
Karena matahari masihlah menjulang tinggi di atas, Alvain dan Theora bergegas untuk mencari bantuan tambahan dari kenalan mereka dengan harapan semoga saja tak ada masalah yang terjadi karena mereka berdua juga khawatir akan dilaporkan. Namun, aku rasa, Alvain takkan melakukan ini jika tak memiliki rencana cadangan.
Jadi, kini tersisa diriku dan Ciara dalam ruangan, fokus terhadap kegiatan masing-masing yang di mana melakukan apapun yang dapat kami lakukan untuk tidak saling melompat dan mungkin menghancurkan bangunan mahal Alvain dengan pertarungan. Seandainya saja aku dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Tapi, aku tahu dia takkan percaya dan tak ada gunanya membuang energi. Lebih baik kami terus melangkah ke depan daripada terbelenggu oleh masa lalu. Setidaknya, itulah keinginanku sampai Ciara tiba-tiba berdiri di depan, tangan terkepal kuat dengan tatapan setajam silet.
"Ciara, apa yang-
Tiba-tiba saja, dia sudah menendang, menerbangkanku ke seberang ruangan, menghantam dinding lorong dengan kuat hingga muncul retakan di sana, retakan yang membuatku meringis ngeri karena aku tahu Alvain takkan senang melihat ini, terutama setelah yang terjadi semalam... Sialan, aku berharap dia tak marah.
"Ciara tunggu!"
Tetapi tentu saja dia justru menginjak dadaku, menekanku kuat pada dinding. Perlahan, retakan tersebut menjalar disertai suara yang membuat seluruh bulu kuduk berdiri.
"Ciara! Kau menghan-
Aku tak dapat menyelesaikan kalimatku. Bagaimana bisa aku menyelesaikannya ketika seorang pejuang dari ras Werebeast yang terkenal menyeramkan di medan perang, terkenal oleh cara mereka bertarung yang seperti mahluk buas, kini justru terisak meneteskan air mata dengan wajah menunjukkan kesedihan mendalam.
"Kenapa.. Kenapa kau melakukannya? KENAPA KAU MENINGGALKANKU SENDIRIAN!!" Bentak Ciara, tak lagi dapat menahan perasaan yang sedang mengamuk dalam hati "AKU MENUNGGUMU! MENUNGGU KAU DATANG BERSAMA BALA BANTUAN! TAPI KAU MENINGGALKANKU SENDIRI DI TENGAH-TENGAH PERTARUNGAN!! MENGAPA!!"
"A-aku.. " Kenapa? Kenapa mulutku tak dapat bersuara? Mengapa aku tak dapat mengucapkan kalimat yang sangat ingin kuucapkan?
__ADS_1
Kalimat yang seharusnya begitu mudah untuk dikatakan itu justru tersangkut di tenggorokan, membuatku terasa sesak hingga ingin rasanya aku berteriak keras. Namun, aku justru menutup mulut dan memalingkan muka. Betapa menyedihkannya.
Amarah Ciara seketika memuncak. Ia turun, meraih bajuku, mengangkatnya tinggi dan melemparku ke seberang lorong memasuki sebuah ruangan yang sepertinya adalah ruang makan. Dengan keras aku terbentur pada meja makan panjang dari kayu putih cantik, terbalik ke belakang bersama meja tersebut dan tak dapat bangkit berdiri karena Ciara sudah berada di atas, satu kaki meginjak sisi meja dengan tangan terpangku di sana. Tatapannya itu.. Adalah tatapan ketika dia sedang berhadapan melawan musuh, tatapan yang hanya diberikan ketika dia ingin membunuh.
Tampaknya, aku sudah masuk dalam kategori tersebut. Lagi-lagi aku mengecewakan mereka yang berusaha dekat padaku, berusaha untuk menjadikanku seorang teman yang dapat dipercaya..
Maaf.
"Bicara padaku sebelum aku membunuhmu di sini sekarang juga. Katakan padaku, apa alasanmu, mengapa kau melakukan itu. Aku mengenal dirimu X, aku tahu kau orang seperti apa dan kau takkan melakukannya tanpa sebuah alasan kuat. Jadi.. JELASKAN PADAKU SEBELUM AKU MENGANGGAPMU SEBAGAI MUSUH!!"
"A.. " Sialan! Bilang padanya X! Apakah sesulit itu untuk berbicara?? BILANG PADANYA PENGECUT!!
"Kau.. Benar-benar tak mau bicara ya?" Ciara menghela napas, menurunkan kaki dari sisi meja dan berbalik badan "Terserah kau saja. Tapi, jangan harap aku adalah temanmu seperti sebelumnya. Kita selesai sampai di sini" Ucap dia begitu dingin hingga terasa menyayat hati.
Aku kecewa pada diriku sendiri.
Sebelum Alvain dan Theora kembali beberapa jam kemudian, aku sudah mengembalikan meja dalam posisi semula serta mencari-cari apa yang dapat kugunakan untuk menutup retakan pada dinding, tetapi tak menemukan apa-apa.
