
Aku mengingatnya sekarang, alasan diriku berdiri di sana, menerima tembakan dari mereka. Saat dalam pelarian, aku tanpa sengaja mendengar sebuah rumor, mengatakan kalau seorang Codes akan dinonaktifkan yang dengan kata lain, akan dibunuh. Awalnya aku merasa penasaran, hanya sedikit merasa curiga kalau Codes tersebut adalah Z. Dia sudah tak lagi memiliki perasaan, pekerja yang sempurna bagi HQ jadi untuk apa mereka membunuhnya. Namun, rasa curiga itu berubah menjadi ketakutan begitu wajahnya terpampang jelas pada setiap hologram di kota. Melalui berita, dikatakan kalau dia telah defektif, tak lagi mampu berfungsi dengan baik dan hanya aku serta laki-laki asing tersebut yang tahu alasannya. Z memang telah kehilangan perasaan, tetapi dampak yang dihasilkan terlalu besar sampai membuat kerusakan dalam kepala.
Pada saat itu juga, aku berlari mencari cara agar dapat menyelamatkannya sebelum dia dinonaktifkan. Aku meminta bantuan mereka, orang-orang yang membantuku melarikan diri. Aku masih belum dapat mengingat mereka dengan jelas, tetapi yang pasti, mereka adalah teman-temanku yang berharga. Di awal, mereka mengatakan kalau diriku bodoh ingin menghadapi HQ seorang diri. Hal itu mustahil terlebih jika 'Anti' telah dikerahkan. Mereka adalah pasukan khusus yang tugasnya memburu orang-orang sepertiku, Codes yang sudah tak lagi mematuhi perintah HQ.
Tapi, tak mungkin aku diam saja melihat Z dinonaktifkan. Lebih baik aku kehilangan nyawa dibanding hidup dalam penyesalan. Bukanlah sebuah kehidupan jika hari-hari yang kulewatkan terasa bagaikan neraka. Oleh sebab itu mereka setuju, menurut mereka lebih baik jika mereka membantu ketimbang menemukan diriku mati seorang diri. Kalau aku mati, maka mereka juga siap memberikan nyawa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, terdapat begitu banyak Codes melawan perintah HQ, sesuatu yang bagaikan sebuah mimpi buruk bagi para petinggi. Namun, merupakan sebuah harapan baru bagi kami.
Rencana berjalan lancar, kami dengan mudah menyusup masuk ke dalam yang di mana memang mencurigakan. Namun selama kami dapat membawa Z keluar, maka ini sepadan. Tentu saja Z yang sudah tak lagi mengingat kami, memberontak karena sesuatu seperti ini tak ada dalam perintah yang membuatku bertanya-tanya, benarkah dia defektif? Karena menurutku, dia masih baik-baik saja. Namun, saat melihatnya tiba-tiba bereaksi padaku, seolah dirinya yang dulu kembali, barulah aku menyadari, bagian kecil dari memori kami masih tersimpan dalam hati. Aku tahu kami tak memilikinya, tetapi jika ini bukanlah sebuah perasaan, lalu apa?
Begitu kami telah berhasil keluar, Anti tiba-tiba datang menyerang. Mereka mengejar, melepas tembakan meski kami berada di area yang penuh akan orang. Mau tak mau, kami berpindah tempat ke area yang lebih sepi. Kami memanglah kriminal, tetapi bukan berarti kami orang jahat. Kami takkan membawa orang lain masuk dalam masalah kami. Tak seperti mereka para Anti yang dengan mudahnya mengambil nyawa seakan itu bukanlah apa-apa. Perintah HQ memang mutlak, tapi sebagai versi Codes yang lebih baru, bukankah seharusnya mereka mengerti?
Teman-teman kami datang membantu, berusaha menahan para Anti menggunakan senjata seadanya yang tentu saja tak dapat dibandingkan dengan senjata plasma milik Anti yang dapat menembus kendaraan militer. Namun, berkat mereka, kami dapat kabur dari kota, berlari jauh ke daerah yang belum pernah kami sentuh sama sekali, sebuah daerah tak terjamah oleh Codes. Daerah yang berupa sebuah lahan kematian, tak ada kehidupan di sana, cuma padang pasir luas sejauh mata memandang. Padang pasir berwarna abu-abu kehitaman, sesuai dengan nama tempat ini 'Nowhere'. Hampa, kosong, sebuah tempat yang telah terlupakan karena sebuah alasan.
Kami, aku dan Z berlindung di dalam sebuah bangunan tua, bangunan yang mengingatkanku pada bumi sebelum para Codes datang, masih terbuat dari semen dan batu bata. Kami bersembunyi di sana, berharap semoga Anti tak datang mengejar sampai sini. Ya benar, kami. Aku tak tahu mengapa, tapi semenjak keluar dari kota, Z sama sekali tak melawan bahkan tampak ingin ikut denganku dengan sepasang mata yang tak pernah lepas dariku sekalipun. Begitu aku menghilang dari pandangannya, dia akan langsung berlari mengejar seolah tak ingin lagi kehilangan. Mungkin, perasaannya mulai kembali perlahan-lahan atau mungkin akulah yang terlalu banyak berharap. Apapun itu, aku senang karena sudah dapat kembali bersamanya.
