
Pintu terbuka disertai suara mendesis.
Yeza berjalan masuk.
Bayangannya tampak jelas di lantai besi putih yang kini terlihat gelap dengan satu-satunya pencahayaan berasal dari tabung tempatku berada.
Dia berjalan mendekat, memegang FT, sementara mengecek sesuatu di sana sebelum akhirnya menatap padaku. Sebuah senyum terpampang di wajah, senyum kemenangan, senyum keangkuhan, senyum yang membuatku ingin menghantamnya.
"Bagaimana Xera? Apakah menyenangkan kembali mengenang masa lalu?" Tanyanya seolah-olah aku baru saja pulang dari liburan panjang "Kau bisa bertemu kembali dengan mereka. Cassandra, Herald dan Blade? Aku lupa nama Codes yang tak memiliki sopan santun itu"
Blake, namanya Blake sialan.
Itulah yang kukatakan dalam kepala, tak mampu membuka mulut karena masker besi besar di depan wajah.
Ingin rasanya kuhancurkan tempat ini dan bergegas keluar. Tentu tak lupa membanting Yeza.
"Apakah ingatanmu sudah kembali? Bagaimana rasanya bertemu dengan teman-temanmu yang kini telah tiada?
Menyakitkan? Perih? Penuh penyesalan?"
Senyumnya mengembang.
"Tenang saja Xera, karena semua itu takkan lagi kau alami. Kau bisa memberikan semua bebanmu padaku, akulah yang akan menggantikanmu. Aku akan menunjukkan pada mereka jika Codes tak selemah yang mereka kira.
Mahluk itu?" Sebuah dengusan kasar keluar "Aku tak takut padanya. Mengapa aku harus takut? Kita adalah Type 4 Civilization! Kita bahkan menguasai black bole! Kau tahu apa itu artinya? Kita bisa memutar balik waktu, memiliki energi yang begitu besar di alam semesta dan kau ingin kami kabur dari mahluk itu?"
Kau bodoh Yeza.
Kalian takkan pernah menang menghadapinya. Kita sama sekali bukan lawan dari mahluk tersebut. Dia yang bahkan bentuknya saja sudah membuat kepalaku sakit, tidak akan pernah bisa kita hadapi.
Tapi, tentu saja kau tak mendengarku.
Kau bahkan takkan mendengarku seandainya masker ini dilepas.
"Kau tak perlu khawatir Xera. Dengan kekuatanmu, ditambah dengan perasaan yang kini sudah terkumpul begitu banyak, aku hanya perlu mencari letak penyimpanan jiwa itu berada kemudian menggunakannya sebagai sumber kekuatan"
Tunggu apa?
"Oh, ada apa dengan rautmu Xera? Kau mengkhawatirkan mereka?"
Yeza tertawa keras, menekan sesuatu pada FT dan sebuah hologram muncul di antara kami, memperlihatkan sebuah kotak berwarna hitam metalik.
"Itu adalah Archsoul. Aku tahu, tak terlihat begitu menarik. Namun, dalam kotak kecil inilah, tiap jiwa mereka disimpan. Dalam sebuah bangunan yang kebetulan kudapatkan dari memorimu.
Setelah begitu lama aku mencari, akhirnya aku bisa menemukannya. Walaupun ternyata, aku sedikit terlambat dan masih harus membutuhkan bantuanmu seperti dulu.
Dengan ini, aku tak hanya akan memiliki kekuatanmu, tetapi juga kekuatan mereka semua!
Dan kau masih meragukanku? Masih ragu aku takkan berhasil?"
Yeza tertawa kecil.
Dia menghela napas, berbalik badan dan berjalan kembali menuju pintu. Begitu terbuka, dia berhenti sejenak, mengucapkan "Oh, aku juga telah berhasil mendapatkan Zena. Untuk apa? Tentu saja untuk merebut kekuatan miliknya"
Kugerakkan tangan, berniat memecahkan tabung yang sayangnya hanya membuat Yeza tertawa keras sebelum menghilang di balik pintu, kembali meninggalkanku sendirian, menderita terhadap berbagai bayangan mengerikan yang akan terjadi pada Zena.
Aku harus keluar dari sini! Aku harus keluar! AKU HARUS KELUAR!
Terus kugerakkan tubuh ke kanan maupun kiri, berusaha merusak mesin yang terus mencengkeram begitu erat.
