Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 92 ~ Asa & Altair


__ADS_3

"Tidur?" tanya Rayhan yang baru saja membuka pintu kamar putranya.


Mempertikan Altair yang tengah berbaring di paha Giani sambil memejamkan mata. Nafas pria itu terdengar beraturan saat Rayhan memeriksanya. Menandakan Altair telah terlelap.


"Udah minum obat, tapi tadi minta dielus," sahut Giani, tangannya sejak tadi tidak berhenti mengelus rambut sang putra.


Sejak tadi Altair terus saja mengumamkan nama Asa, seakan ada firasat yang buruk mendatanginya.


Hati Altair tidak tenang, mungkin tidak akan bisa tenang sebelum mendengar suara gadis yang sangat dia cintai.


"Aku baru cerita sama Samuel. Sepertinya ada yang nggak beres tentang Asa. Kamu tahu sendiri gimana El kalau lagi panik," ucap Rahyan yang mengutarakan kerisauhannya pada sang istri.


Selain Asa adalah keponakannya, gadis itu juga kebahagiaan Altair. Di mana Rayhan harus menjaga Asa agar putranya bahagia setiap saat.


"Ke kamar duluan aja, nanti aku nyusul." Giani mengalihkan pembicaraan, tidak ingin Altair mendengar sesuatu yang menakutkan.


Rayhan mengangguk setelah mengelus luka lebab di wajah Altair, akibat ulahnya. Mengumamkan kata maaf yang hanya di dengar sendiri.


Beberapa saat kemudian, Giani pun menyusul ke kamar utama setelah memastikan suhu tubuh Altair mulai turun.


Duduk di samping Rayhan yang duduk bersandar di kepala dipan. Langsung memeluk dada bidang Rayhan tanpa permisi.


"Samuel ngomong apa aja? Asa baik-baik aja kan?"


"Sebaliknya mungkin." Memainkan rambut Giani.

__ADS_1


"Maksud kamu?"


Rayhan tersenyum, mengecup bibir Giani saat mendongak. "Ntahlah, tapi nanti aku coba selidiki apa yang sebenarnya terjadi. Tapi aku nggak janji bisa dapat hal berguna, soalnya Samuel jago nyembunyiin sesuatu."


***


Matahari menyapa malu-malu setelah muncul dari peraduannya. Begitupula Altair yang membuka matanya dan langsung mengambil ponsel di atas nakas. Ponsel yang Giani letakkan semalam.


"Jam setengah 7, kenapa Asa belum ngabarin? Dia benar-benar ingkar janji," gumam Altair.


Pria itu memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing, meski begitu tetap beranjak dari ranjang.


Hari ini dia harus ke sekolah untuk mempersiapkan ujian semester penaikan kelas senin depan.


"Nah putra tampan mamah datang nih, ayo makan dulu, Nak!" sambut Giani.


"Nanti aja di sekolah, Mah." Menunduk untuk mencium punggung tangan mamahnya. Mengitari meja dan melakukan hal yang sama pada papah Rayhan.


Terakhir Altair mencium pipi Sabira kemudian berlalu. Pagi ini Altair tampak segar dan biasa-biasa saja. Seakan tidak terjadi kekacauan semalam padahal mengingat kegilaan yang dia lakukan.


Laju motor sport itu tidak langsung menuju sekolah, melainkan kediaman om Samuel. Kedatangan Altair hanya untuk memastikan keberadaan Asanya, tapi nihil. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana.


Dia menghela nafas panjang, kini tujuannya rumah om Alvi untuk bertemu Ayana. Karena selama kepergian om Samuel, Ayana dititipkan pada om Alvi. Mungkin karena Alvi tegas dalam mendidik dan rumahnya cukup dekat dengan sekolah.


Poin pentingnya, rumah om Alvi cukup sunyi karena anak-anaknya telah menikah.

__ADS_1


"Kak Altair?" sapa Ayana yang kebetulan berdiri di depan pagar rumah.


Altair yang baru sampai lantas membuka helmnya. Menyugar rambut yang telah kering.


"Kapan Asa balik?" tanyanya tanpa basa-basi.


Ayana tampak diam sejenak, seakan memikirkan sesuatu.


"Kata ayah, kak Asa belum bisa pulang karena sedang pemulihan. Kakak sabar aja nunggu, kak Asa pasti pulang buat nemuin kita."


"Lo yakin dia baik-baik aja?"


Ayana mengangguk cepat, dari kabar yang dia dapatkan pagi ini memang seperti itu.


Namun, mungkin itu adalah kabar terakhir dari orang tuanya, karena ayah Samuel mengatakan mungkin tidak akan memberi kabar dalam kurung waktu yang tidak bisa ditentukan.


"Kalau lo punya info tentang Asa, kabarin gue!"


"Siap kak!" Memberi hormat sambil tersenyum.


Senyuman itu baru memudar setelah kepergian Altair.


"Jangan berharap lagi Ayana, dia tunangan kak Asa. Masih banyak laki-laki di luar sana," ucapnya pada diri sendiri, bertepat taksi yang dia pesan telah datang.


Hari ini Ayana tidak naik motor karena bannya bermasalah.

__ADS_1


__ADS_2