
Karena Altair tiba-tiba badmood meski sudah mencium Asa sangat brutal, gadis itu terpaksa menelpon ayah Samuel tanpa meminta diantar lebih dulu oleh Altair.
Asa tidak ingin menganggu Altair yang moodnya sedang tidak baik-baik saja. Gadis itu menunduk, mengecup pipi Altair yang tengah duduk di pahanya. Pria itu belum makan, padahal jarum jam telah menunjukkan angka tujuh.
"Ayah udah ada di bawah, aku pergi ya?" ucap Asa berusaha menyingkirkan kepala Altair dari pahanya.
Tanpa mengatakan apapun, Altair langsung duduk. Tersenyum paksa ketika Asa mengusap kepalanya seperti anak kecil.
"Baik-baik bayi besarku. Besok aku berangkat pagi, nggak usah diantar. Takut malah nangis lagi," ucap Asa.
Gadis itu mengambil tasnya di atas meja, hendak melangkah tapi tanganya ditarik oleh Altair.
"Semoga selamat sampai tujuan dan nggak ingkar janji," ucap Altair dengan nada malas. Senyuman palsu masih menghiasi wajah pria itu.
Berusaha terlihat ikhlas agar Asa tidak berat hati meninggalkannya. Namun, kalian harus tahu, ulu hati Altair sekaan di cubit kepiting. Sakit banget!
"Pasti, aku nggak bakal ingkar janji sama kamu. Dah kesayangan Asa!" Melambaikan tangan.
Kali ini Asa benar-benar pergi dari apartemen Altair. Senyuman yang sejak tadi menghiasi wajahnya pudar begitu saja.
Senyuman itu baru kembali terlihat setelah dekat dengan mobil ayahnya. Langsung membuka pintu mobil, mengecup punggung tangan ayah Samuel.
"Maafin Asa karena buat ayah nunggu," ucapnya.
"Ayah baru datang kok," sahut Samuel. "Gimana? Altair setuju?" tanyanya, melirik sang putri yang seakan tidak fokus.
"Asa?"
"Ah iya, Yah. Altair setuju kok. Kita bisa berangkat besok sesuai perkataan ayah."
Samuel mengangguk-anggukkan kepalanya, pria itu tidak lagi fokus pada jawaban sang putri, melainkan pada bibir Asa yang sedikit membengkak bahkan terluka, padahal tadi tidak seperti itu.
__ADS_1
"Kenapa bibir kamu ...."
"Oh i-ini As-asa!" Gadis itu terkesiap mendengar ucapan ayahnya. "Maafin Asa, Yah."
Bukannya marah, Samuel malah tertawa melihat wajah panik Asa. Wajah panik yang sangat mengemaskan seperti istrinya jika sedang melakukan kesalahan.
"Udah sejauh mana?" Kembali dengan ekspresi datarnya.
"Maafin Asa, Yah. Ta-tadi Altair ... Asa ... Anu itu ...." Asa semakin gelagapan.
Bola matanya bergerak liar, menghindari tatapan ayah Samuel. Takut kalau saja ayah Samuel kecewa padanya.
Dia tersentak ketika bibirnya yang terluka diusap oleh pria paruh baya itu.
"Ayah percaya kamu belum ketahap yang terlalu jauh. Tapi cukup ini aja ya? Ayah nggak mau kamu rusak. Dosa itu memang indah, Nak."
"Ayah?"
Melihat Asa menunduk karena rasa bersalah, Samuel tidak lagi menatap putrinya.
"Intinya kedua putri ayah jangan sampai rusak, soalnya kalau itu terjadi, ayah ngerasa gagal jagain kalian. Ayah mungkin juga bakal jadi pembunuh." Samuel mulai melajukan mobilnya secara perlahan.
Sesekali melirik Asa yang diam mimbisu. Apa seseram itu dirinya jika berbicara serius? Samuel hanya ingin yang terbaik untuk putrinya, tapi sepertinya Asa terbenai akan hal itu. Asa tampak ketakutan dan menahan sesuatu.
"Mau beli es krim? Boneka? Coklat?" tawar Samuel.
"Maafin Asa, Ayah! Ini nggak bakal terulang lagi." Tersenyum pada ayahnya setelah mengusai rasa bersalah dalam dirinya yang telah mengecewakan ayah Samuel.
Gadis itu berlari memasuki rumahnya setelah mobil berhenti usai menempuh jarak cukup jauh.
Berlari dan menghabur kepelukan bunda Ara yang entah sejak kapan berdiri di teras rumah bersama Ayana.
__ADS_1
"Asa lama ya?"
"Banget Sayang, bunda khawatir Asa kenapa-napa di jalan."
"Ada ayah, Asa nggak mungkin kenapa-napa di jalan." Tersenyum subringan.
Sementara tatapan Ara tertuju pada bibir putrinya. Ara hendak bertanya, tapi Samuel memberi kode agar pura-pura tidak melihatnya.
Bunda Ara yang mengerti segera mengajak anak dan suaminya masuk.
Ara bergandengan dengan Samuel, sementara Asa bersama Ayana.
Kedua gadis cantik itu sedang membicarakan hal yang lumayan seru, semuanya dapat dilihat dari senyuman Asa dan Ayana.
"Serius?" tanya Asa tidak percaya.
Ayana buru-buru menganggukkan kepalanya. "Serius kak Asa. Siswa barunya tampan banget, terus cuek-cuek gitu. Aakkkkhhh, pokoknya idaman Aya!" Antusias Ayana terus saja bercerita pada kakaknya.
"Cie blusing." Ledek Asa.
"Ish kak Asa jahil. Tapi iya sih, blusing." Cengirnya.
Ayana mengayung-ayungkan tanganya yang saling mengenggam dengan Asa.
"Tapi ada satu masalah lagi kak." Ayana duduk di sisi ranjang Asa setelah sampai di kamar.
"Apa tuh?"
"Siswa barunya pintar, kayaknya dia bakal rebut posisi pertama Aya di sekolah. Mana langsung jadi kesayangan guru pula." Mengembungkan pipinya kesal, padahal tadi baru saja malu-malu kucing.
"Saiganku adalah jodohku." Goda Asa mencolek dagu Ayana.
__ADS_1
Tertawa puas karena bisa mengoda adiknya. Gadis itu sejenak melupakan masalah hidupnya karena kehadiran Ayana di dalam kamar.