Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 10 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Lama berdebat hingga akhirnya Asa diizinkan pergi oleh Altair dengan syarat salah satu dari mereka mengantar hingga gerbang, karena tidak mungkin Jihadi ataupun Altair yang tentu orang lain akan mengenali, akhirnya yang memayungi Asa adalah sang sopir.


Gadis yang selalu menebar senyum itu melambaikan tangannya pada sopir Altair setelah berada di pagar rumah, membungkuk untuk menerikan bow seraya berucap terimakasih.


Dengan kaki kecilnya, Asa berlarian memasuki rumah bersama seragam yang sedikit basah. Mengucapkan salam dan berseru layaknya tidak punya beban.


"Asa pulang, pasti ayah dan bunda khawatir nungguin Asa kan?" tanyanya setelah sampai di ruang keluarga dimana Ara, Ayana dan Samuel berada.


Sejak tadi Ara ingin menjemput putrinya, tapi Samuel melarang dengan alasan hujan lebat, tapi masalahnya Samuel juga tidak kunjung menjemput, dimana membuat Ara sangat kesal.


"Bahagia banget kamu setelah buat orang khawatir!" celetuk Samuel tanpa menatap Asa, berbeda dengan Ara yang langsung memeluk putrinya.


"Maafin Asa karena buat Ayah khawatir, lain kali janji pulang tepat waktu," ucap Asa penuh senyuman.


Terlebih Ara dan Ayana membantu Asa mengeringkan rambut menggunakan handuk, berbeda dengan Samuel yang lantas meninggalkan ruang keluarga.

__ADS_1


"Asa buat ayah marah lagi," gumam Asa yang di dengar jelas oleh bundanya dan Ayana.


"Nggak kok, tadi ayah marah karena Ayana main hujan-hujan. Ayah sayang sama kak Asa jadi nggak mungkin marah," sahut Ayana yang tidak sadar perlakuan ayahnya berbeda.


"Udah-udah sana ganti baju nanti masuk angin lagi! Setelah itu turun buat makan, Ayana nunggu kamu buat makan sama-sama," lerai Ara dan dijawab anggukan oleh Asa.


Gadis itu berjalan menuju kamarnya sambil saling merangkul dengan Ayana yang cerianya tidak dibuat-buat.


Asa sangat menyangi Ayana, begitupun sebalinya. Mereka tidak pernah bertengkar sakin sayangnya satu sama lain.


Cekikikan mulai terdengar dari keduanya karena bercerita hal-hal lucu di dalam kamar, berbeda dengan kamar orang tua mereka yang terjadi perang dingin karena tingkah sang ayah.


"Sampai kapan?" tanya Ara yang mulai muak akan tingkah suaminya.


Sudah tiga tahun sikap Samuel telah berbeda pada Asa, tapi paling parahnya dan sangat menonjol ketika Asa naik kelas dua SMA, membuat Ara tidak tahan lagi.

__ADS_1


"Kamu tanya sampai kapan? Kalau aku jawab sampai putra kita hidup kembali gimana?" Samuel senyum sinis, sekalipun tidak pernah melupakan kesalahan Asa yang telah membunuh calon putra yang sangat Samuel inginkan keberdaanya.


"Apa bersikap nggak adil bisa ngembalikan keadaan? Kenapa Abang egois?"


"Aku benci Asa! Terlebih dia bukan putriku!" ucap Samuel penuh tekanan.


Tanpa sadar tangan Ara melayang tepat di pipi suaminya, tatapan tajam wanita paruh baya itu layangkan pada pria yang kembali egois dan Arongant seperti dulu usai kecelakaan yang terjadi.


"Tutup mulutmu Samuel! Kamu nggak berhak ngomong gitu! Nyakitin Asa sama aja kamu nyakitin Aku!" bentak Ara dengan dada bergemuruh hebat. "Jauh sebelum kita menikah, Asa udah hadir dalam hidup aku! Dia putriku, kamu juga pernah ngomong sebelum kita menikah, bahwa Asa putrimu!"


Air mata di manik Ara mulai berlinangan, mengalir bagai anak sungai membasahi pipi karena kecewa, sementara sang pelaku bergeming tanpa mengeluarkan suara atau membalas tamparan Ara, wanita yang sangat dia cintai sampai saat ini.


"Aku pernah anggap dia putriku, Ara. Aku pernah sayang ke dia layaknya putri kandungku, bahkan nggak pernah bedain kasih sayang antara Ayana dan Asa. Tapi apa balasaanya? Dia membunuh putraku!"


"Nggak! Dia nggak bunuh siapapun, itu murni kecelakaan Semuel! Aku yang nambrak pohon karena ngehindarin anak kucing, aku yang ...."

__ADS_1


"Cukup! Semuanya nggak bakal terjadi kalau Asa nggak ngerengek minta diantar ke sekolah sama kamu, Ara! Dia terlalu manja dan nggak tahu diri!" Samuel berdiri dari duduknya dengan tangan mengepal.


Sampai kapanpun Asa tetap akan menjadi pembunuh di matanya. Asa adalah penyebab Samuel tidak akan mendapatkan putra dari rahim Ara yang telah diangkat.


__ADS_2