
Sekuat mungkin, aku berusaha menahan diri untuk tak tampak terkejut meski usaha itu justru membuatku terlihat aneh layaknya seseorang yang tertangkap basah. Tapi aku yakin seratus persen, tak seorang pun dapat bersikap biasa ketika mengalami hal yang sama.
Untungnya Futurephone berbunyi, tanda sebuah notifikasi baru saja masuk yang dilirik oleh Codes perempuan itu, membuatnya tersenyum, sebuah senyuman yang kali ini tak dapat kumengerti. Ia lalu kembali menatapku, menunjuk pintu masuk di ujung lorong "Pergilah ke sana, kau akan menggunakan pod bukan?" Ucapnya, melangkah pergi "Kita akan bertemu lagi suatu saat dan aku harap ketika hari itu tiba, kau telah mengerti beberapa hal"
Aku memerhatikannya menjauh, berpikir apa yang mungkin dia maksudkan, kemudian menggelengkan kepala. Tidak ada waktu untuk memikirkan hal ini sekarang, masih ada misi yang harus kuselesaikan. Setelahnya, aku akan mencari tahu apa saja yang telah terjadi hari ini dan berusaha menggali informasi seperti yang biasa kulakukan ketika sebuah perasaan asing datang menggangguku. Perasaan yang membuatku merasa tak tenang dan gelisah.
Sebuah rasa takut.
Tanpa mengulur waktu lagi, aku masuk ke dalam ruangan, meletakkan kotak penyimpanan di atas sebuah altar, menyaksikan ketika kotak penyimpanan tersebut menghilang meninggalkan kubus-kubus biru transparan, melayang-layang untuk beberapa saat sebelum perlahan memudar dan menghilang seakan tak pernah ada.
Pod yang berbentuk seperti sebuah telur dalam posisi vertikal, terbuka mengeluarkan uap dingin. Di dalamnya terdapat sebuah tempat duduk berwarna merah yang kemudian menahan beban badanku. Pod kembali tertutup rapat, tampak gelap untuk sesaat kemudian menerang oleh barisan lampu neon bergaya kaku, bergeral dari bawah ke atas.
Mata tertutup, napas teratur dan kesadaran yang perlahan menghilang. Awalnya, aku sempat merasa takut akan kehilangan nyawa karena terasa seperti jatuh ke sebuah lubang dalam tak berdasar. Namun, lama-kelamaan, aku menjadi terbiasa.
Tak sampai 3 detik kemudian, aku sudah terbangun, tiba di dunia yang berbeda, kali ini dengan udara terasa lebih segar dan sejuk. Pod terbuka, membuat udara tersebut datang menyerbu bagaikan sebuah hembusan angin di musim semi. Aku beranjak keluar, melihat bangunan yang sama, namun begitu keluar dari ruangan, dapat terlihat banyak Elf berkeliaran yang sedikit aneh, mengingat ini telah malam dan para Elf jarang aktif di malam hari.
__ADS_1
Berkat itu, aku dapat berjalan dengan tenang, tanpa perlu khawatir perhatian para Elf mengarah pada seorang Merc manusia. Seorang penghianat dari ras yang telah membuang anggota tubuh sendiri. Mahluk mana lagi yang lebih hina dari ini?
Begitu mencapai ruangan utama di mana cukup banyak Elf berbaris rapi, menunggu giliran untuk mendaftarkan ID, aku beranjak keluar melewati dinding biru transparan itu, memerhatikan sebuah dunia yang tampak jauh berbeda ketimbang dunia manusia.
Di sini, masih terdapat begitu banyak pepohonan dengan dedaunan kuning-keemasan indah, memantulkan cahaya lembut dari bola-bola cahaya yang tampak menerangi jembatan. Di bawah jembaran sendiri, terdapat begitu banyak pepohonan yang tak hanya sebagai sebuah tumbuhan, tetapi juga rumah para Elf. Dapat terlihat jendela-jendela indah pada sisi-sisi pepohonan tersebut yang kini tertutup dengan cahaya redup mengingat hari telah hampir mencapai tengah malam.
Ketika aku baru saja berjalan sebanyak tiga langkah, sebuah kapal terbang dari kayu berwarna coklat muda, muncul di samping kanan, bergerak perlahan ke arah pohon besar yang terletak cukup jauh di depan. Pohon yang menjadi tempat berkumpulnya para High Elf, Elf versi bangsawan dan juga merupakan pohon kehidupan yang telah sering disebutkan dalam legenda Nordik.
Yggdrasil.
