... Tunggu, bukankah kau seharusnya-
Tiba-tiba sebuah pesawat muncul tak jauh di atas, mengarahkan lampu sorotnya pada kami di mana mereka tahu-tahu menembakkan serangan sonik.
Kembali kuciptakan force field, berusaha melindungi kami dari serangan. Namun serangan sonik tersebut justru menembusnya dan menghempaskan kami ke belakang.
Jalan di depan hancur berantakan menghadapi serangan yang tercipta dari suara yang saling terkompres, terfokuskan pada satu area dan dikeluarkan secara bersamaan.
Telinga berdengung keras karenanya, membuat kepala terasa begitu pusing hingga pandangan mulai berkunang-kunang.
Perlahan aku bangkit berdiri, bergegas mendekati Cass yang sementara berusaha menghilangkan denyut dalam kepala, meringis kesakitan sembari berguling ke kiri-ke kanan.
Aku mengangkatnya, menggabungkan tiap bagian jalan yang hancur dan mengirimnya pada pesawat di depan. Tetapi, lagi-lagi serangan sonik tersebut menghancurkannya seolah itu bukanlah apa-apa.
Tahu aku tak mungkin menang menggunakan benda padat, aku bergegas menuju air laut yang terletak tak jauh dari kami.
Di belakang, serangan sonik kembali menghancurkan jalan.
Kugertakkan gigi, melompat ke bawah, di mana ombak telah menunggu dan membawaku ke atas, setara dengan pandangan pesawat. Kubentangkan tangan kanan, memerintah air untuk menarik pesawat tersebut ke bawah dengan kuat.
Berkat bantuan berliter-liter air, pesawat tersebut tak dapat menahan beban dan akhirnya jatuh di bawah. Telah kupastikan untuk tidak membuatnya meledak, hanya membuatnya tak dapat kembali terbang.
Para pilot keluar dari dalam kokpit, mengarahkan senapan mereka padaku.
Tetapi, sebelum mereka dapat menekan pelatuk, para Codes muda sudah menghantam mereka, mengelilingi keduanya dan mereka beri pelajaran tanpa ampun sampai kedua pilot tak lagi sadar.
Salah satu dari mereka keluar dari lingkaran, datang mendekat.
Di mana, di saat bersamaan, Cass mengucapkan "Turunlah ke bawah, mereka ingin berbicara denganmu" Dengan lemah.
Ombak membawa kami turun, menurunkan kami di bibir jalan.
Para Codes datang mendekat dan Codes tersebut mengulurkan tangannya.
"Selamat datang kembali, Xera"
__ADS_1