
Asa, gadis itu tersenyum sangat lebar ketika pintu ruang perawatannya dibuka dan menampilkan pria paruh baya yang sangat tampan. Pria paruh baya yang sangat ingin Asa rasakan pelukan hangatnya meski sebentar saja.
Ia berusaha bangun meski sangat sulit, terlebih ketika pria berkemeja hitam tersebut duduk di sisi brangkar.
"Om sendiri?" tanya Asa dan dijawab anggukan oleh ayah Samuel.
"Asa senang om mau jengunkin Asa pagi-pagi kayak gini. Makasih om."
Lagi Samuel hanya menganggukkan kepalanya. Tidak ada yang tahu bahwa pria paruh baya itu mengunjungi ruangan Asa pagi-pagi buta, bahkan istrinya sekalipun.
Samuel menatap Asa yang wajahnya sangat pucat. Tidak ada senyuman yang ia perlihatkan pada gadis yang dulu sangat dia sayangi. Namun, semuanya berubah setelah kecelakaan tersebut.
"Kamu tau kan penyebab Ara nggak bisa hamil lagi? Itu semua karena kecerobohan kamu beberapa tahun yang lalu."
"Maaf, Om."
"Sekarang bukannya menebus kesalahan, kamu malah menyakiti hati Ayana yang sangat mempercayai kamu!"
"Maaf." Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Asa.
Menunduk karena rasa bersalah sebab dia adalah penyebab penderitaan dalam keluarga yang mungkin akan bahagia tanpa kehadirannya.
"Saya bisa maafin semua kesalahan kamu, dan menyayangimu seperti dulu, tapi ...."
Mendapat secerca harapan dari ucapan ayah Samuel, Asa memberanikan mengangkat kepalanya. Menatap pria paruh baya tampan itu.
__ADS_1
Senyumnya mengengambang, air matanya luruh ketika ayah Samuel mengusap kepalanya sangat lembut.
"Apa yang harus Asa lakuin, Om?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Satukan Altair dan Ayana, maka saya akan menyayangi kamu."
"Om janji?"
Samuel mengangguk tanpa ragu, pria itu akan melakukan apapun demi kebahagiaan putri kecilnya.
"Asa boleh meluk, om?"
"Boleh."
Mendapat jawaban itu Asa langsung memeluk tubuh kekar ayah Samuel, menangis sesegukan di pundak pria yang akhirnya bisa dia rasakan betapa hangat pelukan itu.
"Bagus." Samuel menyungingkan sudut bibirnya.
Lama keduanya berpelukan dan saling berbagi kehangatan. Ini adalah momen yang tidak akan pernah Asa lupakan sampai kapanpun.
Jikapun suatu hari nanti dia pergi, ia tidak akan menyesal sebab telah mendapatkan kasih sayang dari ayahnya meski harus kehilangan cintanya.
Hampir setengah jam Samuel menemani Asa hingga akhirnya pergi ketika jam besuk mulai dibuka di rumah sakit tersebut.
Tepat beberapa menit setelah kepergian Samuel, Altair datang membawa bunga mawar putih di tangan kirinya, sementara buah-buahan di tangan kanan.
__ADS_1
Pria itu datang bersama Jihadi yang wajahnya sangat lempeng. Dapat Asa pastikan Altair berulah pagi-pagi sehingga suasana hati Jihadi yang menjadi taruhannya.
"Pagi Sayangku," sapa Altair.
Meletakkan barang bawaanya di atas meja lalu langsung memeluk Asa yang masih duduk di brangkar. Tidak lupa pria itu mengecup seluruh wajah Asa tanpa melewatkan satu incipun.
Jihadi? Sungguh Altair tidak memperdulikan kebedaan managernya yang menyebalkan tersebut.
"Udah Atair, aku belum mandi!" protes Asa yang merasa risih dicium tanpa henti oleh pria yang sangat dia cintai.
Terlebih alat EKG memperlihatkan detak jantungnya yang mulai tidak normal.
Altair menyengir tanpa dosa.
"Nggak papa jutek hari ini dan seterusnya. Aku bakal jadi pria dewasa buat pacarku ini," menguyel-uyel pipi Asa.
"Nggak kerja?" tanya Asa yang berusaha bersikap biasa-biasanya agar Altair tidak curiga tentang rencana yang telah dia susun.
"Nggak, kata Jihadi aku libur sampai satu minggu kedepan. Jadi aku punya waktu buat nemenin kamu di rumah sakit. Oh iya, udah sarapan?"
"Belum."
"Kebetulan, aku juga belum sarapan. Kita sarapan sama-sama tapi beda menu, tunggu bentar ya Sayang." Altair beranjak dari duduknya.
Pria itu keluar dari ruang rawat hanya untuk menemui suster yang bertugas membagikan makanan pada para pasien.
__ADS_1
Menanyakan sarapan yang dikhususkan untuk Asa, setelahnya kembali membawa nampang yang telah diberikan oleh pihak rumah sakit.
Altair telah berjanji pada dirinya untuk menjaga Asa dengan baik. Hal itulah yang membuatnya dan Jihadi bertengkar pagi-pagi buta di apartemen.