
HQ ini tidaklah sebesar HQ milik Codes yang berada di tiap dunia. Meskipun tempat ini adalah HQ utama, tak dapat menghilangkan fakta jika kami membangunnya secara cepat dan menggunakan bahan seadanya saja.
Itulah alasan kami memasang sebuah Voidnet.
Sebuah force field yang tak hanya melindungi, tetapi juga menutupi apa yang berada di baliknya. Karena itu juga, kami masih aman dari serangan. Mereka tentu takkan mau menyerang secara tiba-tiba tanpa sebuah informasi. Hanya akan mengundang kematian.
Namun kebanyakan tubuh anggota Zeon berada di Stoichon. Dunia para Elementals. Salah satu alasan, kami harus segera memiliki portal ini agar dapat membawanya ke dunia tersebut dan menghubungkan antara Stoichon serta Natura.
Sehingga, ketika mereka menyerang. Kami dapat memberi bantuan jauh lebih cepat tanpa harus gonta-ganti tubuh. Kami juga mulai kehabisan bahan untuk membuat tubuh buatan, jadi kami harus memperlakukan tubuh tersebut layaknya tubuh asli.
Kami diberhentikan di depan pos pemeriksaan, mengecek retina kami dan membandingkannya dengan retina yang telah terdaftar agar tak ada penyusup. Sulit untuk membedakan seseorang yang telah menggunakan sihir penyamaran dengan yang asli. Tetapi, di hadapan Retina Scanner, kau takkan bisa lolos.
Membuatku sedikit bangga karena menggunakan teknologi dan bukannya sihir. Walaupun sekarang, aku sudah bisa menggunakan kekuatan karena kembali pada tubuh sendiri.
Tak dapat dipungkiri aku telah berhasil lolos dari kematian selama tiga tahun. Hanya memakai BPZ.
Sesudah mengecek retina dan diberi lampu hijau, kami masuk ke dalam, melewati berbagai macam tenda besar yang sekarang penuh akan aktivitas dari berbagai ras. Mereka bekerja sama untuk memastikan tempat persembunyian di tiap dunia benar-benar aman, terutama sesudah apa yang terjadi pada Xera.
Tapi, tujuan kami bukanlah salah satu tenda tersebut. Melainkan bangunan tiga lantai di depan yang memang tak begitu megah, namun tak dapat menyembunyikan kesan futuristik dari sentuhan tangan Zena dan mantan Codes lainnya.
Bangunan berwarna putih dengan garis-garis cahaya kebiruan itu, terlihat menyala oleh pantulan sinar mentari. Sebuah warna baru bagi Zena dan mantan Codes lainnya.
Mereka telah berencana untuk mengganti warna mereka menjadi putih bercampur biru, bukan lagi hitam dan ungu. Menurut Zena, itu dilakukan untuk dapat membedakan mana kawan dan mana lawan. Sekaligus tanda, kalau mereka sudah benar-benar bukan bagian dari Codes.
Aku benar-benar sudah tak sabar untuk melihat Zena dalam warna putih-biru. Dia akan terlihat begitu cocok dengan warna tersebut.
Kami masuk ke dalam, memerhatikan begitu banyak orang berlalu-lalang, bergegas menyelesaikan tugas masing-masing karena nyawa tiap orang berada pada genggaman mereka.
Tapi, begitu mereka melihat kami, mereka berhenti berjalan, memberi hormat pada Zena sebelum akhirnya kembali lanjut sambil memperhatikan sosok di dalam kurungan.
Laki-laki itu terus melihat ke sana-ke mari, seperti seorang anak kecil di ajak ke sebuah toko mainan untuk pertama kalinya. Matanya berbinar memerhatikan sekitar. Membuatku bertanya-tanya, apakah mungkin dia tak pernah melihat sesuatu seperti ini sebelumnya?
Tapi, jika dia bisa pindah ke dimensi lain, meski karena sebuah 'kesalahan', bukankah itu artinya dia sudah jauh lebih canggih lagi?
Ataukah, dia bukan terpesona oleh suasana futuristik? Melainkan terpesona oleh suasana masa lalu?
Entahlah. Sulit untuk menebak isi pikirannya.
Kami membawa dia ke ruangan bawah tanah, di mana terdapat sebuah laboratorium di bawah sana. Laboratorium dengan ukuran melebihi bangunan ini, tetapi tak lebih besar dari keseluruhan HQ.
__ADS_1
Di dalamnya, orang-orang berpakaian jubah putih lalu-lalang sembari menekan layar hologram dan berbicara pada diri sendiri tentang apa yang harus mereka lakukan berikutnya.
Seperti biasa. Ketika kami menampakkan diri, mereka memberi hormat sebelum melanjutkan aktivitas masing-masing.
Kami tiba dalam sebuah ruangan luas, meletakkan kurungan tersebut di dekat pintu, menunggu seseorang untuk datang ke mari. Seseorang yang sedikit terlalu bersemangat jika sudah mengenai sains.
Zena melangkah maju, memanggil "Corin!"
Perempuan itu muncul dari ruangan tak jauh di depan dengan rambut sedikit berantakan dan mata kelelahan. Yang seketika melebar penuh semangat saat melihat Zena kembali.
Dia berlari ke mari, menyerukan namanya dan merangkul Zena dengan erat "Aku senang kau sudah kembali" Ia menarik diri "Maaf, atas apa yang terjadi pada Xera. Tapi, percayakan padaku, aku pasti akan membawanya kembali dengan portal itu"
Zena tertawa kecil, mengangguk "Terima kasih Corin. Namun, kau tak perlu khawatir karena Xera juga berada di sini"
"Hah?"
