Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 78 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Hubungan Asa dan Altair begitu cepat menyebar di lingkungan sekolah. Ada yang mendukung ada yang tidak. Semuanya tergantung tingkat seberapa halu mereka ingin memiliki Altair di hidupnya.


Asa yang sejak tadi mendapati dirinya dibicarakan sana-sani hanya bisa pasrah, karena tahu konsekuensi memiliki seorang bintang seperti Altair.


Kepala yang semula menunduk lantas mendongak ketika langkahnya dihadang oleh Iren dan antek-anteknya. Asa menghela nafas panjang.


Gadis itu tidak punya banyak tenaga untuk melawan Iren untuk saat ini, gadis itu melupakan obatnya di rumah karena buru-buru datang ke sekolah.


Langkah Asa mundur ketika tubuhnya di dorong oleh Iren.


"Sok cantik lo!" bentak Iren. "Lo tuh nggak pantas sama Altair, lo itu penyakitan!" Hardiknya.


Asa tersenyum, membalas tatapan penuh permusuhan yang Iren layangkan. Asa sebenarnya tidak pernah takut, gadis itu hanya menghindari masalah.


"Gue emang cantik, semua siswa tahu kok kecantikan gue. Bahkan gue nggak pernah dandan norak kek lo!" balas Asa dengan nada santai.


Namun, berhasil menyulut emosi Iren yang tidak suka jika ada yang berani melawannya.


"Lo berani sama gue?"


"Kenapa gue harus takut?"


"Asa sialan!" bentak Iren melayangkan tangannya di udara, bersiap menampar gadis penyakitan di hadapannya.


Asa yang melihat itu segera memejamkan mata. Namun, beberapa menit berlalu tidak ada tangan yang mendarat di pipi Asa.


Dia perlahan-lahan membuka kelopak matanya, terkejut melihat Altair ada di sampingnya. Menahan tangan Iren yang melayang di udara.


Altair menghempaskan tangan Iren cukup kasar, menatap gadis jadi-jadian itu cukup tajam.


"Jangan sentuh pacar gue!" ucap Altair penuh tekanan.


"A-altair, apa yang lo liat nggak gitu kok. Asa yang nampar gue lebih dulu, dia ngatain gue," adunya mencari pembelaan.


"Benar?" tanya Altair pada Asa.


Dengan polosnya Asa mengeleng.

__ADS_1


"Pacar gue nggak mungkin bohong!" Tersenyum sinis pada Iren dan antek-anteknya. "Jangan usik Asa gue, atau lo bakal nerima konsekuensinya!" Ancam Altair, kemudian mengamit pinggang Asa meninggalkan koridor sepi.


Asa tadi meninggalkan kelas seorang diri karena kebelet pipis, tapi malah dihadang oleh Iren. Untung saja Altair mengikuti dari belakang, atau pipi gadis cerita itu akan memerah bekas tamparan.


"Lain kali kalau mau dipukul, pukul balik," omel Altair.


"Nggak, aku takut ayah marah," ucapnya Asa.


"Ck, nggak ada yang bakal marahin pacarnya Altair." Mengacak-acak rambut Asa gemes.


Pria itu menghentikan langkahnya setelah berada di depan toilet perempuan. Mempersilahkan Asa masuk dan dia menunggu sambil bersandar pada dinding.


Sesekali Altair bersenadung untuk menghilangkan rasa sepi menunggu sang kekasih.


Pikiran pria itu melayang pada pembicaraan papahnya setelah pulang dari rumah Asa.


"Lama-lama gue bunuh juga si Rayhan. Bisa-bisanya sampai sekarang belum di kasih restu," gumam Altair.


Semalam Rayhan hanya mengatakan, datang kerumah ayah Samuel untuk membatalkan perjodohan dirinya dengan Ayana, itulah mengapa Altair sedikit kesal.


Andai pria itu tahu bahwa dalam hitungan hari dia akan bertunangan dengan Asa, mungkin dia akan memeluk papahnya penuh kasih sayang.


"Mikirin kamu, apalagi?" Tersenyum menggoda. Mengenggam tangan Asa menuju kelas yang cukup jauh dan sepi, sebab semuanya telah berada di kelas masing-masing.


***


Asa, Mark dan Fely berlarian keluar dari sekolah setelah bel pulang berbunyi. Ketiganya mempunyai rencana untuk jalan-jalan sebelum pulang.


Asa sudah meminta izin pada ayahnya dan diizinkan, sementara pada Altair, gadis itu belum menghubunginya.


Tadi saat jam terakhir, Altair meninggalkan sekolah karena urusan mendadak dari Agensi.


"Kemana dulu nih?" tanya Mark. Pria itu dengan setia mengenggam tangan Asa.


"Ke mall?"


"Gramedia?" Usul Asa dan dijawab anggukan oleh Fely dan Mark.

__ADS_1


Karena Fely dan Asa datang diantar oleh ayah masing-masing, alhasil keduanya berangkar ke Gramedia menggunakan mobil Mark.


Sepanjang jalan ada saja pembahasan yang mengharuskan ketiganya tertawa bersama.


Kening Asa dan Fely mengerut ketika Mark menghentikan mobilnya secara tiba-tiba.


"Kenapa?" tanya Fely.


"Lupa beli minum, bentar lagi jadwal minum obat Asa," ucap Mark. Turun dari mobil dan memasuki toko.


Membeli air minum dan beberapa cemilan, teman selama perjalanan.


Sementara di dalam mobil, tatapan Fely tidak lepas dari punggung kekar Mark yang sedang menunduk.


"Suka kan kamu sama Mark?" tebak Asa.


"Ng-nggak!" Sangkal Fely.


"Tatapan kamu beda tau, ayo pepet Marknya. Kayaknya dia belum punya pacar deh, siapa tau dia juga suka lagi sama kamu," desak Asa, tanpa tahu Mark menyukai dirinya.


Fely senyum paksa. "Dia suka sama orang lain."


"Serius? Siapa?" tanya Asa semakin antusias.


"Ada di mobil ini," sahut Fely dan melempar pandagannya ke arah lain, bertepatan dengan Mark datang membawa beberapa belanjaan, menyerahkan semuanya pada Asa.


"Buat lo, jangan lupa minum obat," ucap Mark.


"Makasih." Asa senyum kikuk.


Gadis itu tengah mencerna baik-baik ucapan Fely barusan. Ada rasa tidak nyaman Asa rasakan setelah tahu Mark menyukainya. Entah ungkapan Fely benar atau tidak, tapi Asa merasa kurang nyaman.


"Uhhhmmmm, Mark?" panggil Asa.


"Hm."


"Berhenti setelah lampu merah ya, maaf gue nggak bisa ikut sama kalian. Altair mau jemput soalnya."

__ADS_1


"Yah, padahal bentar lagi sampai loh." Mark menghela nafas panjang.


"Lanjut aja, kan ada Fely. Kalian jalan berdua aja, siapa tahu jodoh," ucap Asa buru-buru turun dari mobil setelah Mark berhenti setelah lampu merah.


__ADS_2