Archsoul

Archsoul
Part 6


__ADS_3

Di depan, terdapat sebuah meja panjang yang adalah meja resepsionis tanpa seorang resepsionis. Hanya perlu datang ke sana ke depan sebuah angka hologram di atas meja mulai dari 1-10 dari kanan ke kiri. Aku memilih angka 7 yang kebetulan hanya terdapat 2 orang saja dibanding angka lain dengan barisan panjang.


Di sana, aku menunggu sembari melipat lengan, melihat kanan-kiri, memeriksa apakah ada kenalan yang kemungkinan berada di sini, namun tak menemukan siapa-siapa selain kumpulan Contractor yang melayangkan tatapan tak senang padaku, dua orang Enchanter dan seorang Codes yang selalu ditugaskan untuk menjaga bagian depan HQ karena meskipun terdapat sebuah hukuman, akan tetap ada orang-orang yang mencari keributan. Contohnya seperti laki-laki berbadan kekar yang kini berjalan mendekat dengan kedua tangan model Z yang dikhususkan pada kekuatan fisik sehingga berbentuk lebih besar ketimbang milikku, berharap hal tersebut dapat membuatku merasa takut, tipikal mereka yang baru saja memiliki Body Parts model Z, orang-orang angkuh tak tahu diri.


"Hey kau Merc! Beraninya kau menunjukkan diri di depan kami para Contractor" Serunya berhiaskan seringai lebar yang menampilkan sebaris gigi putih (Bukan gigi asli, salah satu Body Parts murah bagi mereka yang malas menggosok gigi). Ia terlihat kesal melihatku yang tetap diam tak bergeming, melanjutkan langkah, memerhatikanku lebih dekat "Huh, sombong sekali dirimu. Apa kau pikir karena wajahmu itu kau bisa menjadi seseorang yang sombong, dasar penghianat"


Orang ini stres? Apa hubungannya wajahku dengan keangkuhan? Dia benar-benar harus meng-upgrade otaknya selain badannya itu.


"Kau ini tuli atau bagaimana?" Dia melangkah sekali lagi, mendorongku sedikit dengan lampu neon oranye pada kedua tangannya itu bertambah terang untuk sesaat sehingga berhasil membuatku terpental dua meter ke samping kanan.


Perbincangan yang tadinya mengisi ruangan, kini seketika menghilang, membuat suasana hening mencekam, bukan karena dirinya, tapi karena Codes yang kini sedang menatap ke arah kami. Untung saja mata ungu dia masih seperti biasa, belum bertambah terang tanda mereka akan menyerang.


"Apa yang dirimu inginkan?" Tanyaku tak begitu peduli dengan alasannya, aku hanya ingin menggunakan sebuah pod agar dapat menyelesaikan misi kemudian pulang ke apartemen untuk beristirahat.

__ADS_1


"Haha, akhirnya kau berbicara. Aku kira kau sudah kehilangan kemampuanmu itu sama seperti kau kehilangan moral dengan meninggalkan kami. Kalian setuju bukan!" Serunya yang diikuti anggukan hampir semua orang di dalam ruangan, kecuali dua Enchanter serta seorang Contractor di ujung ruangan yang sedang menonton sembar bersandar pada dinding "Kau lihat itu? Kau tak diinginkan di sini, enyahlah sebelum aku membuatmu pergi dengan harga diri yang hancur. Yah, kau kan memang sudah tak memilikinya" Ia tertawa keras bersama kumpulan Contractor di belakang yang tampaknya adalah anggota timnya.


"Hanya itu saja? Berhentilah membuang waktuku" Balasku, lalu kembali ke barisan nomor 7 di mana kini telah kosong karena dua Enchanter tersebut sudah berada di seberang ruangan, tak ingin berada di tengah-tengah keributan.


Laki-laki tersebut tampak kesal, namun aku tetap fokus pada tujuan utama, meletakkan tangan kanan pada meja yang kemudian memunculkan layar hologram berwarna biru, menampilkan informasi detail mengenai diriku yang tak kusangka, akan dibaca oleh laki-laki tersebut.


