Archsoul

Archsoul
Part 71


__ADS_3

Sebagai seorang Mercenary, aku tak pernah menyangka akan berperang bersama ras lain. Kami yang selama ini diinjak-injak, direndahkan, mampu berjalan bersama mereka, menjadi salah satu dari mereka. Jantungku berdebar-debar bagai genderang perang, tak sabar untuk segera memberi pelajaran pada ras dark elf di depan. 


Namun, entah mengapa perasaanku juga mengatakan kalau ada yang salah. Sesuatu mengganjal hati hingga ingin rasanya aku melarikan diri dan kembali pulang ke bumi. Intuisiku tak pernah salah, tetapi tak mungkin aku berlari dari sini. Apa yang akan mereka katakan? Bagaimana caraku menghadapi Mercenary lain seandainya aku kabur? 


Aku tak bisa. Aku harus tetap berada di sini. Bukan saatnya untuk menjadi seorang penakut. 


Karena itu, aku terus melanjutkan langkah, membawa mortar yang terasa cukup berat meski kedua tangan telah terganti menjadi PBZ, sesuatu yang tak pernah kusangka akan kugunakan. Seorang Mercenary biasa sepertiku, membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk dapat membelinya melalui gaji kami yang tak seberapa. 


Para Orc mulai merubah formasi membentuk huruf U. Empat di bagian depan dan lima di sisi kiri-kanan. Aku merasa aman berada di tengah-tengahnya, tersembunyi oleh perisai besar buatan Dwarf yang begitu kuat hingga sulit ditembus. Aku yakin para dark elf itu tak memiliki apa-apa untuk menembus perisai yang sekeras tank. 


Kami akan membawa kemenangan dan membawa pulang poin yang begitu banyak!


Begitu kami mulai memasuki area dark elf yang membuat keadaan sekitar menjadi gelap gulita. Perasaan tak nyaman tersebut makin terasa, seakan memaksaku untuk segera melarikan diri. Aku tahu ini gelap dan membuat suasana mencekam, tapi seperti yang kukatakan aku takkan kabur. 


Tak lama perasaan mengganggu tersebut menghilang, meninggalkanku pada sebuah kesunyian mendalam hingga dapat terdengar suara degup jantung. 


Aku tersenyum merasakannya, tahu kalau tadi hanyalah sebuah rasa takut semata. Untung saja aku tak melarikan diri, kalau tidak aku tak tahu harus meletakkan muka di mana. 


Tiba-tiba orc di depan berhenti, membuat kami para Mercenary menabrak mereka. Baru saja aku akan bertanya, cairan merah gelap jatuh menetes membasahi tangan kiriku. Perlahan aku melihat ke atas, tersentak menemukan tubuh orc terbelah menjadi beberapa bagian. 


Buru-buru aku menghindar ke belakang, kedua mata melebar memerhatikan sosok di depan. 


Perasaan tak nyaman tersebut kini berubah menjadi sebuah rasa takut luar biasa yang membuat sekujur tubuh tak dapat bergerak. Aku sudah mencoba, sudah berusaha, tapi tak ada yang terjadi. Tubuh ini diam membeku!


AYOLAH!! 


Monster tersebut menyerang orc yang lain, menembus perisai dwarf bagaikan memotong mentega. Beberapa pasang mata tersebut menatapku, membuat seluruh bulu kuduk berdiri tegak. 


Aku terus berusaha menggerakkan tubuh, berusaha untuk pindah dari sana, berlari keluar dari malapetaka. 


Aku tak ingin mati, tak ingin mati, tak ingin mati, tak ingin mati, tak ingin mati!

__ADS_1


SIAPAPUN SELAMATKAN AKU!!


Ah! Tubuhku akhirnya bergerak!


Tunggu.. Mengapa aku terangkat ke atas? Mengapa aku melayang? Apa yang sedang terjadi?


Ahh.. Bukan tubuhku yang bergerak. Melainkan ditarik ke atas oleh salah satu dari mereka, salah satu dari malapetaka. Mataku diam tak berkedip memerhatikan mata yang begitu banyak, menyala terang dalam kegelapan, seolah menusuk masuk ke dalam jiwa. 


Apakah ini yang dinamakan kematian? 


Sekarang aku mengerti mengapa banyak yang takut padanya. 


Dapat terlihat dari atas, pasukan yang baru saja masuk itu sudah menjadi onggokan daging. Para Nightmare menarik diri, kembali ke tempat masing-masing, meninggalkan kekacauan di depan sebagai sebuah peringatan sekaligus rasa takut pada pasukan yang berikutnya masuk. 


"Apa mereka akan terus seperti ini? Mengirim beberapa pasukan sampai akhirnya mereka kehabisan?" Tanya Antra bingung.


Alvain menggeleng "Mereka hanya mencoba mengetes medan, melihat jebakan seperti apakah yang telah kita siapkan untuk mereka"


"Mereka takkan berhenti, takkan pernah berhenti. Poin yang mereka terima, jauh melebihi jumlah poin yang mereka dapatkan selama ini. Mereka akan terus mencoba, lagi dan lagi, walaupun rasa sakit yang mereka rasakan, bertambah berkali-kali lipat. Seperti itulah peperangan dalam Archsoul. Seperti itulah peperangan yang kau lihat sekarang" 


Mendengar hal tersebut, Antra seketika merinding. Ia tak dapat membayangkan apa yang sudah mereka lalui sampai berani terus menerima rasa sakit sebanyak itu. Mungkin itulah alasan para elf yang pergi ke sana tampak berbeda dibanding elf yang tinggal di Alfheim. Mereka terlihat lebih menakutkan dengan sepasang mata tajam penuh dendam. 


