Archsoul

Archsoul
Part 53


__ADS_3

Apakah aku telah mati? Aku tak dapat merasakan apa-apa. Gelap dan hampa. Apakah ini yang dinamakan kematian? Bukankah banyak yang berkata bahwa surga itu ada? Lalu, ini apa? Terlalu tenang, terlalu hening, memberiku perasaan tak nyaman yang membuat hati bergeming. 


Anehnya, aku tak merasa takut. Aku justru merasa semakin terhisap ke dalam, masuk bersatu bersama kegelapan pekat tanpa sebuah cahaya. Mungkinkah hanya sampai sini saja? Apakah Z tak apa-apa.. Tidak, aku yakin dia sedang menangis dan kemungkinan besar akan melawan peraturan Codes untuk segera datang menyelematkan. Mengapa aku terdengar begitu yakin? Bagaimana aku tahu apa yang akan dilakukannya sekarang?


Tunggu, apa itu? Sebuah layar? 


Benda di depan hanya menampilkan sebuah warna putih saja, tampak sedikit terang tetapi tak sampai membuat mata merasa perih. Tak lama, sebuah gambar muncul- tidak bukan gambar, melainkan sebuah foto yang tampak begitu jernih. Di dalamnya, terdapat dua orang anak kecil, laki-laki dan perempuan sementara berlari bersama di tengah padang rumput luas dengan tawa berhias pada wajah masing-masing. Bocah perempuan itu begitu mirip dengan Z, tertawa bahagia sembari melihat ke belakang, ke arah seorang bocah laki-laki yang kurasa adalah diriku. Anehnya warna mata kami tak sama. Dia memiliki sepasang mata biru layaknya sebuah laut, begitu indah dan menghipnotis. Bukan sepasang mata merah yang seperti kumiliki sekarang. 


Tiba-tiba, sebuah memori bermain dalam kepala, muncul mengejutkanku oleh dua suara. Suara yang terdengar begitu familiar dan memberi rasa bahagia.


"Xera! Xera! Tangkap aku!" Sahut Z kecil sembari terus berlari.


Kemudian di sanalah diriku, berlari mengikutinya dari belakang, tertawa riang, tawa yang telah lama menghilang.


 "Aku akan menangkapmu dan membawamu ke sel!" 


Apa? Mengapa anak kecil seperti itu tahu mengenai sel? Kami bahkan bermain seakan itu adalah sebuah hal biasa. 


Lalu, aku kembali di depan layar, terasa seperti ditarik dalam kecepatan tinggi sebelum akhirnya terhentak masuk dalam tubuh. Di depan, foto sudah tak lagi menampilkan dua bocah kecil, melainkan sudah memasuki usia remaja yang kutebak berada di umur 12 tahun. Kami kini sedang duduk di atas sebuah dinding besi berwarna putih, menatap ke depan, menyaksikan sebuah pemandangan indah dari matahari terbenam.


Hal yang sama kembali terjadi, membawaku masuk dalam memori. Aku berdiri di belakang mereka, mendengarkan pembicaraan yang membuat hati tersentak.

__ADS_1


"Xera, aku rasa aku masuk sebagai seorang Observer" Kata Z muda, terlihat sedih.


"Itu bagus! Kau tak perlu berada langsung dalam lapangan! Kau akan jauh lebih aman di sana" Balas diriku dengan sebuah senyum riang.


Z menoleh padaku, air mata tampak menetes jatuh ke bawah "Apa kau benar-benar tak tahu artinya? Seorang Observer dan Guardian tak mungkin bersama. Kita akan melanggar perintah jika melakukannya dan kau tahu apa yang terjadi kalau kita sampai melakukan itu" 


Aku menariknya mendekat, mendekapnya dan memberi belaian-belaian lembut pada Z yang seketika menangis, tak lagi dapat menahan air mata atas bayangan kalau mereka akan berpisah. Bukan sementara, tetapi untuk selamanya "Aku yakin kita pasti menemukan sebuah cara. Lagipula, tak mungkin HQ begitu kejam terhadap pekerja mereka. Kita juga takkan tinggal diam jika benar itu terjadi"


Hmm, bahkan dari kecil aku sudah seperti ini. 


Aku kembali pada tubuh dewasa, kali ini melihat foto kami yang kurasa telah mencapai umur 17. Di sana, aku dan Z berada dalam sebuah ruangan sempit penuh akan barang-barang berkode. Kami berdua memang bersama, tetapi wajah masing-masing mengatakan kalau kami berada dalam masalah besar yang aku yakin sebentar lagi akan kuketahui.


"Maaf! Maafkan aku! Karenaku kau jadi dalam bahaya!" Jerit Z, mencengkramku begitu erat seakan diriku yang kini berada dalam pelukannya, akan menghilang. 


"Shhh.. Tenanglah. Mereka takkan bisa menemukanku. Tak perlu menyalahkan dirimu sendiri Z, kita berdua telah tahu kita akan berada dalam situasi seperti ini bukan? Dan kita bersama-sama telah siap untuk menanggungnya. Jadi, percayalah padaku, semua akan baik-baik saja. Untuk sementara kita takkan bisa bertemu, aku harus melarikan diri terlebih dahulu. Namun, begitu semua sudah tenang, aku pasti langsung menemuimu. Aku berjanji" 


Saat aku kembali dalam tubuh, aku mengerti mengapa hatiku terasa sakit. Bagiku yang menyaksikannya saja sudah membuat dada ini terasa sesak, bagaimana dengan diriku yang saat itu berada di sana? Aku yakin hatinya seperti disayat-sayat, terpaksa meninggalkan orang tercinta karena sebuah peraturan tak jelas. Perlahan-lahan memori-memori tersebut mulai kembali mengisi kepala. Hanya samar-samar. Tetapi kurang lebih aku paham garis besarnya.


