
Asa melambaikan tangannya untuk mengantar kepergian orang tua Altair setelah makan malam berlangsung.
Namun, ia tidak kunjung masuk ke rumah karena memikirkan sesuatu. Kalimat om Rayhan tentang orang tua angkatnya sangat menganggu otak Asa, tapi takut bertanya dan menyingung semua orang.
"Di luar dingin, Asayang," bisik Altair menumpu dagunya di pundak Asa tanpa memeluk.
Hal itu tentu membuat Asa sedikit terkejut, ia membalik tubuhnya sambil tersenyum.
"Ini baru mau masuk. Oh iya, boleh pinjam ponselnya nggak? Aku kangen sama bunda dan Ayana. Aku pengen tahu kabar mereka," ucap Asa sambil berjalan menuju sofa. 80%, rumah yang mereka tempati dindingnya terbuat dari kaca sangat tebal, sehingga bisa menikmati pemandangan dari dalam rumah.
Sehingga Asa tidak perlu repot-repot keluar dari rumah untuk menikmati pemadangannya.
Gadis itu tengah menatap air mancur di sisi kanan rumah. Rasanya sangat nyaman tinggal bersama Altair, tapi ia takut akan terlena oleh bujuk rayuan setan.
"Bunda baik-baik aja, tadi aku bicara. Ayana juga aktif kayak biasa."
"Aku mau pulang Altair. Aku kangen sekolah, aku kangen suasana rumah dan aku kangen ...."
"Kangen nangis tiap malam dan pura-pura bahagia esok harinya. Kangen nyiksa diri sendiri demi kebahagiaan orang lain," sambung Altair dengan nada sedikit ketus.
Pria itu ikut duduk di samping Asa.
"Aku bakal ngizinin kamu pulang kalau benar-benar udah mencintai diri sendiri." Altair menyandarkan kepalanya di pundak Asa. Membimbing tangan mungil gadisnya agar menyentuh rambutnya yang acak-acakan.
__ADS_1
"Elus Sayang!"
"Hm."
"Kamu mau kan nikah muda? Kita nikah dan menetap di sini. Kita bisa home school, kalau bosan jalan-jalan berdua ke pasar. Di sini juga banyak pantai yang indah," gumam Altair.
Asa terdiam, tidak menolak ataupun mengiyakan ajakan Altair.
"Asayang?"
"Kita bakal nikah, punya anak yang banyak, hidup bahagia dan saling menyayangi," ucap Asa akhirnya sambil tersenyum.
Asa sangat ingin mewujudkan mimpinya dan Altair yang bisa hidup sampai tua nanti, tapi ada sesuatu yang selalu menganggu pikirannya.
Asa mengedip-edipkan matanya ketika rasa pusing tiba-tiba melanda tanpa di duga, ia menyentuh hidungnya. Lagi, darah berhasil keluar. Mungkin efek jantungnya yang sejak tadi berdetak lebih lambat dari biasanya.
Ia memejamkan mata sambil meremas tangannya yang terasa sangat dingin. "Jangan sekarang, aku masih mau hidup. Aku nggak mau terbaring di rumah sakit," batinnya.
"Asayang?" panggil Altair di balik pintu kamar mandi. "Kamu baik-baik aja, hm? Udah minum obat?"
Gendorong pintu terus terdengar, karena tidak ada sahutan dari kamar mandi. Tidak sabar menunggu, akhirnya Altair mendobrak pintu dan terkejut mendapati kekasihnya duduk sambil memejamkan mata. Asa sedang meremas dadanya dengan air mata yang terus mengalir.
"Asa?"
__ADS_1
"Sakit banget," lirih Asa.
"Nggak papa, kalau mau ngeluh, ngeluh aja. Aku nggak bakal marah atau ilfiel sama kamu," bisik Altair.
Mengendong tubuh lemas Asa menuju ranjang, memberikan obat pereda nyeri dari dokter.
"Aku tadi udah ngelarang kamu jangan banyak gerak. Eh kamunya malah sibuk lari-larian ditaman sama kucing," omel Altair mengusap kening Asa yang penuh akan keringat.
"Senang," ucap Asa dengan suara kecilnya. Masih meremas dadanya yang nyerinya perlahan menghilang. Beberapa menit saja Altair tidak datang, mungkin Asa sudah kehilangan kesadarannya.
Gadis itu ingin bergerak saat di kamar mandi, tapi tubuhnya teras lamas dan kaku untuk bergerak.
"Altair?"
"Kenapa, Sayang?"
"Kamu nggak bakal bosan kan rawat aku? Kamu nggak bakal jenuh? Aku beban."
"Nggak, kamu bukan bebannya Altair. Kamu tuh masa depan aku, penyemangat aku dan tujuan hidup aku. Perlihatkan rasa sakit kamu, dan aku bakal nemenin kamu sampai maut misahin kita."
Altair menahan nafasnya agar tidak terisak. "Karena waktu kamu nggak banyak, mari kita ciptain momen paling bahagia. Jadi diri sendiri dan manja sama aku!" ucapnya. Menunduk untuk mengecup kening Asa cukup lama.
Entahlah, ada apa dengan Altair hingga masih ingin bertahan pada Asa yang jelas-jelas akan menyusahkan dirinya, padahal di luar sana masih banyak gadis cantik yang antri untuk jadi pendamping Altair.
__ADS_1
"Janji?" tanya Asa mengerakkan kelingkinya.
"Janji!"