
Jam 11 di saat semua orang mungkin telah terlelap dan terbang ke alam mimpi, maka berbeda dengan Asa yang masih duduk di meja belajarnya.
Gadis itu sudah tertekad akan belajar dengan giat agar mendapatkan hasil yang memuaskan. Hasil yang mungki akan membuat ayah Samuel bangga padanya.
Asa meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku setelah lama menunduk, atensinya tertuju pada benda pipi yang tergeletak menampilkan ada pesan masuk.
Ia mengulum senyum melihat pesan yang dikirimkan Altair. Pria itu selalu marah jika mendapati Asa aktif diatas jam sepuluh malam.
Katanya, begadang sama saja meminum racun sedikit demi sedikit. Dengan kata lain, kita akan mati perlahan-lahan karena sakit yang datang silih berganti.
Seperti keinginan Altair, Asa tidak membalas pesan, melainkan menonaktifkan ponsel agar tidak ada yang tahu bahwa Asa belum tidur.
Pesan Altair berhasil mengingatkan Asa pada paket yang dibawa Ayana tadi. Gadis itu bergerak untuk memeriksa apa isi papar bag yang membuat Ayana begitu histeris.
Garis senyum Asa terlihat di wajahnya kala mendapati berbagai keperluan perempuan di dalam paper bag.
Meski telah menghilang selama beberapa bulan, Altair tidak pernah lupa akan kebiasaan Asa jika tanggal baru seperti ini.
Altair mengirimkan pembalut, kiranti dan berbagai cemilan untuk mengembalikan mood. Senyuman diwajanya kian merekah menedapati kertas note dengan tulisan tangan Altair.
Dari Air untuk Asanya
Jaga kesehatanya Asanya, Air. Kirantinya jangan lupa diminum biar perutnya nggak sakit-sakit amat.
Air sayang Asa
__ADS_1
Hanya satu kalimat itu tapi mampu membuat hati Asa berbunga-bunga tidak terhingga.
Berbeda di kamar lain, yakni kamar Ayana yang ternyata juga belum tidur. Gadis itu sudah menghubungi Altair sejak sore tapi tidak mendapatkan balasan apapun.
Ayana kesal bukan main, harusnya Altair tidak terlalu cuek pada sepupu sendiri. Tapi sejak dulu hingga sekarang, Altair sangat jarang datang ke perjamuan keluarga hingga sulit untuk bicara berdua saja.
Gadis itu membaringkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar yang terlihat gelap sebab lampu kamar telah mati.
"Kira-kira kalau aku minta dijodohin sama ayah dikabulin nggak ya?" tanya Ayana entah pada siapa.
Jika sebagian perempuan mencintai Altair hanya sebatas pengemar, maka berbeda dengan Ayana yang sangat ingin memiliki Altair.
Tidak ada yang tidak mungkin dalam kamus Ayana. Selama ini apa yang dia inginkan selalu dikabulkan. Salah satunya Altair, terlebih keduanya masih punya ikatan kekeluargaan.
Marga mereka sama, tidak akan ada yang berani mengusik.
***
Matahari mulai mengintip sedikit demi sedikit, membuat penghuni bumi tentu akan melalukan aktivitas seperti yang telah direncanakan.
Begitupun dengan Asa yang telah bangun mendahului Ayana dan ayah Samuel hanya untuk membantu sang bunda menyiapkan sarapan di pagi hari.
Asa mencuci beberapa sayur kangkung yang akan bunda Ara tumis.
"Kenapa ada kotak bekal di atas meja, Bunda?" tanya Asa penasaran.
"Buat ayah, hari ini kan ayah ada jadwal penerbangan," sahut bunda Ara.
__ADS_1
Asa mengangguk-anggukan kepalanya. "Ayah berangkat jam berapa? Asa mau ikut nganter."
"Nggak keburu Sayang, ayah berangkatnya jam 9 pagi. Kalian udah masuk sekolah. Lain kali aja ya."
Lagi Asa hanya menganggukkan kepalanya. Dia terlalu penurut untuk ukuran anak sulung di keluarga yang cukup berada.
Setelah semua sarapan terhidang di atas meja makan, Asa lantas memeluk bundanya dari belakang, menumpu dagu pada pundak sang bunda.
"Asa mau nanya sesuatu sama Bunda."
"Apa tuh?" sahut bunda Ara mengelus kepala putrinya.
"Kalau misal Asa suka sama cowok yang disukai sahabat sendiri gimana?"
Kening Ara mengerut.
"Maksud kamu apa, Sa?"
"Jadi gini, Asa suka sama cowok yang kayaknya juga suka sama Asa, tapi sahabat Asa juga suka. Ih Asa bingung tau, Bun mau jelasin gimana." Asa cemberut, berbeda dengan bunda Ara yang tertawa lepas karena gemas pada putrinya.
Memang jika ada masalah Asa akan lebih terbuka pada bunda Ara, sebab wanita paruh baya itu sangat menyenangkan dan bisa menjadi sahabat di waktu yang tepat.
"Keputusan Asa tergantung cowoknya aja. Kalau cowoknya suka sama Asa, ya jangan nyerah. Tapi kalau cowoknya suka sama sahabat Asa, nggak papa nyerah. Soalnya cinta yang dipaksain itu bakal nyiksa batin, Sayang."
"Bunda pernah?" Asa menatap bundanya.
"Pernah karena dulu bunda terlalu bodoh."
__ADS_1