Archsoul

Archsoul
Valley of Souls (Part 3)


__ADS_3

"Codes- Maksudku, Zeon, takut pada sesuatu?" Tanya Theora. Ia mendengus, melarikan tangan pada rambut dengan keringat dingin mengalir turun "Kita mati. Kita sudah pasti mati. Bisa kalian bayangkan? Codes- Zeon, takut pada sesuatu? Mahluk macam apa yang bisa membuat mereka ketakutan?!" 


"Aku adalah ciptaan manusia Theora. Tentu saja mereka akan memberiku kepribadian mereka, termasuk rasa takut mereka yang mereka dapatkan dari membaca, menonton, bermain dan sebagainya. Oh! Termasuk legenda-legenda dari tiap negara. Lalu terbentuklah mahluk-mahluk mengerikan tersebut" Jelas Zena yang entah mengapa justru merasa bangga. 


Aku sama sekali tak bangga melihat manusia mampu menciptakan hal-hal mengerikan ini hanya melalui imajinasi.


"Kalian manusia memang tidak sehat. Ras macam apa yang bersenang-senang dengan hal semacam ini? Kenapa kalian begitu suka menyiksa diri kalian?" Tanya Theora lagi "Dan bagaimana bisa semua ini terbentuk cuma menggunakan imajinasi? Karena aku adalah seseorang yang suka berimajinasi dan kau bisa menanyakan itu pada Alvain"


Alvain mengangguk setuju. 


"Namun tak pernah sekalipun dalam seumur hidup tebersit hal-hal mengerikan seperti yang kita alami sekarang" 


"Siapa yang bilang kalau itu hanyalah imajinasi?"


Mata Theora melebar. 


Zena tertawa "Tak perlu kau pikirkan. Aku khawatir kau tak bisa tidur nantinya" 


"Aku bahkan tak ingin berkedip!"


Alvain datang mendekati Sang sahabat, menepuk-nepuk pundak Theora sembari tersenyum "Tenang saja sahabatku, kami ada di sini untuk menjagamu. Lagipula, kita juga memiliki Atraz yang berada di Tier 10! Apalagi yang harus kau khawatirkan?"


"Jangan bawa-bawa aku ke dalam ini. Jujur saja, jantungku tak pernah berdetak sekencang ini sementara aku adalah seekor naga dan itu seharusnya memberitahumu sesuatu" Balasnya. 


"Jantung naga berdetak kencang?" Tanya Theora bingung. 


"Mereka selalu berkompetisi menjadi yang terbaik Theora. Sudah pasti adrenalin akan terus terpompa. Bukankah kau bersama kami saat Atraz menceritakan kehidupannya?" Ucap Alvain.


Tiba-tiba, terdengar suara tawa bernada tinggi yang begitu tak nyaman untuk didengar. Terutama tidak dengan suara yang membuat suasana mencekam tersebut. 


Burung-burung beterbangan.


Gagak berkicauan.


Dan matahari mulai terbenam.


Kami terdiam di tempat, memerhatikan sekitar, mencari tanda jika sesuatu akan muncul. Namun tak dapat menemukan apa-apa selain derap langkah disertai suara ranting patah. 


Kami saling mendekat, menggenggam senjata serta mengeluarkan senjata masing-masing, membentuk sebuah lingkaran tanpa mengalihkan pandangan dari pepohonan di sekitar. 


Suara tawa tersebut kembali terdengar, kali ini lebih nyaring yang berarti dia telah dekat. 


Ketika terdapat suara ranting patah yang begitu dekat, tahu-tahu Theora sudah berlari begitu cepat sampai-sampai dia hanya terlihat seperti sebuah garis di depan sana, meninggalkan kami yang reflek ikut berlari terutama dengan rasa takut menguasai hati. 


Derap langkah tersebut masih dapat terdengar di belakang, mengejar di antara pepohonan, bersembunyi di balik bayang-bayang. 


Atraz yang tadinya berada paling belakang, kini sudah berada di depan, tak lagi melihat ke belakang dengan wajah pucat pasi. Dia sampai menggunakan kekuatannya untuk mempercepat langkah dan menyusul Theora yang entah sudah menghilang ke mana. 


Tersisa kami berempat. Berlari sambil terus memeriksa ke belakang, mencari seperti apa bentuk mahluk yang membuat Zena ketakutan hingga cengkramannya begitu kuat pada pergelangan tanganku. 


Ketika aku melihat sekilas bayangan sesuatu dalam warna putih, bergerak begitu cepat dengan cara jalan yang tidak biasa, terus kuperhatikan sosok di balik bayang-bayang pepohonan tersebut sampai akhirnya kedua mataku melebar.


