Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 48 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Sejak tahu bahwa dia bukanlah bagian dari keluarga Danuwinarta, atau lebih tepatnya Adhitama, Asa tidak lagi begitu menganggu kebersamaan Ayana dan Samuel jika melihatnya berada di ruang tamu.


Gadis itu hanya sekedar senyum dan berlalu begitu saja. Menyendiri adalah hal yang Asa lakukan ketika di rumah. Kalau saja tidak memikirkan hubungan bunda Ara dan suaminya, mungkin Asa telah pergi.


Hanya saja gadis itu sempat mendengar ucapan bunda Ara di depan kamarnya. Wanita paruh baya yang mengatakan hubunganya dengan sang suami akan berakhir jika Asa tidak baik-baik saja.


Itulah mengapa Asa lagi-lagi mengorbakan hatinya agar lebih sakit lagi demi keutuhan rumah tangga seseorang yang sangat berjasa dalam hidupnya.


"Kak Asa?"


Langkah Asa yang menuju kolam renang berhenti karena panggilan dari adiknya.


"Kenapa, Dek?" Tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa, terlebih Ayana belum tahu bahwa dia penyakitan dan bukan kakak kandungnya.


"Tadi aku katemu kak Altair di sekolah, dia nanyain kakak. Aku bingung mau ngomong apa," ucap Ayana.


"Bilang baik-baik saja, Dek. Lagiankan kakak emang baik-baik aja. Oh iya, jangan lupa pepet Altair, aku yakin cinta datang karena terbiasa." Mengusap kepala Ayana yang mengeleng dengan pipi mengembung.


"Nggak mau, orang kak Altairnya suka sama kakak. Nanti aku cari cowok tampan yang lebih kaya dan suka sama aku." Ayana menyegir meski hatinya belum rela sepenuhnya untuk melepaskan Altair.


Namun, Ayana akan berusaha untuk melupakan cinta pertamanya demi kakak tercinta. Ia tidak mau hubungan persaudaraan hancur karena seorang pria.

__ADS_1


"Ayo gabung sama Ayah, kita bicarain hubungan kak Asa sama kak Altair."


"Uuummmm, keknya nggak usah deh. Lagian kakak nggak bisa maksain cinta sama Altair, kakak udah punya pacar soalnya," bohong Asa.


"Serius?" Mata Ayana membola, terlebih lagi ketika suara bunda Ara terdengar dari ruang tengah.


"Asa, ada teman-teman kamu nih. Ayo disambut Sayang!" teriak bunda Ara.


Asa dan Ayana lantas berlari ke ruang tamu. Ayana menganga, tidak percaya ada pria tampan yang lebih menggoda dari Altair berdiri di hadapan bundanya.


Sementara Asa terdiam sebab terkejut Mark dan Fely berkunjung kerumah tanpa mengabari lebih dulu. Ah ya Asa lupa sejak terjadinya kekacauan ia tidak mengaktifkan ponselnya juga izin tidak masuk sekolah karena masalah kesehatan.


"Huaaaaa aku kangen banget sama kamu, Sa. Sekolah hampa tanpa kehadiran kamu." Fely menghambur kepelukan Asa.


"Iya banget sekolah sepi tanpa lo. Apalagi gue harus ketemu Altair yang uring-uringan mulu," keluh Mark.


Asa tertawa melihat tingkah kedua temannya, dia menyengir pada bunda Ara yang memberi kode bahwa akan pergi. Kemudian tatapannya tertuju pada Ayana.


"Oh iya, hampir lupa ngenalin. Ini adek yang sering gue ceritain sama lo," ucapnya pada Mark, sebab Fely sudah mengenal Ayana.


"Oh yang katanya otak dia tuh kek komputer ya? Nggak belajar aja udah pintar?"

__ADS_1


"Mungkin?" Asa mengulum senyum, ia sangat suka membanggakan adiknya di sekolah.


"Salam kenal cantik, gue Mark. Siswa paling tampan di SMA Angkasa. Gue tau lo terpesona tapi nggak sampai buka mulut juga kali." Mark mengedipkan matanya pada Ayana.


Di mana membuat gadis itu tersipu, tapi hanya sebentar karena deheman pria paruh baya yang lewat di antara mereka.


"Sore Om," sapa Mark.


Samuel hanya mengangguk dan keluar dari rumah.


"Ayah emang gitu sangar sama cowok, ayo duduk dulu kak. Aya senang teman-teman kak Asa datang kerumah," seru Ayana paling antusias.


Gadis itu berlalu ketika bunda Ara memanggilnya dari dapur, sementara Asa dan teman-temannya duduk di ruang tamu.


"Katanya kamu sakit ya?"


"Dikit doang, cuma demam biasa. Oh iya gimana sama sekolah? Mungkin besok aku mulai masuk kalau nggak ada kendala."


"Sepi dan menyebalkan, termasuk kalau Altair masuk sekolah!" Mark kembali mengomel, seakan mempunyai dendam pada pria yang sok tampan tersebut.


"Apa sih, kok kamu benci banget sama Altair? Dia kan cuma nanya kenapa Asa nggak ke sekolah." Fely menyenggol lengan Mark.

__ADS_1


"Udah-udah nggak ada pembahasan lain apa selain dia? Bosan tau dengarnya." Asa mendelik, bersikap seolah-olah tidak peduli pada Altair padahal hati sangat merindukannya.


__ADS_2