Dapat kurasakan kekuatanku terhisap makin cepat, membuat tubuh terasa lemah dan lemah sampai akhirnya aku tak lagi memiliki tenaga untuk bergerak sedikit pun.
Dengan dada naik-turun cepat, pandangan yang mulai kabur dan napas terengah-engah, aku menutup mata, mencoba menenangkan diri.
Aku adalah Twin Soul.
Sesuatu yang hanya dimiliki oleh kami berdua.
Melalui penjelasan Cass, seharusnya aku bisa berbicara pada Zena, seharusnya aku bisa merasakannya karena kami adalah satu.
Kuhela napas panjang, menghembuskannya perlahan, membiarkan ketenangan mengisi kepala dan memberi kenyamanan pada hati.
__ADS_1
Terus kubayangkan dirinya, membayangkan senyumnya, tawanya, sentuhannya. Mengisi dada oleh perasaan hangat yang begitu kurindukan hingga sulit rasanya menahan diri untuk tak bertemu dengannya.
Ketika akhirnya aku dapat merasakan sesuatu, sesuatu seperti.. Hembusan angin pelan.
Dingin.
Lalu sebuah helaan napas.
Hangat, begitu hangat.
Sesuatu menarikku masuk dengan lembut.
Aku menerimanya, membiarkan jiwaku diambil alih oleh perasaan asing dan nyaman tersebut, merasakan sesuatu yang tak pernah sebelumnya kurasakan.
Kemudian, aku coba memanggilnya.
"Zena.. "
Sosok tersebut terbangun, terkejut dan melihat kanan-kiri dengan cepat.
"Jangan terlalu ribut, yang lain sementara beristirahat"
"Zent? Kaukah itu?"
"Kau bisa berbicara melalui telepatimu kau tahu?"
Ah kau benar.
Zena. Akhirnya, aku bisa bertemu denganmu lagi.
Sulit menjelaskan betapa rindunya aku padamu. Di sini terasa terlalu dingin tanpa kehadiranmu kau tahu?
'Xera? Kau baik-baik saja!?'.
"Aku baik-baik saja Zena. Hanya sedikit kedinginan saja"
'Oh syukurlah! A-aku mengira.. '
"Kau menangis?"
Ahh, sekarang mereka ikut terbangun.
"Apa kau tak kasihan pada mereka? Lihat wajah mereka yang sudah seperti zombie itu"
'Jangan membuatku tertawa saat- hiks, saat aku menangis'.
Di sana, Yuna datang mendekat, terlihat begitu khawatir padahal dialah yang seharusnya dikhawatirkan. Terutama dengan kulit seputih salju dan mata panda.
"Zena? Ada apa? Kenapa kau menangis?"
Para laki-lakinya mengeluarkan senjata masing-masing, memeriksa daerah sekitar seandainya ada musuh yang bersembunyi. Mereka benar-benar akan menghabisi orang itu, terutama kalau merekalah yang membuat pemimpin Zeon terisak sedih.
Zena menggeleng pelan. Sebuah senyum bahagia terbentuk di sana, mengejutkan Yuna yang mengira Zena sudah kehilangan waras.
"Xera.. "
"Ada apa dengan Xera?" Tanyanya cepat, tak tega membiarkan Sang sahabat diambil alih oleh kegilaan.
"Aku bertemu dengannya"
"HAH!?"
Para laki-laki bergegas mencarinya, melihat kanan-kiri sampai sengaja menyebarkan mana mereka agar dapat mendeteksi tubuhnya dan mendekat pada Zena yang kini sudah bangkit berdiri.
"Mana? Aku tak merasakannya" Ucap Theora bingung.
"Dia di dalamku"
Tanpa mengucapkan apa-apa, ketiga laki-laki itu saling berpandangan, berusaha menahan senyum mereka yang akan terbentuk.
Wajah Zena memerah, menyadari apa yang baru saja dirinya katakan dan buru-buru menggelengkan kepala "Tidak! Tidak seperti itu!" Serunya, lalu menyikut Yuna yang sudah seperti tomat "Maksudku, dia.. Dia.. Dia berada di dalamku! Benar-benar berada di dalam!"
__ADS_1
Yuna menghela napas panjang, menggeleng pelan karena Zena hanya makin memperburuknya "Maksudmu, dia berada dalam kepalamu?" Tukasnya, berusaha membantu.