"Xera Alvero, seorang manusia- huh? Kukira kau seorang penghianat?" Hinanya lagi, diikuti tawa anggota tim "Rambut Platinum Blonde, mata berwarna merah, dengan tampang angkuh. Hmm, apalagi.. Ahh, ini dia! Seorang MERC!" Serunya, sengaja mengeraskan kata tersebut "Dengan nickname- " Dia berhenti di situ, terdiam menatapku. Kedua matanya melebar, penuh akan rasa takut yang tadinya tak berada di sana. Kedua tangan besar tersebut bergetar, entah karena apa.


"Ayo lanjutkan! Kenapa kau berhenti?" Tanya salah satu anggota tim nya yang datang mendekat, menepuk pundak Contractor tersebut sembari tersenyum lebar "Oh sudahlah, biar aku yang melanjutkan. BLACK SWAN!" Serunya keras, membuat mereka yang tadinya tertawa, kini merasakan hal yang sama seperti laki-laki berbadan besar di samping. Butuh dua detik baginya untuk sadar sebelum mengambil langkah mundur dengan suara gemetaran "A-aku tak bermaksud.. D-dia yang memulainya!" Menunjuk pada Contractor yang tak sampai 5 menit tadi dia dukung.


Ketika telah berada cukup jauh di dalam, barulah aku dapat menghela napas lega. Aku benar-benar khawatir jika Codes di belakang mengambil alih situasi. Nyawa kami berdua sudah dipastikan akan menghilang karena aturan nomor satu di dalam HQ adalah tak boleh ada keributan, dalam bentuk apapun itu atau Codes tadi akan mengambil nyawa di tempat hanya menggunakan satu serangan saja, tak peduli seberapa kuat dirimu karena mereka berada di atas tiap ras dalam semua hal.


Laki-laki itu juga termasuk beruntung karena seharusnya ia sudah mati di tempat ketika menggunakan kekuatan Body Parts. Aturan kedua di dalam HQ, tak seorangpun diperbolehkan menggunakan kekuatan mereka yang membuatku bertanya-tanya, apakah Codes tadi rusak? Seorang Codes akan selalu menjalankan perintah, mau tubuhnya sisa setengah sekalipun.

__ADS_1


"Setidaknya, aku masih dapat bernapas"


"Oh benarkah?"


Aku tersentak kaget, reflek memberikan sebuah tendangan Roundhouse yang ditahan dengan mudah oleh Codes di depan. Mataku semakin melebar melihatnya, buru-buru kutarik kakiku sebelum kehilangan Body Parts mahal yang kudapatkan setelah mengerjakan dua misi dengan nyawa berada tepat di depan gerbang kematian.


"Aku benar-benar meminta maaf, aku tak tahu jika kau adalah Codes"


"Oh? Jadi maksudmu, jika aku adalah ras lain, kau tidak akan menyesal?" Tanyanya dengan nada khas para Codes yang tak memiliki perasaan. Bukan berarti mereka benar-benar tak memilikinya, mereka disebut sebagai ras di atas segala ras adalah karena meskipun mereka seperti robot, mereka juga memiliki perasaan. Hanya saja, tiap kali berbicara dengan ras lain, Codes tak pernah menunjukkan perasaan tersebut, layaknya berbicara pada sebuah AI. Mereka cuma menunjukkannya pada sesama Codes.


"Tentu saja. Sudah peraturan tak tertulis untuk tak pernah muncul secara diam-diam di sekitar Merc jika tak ingin kehilangan nyawa" Jawabku.


Codes tersebut terdiam sejenak yang membuat jantung berdegup makin kencang seakan sedang bermain drum. Ia lalu mengangguk-angguk sendiri dengan sepasang mata yang makin menajam "Kau memang berbeda dari yang lain. Kau tak menunjukkan rasa takut pada kami, Codes. Rasa takutmu menghilang ketika kau tahu kau melakukan hal yang benar, seakan rasa takut tersebut tak pernah ada padahal tiap ras selalu memandang kami seakan kami adalah monster yang siap menghabisi mereka. Tak salah, tapi tak juga benar"

__ADS_1


Ia datang mendekat, memerhatikanku lebih seksama sebelum menekan Face Distortion yang kugunakan dan tersenyum- tunggu apa? Seorang Codes tersenyum pada ras lain? Padaku?


"Kau tak berubah"


__ADS_2