"ITU KETAKUTAN TERBESARMU?!" Sahutku panik.


Zena mengangguk cepat tanpa mengalihkan pandangan dari depan. 


"APA! APA YANG KAU LIHAT!?" Teriak Alvain ikut panik dan mempercepat langkahnya. 


Aku hanya menggelengkan kepala, berusaha kuat menghilangkan bayangan tersebut dari dalam kepala. 


Alvain yang tak dapat melawan rasa penasarannya, berbalik ke sana, memerhatikan lebih seksama sosok yang kini sementara mengejar kami dan tahu-tahu sudah menggunakan kekuatannya untuk menebas sosok tersebut, menciptakan kekacauan. 

__ADS_1


"Alvain apa yang kau lakukan!" Teriak putri Yuna yang bingung melihat kepanikannya. 


"Kau akan berterima kasih padaku nantinya!" 


Alvain terus-menerus mengayunkan pedang, menciptakan energi tajam dan menjatuhkan pepohonan di belakang. Getaran-getaran kuat terjadi disertai suara menggelegar yang kami harap semoga tak ada yang mendengar atau kami dalam masalah besar. 


Aku tak mengeluh karena kalau aku juga berada di belakang, aku takkan mau sosok itu datang mengejar. 


Di depan tampak sebuah tebing tinggi di mana Theora dan Atraz sementara mencari jalan keluar sambil saling bersahutan apakah masing-masing telah menemukan jalan keluar. 


Atraz memunculkan sayapnya yang berwarna kemerahan, lalu terbang ke udara hanya untuk kembali terpental ke bawah oleh sebuah barrier tak terlihat. 


"APA YANG KALIAN LAKUKAN!?" Sahut Alvain.


"KAU BUTA!?" Teriak Theora kesal sembari terus mencari jalan yang mungkin berada di sana karena tanpa kami sadari, pepohonan sudah melebat di  kiri maupun kanan. 


"MASUK KE DALAM TEBING!" Seru Zena. 


"HAH?"


"MASUK KE DALAM TEBING!" 


"BAGAIMANA!?" 


Aku yang tadinya ingin melambat, justru ditarik oleh Zena yang sama sekali tak menghentikan langkah kakinya malah makin mempercepat langkah. Dapat kulihat tebing di depan makin mendekat dan dekat dengan jeritan keras. 


"Zena! Aku tak mau mati! ZENA! ZENA!!!" 


Namun ternyata dinding tebing tersebut hanyalah sebuah proyeksi hologram yang menutup sebuah terowongan panjang dan gelap. Zena menjentikkan jari, menciptakan sebuah bola cahaya biru yang kemudian terbang ke langit-langit. 


Atraz dan Theora juga masuk ke dalam, memegang kaki sebagai tumpuan selagi mereka mengatur napas dengan dada naik-turun cepat. 


Alvain dan putri Yuna sampai tak lama kemudian, di mana Alvain langsung terjatuh ke bawah, menarik napas dalam-dalam. Keringat membasahi tubuh. 


Kami ingin menjelaskan seperti apa bentuk mahluk tersebut, namun..


"Apa? Mengapa wajah kalian seperti itu?" 


"Yun-Yuna.. Dia di belakangmu" Ucap Alvain.


Perlahan putri Yuna berbalik ke belakang, menemukan rambut hitam panjang dari seorang perempuan dengan wajah pucat tanpa bola mata. Darah mengalir keluar dari sana, turun menetes dari kening. Mulut terbuka lebar, menampilkan sebaris gigi tajam. 


Beberapa pasang mata berwarna merah terdapat di dalamnya, menatap dengan intens pada tuan putri yang membeku di tempat. 


Tubuh perempuan tersebut terbalik dengan punggung menghadap langit-langit gua tempatnya berada sekarang.


Tuan putri reflek mengumpulkan mana dalam jumlah besar dan menghantamkannya pada wajah Phantom tersebut hingga terbentuk sebuah cerukan besar di depan tebing yang aku yakin akan menimbulkan pertanyaan.


Tubuh di atas seketika terjatuh ke bawah dengan bunyi dari daging basah. Darah terciprat pada zirah tuan putri yang masih terus menatap ke depan dengan tangan kanan terkepal kuat belum turun dari tempat kepala mengerikan itu tadinya berada. 


Alvain bangkit berdiri, melangkah ke depan sembari memerhatikan tubuh yang tersisa setengah itu, sebelum menarik Yuna masuk dalam dekapan dan membelai lembut kepalanya. 


Air matanya mengalir keluar. Yuna menangis, memeluk erat Alvain. 


