Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 99 - Asa & Altair


__ADS_3

"Sah!" ucap para saksi menyahuti pertanyaan dari pak penghulu setelah Altair usai mengucapkan akad nikahnya.


Tepat saat itu pula mata Asa terpejam, tangannya mengepal dan berkeringat, dia tidak menyangka, di usianya 21 tahun, dia akan menjalani kehidupan pernikahan bersama pria yang dia cintai dan mencintainya.


"Sayang?" bisik Altair sambil mengengam tangan Asa, membuat gadis itu membuka matanya secara perlahan. Gadis itu tersenyum, menunduk untuk mencium pungunggung tangan Altair, lalu dibalas oleh pria itu dengan kecupan di kening dan telapak tangannya.


Semua tamu undangan dan keluarga yang menyaksiikan hal tersebut, sangat bahagia. Terutama untuk bunda Ara dan papah Rayhan yang tahu betapa berat perjuangan mereka sehingga bisa resmi menjadi pasangan halal.


Setelah menandatangani beberapa berkas dan melaksanakan perintah pak penghulu, akhirnya Altair dan Asa pindah ke pelaminan untuk menyambut tamu yang hadir di pernikahan mereka.


"Selamat, Sayang. Akhirnya kalian bisa bersatu," ucap bunda Ara, memeluk putrinya. Setelah dirasa cukup, wanita paruh baya itu beralih pada menantunya.


"Altair, jangan suka marah-marah sama putri bunda ya? Hatinya mudah rapuh," ucap bunda Ara dengan berlinangan air mata.


"Pasti tante, Altair bakal jaga Asa baik-baik. Altar nggak bakal buat dia netesin air mata penderitaan," jawabnya.


"Ayah?" Mata Asa yang semula berembun kini dialiri bulir-bulir bening saat ayah Samuel memeluknya.


"Putri ayah udah nikah aja. Baik-baik ya, Nak. Jangan egois satu sama lain. Apapun itu, bicarakan dengan kepala dingin. Jangan contoh sikap ayah," bisik Samuel dan dijawab anggukan oleh Asa.

__ADS_1


Pria paruh baya itu mencium puncuk kepala putrinya sebelum turun dari pelaminan. Mata yang memerah membuatnya mendapatkan ledekan dari para sahabatnya yang turut hadir menyaksikan pernikahan Asa dan Altair.


"Kayaknya ada yang bakal nyusul Azka jadi kakek," sindir Kenan.


"Bukan cuma El, noh bapak mantan buaya juga." Tunjuk Ricky pada Rayhan yang masih memberikan patuah pada putranya. Hal tersebut membuat inti Avegas yang kini mulai menua tertawa bersama. Usia yang semakin bertambah tidak membuat persahabatan mereka renggang. Bahkan mereka telah menyiapkan villa untuk menghabiskan masa tua bersama jika anak-anak mereka telah memiliki keluarga masing-masing.


***


Berdiri dan tersenyum selama berjam-jam membuat Altair maupun Asa merasa lelah. Sejak masuk ke kamar hotel beberapa menit yang lalu, tidak ada pembicaran di antara mereka. Hanya ada keheningan ditemani helaan nafas satu sama lain. Meski begitu, tangan Altair mulai aktif mencari di mana letak tangan Asa berada. Setelah menemukannya dia mencium telapak tangan gadis itu berulang kali.


Altair melirik Asa yang berbaring di sampinya dengan kaki menjuntai ke lantai. "Lelah banget, hm?" tanyanya dan dijawab anggukan oleh Asa.


"Ututu istrinya Air lelah banget, tunggu bentar ya." Altair beranjak setelah mendaratkan kecupan di kening Asa. Pria itu keluar dari kamar dan kembali setelah menghilang beberapa menit yang lalu.


Di tangan pria itu ada dua boks makanan dan dua botol air minum, Altair mendapatkannya dari bunda Ara yang berada di aula bersama keluarga besar Adhitama. Tidak ada yang merecoki Asa dan Altair karena ayah Samuel melarang dengan alasan Asa membutuhnya istirahat total setelah tersadar dari koma.


Altair meletakkan dua kotak makan itu di atas meja, lalu menatap pintu kamar mandi bergantian dengan koper yang telah di buka. Melihat hal itu dia bisa menebak istrinya sedang apa di kamar mandi.


"Ak-aku kira kamu masih di luar," ucap Asa yang baru saja keluar dari kamar mandi. Gadis itu memakai baju tidur lengan panjang, begitupun dengan celananya. Baju itu adalah pemberian dari ayah Samuel satu hari sebelum akad nikah di mulai. Bukan hanya satu, tetapi sepuluh dengan gambar karakter yang berbeda-beda. Asa tidak tahu apa tujuan sang ayah memberikannya, tetapi dia sangat senang.

__ADS_1


"Mana betah aku jauh-jauh dari kamu. Oh iya, kok pakai baju itu? Biasanya kan pengantin baru suka pakai baju kekurangan bahan," tanya Altair dengan polosnya, membuat pipi Asa seketika memerah.


Gadis itu duduk di samping sang suami, membuka kotak makan tanpa ada keinginan untuk menjawab pertanyaan bodoh Altair. Suasana menjadi canggung karena kalimat polos pria itu.


"Mau disuapin nggak?" tanya Altair.


"Aku bisa sendiri, makanlah! Aku tau kamu juga pasti lapar," jawab Asa.


Karena merasa lapar dan merasa canggung satu sama lain akhirnya mereka menyantap makanan di tengah malam dalam keheninan. Sesekali Altair melirik Asa yang meringis sambil memegangi pinggangnya.


"Pinggang kamu sakit banget?" tanya Altair.


"Hm, kayaknya aku bakal datang bulan deh," gumam Asa.


"Lanjut makan aja, bair aku yang pijat supaya reda dikit."


Seperti perkataanya, Altair meletakkan tangan kiri di bagian pinggang Asa, mengerakka tangganya perlahan dan menekan sedikit demi sedikit, sementara tangan kanannya sibuk bergerak dan menyuapi dirinya sendiri.


"Gimana, udah mendingan kalau diginiin?" Asa mengangguuk. "Baguslah, eh tunggu ... Apa tadi? Datang bulan? Berati nggak bisa ngapa-ngapain dong malam ini sama satu minggu ke depan?"

__ADS_1


Seketika makanan yang ada di mulut Asa menyembur mendengar pertanyaan dari sang suami.


__ADS_2