
Hari begitu cepat berlalu, sudah tiga hari sejak kepulangan Asa dari rumah sakit, dan selama itu pula Asa mendapatkan apa yang ia inginkan.
Kasih sayang dan perhatian ayah Samuel ia dapatkan tanpa harus merasa tersisih ketika berkumpul bersama keluarga.
Pagi ini, Asa telah siap dengan seragam sekolah. Duduk di meja makan bersama ayah, bunda dan adik angkatnya.
Senyumnya tidak henti-hentinya mengembang karena setiap kali ayah Samuel berbicara dengan Ayana ataupun bunda Ara, ia selalu dilibatkan di dalamnya.
"Hari ini Asa nggak boleh naik motor dulu, harusnya sekolah juga belum," celetuk bunda Ara yang masih belum setuju Asa ke sekolah.
Wanita paruh baya itu takut kondisi Asa memburuk tanpa pengawasannya.
"Asa udah sehat bunda. Lagiankan Asa udah minum obat dari dokter."
"Nanti kalian berangkatnya sama ayah," ucap Samuel.
"Serius?" tanya Ayana dan Asa secara bersamaan.
"Hm, ayah tunggu di luar."
Asa mengangguk cepat, ia buru-buru menghabiskan sarapannya karena tidak ingin membuat ayah Samuel menunggu.
Gadis itu berlari kecil menuju teras rumah, berdiri kikuk di samping mobil ayahnya yang telah dipanaskan.
"O-om beneran mau nganter Asa?" tanyanya.
"Hm, nggak telat kalau bareng Aya kan?"
"Nggak om." Mengangguk antusias.
__ADS_1
Asa lebih dulu masuk ke mobil sakin semangatnya, menunggu Ayana yang tidak kujung keluar dari rumah. Sesekali ia melirik ayah Samuel yang sibuk di jok depan.
"Belakangan ini masih dekat sama Altair?"
"Maaf, om."
"Mulai sekarang ayah nggak mau liat kamu barengan dia lagi!"
"Iy-iya," lirih Asa.
Gadis itu seketika terdiam, dia hampir lupa bahwa tidak bisa memiliki semua yang ia inginkan. Ia harus kehilangan salah satunya. Sosok ayah atau sosok pasangan hidup.
***
"Asaaaaa akhirnya ke sekolah juga!" pekik Fely menyambut kedatangan Asa di ambang pintu kelas XII Ipa 1.
Gadis cerewet itu lantas memeluk sahabatnya erat-erat. Saat tahu Asa masuk rumah sakit, Fely selalu cemberut di sekolah, apalagi gadis itu sudah tahu penyakit yang diderita Asa dari Mark.
"Ish, jangan ngomong gitu. Sahabat aku bakal berumur panjang dan sembuh, iya nggak Mark?" tanya Fely pada Mark yang tiduran di meja bagian pojok.
"Hm."
"Kenapa dia?" tanya Asa.
"Habis berantem sama Altair kemarin, aku nggak tau karena apa," bisik Fely pada Asa.
Asa mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, segera duduk di samping Mark dan memberikan coklat yang Altair berikan beberapa hari yang lalu.
"Maafin Altair karena udah mukul lo," ucapnya.
__ADS_1
Mark mendengus, tidak ada niatan mengambil coklat di tangan Asa.
"Nggak bakal. Idol songong kek gitu ngapa dipelihara sih?"
"Mark!"
"Bukan dia yang mukul duluan, tapi gue."
"Kok bisa?" mata Asa membulat sehingga membuatnya semakin cantik.
"Ya karena dia PHP in lo, Asa. Dia deketin lo sampai dibuat baper, eh ujung-ujungnya nerima perjodohan!"
"Perjodohan?" Asa semakin bingung dengan tingkah Mark. Apalagi selama keluar dari rumah sakit ia tidak pernah bertemu dengan Altair. Pria itu sibuk fan meeting di luar kota.
"Hm." Menumpu dagunya dan menikmati wajah cantik Asa. "Gue kemarin bolos dan ngerokok di roftoop, eh dia tiba-tiba datang dan nerima telpon dari seseorang. Katanya dia nggak suka sama lo, dia cuma gunain lo sebagai tameng biar nggak diganggu fans fanatik. Jangan dekat-dekat sama dia lagi."
"Makasih Infonya Mark, lo memang teman gue yang paling baik." Menepuk pundak Mark sambil tersenyum.
Ia senang mendengar Altair akan menerima perjodohan, ya meski ada sedikit rasa sedih akan kehilangan pria yang ia cintai.
Mendengar ponselnya berdering, Asa segera beranjak dan keluar dari kelas. Menjawab panggilan dari pria yang baru saja dia bicarakan dengan Mark.
"Ke sekolah?" tanya Altair.
Harus kalian tahu, selama sakit. Altair mengotak atik ponsel Asa hanya karena ingin membuka daftar blokir dari semua akun.
"Iya."
"Nanti pulang sekolah tunggu aku di pos ya, aku mau ngomong sesuatu, penting banget!"
__ADS_1
"Ak-aku nggak bisa."
"Aku bakak terima perjodohan itu kalau kamu mau nunggu pulang sekolah nanti!"