
Setelah mendengar itu, tentu saja aku membutuhkan udara segar.. Jika, udara segar masih ada tentunya. Karena yang dapat kurasakan hanyalah sisa-sisa peperangan.
Asap, abu, kehampaan.
Sulit menjelaskan apa yang kurasakan sekarang.
Aku tak tahu bagaimana mengungkapkannya menggunakan kata-kata. Yang aku tahu adalah aku ingin segera melihatnya kembali. Aku membutuhkan seseorang sebagai tempat bersandar.
Semua ini, terlalu berat untuk diterima begitu saja.
Sudah terlalu banyak jiwa terbuang hanya untuk kami berdua. Sesuatu yang tak pernah kusangka akan terjadi. Sesuatu yang bahkan tak pernah terpikirkan.
Sebuah mimpi yang kulupakan begitu mata terbuka.
Andai saja aku juga dapat melupakan ini semudah aku melupakan sebuah mimpi.
Namun, aku teringat jika setiap mimpiku terasa begitu nyata. Jadi, aku bahkan tak tahu bagaimana rasanya melupakan mimpi.
Kuputuskan untuk berjalan mengelilingi kota, memerhatikan yang tersisa dari peperangan sembari menahan diri untuk tak menyentuh dinding.
Bangunan-bangunan ini memanglah futuristik, tetapi sebagian jalan dari jembatan tadi saja hancur berantakan saat kuinjak. Hanya sebuah sentuhan kecil, tetapi sudah dapat membuatnya runtuh.
Aku seolah-olah melihat diriku sendiri.
Hanya sedikit sentuhan saja, maka aku juga akan menyerah.
Beban pada pundak, terlalu berat.
Sebelumnya, aku tak terlalu memedulikan kehidupanku akan menjadi apa. Aku memang mencari mereka, ingin tahu mengapa aku ditinggal seorang diri.
Tetapi sekarang..
Masih begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab.
Bagaimana Zena membawa bisa lolos dari incaran mereka, bagaimana mereka menggunakan kekuatanku dan beberapa pertanyaan lainnya yang benar-benar tak ingin kupikirkan sekarang.
Aku..
Sebuah helaan napas terdengar, helaan napas panjang yang terasa begitu berat seperti sebuah mesin yang telah kelebihan muatan.
Kau tahu?
Aku benar-benar berharap semuanya kembali seperti semula.
Sebuah dunia yang damai tanpa semua kegilaan ini.
Saat itu, hidup terasa begitu monoton sehingga aku merasa bosan. Namun sekarang, sesudah merasakan betapa beratnya kehidupan yang harus kujalani, aku berharap aku bisa menggunakan mesin waktu tersebut.
Kalau bisa, aku ingin kembali jauh sebelum semua ini terjadi.
Menikmati hidup layaknya manusia biasa.
Bangun di pagi hari, menikmati sinar mentari, merasakan nyamannya angin sepoi-sepoi. Sungguh sebuah kehidupan tenang yang saat ini terlihat seperti sebuah harapan kosong.
Kalau ingin menjelaskan seperti apa isi hatiku. Mungkin, tempat ini sudah bisa menjelaskannya. Beginilah gambaran jika aku berada di dalam, memeriksa hati yang semakin lama ingin semakin menutup diri, melindungi diri, demi tak membuka sebuah luka yang terus melebar dan melebar tanpa henti.
Tanpa kusadari, aku sudah berada di ujung kota, duduk memerhatikan lautan lepas yang tampak begitu gelap. Hanya memiliki pantulan cahaya dari matahari di atas, matahari yang hampir sepenuhnya tertutupi oleh Dyson Sphere.
Hanya beberapa bagian saja yang terbuka.
Bersinar terang meski lebih dari separuh tak lagi dapat mengeluarkan cahaya.
Sebuah misteri bagaimana bisa bangunan raksasa tersebut masih ada hingga sekarang. Bukankah seharusnya dia meleleh karena tak memiliki energi?
Sudahlah.
Aku tak peduli.
Yang ingin kulakukan saat ini hanyalah menghilang dari dunia.
Andaikan saja aku bisa melayang diam dalam mimpi, merasakan ketenangan tiada tara tanpa sebuah gangguan. Hanya sekedar menyembuhkan hati.
