Archsoul

Archsoul
Part 73


__ADS_3

 "Mengapa? Bukankah jauh lebih menyenangkan seperti ini? Kau juga menusukku secara tiba-tiba. Yang kulakukan sekarang masih belum sebanding dengan yang dirimu lakukan Qeina" Balasku dengan listrik sudah bagaikan badai mengamuk, menyambar liar, menghancurkan tanah di sekitar "Apa kau tak tahu kau bermain-main dengan siapa? Kebetulan aku sedang bosan, bagaimana kalau aku memberitahu sedikit mengenai Black Swan dan mengapa dia begitu dikenal dalam Archsoul"


Tanpa membalas, tak sedikit sulur tanaman datang menyerang, keluar dari dalam tanah dalam kecepatan tinggi yang sayangnya masih jauh lebih lambat dibanding sebuah peluru. Kuhantam tanah, menyebarkan listrik yang kemudian menjalar melalui sulur tanaman dan menyetrum Qeina. Tak melewatkan kesempatan, aku muncul di depan, mencengkeram leher lalu melemparnya ke belakang. 


Tubuh Druid tersebut terbanting beberapa kali sebelum akhirnya berhenti tepat di tengah-tengah pasukan yang masih terus berlari tanpa melihat ke arahnya. Qeina bangkit berdiri, mengusap darah dari sisi mulut, melihat kiri-kanan, bingung mengapa pasukan dia bukannya berhenti menolong, tetapi berlari seperti orang kesurupan. Mereka bersorak, menyeringai lebar sembari mengacungkan senjata tinggi ke udara. 


"Kenapa? Kau bingung mengapa mereka terus berlari dan kenapa aku mengirim mereka semua?" 


Pandangannya dengan cepat mengarah ke depan, memperhatikan sosok seorang laki-laki yang kini sementara berjalan mendekat. Cahaya kemerahan tampak jelas di sana, begitu terang dan membuat hati sedikit gemetar. Tak disangkanya seorang manusia berhasil membuat dia merasa seperti ini, merasa begitu lemah hingga ingin rasanya melarikan diri. 


Langkah demi langkah, listrik menyebar dari sana. Awan hitam mulai berkumpul, guntur menggelegar disertai petir berwarna merah terang. Dilihatnya X mengangkat tangan, petir datang menyambar namun dia justru menyeringai lebar. Sebelum Qeina dapat bereaksi, X sudah muncul di depan meregangkan tiap jari dan mencengkeram wajah cantik tersebut, menghantam kuat kepalanya ke tanah hingga pandangan mengabur. 


Dia tak berhenti hanya sampai di sana. Xera terus menyeret, membawa dia masuk dalam area dark elf di mana perang besar telah terjadi. Anak-anak panah ditembakkan, sihir dirapalkan dan suara dentingan pedang terdengar begitu nyaring di udara. Sorakan, sahutan serta jeritan. Ledakan hingga getaran mengisi area besar tersebut, mengubahnya menjadi sebuah lahan berdarah. Tak sedikit tubuh bergeletakan, kehilangan satu anggota tubuh bahkan tak lagi berbentuk. 


X melemparnya ke udara sebelum menyambarkan petir padanya beberapa kali. Kawah besar tercipta, berwarna hitam dan terasa begitu panas. Asap membumbung tinggi dari sana, di mana Qeina kini terbaring dengan luka bakar tampak pada beberapa bagian. Dia berusaha bangkit berdiri, terkejut ketika menemukan X sekali lagi sudah muncul di depan terlihat begitu puas. 


"Mereka berlari karena telah terpengaruh oleh kemampuanku dan aku yakin yang lain mampu menghadapi mereka. Mereka bukanlah apa-apa. Seperti yang kau lihat.. " Kubentangkan tangan "Tak satupun dari pasukanmu berhasil menembus tempat ini, aku juga tahu apa yang sedang kau rencanakan. Kau ingin mengulur waktu bukan? Karena itulah kalian mengirim pasukan sedikit demi sedikit" Aku datang mendekat, berlutut di samping dan menarik dagunya mendekat "Takkan kubiarkan kau berlaku seenaknya lagi. Dengan kau membunuhku, kau sudah melakukan kesalahan besar dan akan kupastikan kau membayar itu" 


Selama semenit berikutnya, Qeina sama sekali tak diberi kesempatan bernapas oleh X. Karena X tahu, sekali dia diberi kesempatan menyerang, maka akan sulit untuk kembali mendekatkan. Serangan Qeina kebanyakan menggunakan sulur tanaman serta sihir jarak jauh, belum lagi dia dapat bersatu dengan tanaman seperti yang sudah dirinya rasakan sendiri empat hari lalu. Oleh karena itu, serangan demi serangan dia berikan, mengerahkan kekuatan yang selama ini ditahannya. 


Begitu bloodlust pada para pasukan menghilang, perhatian mereka mengarah pada sosok M3RC yang kini sementara menghabisi seorang Druid seakan Drudi tersebut bukanlah apa-apa. Perlu diingat kalau Druid berada pada Tier 9, hanya satu Tier lagi sebelum menyentuh 10. Dia sama sekali tak lemah, tetapi di hadapan pemuda tersebut, dia terlihat begitu mudah dihadapi. 


Barulah mereka tersadar oleh sebuah fakta mengerikan yang selama ini mereka anggap sebagai sebuah rumor belaka. Mengenai seorang M3RC yang diberi julukan sebagai Black Swan, sosok yang mampu membuat situasi tak terduga, situasi yang kalau terjadi dapat membawa sebuah perubahan besar. 

__ADS_1


"Black Swan.. Itu adalah Black Swan!" Teriak salah satu dari mereka. 


