Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 39 ~ Asa & Altair


__ADS_3

"Lo dengar gue ngomong nggak sih?" Nada suara Altair sangat rendah, tapi penuh ancaman dan amarah di dalamnya.


Namun, baik Asa ataupun Mark tidak bergeming, seakan menganggap Altair hanyalah angin, hingga saat di mana Altair menarik kerah kemeja Mark, saat itulah Asa langsung berdiri.


"Altair! Apa-apan sih?" Menyentak tangan Altair dari leher Mark. "Bisa nggak sehari aja kamu nggak ganggu hidup aku? Aku bosan liat kamu terus!" bentak Asa tanpa ada keinginan menatap langsung manik Altair yang menyorot tajam.


Jujur saja ia tidak tega melakukannya, tapi ini demi kebaikan semua orang.


"Ikut aku!" Menarik paksa tangan Asa keluar dari kelas tanpa memperdulikan tatapan teman-teman sekolahnya.


Takut ada yang diam-diam mengambil gambar? Altair tidak takut. Setelah masalah Ia makan malam dengan Asa. Agensi turun tangan memperingatkan SMA Angkasa agar tidak menyebarkan foto seenaknya, atau mereka akan mendekam di penjara.


Kembali pada Asa yang berusaha melepaskan genggaman Altair.


"Lepasin Altair!" pinta Asa.


"Nggak bakal, Sa!"


"Lepasin Njir!" sela Mark mendorong dada Altair cukup keras. Pria itu mengekor sejak tadi. Meski tidak tahu apa masalahnya, dia tetap akan membela temannya, termasuk jika ada permainan fisik.


"Diam lo ban*gsat! Nggak usah ikut campur! Asa milik gue!"


"Tapi dia bukan ...." Mark menghentikan ucapannya ketika melihat gelengan kepala dari Asa. Ia menghela nafas panjang melihat gadis itu mengikuti langkah lebar Altair menuju sebuah tangga.


Sementara Asa sendiri kini tidak memberontak lagi. Pasrah Altair akan membawanya kemana.

__ADS_1


Ia menundukkan kepalanya setelah sampai di rootop tempat yang sering keduanya kunjungi. Berusaha mati-matian menahan isakan tatkala Altair memeluk tubuhnya tanpa ada rasa marah seperti tadi.


"Kita baru aja pacaran Sa, kenapa sikap kamu malah berubah? Kamu nggak suka kita pacaran? Kamu terpaksa nerima aku?" lirih Altair masih memeluk Asanya.


Dada Altair terasa sesak, dunianya seakan hancur jika yang menjauh darinya adalah Asa. Sejak SMP kelas dua, hanya Asa yang selalu ada untuknya. Hanya Asa yang bisa mengimbangi sikap manjanya.


"Asa?"


"Aku mau putus!"


"Nggak, baru tiga hari juga."


"Kita nggak cocok Altair. Apalagi aku nggak suka sama kamu."


"Bohong!" Melerai pelukannya hanya untuk menatap Asa yang menunduk. "Tatap mata aku dan ngomong sekali lagi!"


"Asa!" Rahang Altair mengeras. Untuk pertama kalinya dia membentak gadis yang sangat dia cintai.


Mata pria itu memerah, rahangnya mengeras, giginya bergemulutuk.


"Udahlah Altair! Kamu itu ke kanak-kanakan aku muak sama tingkah kamu. Kamu selalu mau dimengerti tanpa bisa ngertiin ...."


"Aku bakal berubah, tapi jangan putus. Jangan ngomong kamu nggak suka sama aku. Jangan pergi dan musuhin aku ...."


Altair berlutut tanpa mempedulikan lantai yang kotor, meraih tangan Asa yang mengepal. Menatap wajah menunduk Asa dari bawah.

__ADS_1


"Semua yang kamu katakan bohong kan? Kamu punya masalah lain tapi imbasnya ke aku? Jujur Sa! Aku bisa bantu kamu. Selama kita bersama semuanya pasti ...."


"Aku harus pergi!"


Asa menyentak tangan Altair, ia tidak bisa menahan air matanya lagi. Gadis itu berlari menuju pintu, saat akan membukanya, suara Altair mengema, mungkin sampai di dengar oleh beberapa orang yang berada di lantai bawah.


"Setelah kamu menghilang di balik pintu, maka kamu bakal nemuin mayat aku di bawah!" teriak Altair berjalan menuju pembatas Rooftop.


Bukan alai atau mengemis cinta, tapi Altair hanya tidak terima cara Asa yang mengakhiri hubungan secara tiba-tiba.


Altair ingin menjadi rumah Asa, tapi selama bertahun-tahun mengenal Asa, tidak sekalipun gadis itu menangis di hadapannya.


Jangankan menangis, meminta sesuatu untuk diri sendiri saja tidak pernah. Ibarat kata, Asa adalah berlian di antara tumpukan kerikil di bumi ini. Lalu apa alasan Altair untuk melepaskan gadisnya begitu saja?


Senyuman di bibir Altair merekah saat merasakan tubuh mungil memeluknya dari belakang.


"Jangan bodoh Altair!"


"Jangan pergi kalau gitu," pinta Altair tapi tidak ada sahutan dari Asa.


"Mungkin ini terdengar lebay, tapi duniaku benar-benar hancur tanpamu. Katanya dewasa, bijaksanan, tapi kalau ada masalah dipendam sendiri."


Hening, Asa masih memeluk tanpa mengeluarkan suara.


"Pernah nggak sih sekali aja kamu berpikir jadiin aku rumah? Nggak ada manusia yang benar-benar kuat. Yang ada cuma manusia pandai menutup luka agar telihat baik-baik saja."

__ADS_1



__ADS_2