Kembali kulihat ke atas, memerhatikan betapa banyak kapal-kapal terbang tak berfungsi di atas sana, telah selamanya bersatu bersama kegelapan angkasa. Dingin membeku tanpa sebuah kehidupan.
Mungkin, jauh lebih baik jika aku berada bersama mereka. Melayang diam tanpa perlu mengkhawatirkan akan masa depan.
__ADS_1
Kenapa? Kau berpikir mengemban sesuatu seperti ini tak berat?
Berjuta-juta nyawa berada dalam genggaman kami, dalam genggamanku.
Apa yang harus kulakukan dengan itu?
Memikirkannya saja sudah membuat kepalaku sakit.
Tanggung jawabnya terlalu besar untuk ditanggung seorang diri.
Memimpin mereka menuju sebuah dimensi baru? Kami saja saling berperang! Bagaimana caranya aku memimpin mereka!?
Kupungut batu, melemparnya ke depan.
Batu tersebut memantul beberapa kali sebelum akhirnya masuk tenggelam, menghilang selamanya di balik kegelapan.
Aku bangkit berdiri, berjalan mendekatinya, merasakan bagaimana air dingin tersebut masuk menyentuh kaki.
Langkah demi langkah.
Aku masuk hingga akhirnya setengah badan sudah berada di dalam.
Dan kujatuhkan diriku ke depan, membiarkan air menarikku masuk lebih dalam.
Ah.. Sebuah ketenangan.
Inilah yang kucari, inilah yang kuinginkan.
Sayangnya aku tak bisa terus tinggal diam karena aku harus memeriksa batu tadi menyentuh apa sampai menciptakan bunyi mendentang keras.
Aku harap itu bukanlah sesuatu yang aneh dan berasal dari planet lain karena aku takkan tahu harus bereaksi seperti apa.
Tiba-tiba saja, sebuah lampu biru berkedip beberapa kali. Kemudian menyala terang disertai sebuah suara dengungan mesin.
Di depan sana, tak jauh dariku, tampak sebuah pesawat luar angkasa yang tak begitu besar. Setidaknya tak sebesar yang kulihat sebelumnya.
Aku yakin kapal luar angkasa ini hanya mampu menahan sebanyak lima orang saja.
Buru-buru aku naik ke permukaan, menginjak tanah yang hanya dapat kurasakan di ujung kaki. Lupa jika aku sama sekali tak dapat berenang.
Setelah akhirnya berhasil kembali ke bibir pantai, kuhirup oksigen dalam-dalam. Tak kusangka, aku baru saja akan merasakan kematian. Kematian yang di mana, berasal dari diriku sendiri, bukan faktor orang lain.
Aku tak tahu bagaimana, tapi aku dapat mendengar suaranya.
Suara Zena.
Dia memanggil padaku, meneriakkan namaku seolah-olah aku sudah akan menghilang dari dunia.
Kusentuh dada, merasakan perasaan hangat di dalam sana.
Apakah mungkin ini maksud mereka? Sebuah hubungan yang begitu kuat antar Twin Soul?
Kalau benar, maafkan aku Zena.
Aku.. Hampir saja mengecewakanmu.
Kapal tersebut naik ke permukaan, mengambang dengan lampu yang terus berkedip, tak memiliki begitu banyak energi untuk dapat membuatnya kembali menyala terang.
Senyumku mengembang melihatnya.
Sebuah senyum ketenangan, tak menyangka akan menemukan sebuah kapal yang juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan.
Masalah terbesarnya adalah aku tak dapat datang mendekat karena itu berarti aku harus berenang ke sana.
Aku tak mungkin berenang ke sana.
Bagaimana bisa?
Aku baru saja hampir tenggelam. Aku tak mungkin mencobanya untuk kedua kali. Tidak ketika Zena sudah meneriakkan namaku seperti itu.
Aku tak ingin mendengarnya begitu putus asa seperti tadi.
Cukup sekali saja.
Kuperhatikan sekitar, mencari sesuatu yang mungkin dapat kupakai untuk menyebrang. Namun tak menemukan apa-apa selain pasir.