"Black Swan? Sosok yang berhasil membawa perubahan pada perang Land of Hell?" Tanya seorang Werebeast "Dia adalah sosok luar biasa tersebut? Mengapa dia berada di pihak musuh? Apakah mereka menawarkan harga yang lebih tinggi?" 


"Apa maksudmu? Black Swan tak pernah berperang karena poin. Dia melakukannya karena dia mau" 


"Ya! Dia bahkan menolak poin dari para Elementals!" 


Aku bisa mendengar kalian, kalian tahu? 


Alasan aku melakukannya juga karena saat itu pihak Werebeast menawarkan harga yang lebih baik. Tentu saja dirahasiakan agar rencana berjalan lancar. Siapa sangka justru membuatku menjadi sosok yang seperti itu. 


Tak buruk. Aku bisa membuat rasa takut pada hati mereka makin kuat. 


Rasa sakit menjalar pada seluruh tubuhnya. Dapat terlihat lebam di mana-mana. Qeina berusaha bangkit berdiri, melawan rasa nyeri yang hampir membuatnya kehilangan keseimbangan. Kedua kaki gemetar kuat, sudah akan kehilangan kekuatan untuk terus bertahan. Namun dia tetap memaksa sembari menatap tajam sosok di depan "Kau sudah melakukan kesalahan besar dengan membuatku seperti ini!" 


"Apakah kau baru saja menggunakan kata-kataku? Buatlah kalimat yang jauh lebih baik ketimbang mencuri dialog seseorang" Balasku. 


Aku datang mendekat, berhenti beberapa langkah darinya, menarik kembali tiap listrik sehingga cahaya kemerahan tak lagi begitu terang dan menutup pandangan orang dari kami berkat kegelapan sekaligus agar para Nightmare dapat bekerja dengan baik karena aku rasa cahaya merahku sedikit mengganggu mereka. 


"Bagaimana bisa kau menjadi sekuat ini? Kau lebih lemah sebelumnya!" 


"Apa kau pernah mendengar kata 'menyembunyikan?'. Kalau tidak, aku tak tahu masa kecil macam apa yang kau miliki. Kenapa? Kau takut aku akan membalas dendam? Tenang saja, aku bukan orang yang seperti itu. Aku hanya akan memberimu sedikit pelajaran lalu kembali membantu mereka. Kebetulan saja untuk membantu mereka aku harus membunuhmu. Bukan sebuah pertukaran yang buruk bukan? Mereka aman darimu, aku juga bisa puas menghabisimu" 

__ADS_1


"Apakah ini sifat aslimu? Tak kusangka aku jatuh pada kedok baikmu itu. Kalau aku tahu kau memiliki hati seperti ini, aku sudah pasti membunuhmu sebelumnya" Geram Qeina sembari mengepalkan tangan. 


Tawaku keluar mendengarnya mengatakan itu "Membunuhku? Kau membutuhkanku untuk mengirim para elf ke sini. Lagipula, kalau kau membunuhku saat itu, mereka sudah pasti merasa curiga padamu. Dan apakah kau yakin kau mampu? Sekarang saja kau tak dapat berdiri tegak. Berhentilah mengisi egomu itu, kematianmu sudah dekat Qeina. Apapun yang kau lakukan, takkan berhasil" 


Tiba-tiba dari arah tenda, muncul kekuatan besar yang bahkan melebihi kami berdua. Qeina tertawa keras, puas melihatnya berhasil bangkit kembali. Sosok yang beribu tahun lalu berhasil menyatukan kedua elf dengan mengorbankan diri sebagai simbol perdamaian sampai mengubah jiwa menjadi Seed of Life. Dialah sosok terkuat dalam ras elf, sosok yang dapat menyamai Angel maupun Demon. Sosok yang takkan terkalahkan!


Merasakan kekuatan sebesar itu membuatku kembali mengingat saat pertama kali bertemu ras Angel dan Demon, ras yang berhasil membuat ras lainnya bertekuk lutut sehingga sampai sekarang tak ada yang berani menyentuh mereka. Begitu kedua ras tersebut bertarung, hanya kehancuran besar menanti. Untung saja mereka memilih diam dalam kota masing-masing. Kalau mereka ikut campur dalam peperangan, kemungkinan besar tak satupun dari kami selamat dan harus berakhir dengan kehilangan poin. 


Hanya satu orang saja yang kutahu memiliki kekuatan sebesar ini dalam Alfheim. Orang tersebut adalah Azrael. 


"Kau lihat X? Sekarang waktumu untuk mati!" 


"Bagaimana kau yakin dia akan mengikutimu? Bukankah dia mengorbankan diri agar dunia ini damai?" 


"Apa kau bodoh? Tentu saja aku sudah mengendalikan jiwanya!" Ucapnya marah. 


Senyumku mengembang mendengar itu. Kutarik keluar FP dari kantung, menunjukkannya pada Qeina "Hei nenek, kau tentu tak tahu ini apa dan tentu tak tahu kalau percakapan kita sementara disiarkan bukan? Dengan begini, apa kau yakin ras elf masih akan membantumu?" 


Qeina menatap benda asing di tanganku, meraung keras dan berlari ke arahku, berniat menyerang yang tentu saja kuberi tendangan. 


Tapi.. 


Kakiku justru terasa seperti menendang sebuah besi. Begitu keras sampai membuatku terpental. 

__ADS_1


Tak jauh di depan, berdiri seorang elf berambut emas panjang dalam zirah putih-emas megah persis seperti tampangnya yang seperti keluar dari dalam lukisan. Sepasang mata hazel itu menatapku tajam dengan sebuah pedang siap dalam genggaman tangan "Kau siapa? Berani melukai istriku" 


__ADS_2