
Mendengar Asa ingin pulang kerumah orang tuanya membuat suasana hati Altair semakin memburuk. Ini semua karena takut papah Rayhan tidak setuju untuk menikahkan ia secepatnya.
Tujuan Altair membawa Asa pergi dan tinggal bersama agar para orang tua buru-buru menikahkan mereka, karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Apa aku harus hamilin Asa dulu baru nikah?" gumam Altair.
"Ngomong apa?" tanya Asa.
Altair seketika terkejut, menelan salivanya kasar saat berbalik dan mendapati Asa menondongkan pisau tajam kearahnya.
"Eh-eh apa nih? Ak-aku nggak mau mati konyol," ujar Altair dengan cengiran.
Asa yang menyadari hal tersebut segera menjauhkan pisau. Gadis itu datang bukan untuk menodongkan pisau, tapi meminta bantuan pada sang kekasih.
"Itu buah semangkanya bantu potong, aku mau masak," ucap Asa.
"Oh motong buah, sini." Meraih pisau di tangan Asa, mengekor menuju dapur untuk membantu kekasihnya.
Sesekali ia memperhatikan Asa yang tampak sibuk mondar mandir di depan kompor. Harusnya Asa tidak perlu sesibuk itu karena tidak ada orang lain rumah selain mereka berdua.
"Jangan pulang ya?" pinta Altair.
"Kita harus sekolah Altair, kamu juga harus kerja."
"Masih pengen sana kamu," rengek Altair.
Pria itu memeluk kekasihnya dari belakang setelah berhasil memotong buah.
"Pengen berduan kayak gini tanpa ada yang larang. Pengen tidur di pangkuan kamu setiap malam sebelum tidur di kamar masing-masing."
"Nanti setelah nikah."
"Masih lama ih, dua bulan itu setera 60 hari Asa."
"Emang iya." Asa tergelak. Selalu saja Altair bisa membuatnya tertawa di setiap siatuasi.
Gadis itu menyingkirkan tangan Altair dari pinggangnya setelah semua masakan siap.
__ADS_1
"Udan nggak usah manja. Ayo makan, aku udah lapar!"
Altair melengos, meski begitu tetap mengikuti langkah Asa menuju meja makan.
***
"Asayang, ini apa sih?" guman Altair yang wajahnya mulai kaku karena sesuatu yang berada di wajahnya.
Sementara yang diajak bicara masih sibuk mengoleskan di beberapa bagian wajah Altair.
"Wajah kamu kusam habis kerja semalaman, harus dirawat biat tetap tampan."
"Aku udah tampan dari lahir!"
"Iya tau, tapi dirawat juga." Asa senyum penuh kemenangan setelah selesai mengoleskan masker wajah pada Altair.
Ia memberikan mangkuk masker pada kekasihnya.
"Giliran aku."
"Nggak Altair!" kesal Asa melayangkan tatapan mematikan.
Tidak ingin melewatkan momen apapun, akhirnya Altair mengiyakan keingin sang kekasih. Mulai mengolesi cairan hitam itu di wajah Asa.
Sesekali menjahili dengan menyentil atau mengigit sesuatu yang masih bersih, entah bagian pipi atau hidung.
"Jangan nakal!"
"Nggak Asayang, orang lagi manjain pacar juga."
Tanpa sadar, Altair merangkak di atas tubuh Asa meski tidak menindih sepenuhnya. Itu semua murni ia lakukan demi menjangkau area tertentu.
"Kalian!" Seru seseorang, menarik kerah bagian belakang Altair.
Pria tampan itu mendengus. "Apaansin Pah, ganggu aja tau nggak!" omel Altair tidak suka.
"Ganggu-ganggu pala kamu! Papah tau otak bulus kamu itu gimana! Pasti mau manfaatin kepolosan Asa, iya kan?" Tuduh Rayha tidak mendasar.
__ADS_1
Altair memutar bola mata malas, menghempaskan tubuhnya di samping Asa.
"Itu kan papah bukan Altair," celetuknya.
"Altair!" Rayhan berkacak pinggang dengan wajah garangnya.
"Yang Om Ray liat sama pikiran om nggak benar kok. Tadi Altair cuma bantu aku maskeran, nggak lebih," ucap Asa membantu.
"Serius?"
Asa mengangguk antusias, gadis itu segera beranjak untuk mencuci wajahnya yang masih setengah kotor, berbeda dengan Altair yang menyandarkan punggungnya pada sofa. Sesekali melirik kesal pada papahnya.
"Dosa kamu liatin papah sampai segitunya!"
"Kenapa sih Altair harus punya papah yang bisa lacak keberadaan seseorang? Nggak punya privasi banget aku sebagai anak." Altair terus saja mengerutu, berbeda dengan Rayhan yang tampak acuh.
Pria paruh baya tersebut menyusul calon menantunya di dapur.
"Nggak usah buat minum, papah bentar lagi pulang," ucap papah Rayhan yang berdiri di samping Asa.
Gadis itu menghentikan pekerjaanya yang tengah mengupas buah.
"Ayah kamu datang tadi?"
"Iy-iya om."
"Ngomong apa?"
"Ayah nyuruh Asa pulang kerumah. Ayah janji bakal restuin Asa sama Altair," jelasnya.
"Minta maaf?"
"Ayah juga minta maaf."
"Syukurlah, artinya beneran sadar," gumam Rayhan. Jika Samuel telah mengucapkan maaf pada seseorang, artinya penyesalan pria itu sangat besar.
Sebab Samuel adalah tipe pria yang sangat anti dengan maaf.
__ADS_1