Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 50 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Tidak bertemu beberapa hari dengan Asa, apalagi kabar yang tak kunjung dia dengar dari gadis yang dia cintai membuat Altair tidak fokus bekerja.


Seperti saat ini, Jihadi terus menghela nafas panjang melihat tingkah Altair yang hanya berpose layaknya patung di depan kamera padahal sedang iklan sebuah produk kecantikan.


"Fokus Altari, fokus! Kalau gini gimana kita bisa istirahat coba!" Omel Jihadi yang mulai lelah. Belum lagi fotografer terus mengeluh akan tingkah Altair.


"Lo nyuruh gue fokus, sementara gue terpaksa lakuin ini? Harusnya sekarang gue ketemu Asa, bukan malah berpose di sini!" Altair tak kalah kesalnya.


Raga Altair memang ada di lokasi pemotretan tapi tidak dengan hatinya dan pikirannya yang melayang-layang tak tentu arah memikirkan nasib Asa sekarang.


Saat di sekolah Altair telah mencecar Mark ataupun Fely, tapi keduanya sangat tidak berguna.


"Fokus dan lakuin sesuai yang udah kita diskusikan biar cepat selerai dan kamu bisa nemuin Asa. Saya janji," ucap Jihadi akhirnya.


Pria itu rela merombak beberapa jadwal padat Altair demi menyelesaikan pemotretan hari ini.


Pemotretan yang seharusnya sudah selesai sebelum makan siang, tapi malah berlarut-larut hingga sore hari karena kelakuan tidak mengenakan Altair.


Untung pria itu mempunyai popularitas tinggi di dunia entertaimen, atau namanya telah didepak hingga dasar terdalam.


Altair menghela nafas panjang, kembali berdiri di depan kamera. Jika tadi tidak ada senyuman, kini pria itu tersenyum lebar agar semuanya selesai dengan cepat.

__ADS_1


Tidak membutuhkan waktu satu jam sesi pemotretan telah selesai karena kerja sama Altair yang cukup baik di detik-detik terakhir. Membuat semua staf yang ikut berperan dalam pemotretan tentu lega dan kembali ke pekerjaan masing-masing.


Sementara Altair sendiri mengajak Jihadi untuk mengunjungi rumah Asa tanpa memikirkan resiko yang mungkin terjadi nantinya. Termasuk kemarahan Samuel, Altair tidak takut pada pria paruh baya itu, yang ia takutkan hanya kehilangan Asanya.


"Rumahnya sepi, kayaknya nggak ada orang," ucap Jihadi setelah mobil berhenti tepat di depan pagar rumah Asa.


"Gue nggak peduli, pasti dia ada di dalam." Turun dari mobil tanpa membawa apapun, mau ponsel ataupun dompet.


Jihadi hanya bisa menghela nafas panjang, memberikan perintah pada sopir agar parkir di tempat yang lebih tersembunyi. Menunggu Altair kembali lagi usai menyelesaikan urusannya dengan sang kekasih.


Altair menekan bel berulang kali, terlihat jelas tidak sabar menunggu seseorang membukanya. Pria itu mendengus sebal melihat gadis cantik membuka pintu dengan senyuman ramah.


Altair membenci Ayana untuk saat ini.


Tentu gadis itu tidak terlalu berharap Altair datang untuk menemuinya setelah penolakan di depan dua keluarga.


"Dia di mana?"


"Ada di kamarnya, dari siang nggak keluar bahkan nggak makan siang juga. Kakak langsung aja nemuin kak Asa, di rumah nggak ada bunda sama ayah." Ayana membuka pintu lebar-lebar, mempersilahkan Altair masuk.


Gadis itu berlari mengikuti langkah lebar Altair setelah mengambil kunci cadangan di kamar utama.

__ADS_1


"Kak Asa ngunci pintunya dari dalam, kayaknya nggak mau diganggu baca novel." Menyerahkan kunci kamar pada Altair.


"Kak Altair!"


"Apa apa lagi? Lo kok cerewet banget jadi orang?" ketus Altair tanpa tahu terimakasih.


"Aya sayang banget sama kak Asa. Kalau kak Altair benar-benar suka sama kak Asa, harus luluhin hati ayah Samuel. Soalnya dia tetap mau jodohin kita."


"Itu semua karena lo! Andai lo nggak ngusulin ide gila itu. Semuanya nggak bakal kacau. Dasar gadis manja," omel Altair.


Ayana hanya bisa terdiam, memandangi punggung kekar Altair yang terus berjalan menuju kamar Asa yang telah dia tunjuk tadi.


Jujur sana Ayana sedikit sakit hati mendengar kalimat demi kalimat yang Altair lontarkan tanpa berpikir.


Gadis itu menghela nafas panjang, lalu mengembangkan senyumnya.


"Untung aku nggak jadi dijodohin sama kak Altair. Dia nggak kayak yang aku liat di Tv. Baik dan ramah sama orang," gumamnya dan kembali masuk ke kamar.


Bunda Ara dan Ayah Samuel sedang ada urusan penting di luar kota sehingga beberapa hari ini yang tinggal di rumah hanya Ayana dan Asa saja. Selama itu pula Asa sangat jarang keluar kamar.


Asa yang dulu tidak sekuat Asa yang sekarang, mungkin karena beban di hati yang tidak bisa dipikul sakin banyaknya.

__ADS_1



__ADS_2