Kali ini, layar di depan membutuhkan waktu cukup lama untuk mengganti foto disertai sebuah glitch yang cukup membuatku terkejut. Di depan, tampak sosok Z sementara dikurung dalam sebuah kotak kaca transparan dengan laser merah di keempat sisi. Di dalamnya, Z terduduk di pojok, menyembunyikan wajah di antara kedua kaki terlihat begitu kesepian. 


"Xera!" Panggilnya tiba-tiba ketika aku sudah berada di dalam. 

__ADS_1


Di sanalah diriku berada, tepat di depan kotak kaca sembari menggenggam sesuatu berbentuk segitiga. Z terdiam melihatnya, mulai panik saat diriku mengangkat benda tersebut ke depan wajah, memerhatikannya dengan seksama menggunakan sepasang mata yang entah karena alasan apa, terlihat begitu tajam tanpa sebuah perasaan. 


"Xera, apa yang kau lakukan dengan Link kita?" Tanyanya takut, lalu memukul kaca ketika melihat yang akan kulakukan "XERA! JANGAN KAU BERANI MELAKUKANNYA!" Bentak Z sembari terus memukul kaca berulang kali, berharap semoga kaca sialan tersebut hancur dan memberinya kesempatan untuk menghentikan Sang kekasih di depan. Lempengan besi berbentuk segitiga itu adalah satu-satunya cara agar mereka berdua dapat saling terhubung, dapat merasakan perasaan satu sama lain karena Codes tak memiliki hati seperti manusia. Mereka hanya bisa menggunakan benda tersebut untuk saling merasakan yang namanya kasih sayang. 


Apa yang kulakukan saat ini sama saja dengan membuang tiap perasaan tersebut, membuang kenangan yang kami miliki, membuang segala sesuatu yang mendefisinikan kami sebagai pasangan dan kembali menjadi Codes biasa tanpa perasaan. Hal lain yang membuat Z sekarang menjerit keras dengan air mata mengalir deras adalah fakta bahwa tiap Codes hanya dapat memiliki ini sekali seumur hidup. Jika rusak, maka mereka selamanya menjadi pekerja tanpa sebuah perasaan. Benar-benar menjadi sebuah robot, tak lagi merasakan hidup. 


Ketika akhirnya lempengan besi itu dibuang ke bawah, hancur berantakan disertai percikan listrik, di saat bersamaan, Z yang tadinya menangis dan menjerit-jerit, terdiam di tempat. Wajahnya tak lagi menunjukkan perasaan, hanya sebuah tatapan kosong ke depan, ke diriku. Terasa begitu hampa tanpa kehidupan. Seperti sebuah tubuh tanpa jiwa. Air matanya masih tersisa di sana, jatuh perlahan tak lagi menyimpan sebuah kesedihan. 


Aku yang sedang melihat semua ini dari belakang, tanpa disadari sudah jatuh ke bawah, duduk berlutut sembari mencengkram dada, tak kuasa menahan perih yang teramat sangat. Namun, jika aku sekarang merasakan ini, bukankah berarti diriku yang di depan juga merasakan hal yang sama berkali-kali lipat? Tapi, wajahnya sama seperti Z. Datar tak berjiwa.


Aku berbalik badan, melangkah menuju pintu keluar di mana seorang laki-laki berjalan masuk ke dalam. Ia menyeringai, menepuk pundakku. Bukan itu memberi dukungan, tetapi untuk merayakan kemenangan.


"Kau telah menyelamatkannya Xera, kerja bagus. Sekarang kembalilah ke tugasmu, kau yang sekarang tak lagi berjiwa hanya berguna di lapangan" 


Oh.. Tidak. Aku bukannya kehilangan perasaan sama seperti Z yang sekarang masih berdiri diam di tempat, aku hanya berusaha menahan kesedihan yang kini berkecamuk bersama perasaan-perasaan lainnya. Berusaha bertahan untuk tak menghajar laki-laki di samping tersebut. Tampak jelas dari kedua tangan yang terkepal begitu kuat. 


Ketika kembali ke tubuh, aku terdiam di sana. Terdiam oleh hamparan perasaan, datang menghantam, membawa kembali kenangan-kenangan yang telah terlupakan. Hatiku perih membayangkan kami berdua harus terpisahkan seperti itu, terpaksa meninggalkan satu sama lain karena HQ tak menyetujui hubungan antara Obsever dan Guardian. Sebuah alasan konyol yang mengatakan kami takkan bisa bekerja dengan baik jika bersama. Alasan yang lucunya diterima begitu saja oleh para Codes. Kecuali kami. 


Begitu layar di depan terganti, kedua mataku melebar. Diriku tersentak kaget menyaksikan pemandangan yang seketika membuat rasa perih dalam dada ini menjadi nyata, seolah aku benar-benar berada di sana.


Dalam layar, aku sedang berdiri di depan, melebarkan kedua tangan dengan cahaya terang mengarah padaku- tidak, bukan padaku. Melainkan pada sosok Z yang kini berlutut di belakang, tampak basah oleh hujan. Kedua matanya melebar memerhatikan sosok di depan, sosok yang selama beberapa bulan ini terus mengganggu kepalanya, mengganggu tidurnya dengan mimpi-mimpi menunjukkan kalau mereka selalu bersama. Mimpi-mimpi yang terasa samar tetapi begitu familiar. Hanya ketika darah mengalir turun, barulah dirinya sadar. Sosok di depan itu adalah seseorang yang telah mengisi harinya tak hanya dengan warna, namun juga dengan cinta.

__ADS_1


__ADS_2