Ketika aku muncul menggantikan Zena, dia melompat ke belakang. Rasa takut tampak jelas di sana, membuat Theora tertawa puas, mengucapkan "Itulah yang kami rasakan saat pertama kali melihatnya"
Corin melepas sepatu dan melemparnya pada Theora yang masih tertawa keras "X-Xera? Itu kau? Kau terlihat.. Berbeda"
"Aku tahu. Semuanya sudah mengatakan itu. Ini terjadi karena aku berada dalam tubuh Zena sehingga aku rasa, wajahnya sedikit menyesuaikan dengan wajahku" Jelasku, berusaha menahan malu.
"Kau membuatnya lebih buruk dengan mengatakan itu"
Corin tertawa, berjalan mengelilingiku, ingin mencari tanda-tanda lain yang mungkin dia lewatkan. Dia benar-benar sudah masuk dalam mode ilmuwan "Wow.. Ini.. Aku tak tahu harus mengatakan apa. Terdapat sedikit perubahan pada tubuh Zena yang kini terlihat lebih besar, berotot dan tentunya lebih tinggi"
Kakinya berhenti melangkah, berhenti tepat di tempat semula.
"Maaf, kalau kalian merasa tersinggung. Tapi, aku benar-benar harus mengetahui ini" Dia mendekat, berbisik "Apakah.. Apakah kalian bisa merasakan satu sama lain di dalam sana?"
Otomatis wajahku memerah mendengar itu. Kuharap mereka yang berada di belakang tak mendengarnya atau aku bisa mati karena malu. Terutama jika Theora dan Alvain terus menyinggung soal ini.
"Berjanjilah kau takkan memberitahu siapa-siapa" Balasku pelan.
Tapi, Corin sudah menjerit bahagia seakan baru saja menemukan sesuatu yang begitu 'wah' hingga melompat kegirangan.
Aku sangat ingin menghentikannya, mengatakan kalau ini tak seperti yang dirinya pikirkan. Namun, melihatnya sudah fokus pada sosok dalam kurungan, aku memilih untuk diam dan membiarkan Zena kembali mengambil alih.
'Maaf.. ' Ucapku padanya.
__ADS_1
Zena menggeleng pelan dengan wajah yang juga tak kalah merah 'Tak apa-apa. Bukan sebuah masalah bagiku'.
'Apa?'
'Apa?'
"Apakah ini jiwa yang hilang itu? Jiwa yang tersesat dalam dunia kita.. Tak tahu jalan pulang. Merasa ketakutan dan butuh sebuah pertolongan"
Zent menyeringai lebar "Oh.. Aku sangat membutuhkan sebuah pertolongan" Godanya, membuat alis Corin terangkat.
"Oh? Pertolongan.. Pertolongan seperti apa?" Balasnya tak kalah menggoda.
Melihat itu, Theora bergegas muncul di antara mereka berdua, membentangkan lengan agar Corin tak lebih dekat dari ini padanya "Hentikan kalian berdua. Kita masih memiliki hal yang jauh lebih penting untuk dibicarakan dan diselesaikan. Kita tak bisa membuang waktu" Tukasnya ketus.
Alvain dan Atraz saling menyikut, berusaha menahan senyum mereka. Siapa sangka Theora yang selalu bercanda serta tampak riang itu, juga bisa cemburu seperti sekarang.
Corin melipat lengan, mengangkat dagu, menantang Theora "Kalau aku tak mau, apa yang akan kau lakukan? Aku yakin kau takkan melakukan-
Tiba-tiba saja, Theora sudah memberinya sebuah ciuman.
Mata kami melebar, seakan ingin lepas dari dalam kepala, masih tak percaya dengan penglihatan sendiri.
Theora menarik diri, mengucapkan "Itu yang akan kulakukan" Kemudian berjalan keluar dari dalam ruangan tanpa berbalik sama sekali.
Tak sampai tiga detik selanjutnya, kami bisa mendengar jeritan dia di kejauhan, membuat kami tertawa keras.
Perempuan berkepang panjang itu terdiam di sana, mematung di tempat, masih berusaha memproses apa yang sebenarnya terjadi. Begitu sadar, dia berdeham beberapa kali "*-*-*-ThEorA BenAr- EHEM! Theora benar. Kita harus fokus. Maaf"
"Tidak-tidak, kami masih memiliki waktu jika, kau ingin.. Kau tahu" Balas Zena, berusaha membantu Theora.
Namun Corin menggeleng "Tidak, kita harus fokus" Tukasnya, lebih tegas dan tampak sedikit berbeda dari Corin biasanya.
Kami memerhatikan dia kembali masuk dalam ruangan tersebut, berpandangan satu sama lain, bertanya-tanya dalam hati.
Apakah mungkin Corin tak menyukainya?
Namun, selama tiga bulan ini, mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Sebagai teman tentunya. Tapi, kami bisa melihat chemistry mereka yang benar-benar cocok untuk satu sama lain.
Mungkinkah, ini terlalu cepat?
__ADS_1
Kami saling berpandangan sekali lagi, kemudian mengangguk. Berjanji akan membantu keduanya bersama. Lupa terhadap Zent yang sementara duduk diam, menonton dari belakang dengan sebuah senyuman lebar.