__ADS_1
Saat akan menggunakan kekuatan, entah mengapa, kekuatan tersebut justru tak keluar.
Aku tak bisa merasakannya sama sekali, seakan aku kembali menjadi manusia biasa.
Apakah ini ada hubungannya dengan yang kulakukan tadi?
Mungkinkah ini sebuah hukuman?
Kugelengkan kepala, tak ingin membiarkan pikiran tersebut mengambil alih.
Tapi, entah mengapa, aku merasa aku harus ke sana, aku harus menyentuh kapal tersebut. Aku tahu itu terdengar gila dan aneh, namun aku benar-benar merasakan sesuatu yang tak nyaman dalam dada, terus mendesak agar aku segera melakukannya, meski tahu aku akan mati jika tenggelam.
Ah bodohlah.
Aku terjun ke sana, berusaha sekuat mungkin untuk tak tenggelam. Menggelepak layaknya ikan melompat ke permukaan. Mencipratkan air ke mana-mana sembari terus mengangkat kepala agar tak masuk ke dalam air.
Hanya sedikit lagi Xera, sedikit lagi dan kau akan sampai.
Kuterus mendorong dan mendorong, berusaha meniru yang dilakukan orang lain saat berenang.
Aku tahu aku mungkin terlihat begitu bodoh dari luar, tetapi aku harus mencapainya, aku harus mencapainya. Terus berusaha, jangan menyerah, jangan pernah berhenti.
Lagi dan lagi.
Dada mulai sesak, napas tak beraturan dan rasa takut menjalar naik, memaksaku untuk jatuh turun ke bawah, meninggalkan semuanya begitu saja.
Tetapi tidak, aku takkan melakukannya.
Tidak akan!
Sedikit lagi!
Dan begitu aku berhasil menyentuh kapal tersebut, seketika semua menggelap.
Apakah aku telah terjatuh ke bawah?
Apakah aku mati karena panik?
Aku tak dapat melihat apa-apa, cuma bisa merasakan air di sekitar.
Awalnya, aku mengira jika diriku telah tenggelam, masuk ke dalam lautan gelap dan perlahan kehilangan kesadaran.
Tetapi begitu mataku terbuka dengan pelan.
Aku dapat melihat cahaya kebiruan di bawah sana, tak jauh dari kakiku.
Tampak gelembung-gelembung udara di sekitar, bergerak pelan dari bawah ke atas.
Ku ikuti salah satunya, melihat bagaimana dia perlahan-lahan naik sampai membawa mataku ke depan, menghadap sebuah ruangan besar dan gelap.
Di awal, aku tak mengerti apa yang sedang terjadi.
Tetapi, aku teringat oleh perkataan mereka mengenai kekuatanku yang digunakan oleh Codes.
Melihat di mana diriku berada sekarang, melihat bagaimana selang-selang hitam ini masuk dalam tubuh dengan sebuah masker besar menutupi hidung dan mulut yang juga terhubung oleh sebuah selang.
Aku sadar apa yang terjadi sekarang.
Aku berada di dalam sebuah tabung kaca besar dan ruangan ini adalah ruangan yang digunakan untuk terus memantau keadaanku selagi kekuatanku dipakai oleh mereka.
Mungkin ini kenapa, saat pertama menjatuhkan diri pada laut, aku merasa begitu tenang.
Selama ini, aku berada dalam air, mengambang pelan, membiarkan selang-selang ini mengambil kekuatanku.
Bukankah Zena mengatakan kalau dia menyelamatkan tubuh asliku?
Mengapa aku berada di sini?
Masih ada pertanyaan yang belum terjawab.
Tapi setidaknya, aku sudah tahu jika tadi, hanyalah sebuah rekaman masa lalu.
Yeza berusaha mencari di mana letak jiwa-jiwa tersebut, sengaja membiarkan tubuhku dapat kembali dikenali oleh jiwaku agar dia dapat masuk dan mencari tahu di mana jiwa-jiwa tersebut disimpan.
Tiap memori masa lalu seketika bermain dalam kepala, mengisinya dengan berbagai perasaan. Namun hanya satu perasaan yang benar-benar kurasakan sekarang.
__ADS_1
Penyesalan.