
Kami bertiga, aku, Theora dan Alvain bergegas kembali ke kerajaan elf dengan harapan semoga kami belum terlambat, terutama sesudah mendengar berita kalau ternyata putri Zorya memiliki koneksi kuat dengan mana murni sehingga berada di posisi yang sama seperti High Elf, ras elf yang telah lama hilang karena kadar kemurnian mana yang makin menipis sehingga beracun untuk mereka. High Elf adalah ras Elf dengan kekuatan berkali-kali lipat dibanding elf biasa, mereka juga awalnya adalah anggota bangsawan sebelum perlahan-lahan mereka meninggalkan dunia dan akhirnya tergantikan oleh para elf yang lebih mampu bertahan dalam kadar kemurnian mana sekarang. Begitu seorang High Elf menyentuh umurnya yang ke-80 (8 tahun dalam ukuran manusia), mereka mampu menggunakan sihir di Tier 5 ke atas yang di mana hanya dapat dilakukan seorang elf di umur 210 tahun (21 tahun umur manusia) sehingga menjadikan mereka sebagai kekuatan utama ketika berperang melawan dark elf.
Dengan putri Zyora yang dicuri oleh para Rebels, kemungkinan besar seseorang dari ras elf telah mengetahui rahasia tersebut dan meminta putri Zyora untuk segera di bawa sebagai ganti energi Seed of Life, mengingat kekuatannya yang besar, meskipun belum sebanding dengan berlian biru muda bercahaya di Tier 8 itu. Oleh karenanya, kami bergegas kembali sebelum matahari terbenam karena kami tak tahu sampai kapan waktu yang kami miliki sebelum Rebels menyerang. Mereka pasti sudah menyadari ada yang salah karena putri Zyora tak tiba di kerajaan elf dan mungkin akan mengubah rencana. Sebelum itu berhasil, kami sudah harus mengumpulkan bukti, lalu meminta bantuan pasukan kerajaan yang menurut Alvain akan turut membantu selama adanya bukti.
Kami masih belum tahu siapa yang akan kami hadapi, tetapi dengan bantuan posisi Alvain dan Theora, mungkin kami dapat meyakinkan mereka, setidaknya itulah harapan kami.
Sayangnya, hari sudah mulai gelap sebelum kami mencapai kerajaan. Kami melihat sekitar, menemukan kami berada di sebuah desa kecil dengan penduduk yang mungkin tak mencapai 100 orang. Mereka melihat ke arah kami, terutama ke arahku dan mendorong anak masing-masing untuk segera masuk dalam rumah dengan rasa takut tampak jelas di wajah masing-masing. Alvain berdeham, lalu mengucapkan "Maaf" Yang jujur saja, kembali membuatku terkejut. Tampaknya semenjak pembicaraan dia dan putri Yuna semalam, perlahan-lahan dia mulai berubah.
"Tak apa-apa Alvain. Lagipula bukan kau yang melakukannya dan ini sudah menjadi sebuah kebiasaan sehari-hari" Balasku sembari tersenyum "Wajar bagi mereka untuk merasa khawatir terhadap seorang M3RC, mengingat reputasi buruk yang kami miliki. Justru, aku merasa bersyukur mereka masih berniat mengutamakan keselamatan anak masing-masing"
"Hm? Apakah ada yang tak melakukan itu?" Tanya Theora bingung.
"Oh percayalah, banyak yang bahkan jauh lebih buruk di luar sana"
Alvain menggeleng pelan "Aku benar-benar tak dapat membayangkan kehidupan apa saja yang sudah kau jalani sampai kau merasa terbiasa dengan ini. Kurasa, menjadi seorang Mercenary ada baiknya juga- Kenapa" Lanjutnya cepat ketika Theora membuka mulut yang diberinya lirikan tajam "Karena aku belum tentu dapat menerimanya. Di dalam kehidupanku yang tertutup, aku mungkin terlihat cuek dan tak peduli dari luar, seakan seperti seseorang yang tak memiliki hati. Namun sebenarnya, kelemahan terbesarku adalah pandangan orang lain" Ia menghela napas "Terlahir dari orang tua di posisi dewan, membuat hidupku tak terasa mudah. Tiap hari aku harus bersikap baik agar nama kedua orang tuaku tak menjadi buruk. Aku bukannya tak ingin, aku rela melakukan itu karena aku sayang dengan kedua orang tuaku. Tapi, terkadang rasa lelah itu menghampirimu. Itulah salah satu alasan aku lebih memilih untuk menyendiri dan tak membuat masalah meski orang di sampingku ini selalu melibatkanku dalam masalahnya"
__ADS_1
Theora membentu lengan kiri Alvain menggunakan siku, berpura-pura merasa kesal "Hey! Kau sendirilah yang ingin ikut bersama kami. Aku hanya pernah mengajakmu sekali dan kau menolaknya"
"Karena ajakanmu itulah aku jadi berpikir dua kali, kemudian memutuskan untuk ikut"
"Ahh, jadi kau adalah seseorang berpendirian lemah. Menyedihkan"
Aku buru-buru datang ke tengah mereka, menghentikan kedua sahabat yang kembali memulai pertengkaran layaknya dua orang anak kecil "Kalian berdua, bisa melanjutkannya nanti saja? Apa kalian tak sadar kita jadi bahan perhatian?" Ucapku membuat kedua orang itu melirik kanan-kiri dengan Alvain yang seketika tersenyum namun sepasang matanya justru melebar seakan sedikit lagi saja akan bola mata itu akan menggelinding keluar.
