Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 53 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Di saat kabar tentang Asa yang dilarikan kerumah sakit karena pingsang, bukan ayah Samuel ataupun bunda Ara yang lebih dulu ada di sana untuk menemani, melainkan Rayhan dan Giani yang merupakan orang tua Altair.


Kedua manusia paruh baya itu berdiri di sisi brangkar sambil memperhatikan Asa yang terbaring tidak berdaya di ranjang dengan wajah pucatnya.


Selang infus telah terpasang di punggung tangan gadis, juga layar EKG yang berada di sisi ranjang.


Sekuat apapun Asa menyembunyikan penyakitnya pada semua orang, semuanya akan sia-sia ketika gadis itu tidak bisa menahan rasa sakitnya seorang diri.


"Udah ngabarin Ara sama Samuel?" tanya Giani yang khawatir melihat kondisi gadis ceria tersebut.


Siapa yang menyangka gadis yang selalu terlihat baik-baik saja ternyata menyimpan luka cukup dalam.


"Udah, mereka lagi perjalanan pulang. Temenin Asa dulu ya, aku mau nyusul Altair," sahut Rayhan.


Pria paruh baya itu meninggalkan ruang perawatan Asa untuk mencari putranya yang tidak kunjung terlihat sejak pergi setengah jam yang lalu.


Langkah panjang Rayhan terus bergerak tidak tentu arah hingga akhirnya berhasil menemukan Altair yang duduk di tangga darurat menuju rooftop.


Rayhan berdiri di ambang pintu memperhatikan punggung putranya yang bergetar sambil menundukkan kepalanya. Bisa dipastikan pria itu sedang menangis dan hancur.


"Jagoan papah!"


Altair langsung menoleh dengan mata dan hidung memerah, setelahnya kembali tertunduk.

__ADS_1


Rayhan ikut duduk di samping putranya, merangkul pundak Altair penuh senyuman.


"Cengeng banget dah, kayak bukan anak papah tau."


"Ya udah tendang Air dari kartu keluarga aja!"


"Dih lakik kok ngambek!" Rayhan tertawa, berusaha menghibur putranya yang tentu sedang terpukul sekarang.


Jika bukan orang tua yang merangkul anak-anaknya saat terpuruk, lalu siapa lagi? Rayhan dan Giani tidak ingin putranya merasakan kekurangan kasih sayang dan hilang arah tanpa dukungan orang tua.


"Asa baik-baik aja kata dokter, bentar lagi bangun terus manjain kamu."


"Tapi tetap aja dia sakit."


"Terus kalau dia sakit kamu bakal ngapain? Duduk di sini nangis terus dan biarin Asa sendirian?"


"Cuci muka! Pasang wajah yang cool terus ke ruangan Asa. Kamu sendiri yang bilang Asa nggak suka kalau ada orang yang kasihan padanya." Menepuk pundak Altair berulang kali sebelum meninggalkan pria itu bersama luka di hatinya.


Bagaimana tidak, Altair merasa bersalah karena tidak peka akan kondisi kekasihnya yang tidak baik-baik saja.


Dunia Altair seakan runtuh saat dokter mengatakan Asa pingsan karena tekanan di jantung yang cukup kuat. Terlebih kondisi Asa yang akhir-akhir ini melemah. Belum lagi kenyataan pahit yang menyatakan Asa mempunyai penyakit jantung bawaan yang sudah parah.


"Bodoh! Egois! Cuma mau digertiin tanpa mau ngerti pacar sendiri!" Maki Altair pada dirinya sendiri sambil memukul kepala berulang kali.

__ADS_1


Bagaimana Altair akan menghadapi Asa nantinya? Jangankan pura-pura tenang, tersenyum saja rasanya sangat sulit untuk Altair saat ini.


"Jadi ini alasannya?" lirih Altair.


Pria itu tahu betul penderitaan Asa saat ini. Gadis yang dia cintai seakan kehilangan tumpuan hidup hanya karena dua kenyataan.


Anak yatim piatu dan penyakitan.


"Sampai kapan mau jadi pengecut?"


Altair tidak menoleh, dia tahu siapa pemilik suara tersebut.


"Katanya suka banget, kok sekarang nggak ditemenin sih?"


"Altair benci sama keadaan Mah. Altair kecewa sama Asa yang nyembunyiin sakitnya sendiri!"


"Terus kamu bakal jauhin dia gitu? Tega banget putra tampan mamah biarin cewek secantik Asa sendirian. Padahal kemarin ada yang bilang sama mamah. Kalau mamah dan papah nggak restuin Altair sama Asa, Altair bakal kabur dari rumah bawa Asa dan setifikat rumah," ejek Giani.


Altair mendengus, kedua orang tuanya memang tidak ada yang beres. Mau mendalami peran sesedih apapun jika berada di sekitar Rayhan dan Giani, maka semuanya akan ambyar.


Pria itu berdiri dengan wajah cemberutnya, sementara Giani sibuk merapikan rambut sang putra yang tampak berantakan.


"Idolnya mamah nggak boleh kelihatan berantakan, soalnya banyak yang liatin." Tersenyum lebar.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu menemui putranya atas permintaan sang suami, karena memang Altair lebih penurut pada dirinya.


Mungkin karena jiwa playboy Rayhan turun pada putranya, sehingga Altair hanya bisa dikendalikan oleh perampuan. Apakah ini sebuah karma?


__ADS_2