"Bukan, dia benar-benar berada di dalam tubuhku" Balas Zena cepat yang kini terlihat frustasi karena mereka masih tak mengerti "Kami adalah Twin Soul!"
"Zena, kau baik-baik saja?" Tanya Yuna makin khawatir.
'Xera, bantu aku'.
Aku baru ingat kalau Zena adalah seseorang yang tak bisa melakukan sesuatu secara tiba-tiba. Dia membutuhkan perencanaan matang.
Tapi, melihatnya seperti ini, entah mengapa aku menyukainya.
"Aku akan membantumu, berikan aku tubuhmu"
'Ha?'.
"Bukan seperti itu oke. Maksudku, biarkan aku mengendalikannya"
'Apakah kita bisa melakukan itu?'.
"Entah. Mungkin bisa selama lima detik".
'Kau takkan melakukan yang aneh-aneh kan?'.
"Kita bicarakan itu sesudah kita bertemu, sekarang berikan aku kendali tubuhmu agar mereka mengerti"
Zena mengangguk, membiarkan aku datang mengendalikan tubuhnya untuk sementara yang di mana aku hampir saja jatuh ke depan kalau bukan karena ditahan oleh Yuna.
Woahh, tubuh ini begitu ringan.
"Zena! Ada apa!?"
"Bukan Zena, ini aku"
Tiba-tiba saja aku sudah didorong ke belakang, membentur pohon dan terjatuh ke bawah.
Yuna menutup mulut, terkejut sekaligus merasa bersalah atas perbuatannya.
"Sakit"
"Maaf! Aku tak.. Tunggu, Xera?" Tanyanya bingung.
Aku bangkit berdiri, meraba punggung yang sedikit nyeri dan menatap mereka berempat. Butuh usaha kuat untuk menahan diri agar tak tertawa melihat wajah mereka "Aku bukan monster kalian tahu? Cuma aku, Xera"
"Bagaimana.. " Alvain tak dapat menyelesaikan kalimatnya, terdiam memerhatikan sesuatu yang tak pernah terbayangkan akan dia lihat dalam hidup.
"Tak ada waktu untuk menjelaskan. Intinya aku aman di sini.. Semacamnya"
'Bukankah kau bilang hanya lima detik?'
Satu menit.
"Kalian tak perlu khawatir, yang perlu kalian khawatirkan adalah bagaimana cara kalian dapat ke sini dengan segera karena Yeza berniat menggunakan Archsoul untuk mencuri kekuatan kalian semua dan memakainya untuk menghadapi mahluk tersebut" Jelasku cepat.
Wajah mereka berubah serius.
Alvain datang mendekat, melipat lengannya, masuk dalam mode ketika dia harus menggunakan kepala "Jadi maksudmu, Archsoul berada di dunia para Codes, duniamu dan kalian berdua bisa saling bertukar tubuh karena Twin Soul ini?"
"Semacam itulah. Aku tak tahu apakah Zena juga dapat melakukannya, tetapi bukan itu yang penting sekarang. Jika kita sampai membiarkan dia memakai Archsoul, kita tak tahu apa yang akan terjadi pada jiwa-jiwa kalian. Semoga saja tak seburuk yang kupikirkan.
Tapi kita tak bisa mengambil resiko bukan? Terutama dia adalah psikopat yang begitu tergila-gila akan kekuatan.
Aku juga harus menunjukkan sesuatu yang mungkin akan membuat kalian mengerti, kenapa kita hanya bisa melarikan diri"
Aku datang mendekati mereka, meminta mereka untuk mendekatkan kepala dan makin bingung saat mereka harus saling menempelkannya. Saat Theora akan bertanya, tangan kiriku memegang pelipis Yuna sementara tangan kanan pada pelipis Atraz.
Mata mereka melebar dengan raut wajah menunjukkan ketakutan luar biasa hingga napas terengah-engah.
Begitu selesai, mereka tersentak ke belakang, berusaha menenangkan diri dengan tubuh gemetaran.
"Apa-apaan itu?" Tanya Alvain pelan.
__ADS_1
Atraz memerhatikan lengannya yang masih belum berhenti gemetar "Apakah ini yang kalian sebut dengan rasa takut?"
"Maaf, tapi itulah yang terjadi di dimensi sebelumnya"