"Ahh, jadi kau orang yang seperti ini X. Kau menggunakan kelemahanku bahkan tak sampai 5 menit sesudah aku mengatakannya padamu?" Geramnya.
Kami bertiga terdiam dan tanpa sadar, sudah tertawa keras tanpa memedulikan tiap pasang mata yang mengarah ke kami, memperhatikan kami seakan kami adalah tiga orang penyakit jiwa yang baru saja lolos dari rumah sakit.
Tak lama, kami menyiapkan tenda di tengah hutan, cukup jauh dari desa sebelumnya untuk memancing Rebels yang kemungkinan berada di sana. Jika mereka menyerang dan kami dapat menangkapnya, kami bisa mendapatkan informasi lebih mengenai puzzle yang kini masih tampak kosong di sana-sini.
"Menurut kalian, apakah Antra tak kesulitan harus menjaga dua orang tuan putri sekaligus mencari tahu ke mana perginya para dewan dark elf?" Tanya Theora khawatir sembari mengunyah apel dengan lahap.
__ADS_1
"Berhentilah mengunyah jika kau sedang khawatir. Aku tak bisa menganggapmu serius" Balas Alvain yang juga sedang mengunyah apel.
"Aku gugup oke? Kau sendiri sedang makan" Bantah Theora tak senang.
"Aku lapar" Ucap Alvain singkat dan kembali mengunyah apel, menelannya lalu menjelaskan "Kau tak perlu khawatir pada Antra. Dia mampu melakukannya. Apa kau tak sadar bagaimana dia dapat terus bersikap tenang? Itu adalah tanda dia seseorang yang mengedepankan kepala dibanding perasaan, sama sepertiku. Jadi, aku percaya padanya"
"Jadi yang ingin kau katakan adalah karena dia sama sepertimu, maka kau percaya dan jika tidak, kau tak percaya?" Theora menggeleng-gelengkan kepala, mengambil sebuah gigitan lagi sebelum melanjutkan "Aku tahu kau narsis, tetapi aku tak menyangka sampai seperti ini" Ia menghela napas, berlagak layaknya seorang orang tua yang merasa kecewa terhadap anak sendiri hanya untuk menerima sebuah lemparan apel, tepat mengenai kepala hingga ia terjatuh ke belakang "Apa-apaan.. MENGHINDAR!"
Kami serentak mengambil jarak beberapa meter ke belakang, memerhatikan tenda yang telah susah payah kami bangun diluluh-lantakkan begitu saja oleh seorang Mercenary berbadan besar penuh akan Body Parts Z mulai dari leher hingga kaki sehingga tak lagi dapat disebut sebagai manusia. Sepasang mata merah menyala itu memerhatikanku, mengarahkan pedang besarnya sembari mengucapkan "X, Sang Black Swan legendaris. Siapa sangka aku akan benar-benar bertemu denganmu di sini. Akan kuperkenalkan diriku pada senior terpandang M3RC" Dia tersenyum, memamerkan segaris gigi rapi dan menyahut "Aku adalah.. Razer Sang-
Ia tiba-tiba terlempar ke samping dengan Theora menggantikan posisinya di depan. Pedang telah tergenggam oleh tangan kanan, mengeluarkan cahaya terang oleh imbuhan sihir berwarna emas "Kau terlalu banyak bicara. Bertarunglah jika ingin bertarung, kami tak punya banyak waktu"
Eh? Apa yang-
"Ohh, kau belum tahu ya" Alvain tertawa kecil, kemudian melipat lengannya. Senyum percaya diri tampak di wajah "Begitulah Theora jika sedang kesal. Kau akan menemukan seseorang yang bahkan jauh lebih menyebalkan dariku"
__ADS_1
Aku masih belum terlalu mengerti apa yang dia maksud. Tapi, tak sampai lima detik kemudian, aku membuka mulut, mengucapkan "Aaa.. " Saat memerhatikan Theora sama sekali tak memberi kesempatan bagi siapapun tadi, bahkan untuk menarik sebuah napas. Membuatku merasa kasihan sekaligus gembira.