Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 43 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Langit malam terlihat sangat indah, apalagi bulan dan bintang menemaninya di atas sana. Namun, seindah apapun lagit malam ini, itu tidak mampu membuat suasana hati Asa membaik.


Jarum jam telah menunjukkan angka 7 malam, sebentar lagi keluarga Altair akan datang. Namun, Asa tidak kunjung bersiap-siap dan malah sibuk duduk di balkon kamarnya.


Rencana yang dia susun untuk meninggalkan rumah gagal karena tubuhnya yang lemas, mungkin akibat tidak mengonsumsi obat sejak pagi.


Melihat mobil putih memasuki pagar rumahnya membuat Asa menutup pintu balkon dengan sigap, tidak lupa tirai yang dia kibarkan agar tak seorangpun tahu bahwa kamarnya berpenghuni.


Asa mematikan lampu kamarnya, bersandar pada kaki ranjang sambil memperhatikan ponselnya yang terus bergetar sebab mendapatkan pesan dari Altair.



Ia menghela nafas panjang, tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Ia takut mengacewakan semuanya.


Sementara di ruang tamu, tampak tawa dan pembicaraan ringan terdengar saling bersahut antara Ara, Giani, Samuel dan Rayhan.


Berbeda dengan Altair yang sibuk pada ponselnya sebab Asa tidak kunjung bergabung, padahal jelas-jelas tadi Altair melihat Asa ada di balkon kamar.


Pria itu melirik sinis pada Ayana yang langsung duduk di sampingnya.


"Asa mana, kok nggak gabung?" tanya Altair akhirnya karena kesal balasan Asa sangat singkat.


"Oh Asa, tadi katanya mau siap-siap Nak. Tunggu bunda panggilin," sahut Ara.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu mengunjungi kamar putri kesayangannya, mengetuk pintu berulang kali hingga akhirnya pintu terbuka dan menampilkan gadis cantik dengan senyuman cerianya.


"Nah kan cantik kalau gini Nak, tadi pucat banget," puji Ara melihat penampilan Asa yang terbilang rapi.


Bibir gadis itu telah dipolesi liptin sehingga terlihat manis dan mempesona. Awalnya Asa tidak ingin bergabung, tapi karena ancaman Altair, akhirnya ia menguatkan hatinya mendengar semua pembicaraan yang mungkin terjadi nanti.


Asa dan bunda Ara berjalan beriringan menuju ruang tamu. Asa menundukkan kepalanya ketika tidak sengaja bertemu pandang dengan Altair.


Harus kalian tahu apa alasan Asa memoles wajahnya tipis-tipis, itu semua demi Altair. Agar pria itu tidak melihat wajah pucatnya.


"Aduh cantik banget sih putri sulung kamu Ra," puji Rayhan.


"Makasih om," ucap Asa sambil tersenyum, duduk tepat di samping Ara tanpa ada niatan melirik Ayana dan Altair yang duduk berdua.


"Makan aja deh," sahut Ara.


"Bahas aja dulu, biar makanya tenang," cetus Giani.


Akhirnya semua orang setuju, termasuk Ayana yang sejak tadi senyum-senyum sendiri. Merasa bahagia sebentar lagi akan mendapatkan pria yang ia cintai.


"Jadi gini, kan El telpon aku katanya demi memperat persaudaran ada baiknya kalau jadi besan, lagian anak-anak kita udah pada remaja. Tapi satu pertanyaan nih dari aku, putri kamu yang mana El? Dua ini loh? Altair mah nggak keberatan kalau nikahin dua-duanya, iya nggak bro?" Canda Rayhan.


Pria paruh baya itu menepuk punggung putranya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kalau misalnya Altair disuruh milih, bakal milih siapa Nak?" tanya Ara.


"Kalau maunya Altair sih, ya ...."


"Ayah mau ngomong sesuatu?" tanya Asa pada Samuel, langsung memotong ucapan Altair yang tengah menatapnya.


Asa tidak ingin Altair menyebut namanya meski satu kali saja.


Samuel mengangguk. "Kayaknya aku nggak perlu perjelas deh putri yang mana," Ia senyum miring pada Rayhan.


"Karena Ayana seumuran dengan Altair, bagaimana kalau mereka aja?" lanjutnya.


Sontak senyuman Ayana semakin lebar, berbeda dengan Asa yang meremas jari-jari tangannya, sementara Altair sendiri tampak terdiam dengan ekspresi tiba-tiba datar.


"Boleh juga, selagi Altair mau kenapa nggak?" ucap Rayhan yang sangat terbuka akan pendapatnya.


"Altair mau kan tunangan sama Ayana?" tanya Ara penuh harap, tapi respon Altair di luar dugaan.


Pria itu berdiri dari duduknya sehingga menjadi sorotan dua keluarga. Ia menarik nafas panjang dengan tatapan tidak sekalipun lepas dari Asa yang tiba-tiba menjadi pendiam malam ini.


"Kata papah Altair boleh nolak perjodohan kan? Kalau gitu Altair nggak mau dijodohin sama Ayana, Altair udah punya pacar."


"Siapa?" tanya Ayana, mendongak menatap Altair. Gadis itu sangat kecewa karena Altair menolak dirinya di depan para orang tua, ia mengira Altair bisa sedikit bersandiwara untuk mencintainya.

__ADS_1



__ADS_2