Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 87 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Tepat di saat semua orang yang dia kenal meninggalkan bandara, Altair muncul dari persembunyiannya. Mata pria itu memerah, hatinya terasa kosong setelah tahu tunangannya benar-benar pergi dan tidak tahu kapan akan kembali.


Sejak tadi pria itu ada di bandara, memperhatikan Asanya dari kejauhan. Tidak berani mendekat sebab takut memohon agar Asa tetap berada di sisinya.


"Ayo, waktunya latihan," ucap Jihadi yang setia mengekori Altair.


Pria itu mengangguk tanpa membantah seperti biasanya. Berjalan perlahan meninggalkan bandara, sesekali mematap kebelakang, berharap semuanya hanyalah candaan semata.


"Dia benar-benar pergi," gumamnya.


"Setiap pertemuan akan ada perpisahan, jadi semuanya udah diatur oleh sang pencipta. Kita cuma harus nyiapin hati buat ikhlas apapun yang terjadi pada diri kita." Jihadi menepuk pundak Altair yang berjalan sambil menundukkan kepalanya.


"Asa pasti balik dan sembuh sepenuhnya seperti yang kamu mau," lanjutnya dan hanya dijawab anggukan oleh Altair.


Alih-alih menuju agensi untuk latihan, Altair malah meminta Jihadi agar mengantarkan kerumah orang tuanya. Meminta izin hari ini tidak bisa latihan karena suana hati sedang tidak baik-baik saja.


Sangat diuntungkan Jihadi mengerti situasi, sehingga tidak terlalu memaksakan kehendak.


Sesampainya di rumah, Altair langsung menuju kamarnya tanpa menyapa Rayhan dan Giani yang berada di ruang keluarga.


"Asa udah pergi?" tanya Rayhan pada Jijadi.


Pria itu tidak ikut mengantar karena larangan Samuel. Itu semua demi kebaikan Asa. Takut kalau saja Asa merasa sedih harus meninggalkan orang-orang yang menyayanginya.


"Udah Pak, saya pamit dulu."

__ADS_1


Rayhan dan Giani mengangguk semerempak. Sepeninggalan Jihadi, Giani beranjak dari duduknya.


"Minum tehnya sendiri aja, aku mau nemuin Altair dulu."


"Hibur dia, kayaknya putra kita benar-benar sedih. Oh iya, sekalian aku pamit ke kantor."


Rayhan meneguk teh hangatnya hingga tandas. Ikut berdiri lalu mengecup kening Giani, seperti yang selalu dia lakukan jika berangkat ke kantor.


"Hati-hati di jalan. Jangan genit-genit apalagi lirik asisten sendiri."


"Siap Sayangku!" Memberi hormat sebelum pergi, sementara Giani langsung menuju kamar putranya.


Mengetuk sebentar, sebelum akhirnya membuka pintu. Giani mendapati Altair tengah bersandar di kaki ranjang sambil memperhatikan ponselnya.


Siapa yang menyangka, Altair langsung merebahkan tubuhnya. Menjadikan paha Giani sebagai bantalan.


Giani tersenyum, mengusap rambut putranya yang mulai gondrong.


"Asa cuma pergi berobat Nak, dia bakal pulang. Kok lagaknya kayak ditinggal selamanya sih?" ucapnya disertai candaan.


Altair meregut, pria yang punya kepirbadian manja dan sedikit arogant itu tampak tidak bersemangat.


Ini bukan tentang ditinggal dan akan kembali lagi. Tapi dunia medis itu sangat menakutkan, apalagi di meja operasi. Terlebih operasi yang akan dilakukan Asa sangatlah besar.


"Gimana kalau Asa pergi tanpa pamit sama Altair?" tanyanya.

__ADS_1


"Nggaklah, Asa bukan tipe kayak gitu. Baik dia bakal bertahan ataupun nggak, dia bakal pamit sama kamu secara baik-baik."


"Tapi, Mah?" Menatap mamahnya dari bawah.


"Dengerin Mamah." Menjeda kalimat sejenak. Menjawil hidung mancung Altair. Di mata Giani, Altair masihlah anak-anak, terlebih tingkahnya yang manja.


"Pikiran, ucapan dan prasangka. Semuanya adalah doa yang mungkin bakal dijabah sama Tuhan tanpa kita duga. Jadi, kalau mau Asa baik-baik aja, kamu harus berpikir positif! Ngerti?"


Altair mengelengkan kepalanya.


"Altair cuma mau Asa, baru ditinggal beberapa jam aja Altair udah kangen."


"Ck, lakik kok lembek gini? Selesaikan konser, pendidikan dan segalanya, setelah itu kita nyusul Asa kalau dia belum balik. Gimana?"


"Serius?" Mata Altair berbinar seketika.


Giani lantas menganggukkan kepalanya cepat. Tersenyum riang saat sang putra tiba-tiba mengecup pipinya berulang kali.


"Mamah janji kan?"


"Iya Sayang! Tapi sekolah sama konsernya selesai dulu. Sekarang harus serius sekolah, biar cepat lulus dan nyusul Asa."


Giani beranjak dari duduknya karena merasa kesemutan duduk di lantai cukup dingin, terlebih suhu ruangan kamar Altair cukup rendah.


"Semangat Sayang, mamah sama papah bakal dukung kamu apapun yang kamu mau."

__ADS_1


__ADS_2