__ADS_1
Beberapa hari kami habiskan waktu di luar, mengelilingi kota yang dulunya adalah tempat tinggal kami, sebuah kota yang mengingatkanku akan kehidupan di bumi. Kota ini telah begitu lama ditinggalkan sampai pasir telah menutupi sebagian besar dari kota. Kami berjalan menjelajahi peninggalan masa lalu tersebut, memeriksa apakah mungkin ada makanan yang sudah pasti tiada. Lagipula, kami Codes hanya bisa memakan sebuah makanan khusus yang dibuat dalam HQ sehingga pada dasarnya yang kami lakukan ini sama saja dengan menunggu kematian datang menjemput. Alasan terbesar mereka, teman-teman kami, melarangku untuk melakukan ini.
Namun, jika Z akan dinonatikfkan, jauh lebih baik bagiku untuk menghabiskan waktu terakhir bersamanya, kemudian bersama juga kami akan pergi meninggalkan dunia. Aku telah siap. Aku tak merasa takut. Aku lebih memilih mati ketimbang hidup tanpa kehadirannya. Sulit membayangkan hari demi hari yang harus kujalani dalam sebuah penyesalan. Mungkin akan banyak yang mengatakan diriku bodoh karena melakukan ini demi satu orang saja, seseorang yang bahkan sudah tak lagi dapat memiliki perasaan padaku. Namun, aku yakin beberapa juga akan mengerti. Perasaan ketika kau telah yakin hanya dia seorang, dialah yang sudah kau tunggu-tunggu, seseorang yang menjadi belahan jiwa.
Cukup aneh mendengar seorang Codes mengatakan ini, seolah-olah perasaan kami nyata dan bukanlah artifisial. Kami tahu kami sudah tak lagi memiliki jiwa, alasan terbesar kami tak memiliki perasaan. Kami pada dasarnya hanyalah robot canggih yang dapat menginstal perasaan dalam diri. Menurut HQ, kami harus melakukan hal tersebut demi menambah kekuatan kami saat menghadapi.. Menghadapi apa? Apa yang membuat HQ begitu ketakutan sampai harus seperti ini?
Masih terlalu banyak hal yang belum kuingat. Membutuhkan waktu untuk dapat kembali mengingat semuanya yang kuharap semoga tak terlalu lama karena aku sudah tak lagi dapat menahan diri untuk terus berjalan dalam kegelapan, buta tak mengetahui kebenaran.
Aku telah merusak satu-satunya alat yang membuat kami menjadi satu, telah menyakiti Z, membuatnya menderita begitu lama. Setidaknya, sebelum aku pergi, aku ingin menunjukkan kalau aku sama sekali tak pernah melupakan dirinya, masih jatuh cinta padanya, masih begitu sayang pada dirinya. Aku tahu apa yang kulakukan tak dapat dimaafkan. Yang kulakukan saat itu demi melindunginya. Namun dia justru harus menderita sampai membuat Codes Observer yang adalah Codes terbaik sebelum Anti menjadi defektif.
Maafkan aku.. Zena.
Aku benar-benar mencintaimu.
__ADS_1
Tepat ketika plasma ditembakkan, memori tersebut berubah gelap, meninggalkanku seorang diri dengan air mata berlinang. Aku tak tahu lagi apa yang terjadi sesudah itu sampai diriku bisa berada di bumi, berada di antara manusia. Aku hanya mengingat bangun di dalam sebuah pod, di salah satu apartemen dengan sebuah catatan terletak di atas meja. Catatan yang kali ini baru saja kusadari merupakan pemberian terakhir Z sebelum kami kembali berpisah. Dalam catatan tersebut, tertulis:
"Xera, maaf aku tak dapat menunggu lebih lama sampai dirimu siuman. Aku harus segera pergi sebelum mereka datang mencari. Aku tahu kau mungkin bingung ketika membaca ini karena semua memorimu telah tiada dan mungkin kau akan panik sesudah mengetahui kalau badanmu hanya terdiri dari besi saja. Kau adalah sebuah clone Xera, clone dari dirimu yang asli. Tapi, kau jangan khawatir karena meskipun kau clone, aku akan terus mencintaimu, aku akan terus mengawasimu, melindungimu dari belakang. Jadi, kau tak perlu lagi khawatir dan jalanilah hidupmu yang baru. Jika sudah tiba saatnya bagi kita untuk kembali bertemu, aku akan menjelaskan semuanya. Namun, kuharap itu tak terjadi. Aku tak ingin lagi melihatmu menderita seperti sebelumnya. Cukup hanya sekali. Kini biarkan aku yang berusaha demi dirimu. Selamat tinggal, Xera"
^^^ Dengan cinta, Zena.^^^
.......
.......
.......
Sialan. Aku benar-benar... Merindukanmu.
__ADS_1