
"Tunggu, kau adalah X bukan? Yang saat itu membantu kami menghadapi Nightmares?" Tanya prajurit yang kini berjaga di depan gerbang istana. Ia menoleh pada temannya, memberi kode untuk membuka pintu gerbang dan mempersilahkan kami masuk meski masih merasa sedikit curiga terutama karena Werebeast dan Forest Guardian yang mengekor di belakang. Mereka belum pernah mendengar Forest Guardian bertindak dengan kemauannya sendiri sampai masuk ke area gelap yang pada dasarnya melemahkan mereka.
"Bagaimana keadaan Antra dan putri Zyora?" Tanyaku padanya.
"Oh, tuan Antra dan Yang Mulia baik-baik saja X. Justru mereka mempertanyakan keadaanmu karena tak datang bersama tuan Alvain. Kalau tak salah, kami mendengar kau mati terbunuh. Kami benar-benar menyesal mendengarnya. Kami tak dapat membayangkan berapa banyak poinmu yang terbuang" Jawabnya, membuatku sedikit terkejut oleh fakta kalau tubuh yang kami gunakan di dunia berbeda hanyalah tubuh buatan.
Entah mengapa aku lupa terhadap hal tersebut. Aku mengira aku mati, benar-benar menghadapi kematian. Tapi.. Itu terasa begitu nyata sampai membuatku berpikir kalau itu bukanlah tubuh buatan melainkan tubuh asli. Aku tahu aku yang sekarang pun hanyalah clone. Namun aku merasa kalau tubuh ini berbeda dengan tubuh yang dibuat dalam HQ, seolah-olah inilah tubuh asliku. Lalu, mengapa Z mengambil tubuhku? Mengapa aku bangun dalam pod di apartemen dan bukannya HQ?
Terlalu banyak misteri yang belum terjawab. Aku harus bertemu dengannya. Hanya Z seorang yang mengetahui semua jawaban di balik ini.
Aku mengucapkan terima kasih pada kedua prajurit tersebut dan dalam perjalanan menuju pintu istana, aku segera mengecek FP untuk melihat berapa banyak poin yang tersisa. Anehnya, poinku sama sekali tak berkurang padahal sebagai seseorang yang telah membunuh sebanyak sepuluh ribu kali, poinku seharusnya tersisa seperempat dari jumlah sekarang. Oh sebagai sebuah informasi, sepuluh ribu masihlah kecil di dalam Arhcsoul. Bagi mereka yang berada di dalam sana, terutama yang selalu menghabiskan waktu di garis depan, jumlah mereka melebihi sepuluh ribu bahkan kalau tak salah sudah ada yang mencapai seratus ribu. Semoga saja aku tak bertemu dengan monster tersebut.
Begitu kami berada di dalam, aku kembali teringat momen di mana aku dan para elf itu harus berlari menyusuri lorong panjang ini sambil mendengarkan jeritan Theora. Sebuah senyum terbentuk mengingatnya, memberiku sebuah kekuatan tambahan untuk terus melangkah maju ke depan meski entah karena alasan apa, pundak ini terasa begitu berat. Tiap kali berjalan, aku merasa sedang menyeret sebuah beban. Sampai terkadang muncul pemikiran kalau diriku ingin menyerah.
Jika kau berpikir aku menjadi lebih kuat sesudah mencapai M3RC, kau tak salah. Aku memang mendapatkan upgrade, jauh lebih berpengalaman. Namun, di saat bersamaan, kau menanggung sebuah tanggung jawab besar. Sesudah apa yang kau lakukan, kau akan terus dihantui oleh sebuah penyesalan. Kau berharap kalau kau tak melakukannya, berharap mengambil jalan berbeda dan bukannya jatuh ke dalam kegelapan. Masih dapat terngiang jelas dalam kepala, bagaimana mereka memohon sebuah pengampunan, orang-orang yang bahkan tak bersalah dan tak mengetahui apa-apa, hanya hidup seperti biasa, harus menghadapi kematian karena keinginan seseorang. Keinginan seseorang. Cuma karena keinginan dia semata.
Tanganku selalu gemetar mengingat hal tersebut. Masih dapat terasa dengan jelas cairan merah segar pada kedua tangan ini, perlahan mengalir turun dan jatuh menetes ke bawah. Tak memedulikan umur, tak memedulikan pria atau wanita, kakek-nenek atau anak-anak. Mereka semua kini telah tiada. Masih dapat teringat bagaimana berita tersebut menyebar, tampak pada tiap hologram dengan dia tertawa senang. Melakukan hal semacam ini adalah hobinya, hal yang begitu dia sukai sampai rela mengeluarkan poin begitu banyak yang didapatkannya dari dunia bawah.
Berkat dialah aku dapat mencapai posisi M3RC. Tapi kalau bisa, aku sama sekali tak ingin bertemu dengannya lagi. Cukup hanya sekali itu saja. Aku tak mau berhubungan dengan seorang psikopat yang menganggap nyawa sebagai sebuah mainan. Merupakan sebuah misteri bagaimana dia bisa bertahan sampai sekarang, memiliki musuh di mana-mana sampai tak dapat bergerak di luar HIVE. Terlalu banyak yang ingin membunuhnya dan salah satunya adalah diriku. Begitu semua ini selesai, aku-
"X, kau tak apa-apa? Wajahmu tak enak untuk dipandang" Ucap Ciara tiba-tiba, menyadarkanku kembali dari lamunan.
"Kau kan memang tak dapat melihat wajahku" Balasku.
__ADS_1
"Wajah bagian bawahmu masih dapat kulihat dan aku tak menyukainya. Kau terasa berbeda dari X yang kukenal"
Itu karena kau tak mengenalnya.
Kuhela napas panjang, teringat akan sesuatu dan kembali menoleh padanya "Mengapa kau bereaksi berlebihan padahal tahu jika kita mati di sini, kita masih dapat kembali pada tubuh asli di dunia masing-masing?" Tanyaku yang dengan cepat menyesali pertanyaan tersebut karena seharusnya aku sudah tahu jawabannya mengapa. Terlihat jelas dari wajah Ciara yang kini memerah seperti udang rebus.
"Bukan apa-apa. Aku hanya berpikir kalau rugi kehilangan uang berjalan sepertimu" Jawabnya cepat, terlalu cepat sampai jika kau kehilangan fokus sedetik saja, kau takkan mengerti apa yang dia ucapkan.
Uang berjalan? Aku tak tahu harus tersinggung atau tersanjung mendengarnya.
Bisa kau bayangkan itu? Seorang Werebeast yang terkenal buas dan menyeramkan, salah satu dari mereka, seorang pejuang yang mengerikan, kini jatuh cinta padaku. Oke, mungkin bukan cinta, hanya sekedar suka tapi tetap saja. Aku tak pernah menyangka akan ada seseorang dari ras lain menyukaiku. Apakah aku setampan itu? Aku tahu aku memang tampan, tetapi apakah mampu untuk membuat ras lain tergoda? Kurasa tidak.
Ketika kami akan naik tangga menuju lantai dua, kami terhenti oleh dua orang yang kini sementara berdiri tak jauh di depan. Mereka menatap kami dan kami menatap mereka. Tak sepatah kata pun keluar selama beberapa detik sampai akhirnya Theora melompat sembari menyahut "XERAAA!!"
"Ini benar-benar diriku sialan. Berhenti memperhatikanku sedekat itu! Hanya Z yang diperbolehkan" Balasku cepat, tak dapat menahan malu dari wajahnya yang hanya berjarak beberapa senti saja. Untung dia seorang laki-laki, kalau dia adalah perempuan, aku tak mungkin mendorongnya seperti sekarang.
Theora justru memanfaatkan itu untuk melompat ke belakang, mengibaskan rambutnya yang panjang sembari melarikan tangan kanan, menyisir rambut ke belakang "Selamat datang kembali di Alfheim kawan. Aku Theora akan memberimu sebuah informasi singkat-
"Kita akan berperang melawan Qeina" Potong Antra yang lalu tersenyum pada Theora.
"Aku baru saja akan mengatakan itu!"
"Ah, mohon maaf tuan Theora, aku benar-benar tak tahu"
__ADS_1
"Sudahlah dan berhenti memanggilku tuan! Aku tak menyukainya. Membuatku terlihat tua"
Senyumku terbentuk melihat mereka, kembali merasakan saat kami masih menjalankan misi bersama, saling berdampingan, memercayai satu sama lain diiringi canda dan tawa dalam tiap perjalanan. Aku tahu aku mungkin terdengar terlalu melebih-lebihkan, tetapi itulah yang kurasakan sekarang.
"Hey tunggu, mengapa si penghianat itu berada di sini?" Tanya Theora ketus dengan tangan sudah siap di gagang pedang.
Aku bergegas berdiri di depan Ciara yang juga sudah menyiapkan cakar miliknya "Dia bersamaku. Aku tahu ini aneh terlebih sesudah yang terjadi sebelumnya, tapi dia sudah menyelamatkanku. Tanpanya, mungkin aku sudah berakhir dalam jurang"
Kini giliran Antra yang terlihat bersalah. Ia reflek mengucakan "Ah" Lalu menggaruk belakang kepala sembari tersenyum gugup "Maaf, situasi kami sekarang membuatku mengaktifkan sistem pertahanan kerajaan. Aku lupa kalau kau masih dapat datang kembali. Aku mengira karena sudah tiga hari terlewat, kau tak ingin kembali ke sini, terutama sesudah mendengar akan terjadinya peperangan. Aku tak menyalahkanmu, aku mengerti. Apalagi kau sudah kehilangan poin yang cukup banyak"
Ahh.. Sekarang justru akulah yang merasa bersalah. Aku merasa curang karena poinku sama sekali tak berkurang bahkan sepertinya bertambah. Apakah mungkin karena aku berhasil mengalahkan Fayheart? Yang pasti, setelah mengeceknya kembali, poinku bertambah di banding sebelumnya.
"Tak apa-apa, bukan salahmu. Apa kalian takkan melanjutkan sesuatu yang ingin kalian lakukan?" Tanyaku pada mereka berdua
Theora yang sudah menurunkan tangan dari gagang pedang, bergerak mendekati Gorg di belakang, melambai padanya yang juga dibalas dengan sebuah lambaian dari Gorg. Lalu menoleh pada kami "Bagaimana kita akan membawanya? Dia memang bisa lewat dari pintu utama yang entah mengapa begitu besar, tapi melalui tangga? Gorg bahkan tak muat untuk menggunakannya"
Sebelum salah satu dari kami membalas, Gorg tiba-tiba menjawab "Oh! Gorg punya caranya!"
Tubuh dia mengeluarkan cahaya keemasan terang yang kemudian perlahan mengubah ukurannya menjadi begitu kecil dibanding ukuran dia semula sampai muat berdiri- maaf, melayang di atas tangan.
Kedua mata Theora berbinar-binar melihatnya, ia menjerit tak dapat menahan keluguan yang dipancarkan dari Gorg versi mini dan mengangkatnya ke atas telapak tangan sebelum buru-buru menaiki tangga untuk ditunjukkan pada Alvain dan tuan putri "Ayo X! Apalagi yang kau tunggu!" Serunya yang tahu-tahu sudah berada di tangga lantai dua menuju lantai tiga.
Antra menyusulnya dari belakang sesudah meminta kami berdua untuk ikut bersamanya dengan diriku bertanya-tanya, apakah pertanyaanku baru saja diacuhkan oleh mereka berdua?
__ADS_1