Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 49 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Kedatangan Fely dan Mark cukup membuat hati Asa jauh lebih baik, meski keduanya tidak bisa berlama-lama di rumah sebab hari mulai menggelap dan ada urusan masing-masing.


Merasa gerah di dalam rumah, Asa akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar depan rumahnya. Terkejut saat seseorang menepuk pundaknya dari belakang.


Awalnya Asa ingin berteriak tapi urung mengetahui orang yang menepuk pundaknya adalah Mark. Ia mengira pria itu telah pergi bersama Fely beberapa menit yang lalu.


"Mark? Bukannya tadi ...."


"Masih pengen sama lo. Gue mau ngobrol, tapi nggak di sini," ucap Mark mengaruk tengkuknya yang tidak gatal, takut mendapatkan penolakan dari Asa.


Namun, siapa sangka gadis itu malah menganggukkan kepalanya tanda setuju. Dengan sigap Mark mengenggam tangan Asa tanpa meminta izin pada pemiliknya.


"Kita bicara di taman dekat sini, masih mampu jalan kan?"


"Memangnya gue sakit?" tanya balik Asa yang tidak suka pertanyaan Mark. Gadis itu paling tidak suka jika ada yang mendekati dirinya hanya karena kasihan, sebab itu cuma membuatnya terlihat menyedihkan.


"Mungkin?" Cengir Mark.


Keduanya berjalan beriringan hingga taman yang tidak jauh dari rumah Asa, duduk bersampingan sambil menatap matahari yang mulai tenggelam.


Asa menundukkan kepalanya sambil mengayung-ayunkan kaki. Merasa lelah padahal tidak melakukan apapun.

__ADS_1


"Nangis aja kalau mau," celetuk Mark. "Gue tau lo absen bukan karena demam, tapi kesehatan lain yang lebih parah. Kenapa nggak rawat inap aja? Siapa tau masih ada ...."


"Tau dari mana?" Asa mendongak, menatap Mark yang menampilkan wajah serius, tidak seperti biasanya yang bertingkah menyebalkan seakan tidak peduli akan sekitar.


"Maaf, gue lancang nyari tau obat yang lo minum. Gue cuma takut teman baik gue punya penyakit serius, dan ternyata ketakutan gue benar adanya."


Hening, Asa tampak terdiam. Gadis itu benci orang lain tahu sisi lemahnya.


"Gue bisa bantu buat lo sembuh."


Asa tertawa mendengar kalimat yang dilontarkan Mark. Penyakit jantung tidak akan sembuh begitu saja, keculi jantung itu sendiri berhenti berdetak dalam tubuhnya.


"Gue nggak bodoh amat kali Mark. Cuma ini yang mau lo bicarain? Nggak guna!" Berdiri dari duduknya.


"Bisa dengan pencangkokan!"


"Mengorbankan nyawa orang lain demi kehidupan gue? Nggak dulu deh, lebih baik gue yang pergi!" Asa tersenyum, seakan tidak ada beban setelah mengatakan kalimat tersebut.


Berbeda dengan Mark yang sangat kesal mendengar Asa tidak punya keinginan untuk sembuh.


"Lo nggak sayang sama orang di sekitar lo? Mereka bakal sedih kalau lo sakit Sa. Kalau nggak mau mikirin diri sendiri nggak masalah, tapi pikirkan perasaan orang lain termasuk gue! Gue nggak mau liat lo terbaring tanpa senyuman!" ucap Mark penuh tekanan.

__ADS_1


"Lo nggak tau apa-apa tentang hidup gue, Mark, jadi jangan terlalu ikut campur. Satu lagi ...." Membalik tubuhnya menghadap Mark.


"Jangan beritahu siapapun tentang kesehatan gue, atau lo orang pertama yang bakal gue benci seumur hidup!" ancam Asa dan berjalan seorang diri di kegelepan malam karena matahari baru saja tenggelam.


Gadis itu berjalan sambil menundukkan kepalanya, sesekali mengusap air matanya yang berjatuhan.


Jika boleh jujur dia ingin hidup lebih lama lagi, tapi ia tidak mampu menahan penderitaan lebih lama.


Asa mengigit bibir bawahnya ketika seseorang malah memeluknya dari belakang. Dari Aroma parfum tersebut Asa sudah tahu siapa pemiliknya.


"Kenapa? Kenapa lo yang selalu ada saat gue terpuruk? Gue benci ada orang lain yang tahu gue nggak sekuat itu," lirih Asa terisak tanpa melepaskan pelukan Mark dari tubuhnya.


"Gue benci sama lo, Mark. Lo buat gue jadi menyedihkan."


"Nggak semua masalah harus ditanggung sendiri, Sa. Ada kalanya kita harus berbagi biar nggak jadi beban di hati. Mungkin gue orang yang dikirimkan Tuhan buat lo berbagi kesedihan ditengah-tengah sandiwara yang harus lo jalani di depan orang-orang tersayang lo," bisik Mark.


"Asa?"


"Pergi!" Usir Asa.


"Kenapa gue harus pergi? Di saat gadis yang gue suka lagi terpuruk?"

__ADS_1


"Pergi Mark! Jangan nambah beban hidup gue dengan lo suka sama gue! Gue-gue hanya benalu bagi semua orang!"


__ADS_2