"Jadi, maksudmu kau terpeleset dan menggunakan tangan kiri besimu itu untuk berpegangan pada dinding agar kau tak terjatuh?" Tanya Alvain curiga. Dia melirik ke arah Ciara yang kini sedang duduk santai di atas sofa tampak tak peduli dan menghela napasnya "Yah, tak apa-apa. Dinding itu bisa kuperbaiki kapan saja. Bagaimana dengan dirimu? Kau baik-baik saja?"
__ADS_1
Apa Alvain barusan khawatir? Sesudah yang kulakukan semalam?
Kau yang terburuk X.
"Aku tak apa-apa" Jawabku singkat "Bagaimana dengan kalian? Apakah akan ada yang membantu atau kita hanya sendirian saja?" Tanyaku, meski sebenarnya tanpa dijawab sekalipun, aku sudah dapat menebak dari wajah Alvain yang sedikit masam.
Alvain menggeleng pelan "Sayangnya tidak. Mereka juga sedikit curiga, tetapi tak berani mengambil sebuah langkah karena kurangnya bukti. Namun, jika kita berhasil, mereka akan langsung turun tangan membantu karena ini demi kerajaan elf juga" Jelasnya sambil berjalan masuk ke ruang tamu dan mengambil tempat duduk di sofa yang berhadapan pada lorong, lalu meregangkan tangan.
"Padahal aku berharap kita akan mendapatkan bantuan tambahan" Balas Theora terlihat kecewa dan mengambil tempat duduk di sofa seberang Ciria, sebelah kanan dari Alvain "Bayangkan saja kalau kita dapat menyusup bersama-sama dan memberikan bukti pada penduduk kerajaan, lalu bersama-sama kita mendorong para Rebels itu keluar. Benar-benar keren"
"Kalau kau menginginkan sebuah perang saudara terjadi, ya, aku setuju" Sarkas Alvain yang sudah menggunakan pose biasa "Bagaimana bisa orang sebanyak itu menyusup tanpa ketahuan? Karena itulah aku selalu katakan padamu, cobalah untuk berpikir lebih realistis. Menyusup dengan sepuluh orang lebih? Itu bukan menyusup melainkan penyerangan"
"Jadi, kapan kita akan bergerak?" Tanya Ciara, memotong Theora yang sudah membuka mulutnya.
Alvain diam sejenak, berpikir "Sebentar lagi, sekitar jam delapan" Jawabnya, membuat kedua mata Ciara terbelalak lebar karena itu adalah puncak aktivitas kerajaan elf sebelum beristirahat "Aku tahu" Ucap Alvain melihat reaksinya "Memang beresiko, tetapi itu jauh lebih baik dibanding saat sepi karena seperti yang kau tahu, semakin banyak orang dalam radius, kemampuan deteksi kami melemah sehingga kalian berdua yang memiliki mana berbeda dan satunya tidak memiliki mana sama sekali, akan aman jika kalian dapat bergerak cepat. Tapi, aku yakin aku tak perlu khawatir karena aku sudah melihat sendiri kemampuan kalian, karena itu jugalah aku memilih cara ini"
Ciara bangkit berdiri, berjalan menuju dapur sembari membawa kendi di atas meja "Kalau begitu, tak apa-apa jika aku meminum Bluenight beberapa gelas bukan? Aku rasa aku membutuhkan sesuatu untuk membuat pikiranku terasa lebih segar agar dapat fokus pada misi"
Alvain mendengus pelan dengan sebuah senyuman di wajah "Kau bertanya tapi sudah membawa kendi air tersebut" Balasnya pelan pada diri sendiri, lalu berseru "Tentu! Sekalian isi kendi lainnya untuk kami!" Karena tahu kendi tadi hanyalah seukuran gelas bagi ras Werebeast yang memiliki nafsu makan tinggi karena begitu banyaknya energi tergunakan oleh tubuh besar penuh otot mereka itu. Bahkan Ciara yang lebih pendek sedikit dari Alvain dalam balutan crop top hitam tanpa lengan serta sepasang celana pendek hitam, memperlihatkan tubuhnya yang penuh akan otot keras dimana terdapat bekas luka di sana-sini sehingga memberinya tampang seorang pejuang berbahaya.
__ADS_1
Namun, alasan sebenarnya Ciara pergi ke dalam dapur adalah untuk menaruh sebuah bubuk pada kendi milik mereka bertiga, sesuatu yang tak ingin dia lakukan, tapi terpaksa.
Begitu Ciara kembali sembari membawa dua kendi yang kemudian diletakkannya salah satu di atas meja, aku memutuskan untuk meminta maaf padanya begitu semua ini selesai sekaligus menjelaskan alasan kenapa aku pergi meninggalkannya saat itu. Kalaupun dia takkan memaafkanku, akan tetap kulakukan. Aku harus jika aku ingin menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya.