Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 52 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Tidak ingin membuang kesempatan yang ada, Altair langsung membaringkan tubuhnya di sofa dengan kepala berada di paha kekasihnya.


Tidak lupa pria itu mengambil tangan lentik Asa yang terasa sangat dingin hanya untuk mengecupnya.


"Seminggu nggak ketemu dan bertukar kabar udah kayak setahun aja, Sa. Dunia aku benar-benar kacau," ucap Altair masih sibuk memainkan tangan Asa tanpa menyadari tatapan kekasihnya yang sangat sendu tanpa ada binar kebahagiaan seperti sebelumnya.


"Semarah itu ya sampai blok aku di semua akun kamu?" tanya Altair.


Hening, Asa sama sekali tidak menanggapi ocehan Altair.


"Sayang?" Altair menatap lurus ke atas sehingga Asa buru-buru mengahlikan tatapannya pada objek lain.


"Pergi, ayah sama bunda bentar lagi pulang. Aku nggak mau ayah tau kamu nemuin aku di sini."


"Nggak papa kalau dia tau, aku nggak takut sama om Samuel."


Altair mengelus pipi Asa yang juga sama dinginnya. "Udah ya Sa, jangan mikirin perasaan orang lain lagi. Mari kita bahagia tanpa terbebani perasaan orang di sekitar kita. Aku tahu kamu berusaha ngejauhin aku karena perjodohan itu kan? Tapi aku jamin usaha kamu nggak bakal berhasil sama sekali," ucapnya tersenyum senang.


Memejamkan mata sambil memeluk pinggang Asa, menenggelamkan kepalanya pada perut rata gadis itu. Jantung? Jangan tanyakan seberapa kencang detakan jantung Altair saat ini.


Setiap kali bersama kekasihnya, jantung Altair bekerja lebih keras. "Sakit apa?" gumam Altair.


"Sakit?"


"Tadi aku nggak sengaja liat darah di ranjang kamu. Bukan sakit sarius kan, Sa? Jangan pernah bohongin aku ya." Altair terus bicara tanpa merubah posisinya.


Pria itu malah menikmati elusan Asa di kepalanya.


Gadis yang bertekad untuk menjauhi Altair seakan bimbang sekarang. Hatinya ingin bersama Altair, tapi pikirannnya mengatakan hal lain.


Asa terus menatap wajah Altair dari samping, mengigit bibir bawahnya agar tidak terisak.

__ADS_1


"Kenapa sesulit itu buat kita bersatu? Om Samuel nggak bakal restuin kita sampai kapanpun Altair, dan aku nggak berani bantah dia sekarang. Aku banyak beruhutang budi padanya," batin Asa.


"Kita break dulu ya, cuma bentar aja. Aku mau nenangin hati," ucap Asa tiba-tiba.


Altair bergeming meski mendengar permintaan kekasihnya.


"Kita jalan masing-masing dulu sampai semuanya membaik. Aku yang bakal nyari kamu suatu hari nanti Altair. Aku janji." Suara Asa kian serak.


"Karena kita memulai semuanya baik-baik maka kita akhiri baik-baik juga. Kita intropeksi diri masing-masing, apa pantas bersama atau nggak."


"Masih ada?" tanya Altair.


Pria itu merubah posisinya menjadi duduk karena mulai bosan mendengarkan omongan tidak penting kekasihnya.


"Terima Ayana dalam hidup kamu!"


"Lagi?"


"Aku juga serius Asa. Apa pernah kali liat wajah aku seserius ini?" Menatap tajam Asa, dimana membuat nyali gadis itu menciut.


Jika Altair dalam mode serius maka pria itu akan lebih menyeramkan dari papah Rayhan.


"Ayo keluarin semua yang mau kamu katakan, aku bakal dengerin semuanya!" pinta Altair menangkup rahang Asa.


"Kamu tau kan kebahagiaan aku ada sama Ayana? Jadi tolong terima perjodohan ini."


"Beri aku satu alasan yang masuk akal!"


"Aku nggak suka sama kamu," lirih Asa dengan bola mata liar menatap kesana kemari hanya untuk menghindari mata tajam Altair.


"Alasan lain!"

__ADS_1


"Karena aku nggak pantas buat kamu."


Altair tertawa, dada pria itu mulai bergemuruh dan merasa muak akan pembicaraan yang terus mengarah pada perpisahan.


Asanya benar-benar berubah sejak perjodohan itu terjadi. Tanpa sadar cengkramannya di rahang Asa semakin keras, di mana membuat kekasihnya kesakitan.


Namun, sesakit apapun Asa tidak pernah mengeluhkannya pada Altair.


"Kalau nggak pantas bukan melarikan diri Asa, tapi memantaskan."


"Altair, ak-aku lelah!" keluh Asa akhirnya.


Pertahan gadis itu runtuh ketika tatapannya tidak sengaja bertabrakan dengan Altair.


Tanpa berbicara ia memeluk tubuh pria yang sangat dia cintai.


"Aku mohon tolong kabulkan permintaan aku yang satu ini. Ak-aku mau istirahat dengan ... Aaaakkkkkkk!" Asa mengerang ketika detak jantung yang tadinya lari maraton karena bertemu dengan Altair malah terasa nyeri dan menyesakkan dadanya.


"Asa!" panggil Altair.


"Pergi Altair, aku mohon!"


"Nggak!" Altair melepas peksa pelukannya dan terkejut mendapati darah di hidung kekasihnya, beserta wajah kian memucat.


"Sayang, hei!" Menepuk pipi Asa yang mulai menutup mata.


"Pergi! Aku benci terlihat lemah," lirih Asa sebelum tidak sadarkan diri.


"Asaaaaaaaa!" pekik Altair hingga suaranya mengelegar. Air mata pria itu menetes sambil memeluk kekasihnya.


Tidak pernah sekalipun Altair mendengar atau melihat Asa mengeluh, tapi sekalinya mengeluh kekasihnya malah terlihat menyedihkan.

__ADS_1


__ADS_2