Tunggu! Bukankah itu artinya.. "Dengan kata lain, mereka akan dengan mudah terpecah-belah" 


Alvain mengangguk "Itulah yang kutunggu. Itu juga alasan aku hanya memancing mereka menggunakan asap-asap hitam tersebut. Kita akan menunggu sampai onggokan daging di depan menumpuk lalu membiarkan asap memperlihatkan apa yang sudah terjadi pada pasukan mereka. Saat itulah kekacauan akan terjadi" 


Antra tak pernah menyangka kalau Alvain adalah seseorang yang kejam di medan perang. Ia selalu menganggap Alvain sebagai sosok yang pintar, diam dan tahu membawa diri. Dia tak pernah membayangkan kalau Alvain seseorang yang tak berperasaan sampai berniat memanfaatkan mayat musuh. Elf tak pernah memiliki pengajaran seperti itu. 


Namun, itulah yang tak dimengerti mereka yang tak pernah menginjakkan kaki di dalam Archsoul. Di dalam sana, sudah tak lagi dapat disebut sebagai sebuah kehidupan, melainkan neraka. Tiap hari selalu terjadi perang, tiap jam, tiap menit, tiap detik. Takkan pernah berhenti. Di manapun kau berada, kau akan mendengar ledakan, dentingan pedang, rapalan sihir serta sahutan dan jeritan. Tak ada yang namanya tidur tenang, tak ada yang namanya menarik napas lega, tak ada yang namanya kedamaian. Semua berperang demi mendapatkan tempat.


Kedua tangan Alvain gemetaran mengingatnya, mengingat kembali semua memori buruk tersebut, memori yang membuatnya memilih untuk beristirahat dari sana atau dia akan kehilangan diri sendiri dan berubah menjadi seperti mereka yang haus darah. Dia bahkan sudah dapat merasakan niat untuk terjun sendiri ke medan perang lalu membabat habis musuh. Terlebih dengan kekuatan barunya, apapun dapat dia lakukan. Termasuk menghadapi para Angel dan Demon. 

__ADS_1


Inilah alasan dia berada dalam Alfheim, bukannya dalam Archsoul memimpin pasukan. Dia tahu godaan tersebut akan makin sulit ditahan. Semakin lama seseorang menghabiskan waktu di sana, semakin dia berubah menjadi monster. Alvain tak ingin seperti itu. Dia tak ingin menjadi mesin pembunuh. 


Kemudian dia melihat pada Xera, seorang M3RC yang seharusnya sudah kehilangan kemanusiaan. Seseorang yang rela menghabiskan hidup di tengah-tengah peperangan. Bermandikan darah dengan sebuah senyuman lebar pada wajah. 


Bagaimana bisa seseorang sepertinya menahan diri? Xera sama sekali tak pernah menunjukkan nafsu tersebut. Kalau bisa, dia bahkan tampak tak ingin bertarung dan lebih memilih jalan damai. Dia hanya bertarung jika benar-benar dibutuhkan. Bukankah seharusnya dia dipenuhi oleh iblis-iblis peperangan? Memintanya untuk terus bertarung dan bertarung, menghabisi semuanya. Berusaha memuaskan kekosongan dalam hati yang terus melebar dan melebar. 


Ataukah karena dia seorang Codes maka dia tak terlalu peduli? 


Aku dapat merasakan tatapan Alvain. Aku tahu apa yang sedang ada dalam pikirannya, melalui gelagat dia yang mulai gelisah seperti itu. Dia sudah mulai menginjakkan kaki dalam kegelapan yang tak dirinya mengerti. 


Itulah salah satu hal yang tak akan diketahui ras lain. Beberapa dari kami memang akan ikut terjun dalam kegelapan tersebut. Namun, kebanyakan dari kami mampu mengatasinya. Kalau kau bertanya bagaimana? Aku tinggal menjawab.. 


Kau tinggal hidup berdampingan dengannya saja. 


Itulah caraku mampu bertahan sampai sekarang. Aku menggunakan nafsu tersebut hanya ketika menghadapi lawan dan membiarkannya mengalir pada hal lain seperti latihan. Para elf juga berlatih, tapi mereka berlatih untuk mencari kesempurnaan. 


Kami?


Kami berlatih untuk sebuah pembuktian. 


Perasaan apalagi yang jauh lebih kuat dari perasaan tersebut? Kami selalu beradaptasi karenanya, ingin membuktikan kalau manusia jauh lebih baik. 


Karena semenjak awal, manusia selalu memiliki lubang hitam besar di dalam hati yang takkan pernah tertutupi. Lubang yang bahkan jauh lebih menakutkan dibanding nafsu haus darah tersebut. 


Kami adalah mahluk yang rakus. Mahluk yang menginginkan segalanya. Mahluk yang akan selalu memiliki perasaan tak puas bahkan sampai akhir hidup kami. Namun, apa kau pernah melihat kami jatuh pada godaan tersebut?


Beberapa. Tapi tak semua. 


Mengapa? 


Balik lagi. Karena kami beradaptasi.

__ADS_1


__ADS_2