Saat aku memeriksa FP, sebuah pesan masuk dari Sang Buyer mengatakan bahwa dia akan menungguku di sebuah tebing tak jauh dari HQ. Aku memerhatikan sekitar, mencari tebing yang dimaksudkan dan menemukan sebuah tebing tinggi, terletak di sebelah kiriku. Sebuah perjalanan yang cukup jauh mengingat hari telah gelap dan para Forest Guardian telah terbangun, mahluk yang menurut legenda Elf, telah ada semenjak awal dunia mereka diciptakan, bertugas untuk menjaga ketenangan hutan dan tak segan memusnahkan sesuatu yang mengganggu ketenangan tersebut, termasuk para Elf jika mereka mencari masalah di tengah hutan, terutama ketika hari sudah gelap, waktu di mana Forest Guardian aktif layaknya sebuah robot penjaga.
Kuhela napas panjang memerhatika perjalanan yang harus kulalui demi menemui Buyer tersebut. Kenapa dia tak bisa memilih tempat yang aman sekaligus tak menyusahkan? Butuh beberapa jam bagiku untuk sampai ke puncak tebing itu tanpa menggunakan kendaraan demi tetap low profile.
Apa Elf ini berniat menyiksaku?
__ADS_1
Helaan napas kembali terdengar, berusaha menenangkan hati dari seseorang yang kini benar-benar kesal tak hanya karena harus berjalan kaki sejauh itu, tetapi juga karena telah merasa lelah, butuh istirahat.
Aku benar-benar berharap bayarannya setimpal. Jika tidak, mungkin aku akan melakukan sesuatu yang kubenci, tapi aku juga tak ingin diberi tatapan sebelah mata meski melakukan pekerjaan kotor. Hanya karena aku seorang manusia, bukan berarti kalian dapat meremehkanku.
Untung saja aku telah membeli lima bungkus cookies berselimut coklat ini dalam perjalanan menuju HQ. Akhirnya, aku dapat memiliki waktu khusus diriku sendiri. Sebuah ME TIME!
Jauh dari sana, di atas tebing, dua orang Elf sementara duduk mengitari sebuah penghangat yang tercipta dari batu bara Fire Elemental berharga murah, tersimpan dalam kurungan khusus yang telah diberi imbuhan sihir Elf agar dapat bertahan dari suhu tinggi batu bara tersebut dan menjadi sebuah pengganti api unggun yang tak mereka suka karena harus membakar tumbuhan sebagai bahan utama.
"Apa kita tak terlalu jauh? Akan membutuhkan waktu lebih lama bagi Merc tersebut untuk dapat sampai di tempat ini dan bagaimana kalau dia menarik perhatian prajurit yang sementara berpatroli?" Tanya Elf laki-laki dengan rambut panjang berwarna abu-abu, dikuncir kuda menggunakan sebuah lempengan emas indah berbentuk silinder sembari mengunyah sebuah apel.
Elf di depannya, seorang laki-laki berpakaian sama dalam balutan seragam putih berjubah hijau yang tampak elegan khas para Elf dengan rambut putih panjang tergerai bebas, menjawab "Sudah tugasnya sebagai seorang Mercenary untuk melaksanakan misi sebagaimana Buyer memutuskan, lagipula kita akan membayar dia dengan mahal jadi bukan sebuah masalah. Lalu, mengenai patroli prajurit, takkan ada yang menemukannya karena kerajaan kini sedang sibuk menghadapi masalah tersebut. Jangankan berpatroli, kita saja dapat berada di atas tebing ini, padahal tiga hari sebelumnya, keluar dari istana saja kita tak bisa. Jadi tenangkan dirimu, kau sudah malan selama 30 menit dan menghabiskan lebih dari 15 apel" Sembari membaca sebuah buku, menutupnya, menoleh pada Elf yang kini berdiri di ujung tebing "Begitupun dirimu Yuna, kau tahu gelisah seperti itu takkan menghasilkan apa-apa" Ia menghela napas panjang, menggelengkan kepala dan merebut apel baru yang baru saja akan di makan oleh sahabatnya "Kalau kalian berdua terus seperti itu, aku juga akan ikut gelisah" Tukasnya dan mengunyah apel tanpa memedulikan pandangan sinis Sang sahabat.
Rambut pirang panjangnya tampak indah oleh pantulan sinar rembulan, bergerak perlahan mengikuti arah tiupan angin. Elf perempuan itu terus menatap Yggdrasil selama beberapa detik sebelum menghela napas pelan, memindahkan fokus ke arah titik kecil di kejauhan yang sedang bergerak ke mari. Ia masih mengingat jelas bagaimana tampang manusia tersebut, meskipun wajah bagian atas tertutup oleh Face Distortion, teknologi manusia yang masih belum dirinya mengerti, entah mengapa sesuatu dalam manusia tersebut membuat ia terus berpikir tentangnya.
Yuna menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga, tersenyum untuk sesaat lalu kembali ke kedua sahabatnya yang kini sementara berdebat mengenai apel terakhir milik si rambut abu-abu.
__ADS_1