Melihat itu, aku juga datang mendekat pada Zena, merangkulnya lembut yang dia tanya "Kenapa?" 


Dan kujawab "Tak apa-apa" Sembari menggeleng pelan. 


Theora yang berada di tengah-tengah bersama Atraz berpura-pura menangis, berlari pada Atraz yang dengan cepat menghindari lompatannya "KENAPA!"


"Kau gila?" Balas Atraz.

__ADS_1


"Aku juga membutuhkan kasih sayang!" 


"Cari jodohmu!"


"Bukankah kau juga kesepian?" 


Wajah Atraz berubah jijik. 


Kami yang melihatnya tertawa bersama mereka yang juga terbahak-bahak sembari menahan geli.


"Untung saja kita hanya perlu menghadapi itu"


"Jangan-


Terdengar suara pesawat dari kejauhan. Kami reflek menundukkan tubuh karena terlalu sering bersembunyi di balik bayang-bayang bangunan dalam perang sebelumnya. 


"Mengapa kita menunduk? Mereka tak bisa melihat kita" Kata Theora yang juga bingung terhadap tubuhnya sendiri.


"Oh.. " Balas kami serentak. 


Pesawat berhenti tak jauh di depan, di mana tiga orang Zeros turun dari sana dan suara dari pendaratan mereka itu justru membuat kami menunduk makin ke bawah.


"Kita benar-benar harus memperbaiki diri. Kita sudah rusak oleh perang" Ucap Theora yang sudah menyerah melihat tubuhnya bergerak tanpa perintah.  


"Sejak kapan tubuh kita pernah benar?" 


"Ah betul juga" Balasnya setuju dengan Alvain. 


Masih dapat teringat jelas dalam kepalanya bagaimana mereka membelah rak buku karena reflek menarik pedang saat sedang menyusup dalam rumah seseorang hanya karena kehadiran seekor kucing. 


Ketiga Zeros tersebut melangkah mendekati cerukan tanah, memerhatikannya dengan seksama membuat putri Yuna menggigit bibir, menyesal sudah melakukannya. Yang berada paling depan kemudian memeriksa keadaan sekitar dan menatap tepat ke arah kami. 


Dia berjalan mendekat, golok besar siap dalam genggaman. 


Untungnya dua Zeros lainnya memanggil dia, menunjukkan segaris besar pepohonan yang telah rubuh. 


"Hanya seseorang di atas Tier 7 yang bisa melakukan ini. Anehnya, tak terlihat darah, anggota tubuh ataupun bekas pertempuran. Lebih ke sebuah usaha untuk melarikan diri" Ucap salah satunya yang sedikit kekecilan karena jarak mereka cukup jauh.


"Melarikan diri sampai merusak pohon sebanyak ini? Melarikan diri dari apa? Dan untuk apa membuang-buang mana seperti ini?"


"Entahlah. Yang pasti orang itu sudah tak waras"


Mata Alvain berkedut-kedut. 


"Menggunakan kekuatan sebesar ini sementara Phantom hanya Tier 4. Yaa, dia orang yang kabur dari rumah sakit jiwa"


"Rumah sakit jiwa? Apa itu?" Tanya Zeros Werebeast.


"Oh, dalam dunia kami terdapat rumah penyimpanan mereka yang tak lagi memiliki kewarasan" Jawab si Mercenary sambil berjalan kembali ke pesawat. 


"Kalian manusia ternyata memiliki semuanya" Puji Werebeast "Kemarin aku mencoba burger dan itu adalah makanan terbaik. Aku sudah pasti akan kembali lagi ke resotoran itu" 


"Resotoran- Maksudku restoran" Balasnya sembari menggelengkan kepala. Tak percaya baru saja salah. 


"Kalian berdua, kita akan kembali ke markas. Kita harus melaporkan ini" Perintah Vampire yang sudah berada di depan pintu masuk. 


"Hei, jangan lupa kita akan bermain Ancient Warfare 5. Zes akan merebut posisi pertama! Tapi kau masih berhutang padaku Zes" 


Vampire tersebut mengangguk-angguk mengerti tanpa mengatakan apa-apa dan masuk ke dalam pesawat yang sudah kembali menyala, siap untuk membawa mereka pergi. 


Ketika akhirnya pesawat tersebut sudah tak berada di depan, kami saling berpandangan dengan Theora bertanya "Tak ada informasi yang berguna.. Kenapa kita harus mendengarkan mereka?" 

__ADS_1


"Entah" Jawab Alvain sudah bangkit berdiri "Namun setidaknya aku tahu siapa lawan kita dalam Ancient Warfare" 


__ADS_2